''Selamat datang, Tuan muda.'' Rumi, kepala pelayan menyambut Guntur yang baru pulang dari kantor. Namun Guntur berdecak kesal karna bukan Lisa yang menyebutnya.
''Mana Lisa?'' Tanya Guntur masih berdiri di depan pintu masuk.
''Nona Lisa ada di kamarnya, Tuan.''
''Panggil dia kemari! Apa yang dia kerjakan seharian ini di rumah, sampai-sampai aku pulang saja dia tidak ada.'' Gerutu Guntur.
''Baik, saya panggilkan Tuan.''
Rumi bergegas naik ke lantai atas, di mana Lisa sudah rapih, cantik dan wangi.
TOK.
...TOK. ...
TOK.
''Nona Lisa.'' Panggil Rumi dari luar kamar.
Lisa yang sedang bercermin langsung menoleh ke arah pintu. ''Iyaa ...''
''Tuan Muda Guntur sudah pulang bekerja, dia menunggu anda di depan pintu.''
Lisa berdiri dari duduknya dan membuka pintu. ''Kenapa dia tidak masuk? Biasanya dia langsung masuk.''
''Saya tidak tau, Nona.''
Lisa menghela nafasnya lalu melangkah untuk menghampiri Guntur yang masih setia berdiri di depan pintu menatap tajam ke arah Lisa yang baru saja menuruni anak tangga.
GLEK.
Entah mengapa, Lisa takut dengan tahapan Guntur yang memperlihatkan jika Guntur seperti ingin menelannya hidup-hidup.
''Tuan, anda sudah pulang?'' Lisa memberanikan diri untuk tersenyum menyambut Guntur.
Guntur melemparkan tas kerjanya ke lantai dengan sembarangan, lalu membuka jas dan dasi yang mencekiknya seharian ini.
Lisa mundur satu langkah kebelakang, ia takut jika Guntur akan menyiksa dirinya.
''Kemarilah, mendekat.'' Guntur berkacak pinggang.
Tangan Lisa sudah berkeringat dingin, ia tidak tau apa kesalahan nya hingga Guntur bisa sekesal itu. ''Tu-Tuan apa salahku?''
''Kau masih bertanya apa salah mu!''
TUINGGG.
Guntur menyotor kepala Lisa.
''Salah mu itu tidak menyambutku! Besok, sebelum aku kembali kau sudah harus berdiri di sini menyambutku!''
''Iya.'' Lisa menunduk patuh.
''Apa yang kau kerjakan seharian ini?''
''Pagi sampai sore, aku di ajak Jida jalan jalan dan ke salon, Tuan.''
''Cih, gadis kampung seperti mu itu tidak pantas berada di salon! Kau hanya pantas mandi lumpur di ladang.'' Ledek Guntur, melipat kedua tangannya di dada.
''Lalu, apa lagi.''
''Tidak ada, Tuan. setelah pulang jalan jalan aku langsung mandi.''
"Tidak mungkin 'kan, aku mengatakan jika aku habis nonton film ombak berdayung." Lisa merapatkan bibirnya.
''Ahhkk ...'' Lisa terkejut saat Guntur menarik rambutnya.
''Ini apa? Kau jelek sekali dengan rambut lurus, dan bau apa ini ... huueeekkk! Shampo apa yang kau gunakan.'' Ucap Guntur dengan mikik muka jijik, namun entah kebenaran atau kebohongan yang dia ucapkan.
Lisa mencium rambutnya yang wangi, lalu mengerutkan keningnya dengan bingung.
"Wangi kok, bau apanya ... apa si Tuan Arrogant titisan unta ini sedang pilek!"
''Tuan, ini wangi kok.''
''Apanya yang wangi! Rambut mu bau minyak nyong-nyong.''
''Masa sih, Tuan.'' Lisa senantiasa mencium rambutnya.
Guntur sekali lagi mencium Rambut Lisa, namun kali ini lebih lama. Entahlah, ada sesuatu yang dia suka ketika mencium rambut Lisa.
''Iya bau. Makanya jangan bergaul dengan nenek-nenek! Nanti kau ketularan virus Nenek sebelum waktunya.''
''Nanti saya ganti Shampo, Tuan.''
''Tidak perlu! Orang kampung sepertimu sangat cocok dengan bau seperti itu.'' Cetus Guntur.
Bisa di simpulkan jika Guntur mungkin gengsi mengatakan jika dia suka wangi rambut Lisa, dia juga suka rambut Lisa yang lurus dan nampak ter'urus. Jauh lebih baik di bandingkan saat mereka bertemu.
(Iyalah, uang berbicara! Gimana sih)
''Jadi ... sekarang mau nya apa, Tuan?''
''Makan, aku lapar.'' Guntur berjalan terlebih dahulu ke arah ruang makan, di susul Lisa di belakangnya setelah memungut jas dan tas Guntur yang tadi di lemparkan.
¤
¤
¤
¤
¤
Setelah menyuapi bayi besar makan malam, kini Lisa harus menunggu si Bayi besar itu mandi. Di mana dia harus melihat Guntur mandi di bawah air shower, tapi tenang saja ... kedua mata Lisa terus melihat ke arah tembok agar tidak melihat sesuatu yang belum pantas untuk lihat.
Lisa yang mendengar air shower itu mati, langsung menyodorkan handuk tanpa melihat Guntur.
Guntur mengambil handuk itu lalu memakainya, sembari tatapan Guntur tidak lepas melihat wajah Lisa yang mungil.
"Apa Jida, menyuruh mu nerdandan?"
Lisa langsung mendongkak, mata mereka saling terkunci menatap satu sama lain.
Lisa menelan salivanya ketika rahang Guntur begitu menggoda, pikiran nya teringat akan film ombak berdayung yang tadi sore dia Tonton. Sungguh, otak Lisa sudah tercemari virus virus mesumiah dari Jida Lintang dan ia merasa sudah tidak polos lagi.
"Kenapa tidak menjawab."
"Iya, Jida menyuruhku berdandan untuk anda."
Mereka masih saling menatap.
Guntur menyunggingkan bibirnya, "Dan kau mau melakukannya, Kenapa?''
Lisa diam sejenak. "Itu karna nenek mu sudah menjanjikan kesejahteraan bagi keluargaku." Ucap Lisa dalam hati, lalu berkata. ''Apa aku memiliki pilihan lain selain menuruti kalian?''
Guntur tersenyum. ''Baguslah jika kau sadar diri. Ingat! Kau hanya sebatas pelampiasan dendamku! Jangan harap aku akan menyukaimu.''
Ucapan Guntur membuat Lisa termengu diam tanpa kata, ia sadar akan hal itu. Makanya Lisa membuat tembok yang tinggi untuk mengurung hatinya agar tidak jatuh hati pada Pria yang membenci keluarganya.
•
...🌷🌷🌷...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Shuci_12ka
🤭🤭🤭🤭🤭
2022-12-28
2
Naura putri nani
Gemes sama si guntur🙄🙄
2022-12-28
2
Ditta ◇◇
😄 Si Geledek ada ada aja.
2022-12-26
1