''Jida, aku langsung ke kantor saja.'' Guntur pamit untuk langsung pergi ke kantor.
''Biar Jadu temani, sekalian memperkenalkan dirimu.'' Jadu Omar, berdiri dari duduknya.
Guntur pergi bersama Kakeknya, sementara Jida Lintang menyuruh kepala pelayan untuk mengajak Lisa berkeliling Mansion. Karna dia ada sedikit urusan yang tidak bisa di tinggalkan.
''Jida sekalian pamit untuk membeli beberapa barang, tidak apa-apa 'kan di temani Rumi untuk berkeliling.''
''Tidak apa Jida.''
''Silahkan, Nona.'' Kepala pelayan yang bernama Rumi, mempersilahkan cucu menantu majikannya untuk berjalan bersama untuk berkeliling Mansion.
Lisa melihat kanan kiri, ia sungguh kagum melihat rumah yang sangat besar. Namun kenyataanya ini bukan rumah, melainkan istana besar yang selalu ada di televisi. Lihatlah, lantainya saja menggunakan marmer yang mengkilap, bahkan lampu-lampu menggantung sangat indah di atas sana.
"Ini Beneran rumah 'Kan? MashaAllah ... megahnya." Gumam Lisa.
''Nona. Mansion ini terdiri dari dua lantai dan satu lantai dasar yang di gunakan untuk ruang parkir mobil dan kamar para pelayan. Lantai pertama, di mana ada kamar utama yang di gunakan oleh Baba Omar dan Madam Lintang, beserta kamar tamu, ruangan gym, ruang bioskop dan karaoke.''
''Ahh ...'' Lisa hanya manggut manggut.
''Di sini ada kolam renang, yang bisa anda gunakan sesuka hati. Sebelah sini ada lift jika anda tidak ingin menaiki tangga. Ini adalah dapur bersih dan di lantai dasar ada dapur kotor, anda juga bisa memanggil kami menggunakan telpon.''
Lisa mengangguk. ''Boleh aku masuk kedalam lift?'' Tanya Lisa antusias.
''Tentu saja Nona.'' Rumi mempersilahkan Lisa masuk terlebih dahulu, lalu Rumi masuk dan menekan tombol untuk naik ke lantai atas.
"Oaahh ... ini rumah udah kaya di emol-emol, sampe ada lift kamar nya."
TING!!
Pintu Lift terbuka, Rumi sekali lagi mempersilahkan Lisa keluar terlebih dahulu. Sungguh, Lisa jadi malu saat di perlakukan istimewa seperti ini ... apa jika semua orang tau kalau status sosialnya sangat berbeda jauh dengan Guntur, apa mereka masih memperlakukan dirinya dengan sopan.
Pelayan Rumi sampai di depan pintu Kamar. ''Ini kamar anda dan Tuan muda. Jika anda membutuhkan sesuatu, panggil saya.''
''Terima kasih, Mbak.''
''Panggil saja saya, Rumi.''
''Ahh, baik Ru-Rumi. Oh iyaa, di mana koperku?'' Tanya Lisa yang tidak melihat kopernya.
''Barang-barang anda sudah di teruh di ruang ganti, anda bisa beristirahat sejenak sebelum Madam datang dari luar.''
''Baiklah, terima kasih.''
Rumi mengangguk meninggalkan Lisa di kamarnya, namun sebelum pergi, Rumi berpesan jika Nona Gabriel (Adik Guntur yang ke tiga) ingin bertemu. Lisa hanya meng-iya'kan permintaan adik iparnya yang ingin bertemu.
''Jadi, si Tuan Arrogant titisan unta itu punya berapa adik?'' Tanya Lisa pada dirinya sendiri, lalu menggidikkan bahunya tidak perduli.
Lisa melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat, mengganti baju untuk bertemu adik iparnya.
Lisa berharap adik iparnya bisa menerima dirinya seperti Jida dan Jadu.
¤
¤
¤
¤
¤
Lisa keluar dari kamarnya, melihat kanan kiri. Ia berjalan menuruni anak tangga lalu ia tidak sengaja melihat Rumi.
''Rumi.''
Rumi menoleh, ''Saya, Nona.''
''Bukankah kamu bilang jika Nona Gabriel ingin bertemu?''
''Baik, sebelah sini Nona.'' Rumi menuntun Lisa ke ruang baca untuk bertemu adik iparnya.
TOK.
...TOK....
TOK.
''Nona Gabriel, Kakak ipar anda sudah datang.''
''Suruh masuk.'' Ucap seseorang dari dalam, membuat Lisa menghela nafas dengan panjang dan menampilkan senyuman yang manis.
Rumi membuka pintu ruang baca, lalu mempersilahakan Lisa masuk.
''Hai ...'' Sapa Lisa, membuat Gabriel menoleh dan mengerutkan keningnya.
''Aku Lisa, istrinya Tu- khem ... Kak Guntur.''
''Rumi! Apa-apan ini ... dia istri Kakak ku?'' Tanya Gabriel pada Rumi, kepala pelayan.
Rumi mengangguk. ''Betul, Nona.''
Gabriel dan Lisa terlihat seumuran, membuat Gabriel terkejut melihat Lisa. Ia pun menutup bukunya dan menghampiri Lisa sambil memindai dari atas sampai bawah.
''Woahh ... aku tidak menyangka jika selera Kakak turun drastis.''
Deg.
Sontak Lisa terkejut mendengar ucapan Gabriel.
''A-ada yang salah?''
''Tentu saja, kau jauh berbeda dari type Kakak ku yang menyukai wanita cantik dan seksi, berbadan tinggi dan mulus. Sedangkan kau itu bisa di kategorikan pen--dek, dekil, dan kekurangan gizi.''
Entah itu sebuah cemo'ohan atau perkataan yang terlalu jujur, namun perkataan adik iparnya ini lebih pedas di bandingkan ucapan Guntur.
''Maaf, bukan bermaksud meledek mu. Tapi aneh aja jika Kakak menyukai wanita yang persis seperti Gembel.''
''GABRIEL!'' Bentak seseorang dari arah pintu, membuat semua orang terkejut.
''Jida.'' Gabriel menutup bibirnya.
''Tidak boleh berbicara seperti itu, bagaimana pun dia adalah Kakak iparmu yang harus kau hormati.''
Gabriel menunduk. ''Maaf, Jida.''
''Tidak apa-apa Jida, apa yang di katakan Gabriel benar kok.''
''Tidak boleh merendahkan seperti itu, kita semua sama di mata Tuhan.'' Jida Lintang menasihati. ''Gabriel ... cepat minta maaf pada Kakak ipar mu.''
''Maaf, Kak.'' Gabriel menunduk.
''Nggak apa-apa ko.''
¤
¤
¤
¤
¤
Malam hari ... Lisa yang baru selesai mandi tengah kebingungan mencari barang-barang nya yang tadi dia simpan di lemari.
''Di mana semua barang-barang ku, dan baju siapa ini?'' tanya Lisa pada dirinya sendiri, karna banyak baju yang tidak dia kenal.
''Issshh, Ya ampun ...''
CEKLEK!
Lisa mendengar jika pintu kamar terbuka, membuat ia panik dan mengambil baju sembarangan. Karna Ia takut jika Guntur melihat dirinya hanya menggunakan handuk saja.
''Lisa! Ambilkan aku air.''
''Yaa.'' Jawab Lisa dari dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan bajunya, Lisa mengisi air untuk Guntur mandi lalu keluar menghampiri Guntur.
''Ini airnya, Tuan.'' Lisa menyodorkan air minum pada Guntur yang tengah fokus pada ponselnya.
Guntur mengbil air minum itu dan akan meminumnya, namun belum sempat air putih itu masuk kedalam tenggorokan. Guntur sudah tersedak minuman nya karna melihat Lisa dengan pakaian seksinya.
Uhuk. Uhuk.
''Lilis! Kau itu apa apaan!'' Bentak Guntur, melihat penampilan Lisa yang menggunakan gaun tidur panjang namun lengan pendek. Memperlihatkan bahu Lisa yang putih dan mulus.
''Ad-Ada apa, Tuan?''
''Baju mu! Dari mana kau dapatkan baju itu.''
''Dari lemari, Tuan. Soalnya barang-barang ku yang aku taruh tadi siang nggak ada, yang ada cuma baju-baju seperti ini di lemari. Aku juga nggak tau ini baju punya siapa.'' Tutur Lisa menjelaskan, ia tidak mau terkena semprot malam ini.
Sementara Guntur memijat keningnya, ia tau jika ini ulah Nenek nya.
"Sepertinya, keputusan ku untuk tinggal di sini salah besar." Gumam Guntur, dalam hatinya.
''Tu-Tuan.''
''Pergilah! Jangan mengganggu ku.'' Sentak Guntur menyuruh Lisa pergi, namun malah dia yang melenggang pergi dan masuk kedalam kamar mandi.
"Ishh ... nggak capek apa marah-marah terus."
•
...🌷🌷🌷...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Ami batam
jida lintang baek, krn dia juga pernah merasakan sebelum menikah dg omaar, dia hanya orang biasa
2022-12-23
2
Ami batam
adik ipar kyk gini mesti di kasih ulekan cabe biar nggk pedas mulut ny
2022-12-23
1
Ami batam
adik ipar nggk ada akhlaknya, anak mom kaleea kok gitu semua sih 😥
2022-12-23
0