Mas Dery mencoba melepaskan pelukanku padanya. “Lin ini sudah siang loh, nanti mas bisa telat!” Aku seperti dipaksa bangun dari alam mimpi, aku dipaksa menyadari bahwa ini lah sekarang suami ku! Aku mengendurkan pelukan, dan perlahan mulai melepaskan nya, aku merasa malu... Untuk kesekian kali nya, Mas dery menolak ku lagi.
Setelah itu terjadi, aku berhenti menanyai suamiku ini itu, mulutku seolah bungkam dengan kenyataan yang ada. Mas Dery pun tak merasa bersalah sama sekali, aku perhatikan dari kaca rias, dia sudah bersiap dan akan turun kebawah. Di saat seperti itu pun dia bahkan tidak melirikku sama sekali, sebegitu nya kah kau tidak menginginkan diriku mas?
Aku memoles wajah dengan make up tipis, dulu aku merasa bangga karena setiap aku bercermin dan merias diri, Mas Dery akan datang dan langsung memujiku. Ya.. Seperti itulah hangat nya suami ku dulu.. dia mengatakan, kalau dia beruntung menikahi aku. Sekarang .. Semua terasa sangat jauh berbeda.. Ada kebiasan Mas Dery yang baru..
Yaitu menjadi orang asing dirumah kami sendiri. Setelah selesai berhias aku segera turun untuk sarapan bersama anak-anak.
Kulihat Mas Dery sedang bercakap-cakap dengan mereka.
“Abi, kenapa tadi Abi gak shalat subuh?” tanya si sulung Rafa.
“Abi shalat kok, tapi dikamar,” jawab Mas Dery.
“Kenapa Abi malah shalat dikamar, kenapa gak jamaah bareng kita? Udah lama loh Bi, kita gak jamaah bareng kayak dulu lagi, Sekarang Abi sibuk terus, kasihan Umi!” sahut si Rafi, hatiku mengiba melihat anak-anak ku yang bahkan peka terhadap perubahan Abi nya.
Aku masih diam tak menyahuti apapun, kali ini mas Dery melirikku, mungkin berharap aku bisa melepaskannya dari pertanyaan anak-anak. Namun aku mengacuhkan tatapan nya, biarlah.. Biar dia tau bagaimana rasa nya diabaikan.
“Kok kasihan sama Ummi sih, memangnya Ummi kenapa?”
“Ya setiap malam Ummi selalu nungguin Abi pulang, sampai ketiduran di sofa. Kenapa Abi gak pulang cepet sih, setiap hari lembur terus, bahkan sekarang Abi jarang ada waktu buat kita ya kak!” cerocos Rafi lagi, memang diantara anak kembar ku, Rafi lah yang paling cerewet dan jenaka, berbeda dengan Rafa yang irit bicara.
“Abi kan kerja nak, buat kita juga kan? buat masa depan Rafa sama Rafi,” bujuk nya dengan lembut. Namun sepertinya kata-kata nya tidak berpengaruh sedikit pun pada anak-anak.
“Percuma banyak uang kalau Abi udah gak sayang kami sama Ummi!” sentak Rafa yang ikut menyerukan pendapat nya.
Jleebb! Kata-kata Rafa barusan seperti mengiris hatiku yang memang sudah menganga luka nya.
Aku menatap lekat mas Dery, apa dia akan menyadari apa yang anak nya ucapkan.
“Sudah lah Rafa, Rafi! Kalian ini kan sudah besar, masa kemana-kemana harus ditemeni Abi sih,” protes mas Dery. Aku kira dia kan tersindir dengan ucapan anak nya, tapi nyata nya.. dia justru menyalahkan anak-anak.
“Mas Cukup! Anak-anak, ini sudah hampir jam 6.30 ayo cepat habiskan sarapannya, biar gak telat sekolah nya,” Aku menyela percakapan mereka, aku takut anak-anak ku akan tersinggung mendengar jawaban dari Abi nya, beruntung nya anak-anak langsung mematuhi ucapan ku. Setelah selesai makan mereka berlari kedalam kamar dan mengambil tas mereka.
“Kamu jangan provokasi anak-anak begitulah Lin, mereka masih menginjak remaja loh, lagian kamu kenapa sih, aku tu kerja buat kalian.. Kamu ini aneh banget!” Aku sedikit terkejut dengan prasangka mas Dery padaku, dan ini kali pertamanya aku mendengar mas Dery mengucap kata ’aku’ untuk dirinya sendiri.
“Yang aneh itu kamu mas, apa kamu gak sadar, akhir-akhir ini kamu berubah? Kamu seperti tidak menganggap ada keberadaan kami disini? Kenapa?” aku bertanya penuh penekanan, meski pelan.. Aku yakin dia paham maksud nya.
“Sudahlah Lin, ini masih pagi loh, gak ada yang berubah dari aku! sudahlah, aku mau berangkat!” ia menyodorkan tangan nya untuk ku salami. Meski kesal aku tetap menyambut nya, dan mencium punggung tangan suami nya. Sebelum 6 bulan belakangan ini, setiap akan pergi berangkat kerja, mas Dery tak kelupaan untuk selalu mencium keningku, tapi sekarang.. Semua sudah berubah. Yang ada hanya kebiasaan Mas Dery yang perlahan semakin jauh dan sulit sekali aku dekati.
’Sebenar nya kamu kenapa mas?’ batinku dalam hati.
“Ummi!” Panggilan Rafa membuyarkan lamunanku.
“Iya sayang, kalian udah selesai? Yuuk berangkat,”
Aku mengantar anak-anak ke sekolah seperti biasa, setelah itu aku langsung ke butik ku. Kemarin aku tidak datang kesana karena kepala ku sedikit pusing, jadi hari ini aku ingin memeriksa laporan keuangan semalam. Kebetulan kemarin ada barang baru yang baru saja tiba di sana.
“Nisa.. Laporan hari kemarin sudah ada dimeja saya?” tanya ku pada Nisa, karyawan yang paling teladan dan paling aku percaya mengurus butik jika aku berhalangan hadir.
Sebenar nya nafkah yang diberikan Mas Dery padaku sangat layak dan banyak, bisa dibilang aku tidak kekurangan apapun, namun mempunyai butik sendiri adalah impian ku sejak dulu. Karena memang aku sangat suka dalam dunia fashion. Barang yang aku jual juga beragam, dari mulai tas, sepatu , aksesoris dan kebutuhan wanita lainnya. Butik ini sudah ada sebelum aku melangsungkan pernikahan dengan mas Dery. Modal yang diberikan Papa, aku gunakan baik-baik untuk bisnis ku sendiri, Alhamdulillah .. saat ini aku sudah mempunyai 3 cabang dimasing-masing kota besar.
“Ini laporannya Buk!” Nisa menyodorkan sebuah map berisi laporan harian penjualan disana. Aku mengambilnya dan langsung saja memeriksa nya. Nisa belum juga beranjak dari tempatnya berdiri, aku menatap nya heran, seperti nya ada yang ingin Nisa katakan.
”Nis? Ada apa?” tanya ku padanya.
“Bu.. Emm.. Duh gimana ya saya ngomong nya," Nisa nampak seperti sulit sekali mengatakan nya.
“Nisa.. Kamu mau ngomong apa? Ngomong aja,”
“Kemarin, saya melihat Bapak kesini sama perempuan Bu!”
Degh!
Perempuan? Mas Dery?
“Maaf Bu, perempuan itu seperti sedang dekat sekali dengan Bapak, kebetulan si Mila sempat memotret nya, dan mengirimkan ini pada saya.” Nisa langsung menyodorkan ponsel nya, memperlihatkan bukti yang sejak tadi ia bicarakan. Katanya foto itu foto mas Dery bersama wanita lain. Saat aku melihat nya... Seketika jantungku seperti ditikam belati, sesak! Itulah yang aku rasakan saat pertama kali melihat Mas Dery menggandeng mesra perempuan bersurai panjang nan hitam itu.
Siapa perempuan itu? Apa dia penyebab Mas Dery berubah menjadi dingin pada ku dan anak-anak?
Pertanyaan itu menari-nari di kepala ku, haruskah aku berfikir positif soal ini? Atau aku mencari tahu dulu kebenarannya?
Ya Tuhan.. Jika benar suami ku mempunyai wanita lain, aku harus apa? Aku harus bagaimana?
Tanpa terasa air mata ku mengalir deras. Mungkin Nisa menyadari jika aku shock dengan itu semua.
“Ibu.. Saya minta maaf kalau foto ini mengganggu Ibu, tapi saya tidak tega kalau Ibu dipermainkan oleh Bapak,” Nisa berucap lagi. aku mengusap air mata ku, berulang kali aku beristighfar agar hati ku tetap tenang.
“Enggak Nis, maaf.. Mungkin memang saya yang terlalu berlebihan, jam berapa Bapak kesini?"
“Jam 8 malam Bu,”
Tadi malam Mas Dery pulang jam 10 malam, dan dia mengatakan kalau dia lembur, Astaghfirullah mas.. Jadi ini yang kamu maksud dengan lembur itu?
“Apa Bapak ada mengatakan sesuatu sama kamu?”
“Gak ada Bu, Bapak bahkan membayari tas edisi terbatas yang baru tiba kemarin pagi!”
“Selain itu?”
“Pokoknya segala belanjaan wanita itu Bapak yang bayarin Bu, total belanjaan Bapak berkisar hampir 50 jt.” Aku memejamkan mata sesaat, mas Dery paham betul ini adalah butik milik ku.. Dia berani membawa wanita lain kesini?
Apa-apaan ini!
“Oke! Makasih ya Nis..”
“Ibu gak apa-apa?”
“Gak apa-apa!”
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Rafalia Azen
ya kan selingkuh
2024-08-06
0
Maria Magdalena Indarti
sakit bgt pasti saat tahu suami selingkuh
2024-06-04
1
Yashinta
ayo di lacak lin
2024-06-02
1