"tapi aku tak mengerti Lynn, kenapa kau benar-benar menyukai tempat itu." Ellie berbicara dan menyuapi Alena.
"Tempat apa?" Lynn mencoba untuk memperjelas apa yang ditanyakan oleh Ellie, dia takut untuk salah menjawab pertanyaan dari 'istri' nya itu.
"Tebing itu, kau ingat tidak? Kau sering mengajakku ke sana bahkan sebelum kita menikah." Ellie menjawabnya dengan sabar.
"Ahh benar.." Lynn tak tahu harus menjawab apa.
Saat ini Lynn mencoba berpura-pura menjadi 'Lynn' yang dikenal oleh Ellie, dia mencoba berbaur seakrab mungkin dengan 'istrinya' itu walaupun dia tak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini.
Lynn berpikir dan terus berpikir cara untuk menjawab pertanyaan Ellie meskipun dalam lubuk hatinya dia merasakan sebuah ketenangan dan kesejukan setiap melihat dan memandangi lautan dari tebing sebelumnya.
Tapi dia tak bisa menjawabnya begitu saja.
"Aku tak tahu bagaimana cara untuk menjelaskannya..."
"Hahh..." Ellie menghembuskan nafasnya.
"Eh? Kenapa? Ada apa denganmu?"
"Aku sudah benar-benar ingin mengetahui alasannya tapi kau selalu bilang hal yang sama setiap aku menanyakannya."
"Benarkah?"
"Benar! Bahkan kemarin saja-" omongannya terpotong.
"Ibu! Aaaaa!" Alena membuka mulutnya dengan lebar.
Dia menyuapi Alena dan kemudian memberikan mangkuknya kepada Alena.
"Alena, kau bisa makan sendiri kan? Kau sudah belajar kemarin."
"Ya!"
Alena mengambil mangkuk yang diberikan oleh ibunya dan mulai makan dengan sendirinya.
"Bukankah mangkuk itu masih panas?"
"Tidak, aku tadi sekalian meniupnya jadi sudah cukup hangat untuk dipegang oleh Alena sekarang."
"Baiklah..."
"Bagaimana dengan demam mu Sayang? Apakah sudah turun? Apa kau masih merasa pusing?"
"Tidak.. aku sudah baikkan sekarang, terimakasih telah mengkhawatirkan ku."
"Tentu saja tak apa, itu adalah sebuah tugas seorang istri untuk tetap menjaga kesehatan anggota keluarganya!" Dia menjawabnya dengan percaya diri.
Ellie, dia adalah seorang wanita yang terlihat berumur 20 tahunan, dia bertubuh feminis dengan sikapnya yang cukup tomboy, dia memiliki mata berwarna hitam pekat dan rambut hitam yang halus dan panjang, tingginya mungkin sebahu dari tubuh Lynn.
Dan dia adalah istri dari Lynn.
"Yahh, baiklah.. kurasa sudah terlalu malam untuk berbicara, Alena apa kau sudah kenyang?"
Alena mengangguk.
"Apa kau mau hanya diam disana atau masuk ke dalam." Ellie yang sudah masuk ke dalam rumah menahan pintu dan memanggil Lynn.
"Tunggu lah sebentar, aku akan pergi ke dalam jika api nya sudah padam."
"Baiklah." Ellie kemudian menutup pintunya dan membiarkan Lynn di luar rumah sendirian.
"Akhirnya... Sebuah tempat untuk berpikir."
"Istri yah..." Lynn melihat ke langit dan menatap hamparan bintang-bintang di angkasa yang banyaknya tak terkira.
"Aku bahkan tak memilikinya sebelum kejadian itu... Tapi ada orang yang ku cintai..."
"Yahh... Bagaimanapun juga kesampingkan dulu hal itu."
"Aku tak mengetahui apa yang terjadi, bahkan sebelum ini... Aku tak sempat bertanya pada wanita itu."
"..."
"Dia menyuruhku untuk pergi tapi aku terlalu lambat untuk itu, mungkin ini lah akibatnya."
"Tapi... Tidak, aku bahkan tak tahu jika ini asli... Apakah ini semua akan berlanjut?"
"Atau aku akan berada di tebing itu lagi."
"Atau lebih buruknya lagi..."
"..." Lynn tak sanggup mengatakannya.
"Yahh... Yang penting kurasa hanyalah sebuah kemampuan untuk beradaptasi karena aku tak mengetahui apa yang akan terjadi padaku, dan seberapa tak terduganya hal itu."
Lynn berbaring.
Dia menggerakkan tangannya dan mencoba menggapai bintang-bintang itu.
"Apakah semua ini nyata?"
.........
.........
.........
"Bangunlah Lynn." Sebuah suara memanggilnya dari dekat.
Lynn tertidur dengan lelap di luar rumah.
Dia membuka matanya dan melihat Alena dengan wajahnya yang sangat dekat di atasnya.
"Wahh!" Lynn terkejut dan mendorong Alena hingga sedikit terpental dari tubuhnya
Lynn segera bangun dan membantu Alena berdiri.
"Maafkan aku Alena... Kau mengagetkanku." Lynn mengulurkan tangannya.
"Yah.. tak apa, aku yang salah sih hehe.."
"Kau terluka atau apa? Bagaimana dengan..."
Lynn merasakan sebuah angin laut mengelus kulitnya diikuti dengan suara ombak.
"Ah.."
Lynn sudah tersadar sepenuhnya.
Dia sudah kembali menuju tebing bersama Alena yang sudah besar.
"Bagaimana dengan apa Lynn?" Alena penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Lynn
"Tidak... Tak ada apa-apa."
"Hmm... Baguslah, kurasa kau hanya bermimpi."
"Omong-omong apa yang terjadi kemarin?" Lynn bertanya mengenai apa yang sudah terjadi.
"Kau tak mengingatnya?"
Lynn menggelengkan kepalanya.
"Kita bermain kejar-kejaran dan kemudian kau tiba-tiba menangis dan tertidur."
"Kau tahu... Cukup berat membawamu dari sana menuju pohon ini." Alena menunjuk ke sebuah tempat yang tak jauh dari pohon yang mereka jadikan tempat untuk berteduh.
"Maafkan aku..."
"Tak apa, untung saja aku bisa membuat api hehehe, untung tak turun hujan kemarin, jadi semua kayu dan juga rantingnya kering."
"Begitulah."
"..." Mereka terdiam sejenak.
"Baiklah.. kurasa aku akan membuat sebuah masakan yang lezat untukmu Alena, ini semua berkat kerja kerasmu."
"Yah.. walaupun aku berniat membuatnya kemarin malam..." Lynn berbicara dengan suara yang tak terlalu jelas.
"Haruskah ku bantu?"
"Tak apa... Kau diamlah disana dan aku yang akan melayani mu dari sekarang tuan putri." Lynn mengucapkannya dengan nada yang lucu.
Alena tertawa dengan guyonan Lynn dan menunggu di bawah pohon.
Lynn menyiapkan kayu dan membuat api.
Dia meletakkan panci dan mulai memasukkan bahan-bahan yang akan dimasaknya.
Setelah beberapa saat jadilah sebuah...
"Sup jamur dengan kaldu ayam dan untuk karbohidrat aku memasukkan jagung ke dalamnya."
Alena sangat bersemangat untuk memakan makanan Lynn.
"Baiklah, ini dia."
Lynn memberikan mangkuk berisi sup kepada Alena dan dia langsung melahapnya.
"Kau benar Lynn, ini enak."
"Aku tahu."
"Omong-omong Alena..." Di tengah situasi yang cukup hening.
Lynn akan mencobanya.
Mencoba mengajak Alena untuk pergi menuju Añýa.
Alena melihat ke arah Lynn tepat di matanya.
"Aku tak tahu harus memulainya dari mana, tapi apakah kau mau-"
"Ya."
Ucapan Lynn dipotong dengan jawaban tenang darinya.
"Aku belum selesai." Lynn mengucapkannya dengan tak terima bahwa ucapannya dipotong.
"Kau ingin mengajakku bukan?" Alena menebak-nebak.
"Dan, itulah jawabanku."
"Aku merubah pikiranku."
"Aku mengingat kembali apa yang diucapkan oleh ayahku di tempat ini dulu."
"Dan aku berubah pikiran."
"Ayahku sangat menyukai tempat ini kau tahu.."
Lynn terdiam.
Dia menelan ludahnya.
"Alena, bisakah kau menceritakan mengenai ayahmu?"
"..." Alena terdiam ragu.
"Baiklah kurasa... Bagaimana dengan ibumu? Aku ingin mendengarnya."
"Ibuku... Dia itu sangat baik, dan juga sangat perhatian... Dia mengajariku cara makan dan juga cara menanggapi ayah yang sering pergi ke sini."
"Tapi aku menyukai saat ayah mengajakku ke sini walau ibu sering memarahinya... Karena itulah Lynn, terima kasih telah membawaku kesini."
"Tentu, tak apa... Omong-omong kurasa sudah waktunya kita pulang... Di desa mungkin saja..."
Lynn dan Alena kemudian mempercepat makan mereka dan memastikan kembali barang-barang yang mereka bawa tak ada yang tertinggal.
Setelah mengecek semuanya mereka berdua pergi ke ujung tebing.
Melihat hamparan lautan yang luas memenuhi panorama.
Dan kembali menuju Schlomit.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Poka😖
ditunggu lanjutannya!!
2022-12-27
1
Poka😖
REGULUS KEREN BANGETTTT!!!!😍😍😍
2022-12-27
1