Di apartement Guntur. Lisa tengah mengepack semua barang miliknya, termasuk barang-barang pemberian mertuanya tadi. Namun ada yang mengganjal dalam hatinya ... yaitu belum berpamitan pada sang Ibu.
Lisa ingin sekali bertemu dengan sang Ibu sebelum pergi jauh dari Indonesia, namun ia takut untuk meminta izin pada suaminya yang pasti tidak akan mengizinkan dirinya untuk bertemu keluarganya.
Setelah selesai mengepack barang bawaan nya, Guntur masuk kedalam kamar dan mengejutkan Lisa. ''Astagfirullah!'' Lisa mengelus dadanya.
''Ada apa denganmu, kau seperti melihat hantu saja!'' Sentak Guntur.
"Ya, hantu itu adalah kau! Kau lebih seram di bandingkan hantu."
''Tidak ada Tuan.'' Lisa hanya bisa menjawab itu dari mulutnya, terlalu takut untuk dia menjawab dengan kata-kata yang akan membuat ia terkena hukuman atau bentakkan dari pria Arrogant di depannya.
''Baiklah, mandikan aku!'' Guntur mulai melepaskan kemejanya.
''Hah? Ahh ... Baik Tuan, baik.'' Lisa patuh, saat Guntur menatapnya dengan tajam.
PLUKK.
Guntur melempar kemeja itu tepat di wajah Lisa. ''Taruh kemeja kotor itu ke tempatnya, bengong aja.'' Setelah mengatakan itu, Guntur langsung masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Lisa berkomat kamit tanpa suara, sambil meremas kemeja suaminya dan mengeluarkan semua nama-nama di kebun binatang.
''Jika saja aku memiliki keberanian!'' cicit Lisa tertahan.
''Liliiisss ... cepatlah!'' Teriak Guntur, dari dalam kamar mandi.
"Namaku bukan Lilis! Lisa ... namaku Lisaaa ..."
"Baik, Tuan.'' Hanya itu yang bisa Lisa keluarkan dari mulutnya, ia tidak berani membantah.
Lisa dengan cepat menyusul Guntur ke kamar mandi, namun saat ia baru di ambang pintu ... tiba-tiba Lisa menghentikan langkahnya karna gugup. Entahlah, jantungnya terus berpacu dengan cepat ketika kedua matanya melihat Guntur bertelanjang dada.
Guntur yang sedang berendam sambil memejamkan kedua matanya, langsung menoleh ke arah pintu di mana Lisa diam seperti patung.
''Sepertinya, kau senang sekali aku bentak! Cepat gosok punggungku.'' Guntur yang awalnya bersender, kini duduk dengan tegak.
Lisa menunduk dan berjalan ke arah Guntur, lalu duduk di pinggir bathub menggosok punggung Guntur dengan perlahan.
Dalam hati Lisa, ingin sekali ia menggosok tubuh Guntur dengan sikat wc agar semua ruh jahat yang menempel di badannya bisa keluar.
Namun ... lagi dan lagi umpatan itu hanya bisa ia keluarkan dalam hatinya.
"Punya badan bagus! Tapi sayang kelakuan macam dakjal."
''Apa kau sedang mengumpatku!'' sentak Guntur secara tiba-tiba, membuat Lisa langsung terbelalak dan menggeleng.
''Tidak, Tuan. Mana berani saja mengumpat anda.''
''Hm bagus! Karna jika kau mengumpatku, akan aku tendang kedua Orangtua mu.'' Ancam Guntur.
Lisa terdiam, dan menggosok dengan lembut. Setelah beberapa menit memandikan Guntur, keduanya pun keluar dari kamar mandi menuju ruang ganti. Lisa memilih baju mana yang akan di pakai oleh suaminya, namun baju di dalam lemari terlalu banyak hingga ia bingung harus memilih yang mana.
''Tuan, adakah baju yang anda suka dan ingin anda gunakan?'' Tanya Lisa tanpa melihat Guntur di belakangnya.
''Ck, kau itu bisanya apa? memilih baju saja tidak becus!''
"Bukan aku yang tidak becus! Tapi baju mu saja yang terlalu banyak."
Guntur melangkah dan berdiri tepat di belakang Lisa tanpa jarak, membuat Lisa gugup saat dada bidang Guntur menempel padanya.
"Heiii Tuan, dada nada menempel di punggungku. Tolonglah kondisikan juga adik kecil mu jangan sampai di menempel juga di bokong ku."
''Kenapa dengan wajah mu itu? Sesenang itu 'kah berdekatan dengan pria tampan sepertiku.''
"Apa! Yang benar saja, asal anda tau yaa Tuan. Jika aku membenci sampai ketulang usus mu."
''Tidak, Tuan.'' jawab Lisa menunduk.
''Apa!'' Bentak Guntur, merasa tidak suka dengan jawaban Lisa.
''Eh, iya Tuan ... sejujurnya aku senang berdekatan dengan anda. Anda tampan, kaya, berkharisma, dan juga baik hati.'' Bohong Lisa.
"Puas kamu? iyaa, aku yakin kau sangat puas setelah mendengar jawaban dariku."
Guntur memiringkan bibirnya membentuk senyuman. ''Good girl.''
Lisa menghela nafasnya dengan panjang, lalu membuang nafas penuh emosi itu dengan perlahan.
''Lilis, cepat pakaian aku baju! Apa kau mau aku masuk angin.''
Baru saja Lisa mengeluarkan nafas penuh emosinya, kini ia harus menghirup kembali nafas yang sudah dia keluarkan.
''Sabar Lis ... suatu saat dia pasti akan bosan padamu, lalu membiarkan mu pergi.'' cicit Lisa, sambil menutup pintu lemari dan berjalan ke arah Guntur yang masih setia bertelanjang dada.
"Yaaa ... suatu saat aku yakin jika pria Arrogant ini akan bosan padaku dan membiarkan aku pergi untuk selama lamanya. Di mana hari itu akan selalu aku nantikan, hari kebebasan ku."
¤¤¤¤¤
''Tu-tuan ... boleh tidak kalau, ak-aku izin bertemu dengan Ibu?'' tanya Lisa, memberanikan diri meminta agar sekali ini saja bertemu dengan Ibunya sebelum pergi.
''Apa kau memiliki hak untuk itu?'' Tanya balik Guntur.
Lisa menunduk, ''Tidak, Tuan'' jawab Lisa dengan sedih.
''Jika kau sudah tau, kenapa kau masih berani untuk bertanya.''
"Aku tau jika jawabanmu pasti tidak akan mengizinkan ku, tapi 'kan tidak ada salahnya untuk berihktiar ... siapa tau ada malaikat lewat dan membuka hati nurani mu."
''Sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkan dirimu untuk bertemu dengan keluarga mu, Kau bisa menelpon atau video call dengan mereka tanpa harus bertemu.''
''Iya, Tuan.''
''Mana ponselmu.''
Lisa berjalan ke arah nakas lalu mengambil ponselnya, memberikan poselnya pada Guntur.
''Ini Tuan.''
''Benda apa ini?'' Guntur bertanya dengan mimik muka jijik.
"Apa kau bodoh! Itu ponsel."
''Itu ponselku Tuan, ada yang salah?'' Tanya Lisa.
''Iyukkk, buluk seperti yang punya Ponsel.'' Guntur memegang ponsel Lisa, dan masih memasang tatapan jijik.
"Yaaa ... hina saja aku, tadi pagi baju dan sekarang ponselku."
Lisa merebut ponselnya dari tangan Guntur, ''Ponselku memang buluk Tuan. Puas anda!"
''Up to you!'' Guntur melemparkan ponsel itu sembarangan, membuat Lisa kalang kabut menangkap ponselnya.
"Ahh ... untung saja."
''Aku mau pergi dan pulang agak malam, ingat untuk membuka pintu." Pesan Guntur.
"Baik, Tuan."
Guntur yang sudah rapih lalu pergi dari apartemen untuk bertemu dengan teman-teman nya. Ia akan menghabiskan waktu bersama dua teman dakjalnya, karna ini hari terakhir mereka bersama sebelum Guntur pindah ke UEA.
Sementara Lisa ... ia sedang berpesta atas kepergian Guntur walau sejenak, yang penting dia bebas dari aturan-aturan yang di buat pria Arrogant yang tidak memiliki hati nurani.
''Yeeeyy ... aku bebas, aku bebas ...'' Teriak Lisa melemparkan bantal Sofa ke sembarang arah.
Lisa melompat lompat di atas sofa, berteriak sesuka hatinya, menyalakan televisi sambil memakan cemilan yang ada di dalam kulkas.
Malam ini Lisa akan berpesta sendirian.
•
...🌷🌷🌷...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
🔵◡̈⃝︎☀MENTARY⃟🌻
Makin Seru Kk
Perjuangan Ucup Mampir
2022-12-21
1
Shintaw4
Up Lagi Kak.
2022-12-20
2
Shuci_12ka
Kasihan bener si lisa
2022-12-19
1