"baik, di sini lah kita.. tunggulah di sana dan akan ku carikan peta dan beberapa dokumen mengenai Añýa."
Lynn duduk di kursi yang ditunjuk oleh Rigel.
Lynn mengingat kembali saat pertama kali dia kesini.
"Yahh, waktu memang cepat berlalu."
"Ada apa Lynn?"
"Tak ada."
"Baiklah, ini adalah peta nya, kau lihatlah dulu, aku belum menemukan dokumennya."
"Ya, baiklah."
Lynn melihatnya dengan seksama.
"Tak kusangka jaraknya akan sejauh ini."
"Mau tidak mau memang seperti itulah adanya."
Rigel terus menggeledah lemari dan mencari dokumen.
"Menaiki kuda akan memakan waktu sampai dua minggu."
"Ahh, jadi hanya berjalan kaki akan memakan waktu sampai satu bulan?" Lynn membenturkan kepalanya pada meja yang ada di depannya.
Rigel tersenyum.
"Ahaha, Begitulah."
"Nah ketemu juga.."
"Apa itu?"
"Dokumen mengenai informasi dasar dari Kota Añýa."
"Setidaknya sampai tahun lalu informasi ini masih belum berubah."
"Belum berubah?"
"Ya, terkadang satu peraturan bertambah jika Raja sudah memutuskan dan itu akan disebarkan menuju seluruh kerajaan, dan berhubung Schlomit jauhnya sampai dua minggu perjalanan jadi biasanya informasi itu datang dengan telat."
"Ada yang menggangguku Rigel."
"Apa itu?"
"Raja? Apa maksudmu dengan raja?"
"Raja, seseorang yang memimpin negeri ini."
"?" Lynn memasang wajah tak mengerti.
"Ah, benar juga aku belum menjelaskannya padamu yah."
"Añýa adalah sebuah Ibukota Kerajaan dari Negeri ini."
"Baiklah... tapi bagaimana dengan Schlomit?"
"Schlomit adalah sebuah Kota secara resminya, tapi karena terlalu jauh dari Ibukota dan juga tak terlalu banyak yang bermukim disini jadi orang-orang terus menyebutnya desa." Jelas Rigel.
"Añýa, Aldeb dan Schlomit adalah tiga kota besar yang ada di negeri ini, selain itu nama-nama yang ada di peta adalah nama desa."
"Ahh... Pantas saja ramai orang-orang dari desa sebelah yang sering datang ke sini, tapi aku tak menduganya loh."
"Begitulah, saat perjalanan mu nanti cobalah mampir menuju Aldeb dan bandingkan dengan tempat ini, perbedaannya akan terlihat sangat jelas."
"Omong-omong kapan kau akan berangkat?"
"Eh? Yahh, entahlah mungkin satu bulan lagi, lagipula membawa Alena bersamaku saat dia sedang marah padaku takkan membuat situasinya menjadi lebih baik."
"Dan juga banyak yang harus ku siapkan."
"Ya.. kau benar, lalu setidaknya lihat aku saat menggendong bayiku."
"Tentu saja, aku takkan pergi begitu saja."
"Kalau begitu...."
"aku akan pulang sekarang Rigel, aku ingin meminjam dokumen dan juga peta yang kau berikan."
"Ambilah, kau tak perlu mengembalikannya, masih ada banyak disini, dan pastinya kau membutuhkan peta itu benar bukan?"
"kau benar... tapi aku merasa tak enak padamu."
"Tak apa, kau tak perlu merasa sungkan begitu."
"Jika kau berkata begitu.."
Lynn berjalan menuju pintu dan memutar kenop pintunya.
"Oh Lynn!" Rigel memanggil.
"seperti biasa jika kau butuh sesuatu carilah aku dan aku akan membantumu sebisaku."
"Ya! Terimakasih telah membantuku selama ini Rigel."
Lynn meninggalkan pos penjaga.
"Satu bulan yahh..."
Lynn melihat ke atas langit.
"sudah satu bulan aku berada disini, pada satu minggu pertama aku sangat takut untuk tidur karena tak ingin semua ini menghilang begitu saja."
"tapi setelah satu minggu berjalan dengan lancar aku bisa tidur dengan nyaman."
"ya.. banyak hal yang ingin ku tanyakan pada orang itu."
Lynn membuka surat itu lagi.
Dia membacanya lagi dari atas hingga bawah.
"Namaku Te-"
Lynn mengingat saat didorong olehnya menuju tempat ini dia bahkan tak sempat memberitahukan namanya.
"Teala."
"Setidaknya aku mengetahui namanya sekarang."
^^^.^^^
........
.........
..........
...........
"Baiklah, aku sudah menyiapkan semua perbekalan yang harus ku siapkan sebelum berangkat."
Lynn sedang berada di kamarnya dan mengecek barang-barang yang sudah disiapkannya.
Sudah dua minggu Lynn mempersiapkan apa yang harus dibawanya dari mulai informasi hingga semua yang harus dibawa selama perbekalannya.
"Yah, tapi ada satu masalah lagi."
Alena belum memutuskannya.
"Dia masih ada dalam dilemma, tapi kurasa sudah saatnya memberikannya dorongan, mengingat Laurissa sendiri yang menyuruhku untuk pergi bersamanya."
Lynn dan Alena mulai saling berbicara lagi setelah 3 hari, pada saat itu Alena terus mencoba untuk menghindarinya sebisa mungkin.
"Yahh, mungkin sudah saatnya untuk mengajaknya ke tempat itu."
Lynn pergi keluar kamarnya.
"Alena."
Dia memanggilnya tapi tak ada satu jawaban pun.
"Laurissa?"
Begitu juga Laurissa, mereka berdua tak ada di rumah.
"Baiklah, kurasa mereka sedang melakukan sesuatu tanpa melibatkan ku."
"Ah, bagaimana jika aku mencoba mencari Rigel, kalau tak salah anaknya akan lahir di antara hari ini atau besok, aku harus menemaninya."
Lynn pergi meninggalkan rumah Laurissa dan mencari keberadaan Rigel.
"Yo Rigel." Lynn menyapa Rigel yang ternyata sedang berpatroli di dekat rumah Laurissa.
"Ahh, Lynn. Bagaimana dengan persiapanmu?"
"Sudah ku siapkan semua yang ku butuhkan, hanya saja Alena masih belum bisa memutuskan."
"Ternyata berat juga yah... Tapi apakah kau mempunyai cara untuk membujuknya?"
"Ya, tentu saja aku aka-"
"Lynn!" Suara Alena memanggilnya dari belakang.
Lynn dan Rigel melihat ke arah Alena diikuti oleh Laurissa di belakangnya.
"Darimana kau Alena?"
"Aku baru saja membeli daging, nenek bilang dia ingin memasak semur untuk makan malam nanti." Alena menjelaskan dengan senyuman di wajahnya.
"Ya, baguslah."
"Ahh, Rigel kau disini... Bagaimana istrimu?" Laurissa yang baru saja sampai langsung menyapa Rigel.
"Dia baik-baik saja, tapi kurasa aku masih belum siap menjadi seorang ayah."
"Hahaha, kau mirip dengan suamiku dulu sebelum aku melahirkan putriku."
"Dia begitu khawatir pada dirinya sendiri."
"Apakah aku pantas menjadi seorang ayah." Laurissa menirukan bagaimana cara suaminya berbicara.
"itu adalah ucapan yang diucapkan olehnya dulu."
"Yahh, aku yakin suami mu pasti orang yang sangat baik." Rigel tersenyum.
"Tentu saja, dia orang yang sangat baik"
"..."
"Baiklah kurasa, aku harus kembali berpatroli."
"Ya, jangan berpatroli terlalu jauh dari rumahmu atau kau akan melewatkan momen dimana istrimu melahirkan."
"Terimakasih atas sarannya Laurissa."
Rigel pergi.
"Nek, apakah aku juga akan menikah suatu saat nanti?"
Pertanyaan yang tak terduga akan diucapkan oleh Alena keluar.
"Tentu, semua orang pasti menemukan cinta mereka suatu saat."
"Tapi, bagaimana denganmu dan Lynn? Bukankah dengan begitu aku harus meninggalkan kalian?"
Alena benar-benar tak bisa meninggalkan Lynn dan Laurissa.
Menurut Alena, mereka berdua adalah orang yang paling berharga untuknya.
Tapi hal ini juga menunjukkan kalau Alena belum siap pergi bersama dengan Lynn.
"Haha, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku."
"Tapi, di setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, meskipun kau sudah menyayangi orang itu dengan seluruh hatimu, jika takdir sudah berbicara dan memisahkan kalian berdua maka itulah yang sudah seharusnya."
"Dulu Yulia, anakku juga tak bisa meninggalkan desa ini dan tak ingin pindah menuju Añýa bersama dengan suaminya."
"Sama sepertimu." Laurissa mencolek hidung Alena.
"Tapi sudah ku katakan kalau aku tak ingin meninggalkanmu nek!" tingkah Alena benar-benar mencerminkan tingkah anak kecil saat ini.
"hmm... itu berat, tapi bukankah kau ingin menikah?"
"Jika menikah artinya aku meninggalkanmu, aku takkan menikah dengan siapapun."
Laurissa mengacak-acak rambut Alena.
"sudah, mari kita pulang ke rumah dan masak semurnya aku rasa akan lebih enak untuk dimakan siang hari."
"benar kan... Lynn" Dia melirik Lynn, dan sepertinya tahu kalau Lynn akan mengajaknya menuju suatu tempat.
"ya, aku akan membantu."
"kalau begitu ayo."
Laurissa, Alena dan Lynn pergi menuju rumah dan membuat semur daging bersama-sama.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Poka😖
mau nanya dong thor kan di keterangan juga Schriftsteller itu penulis dalam bahasa Jerman.. nah kok milihnya beda sii sama yang lain kan biasanya disebut time traveler atau yang lainnya
2022-12-26
1