"akhirnya, aku menemukanmu."
Seorang wanita yang mengenakan pakaian layaknya seorang pelayan datang ke hadapan Lynn yang sedang mempersiapkan barang yang akan dia jajakan sendirian.
"Ha?" Lynn melihat ke arahnya dengan kebingungan.
"..."
Situasi yang tak terduga terjadi, seseorang yang tak dikenalnya tiba-tiba datang ke hadapannya.
"Maafkan aku... Tapi apakah kita pernah bertemu?" Lynn bertanya dengan canggung.
"Tidak! Tapi aku yakin, kau lah orang yang majikanku cari." Dia berbicara ambisius dengan nada datar.
"Ha?" Lynn makin tak mengerti.
"Majikan? Memangnya siapa kau?"
"Ah, maafkan aku karena belum mengenalkan diriku..."
Wanita itu menundukkan badannya memberi salam di depan Lynn.
"Namaku adalah No.4 dan majikanku menyuruhku untuk mencarimu selama ini, Pemuda yang tersesat di angkasa."
!
"Tunggu, bagaimana kau..." Lynn bereaksi setelah mendengar sesuatu yang hanya diketahuinya itu diucapkan oleh seseorang yang tak diketahui olehnya.
Wanita itu berdiri kembali dan memberikan Lynn sebuah kertas berwarna kecoklatan dengan pita berwarna merah.
"Kenapa kau bisa mengetahui hal itu?!"
"Sayangnya untuk mendapatkan jawaban lebih kau harus menemui majikanku secara langsung, aku hanya ditugaskan untuk mencari dan memberikan informasi mengenai keberadaannya." Ucap Wanita itu dengan datar.
"Oh! Benar juga"
"Setelah ini, kau yang memutuskan langkah berikutnya, apakah kau ingin menemuinya atau tetap disini tak ada yang melarang."
"Itu adalah semua pesan yang dititipkan oleh Beliau untukku."
"Kalau begitu, permisi." Wanita itu berbalik badan lalu menaiki sebuah kereta kuda.
Lynn benar-benar tak diberi kesempatan untuk memberikan satupun pertanyaan.
"Ada apa Lynn?" Alena yang baru sampai di pasar menyapa Lynn yang terdiam kebingungan.
"Tidak... Tak ada apapun." Dia mencoba menyembunyikan kertas yang diberikan 'No.4' kepadanya.
"Begitukah? Baiklah, kalau begitu kenapa kau tak melanjutkannya?"
"Ahh, benar juga biar kubereskan lagi semua barangnya."
Lynn menjalankan harinya seperti biasanya, dia berjualan hasil panen milik Laurissa dari pagi hingga sore hari.
"Lynn, kau terlihat memikirkan sesuatu dari tadi? Ada apa?" Alena berjalan mendekati Lynn
"Tidak... Tak ada apapun." Lynn mencoba untuk bertingkah seperti biasanya sebisa mungkin.
"Oh... Omong-omong kemana kita akan pergi hari ini? Kemarin kita sudah mencoba setengah jalan menuju desa sebelah bukan? Setelah sekian lama mencobanya itu adalah sebuah rekor perjalanan kita."
Sudah menjadi kebiasaan selama Lynn disini dia selalu mengajak Alena untuk pergi berjalan-jalan setelah berjualan di pasar lalu pergi ke rumah Laurissa setelah siang termakan oleh gelapnya malam.
"Ahh, kurasa aku tak bisa pergi kali ini Alena.." Lynn ingin segera membaca isi dari surat yang diberikan kepadanya itu.
"Ada apa? Tak biasanya." Alena mulai curiga dengan tingkah laku yang dilakukan oleh Lynn.
"Ya... Hanya saja aku merasa sangat lelah hari ini, bukankah kau juga merasakannya?" Berbohong.
Lynn telah memberikan sikap yang tentunya akan dicurigai oleh Alena.
"Benar juga..."
"selama ini kita tak selalu langsung pergi ke rumah, kurasa jika kau sakit itu wajar."
"Ya... Benar bukan?"
Alena menatap Lynn dengan curiga.
"Ada apa Alena?"
"Kau bersikap seperti itu lagi Lynn." Alena menyadari sikap Lynn yang berbeda.
"Apa..."
"Kau bertingkah aneh lagi seperti dulu, ada apa?"
"Tak ada, sungguh aku tak menyembunyikan apapun."
"Yahh, kalau begitu tak apa."
Phew!
Lynn menghembuskan nafas leganya setelah menghindari percakapan yang menyusahkan.
Dia kembali membereskan barang dam bersiap untuk pulang.
"Tak kusangka Lynn." Alena tiba-tiba berbicara aneh.
"Apa yang kau maksud Ale-" Dia membalikkan badan dan melihat Alena sedang berdiri sambil memegang surat yang dia sembunyikan.
Alena hampir tak bisa menjaga keseimbangannya untuk berdiri.
"Tak kusangka kau akan meninggalkanku." Alena melemparkan surat yang dibaca olehnya dan berlari.
"Alena!"
Semua orang di pasar melihat apa yang terjadi, dan Lynn meminta maaf atas keributan yang telah terjadi.
Lynn bahkan tak mengetahui apa isi dari surat itu.
Dia mengambilnya dari tanah dan mulai membacanya.
..."Kepada pemuda yang tersesat di angkasa...
...Surat ini kuberikan padamu untuk memberikanmu sebuah petunjuk....
...Aku merasa bersalah karena tak memberikanmu petunjuk yang lebih sebelumnya karena memang waktu kita hanya sedikit saat itu....
...Waktu berlalu dengan sangat cepat sehingga kau pastinya sudah memiliki kehidupanmu sendiri disana....
...Maaf karena tak menemukanmu dengan segera tapi aku ingin kau mengetahui kalau aku telah mencarimu selama ini....
...Oleh karena itu, sebagai bentuk permintaan maafku aku takkan terlalu memaksamu untuk pergi menuju tempatku....
...Dan kau bisa menjalani hidup yang sedang kau jalani tanpa gangguan dariku atau siapapun yang berada di pihakku....
...Tapi jika kau ingin mengetahui apa yang terjadi padamu dan melanjutkan kisah yang tak diketahui ini, temuilah aku di mansion kota Añýa....
...Akan kujawab semua pertanyaan yang mengganjal dalam pikiranmu, dan aku akan memberitahu tugasmu wahai yang terpilih....
...Dengan begitu...
...Sekian...
...-Teala-"...
Surat yang cukup panjang.
"Tapi, kenapa Alena tiba-tiba bertingkah seperti itu, padahal surat ini hanya berisi mengenai hal yang belum ku tentukan seperti ini."
Lynn menggulungkan kembali kertas dan memasangkannya lagi pita.
Lynn membawa gerobaknya dan mencari Alena di seluruh tempat di desa.
"Alena!"
Tak ada yang menjawab, bahkan setelah semua tempat di desa dia datangi.
Semua tempat di desa kecuali satu.
Rumah
"Nek Laurissa aku pulang."
Lynn masuk ke dalam rumah dan benar saja ada Alena yang sedang membungkuk sambil menangis.
"Ah, kau sudah pulang anak muda, duduklah."
Lynn duduk di kursi yang ada di dekat Alena.
Alena memalingkan wajahnya.
"Ku dengar dari Alena kalau kau sudah kembali mengingat ingatanmu akhir-akhir ini."
"Ya.. itu benar."
"Lalu barusan juga Alena berkata kalau kau akan segera pergi dari sini."
"Ah, mengenai hal itu."
"Itu benar!" Alena menyela ucapan Lynn.
"Dia menyimpan sebuah surat yang isinya mengenai pergi dari desa ini dan pergi ke Añýa lalu bertingkah aneh seharian ini."
Laurissa tersenyum ke arah Alena.
"Jangan menyela perkataan seseorang seperti itu Alena, itu tidak baik."
Alena kembali menunduk.
"Jadi anak muda, bisakah kau menjelaskannya padaku."
Lynn menjelaskan situasi yang terjadi.
Dia menceritakan semuanya dari awal.
Dari ketika seseorang yang tak dikenalnya tiba-tiba datang menghampirinya dan memberikan surat.
Hingga saat Alena membaca surat itu bahkan sebelum Lynn mengetahui isinya.
Laurissa mendengarkan penjelasan dari Lynn dengan senyuman di wajahnya.
"Jika kau tak keberatan bolehkah aku membaca surat itu?" Laurissa mencoba mencari jalan keluar.
"Tentu..." Lynn menyerahkan surat yang diterimanya.
Laurissa membacanya dengan cukup cepat.
"Ya..." Laurissa memberikkan kembali surat itu pada Lynn.
"Banyak kata yang tak ku mengerti dari surat itu."
"..." Lynn dan Alyssa terdiam.
"Tapi bukankah itu bagus untukmu anak muda?"
"Saat pertama kali bertemu kau bilang hanya mengingat seorang wanita yang sedang kau dari benar bukan?"
"Ya..."
"Dan sekarang wanita itu memberikanmu petunjuk untuk menemuinya benar bukan?"
"Benar.."
"Tapi aku belum memutuskannya, aku bahkan belum memikirkannya."
"Maka dari itu pikirkan dan putuskan segera, ini akan mempengaruhi dirimu kedepannya, aku akan menerima apapun yang kau putuskan."
"..."
Hening.
Laurissa dan Alena memberikan Lynn kesempatan untuk berpikir.
'benar'
'semua ini akan mengubah semuanya untuk kedepannya.'
'aku tak bisa meninggalkan Laurissa bersama dengan Alena sendirian.'
'tapi di sisi lain, aku mempunyai banyak pertanyaan yang ingin ku sampaikan.'
.......
.......
.......
.......
.......
"Baiklah... Sudah ku putuskan."
Setelah beberapa saat Lynn berpikir, dia akhirnya dapat keputusan.
"Aku sangat berterimakasih karena semua hal yang telah kau berikan padaku Laurissa, aku sangat menghargai itu."
"Dan juga hari-hari bersama dengan Alena yang ku jalani di desa ini sangatlah menyenangkan."
"Tapi..."
"Sayangnya aku tak bisa tetap berdiam disini, aku sudah memikirkan jika aku melepaskan yang ini akan membuatku menyesalinya seumur hidupku."
"Dengan berat hati.. aku akan pergi menuju Añýa." Lynn membuat keputusannya.
Laurissa tersenyum.
"Baiklah, ku hargai pilihanmu itu."
Alena terlihat murung.
"Alena.." kata-kata itu disampaikan dengan sangat lembut oleh Laurissa.
"Kenapa kau murung?"
"..."
"Apakah kau tak menerima keputusan yang dibuat oleh Lynn?"
Alena menggelengkan kepalanya.
"Lalu? Bicarakan saja sekarang."
"..."
"Aku hanya... tak ingin Lynn pergi meninggalkanku."
Alena bersuara.
Laurissa tersenyum.
"Lalu?"
"Aku juga tak ingin terpisah dari Lynn."
"..."
"Baiklah..."
"Kalau begitu Alena."
"Lihatlah aku."
Alena memalingkan wajahnya.
"Ayolah Alena."
Dia perlahan melihat ke arah Laurissa.
"Ikutlah dengannya."
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments