Mereka berdua sedang berpelukan dengan sangat erat dan Lynn mengelus-elus kepala Alena.
Tiba-tiba pandangan Lynn menjadi kabur.
Dia mengusap matanya.
Dan apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang dikenalinya.
"Apa yang sudah kulakukan?"
"Apa aku membuat sebuah kesalahan?"
"kenapa aku berada disini?"
"Lagi.."
Apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang pernah dirasakannya sebelumnya, dia terapung dalam kegelapan.
Dalam kegelapan tanpa ujung itu...
Dia..
Kebingungan.
"kalau tak salah, aku..."
Dia mencoba mencari kesalahan yang telah diperbuatnya.
Lynn benar-benar belum mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana caranya bisa kembali.
"aku mengajak Alena.." Lynn mencoba mengingat apa yang terjadi.
"dimana.."
"Alena!!!" Dia membalikkan badannya, mencari keberadaan Alena.
Tapi yang dilihatnya hanyalah sebuah kegelapan tanpa ujung.
"ahhh..." suara kecewa terdengar dari Lynn
Lynn menyadari bahwa dirinya hanya sendirian di dalam kegelapan ini.
"tidaaaak..."
"jangan jadi seperti ini...."
"bukankah semua itu nyata..."
"kehidupanku..."
Dia dapat mengingat dengan jelas apa yang telah dijalaninya selama 2 bulan tinggal di tempat itu.
Tapi...
Tak ada satupun perwujudan nyata dari dunia yang dia tinggali selama ini.
Yang ada
Hanyalah
Kegelapan
"kenapa aku berada disini lagi..."
"Alena... Laurissa... Rigel... bukankah semua itu nyata."
"kenapa, kenapa tiba-tiba aku kembali."
Lynn mengeluhkan apa yang terjadi.
Dia membungkuk.
Lynn menyerah.
Dia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Tak ada satupun petunjuk.
.........
.........
.........
"Lynn!"
Sebuah suara yang memanggil namanya terdengar dari arah kegelapan di depannya.
"siapa itu!"
Tak ada apapun yang terjadi.
"Alena?"
"Ya?" Suara itu menjawabnya.
"Apa yang kau lakukan? Dimana kau?"
"Ayo cepatlah kejar aku Lynn! Jika kau tak mengejarku kau akan kehilangan aku xixixixi."
Sebuah suara dengan tawa itu.
Benar-benar suara dari Alena.
Lynn berhenti membungkuk.
Dia mengangkat kepalanya.
Sekejap dia melihat sebuah penampakan langit dengan sebuah senyuman manis dari seseorang.
"Ah.. Alena."
Dia berdiri.
"Ayo kejar aku Lynn!"
Gambaran kejadian dari Alena yang berlari di sekitaran tebing terlintas di kegelapan tanpa ujung itu.
Lynn mencoba berlari mengejar sosok yang sekejap hilang dan muncul itu.
Dia terus berlari dan mencoba menggapai tangannya.
"Cepatlah kenai aku!"
Lynn terus mengejarnya.
Tapi sosok Alena yang muncul dan hilang di dalam kegelapan itu sangat sulit ditangkap.
Hingga akhirnya.
Setelah beberapa saat.
Lynn menangkapnya.
"Ahahahaha! Kau berhasil Lynn!"
"Kau menang!"
Wuuush!
Sebuah angin tiba-tiba datang dengan sangat berat.
Membuat mata Lynn tertutup dan tak bisa membukanya.
Dan saat dia membuka matanya.
Terlihat jelas sebuah tempat yang sebelumnya dia datangi bersama dengan Alena.
"Ah.."
"Lynn." Alena yang berada di dalam genggaman tangannya memanggilnya.
"Kenapa kau menangis." Dia bertanya.
Kenapa
Lynn bahkan tak menyadari kalau air mata mengalir dari kedua matanya.
"Tidak.."
"Aku tidak menangis..."
"Hanya saja."
"..."
Lynn terdiam cukup lama sembari mengusap-usap matanya.
Dia terus mengusap matanya karena air mata terus mengalir dari matanya.
Tubuhnya tak terkendali, seolah-olah bukan Lynn lah yang memegang kendali atas tubuhnya.
"Ayah?"
Seseorang memanggilnya.
Memanggil ke arah Lynn dan memanggilnya dengan sebutan yang aneh.
Tapi siapa?
Hanya ada dua orang di tebing itu.
Lynn dan...
Alena
"Kau kenapa ayah?"
"Kenapa kau menangis seperti itu?"
Suara itu semakin jelas, suara yang cukup familiar di telinganya.
Lynn berhasil menghentikan tangisannya.
Dia menggerakkan kepalanya dan melihat kepada seorang anak kecil di sampingnya.
"Alena.."
Anak itu memiringkan kepalanya.
"Ya?"
"Kau... Alena?"
"Ya? Kenapa ayah?" Dia menjawabnya dengan sangat polos.
"Apa yang baru saja terjadi..."
Tempat dan juga waktunya sama dengan terakhir kalinya, tapi anehnya Alena menjadi lebih muda.
Dia terlihat seperti bocah berumur 3-5 tahun.
"Heeeeei!"
Seseorang memanggil Lynn dari belakang.
Dia membalik badannya dengan cepat.
Di sana ada seorang wanita yang berjalan mendekati Lynn dan Alena yang kecil.
Seorang wanita yang bahkan tak pernah ditemuinya setelah beberapa minggu tinggal di Schlomit.
Wanita itu menghampiri mereka berdua dan langsung berkata.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan disini? Sekarang sudah terlalu sore untuk pergi ke sini bukan."
"..." Lynn terdiam tak bisa menjawab.
"Ada apa denganmu?"
"Si-siapa kau?"
"Ha? Pertanyaan apa itu? Bukankah sudah jelas aku ini istrimu?"
"Tunggu sebentar..."
Lynn benar-benar tak mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini.
Ayah?
Istri?
Alena?
Apa yang sebenarnya terjadi.
Selama Lynn berpikir matahari sudah termakan lautan sepenuhnya.
"Nah, lihatlah sudah malam... Bawa anakmu dan pergi menuju rumah, banyak binatang buas berkeliaran di malam hari."
"..." Lynn hanya terdiam.
"Haahhh..." Wanita itu menghembuskan nafasnya dengan panjang.
Dak!
Dia menonjok dada Lynn dengan tangannya yang membawa sebuah keranjang berisi sayuran.
"Bawa ini, aku membawa Alena."
Lynn tak bisa melakukan apapun saat ini, dia mengambil keranjangnya dan mengikuti kemana wanita itu pergi.
.........
Mereka pergi beberapa saat dan tibalah di sebuah rumah dimana tak ada rumah lainnya satupun di sekitarnya.
"Baiklah, cepat nyalakan apinya... Aku akan memasak untuk kalian."
"Ah.. benar.."
Lynn mengambil kayu kering dan mulai menumpukkan kayu dan ranting.
Dia mengambil kayu yang permukaannya rata dan melubanginya sedikit dengan pisau yang ada di pinggangnya.
Lynn kemudian menempatkan sebuah ranting yang ujungnya tumpul dan mulai memutar ranting itu.
Setelah beberapa saat memutar-mutar kayu sebuah asap muncul.
Lynn mengambil beberapa daun kering di sekitarnya dan menempatkannya di tempat asap itu muncul.
Menutupi daun itu dengan tangan.
Dan...
Wush!
Sebuah api muncul dari kayu yang permukaannya rata itu.
"Api!" Alena yang melihatnya sangat kegirangan setelah api itu muncul.
Lynn kemudian menempatkannya di tumpukan kayu yang sudah dia tumpuk tadi dan mulai menaruh panci di atasnya.
"Baiklah, tunggu sebentar dan kalian akan menikmati masakan paling nikmat di muka bumi ini." Wanita itu dengan sangat percaya diri mengeluarkan pisaunya dan mulai memasak.
Selagi memasak wanita itu bertanya pada Lynn.
"Omong-omong, apa yang kalian berdua lakukan di tebing laut itu..."
"...Lynn?"
Wanita itu dengan sangat jelas memanggilnya dengan namanya.
"..." Lynn tak menjawabnya lagi.
Dia benar-benar tak mengetahui harus menjawab apa, apalagi dengan fakta baru bahwa wanita itu memanggilnya dengan namanya.
Dia tak berani menjawabnya.
"ada apa denganmu? apa kau marah padaku atau semacamnya? Aku tak mengerti denganmu."
"tidak... aku hanya tak tahu harus menjawab apa.."
"hmm? apa maksudmu?"
"aku... kebingungan, aku tiba-tiba melupakan semuanya dan tiba-tiba aku..." dia tak meneruskan ucapannya.
Wanita itu mendekati Lynn.
Sangat dekat.
Sampai Lynn dapat merasakan nafas wanita itu yerasa berhembus di wajahnya.
Lynn mencoba menjauhkan dirinya.
Tapi percuma saja.
Wanita itu mengikuti gerakkan Lynn.
Wanita itu kemudian menggerakkan tangannya.
Lynn menutup matanya merasakan ketakutan.
Dia berpikir kalau dia akan memukul atau menamparnya.
Tapi...
Alih-alih merasakan sebuah kesakitan atau apa.
Lynn malah merasakan sebuah sentuhan kulitdi dahinya.
Lynn membuka matanya dan melihat raut wajah wanita itu berubah menjadi sebuah ekspresi khawatir.
Walaupun jarak mereka sangat dekat tapi Lynn dapat melihat perubahan ekspresi yang dilakukan wanita itu.
"kau demam.." ucap Wanita itu.
"ehh?"
Wanita itu menarik wajahnya dari Lynn dan terlihat panik.
"Hei Lynn, kau demam... apa kau mengenali anak kita? Alena? apa kau mengenaliku.. istrimu.. Ellie? ahh bagaimana ini... kau demam hingga melupakan semuanya." Eliie.. wanita itu benar-benar panik sekarang.
"Ibu!" Alena memanggil Ellie.
Ellie berbalik dan melihat anaknya menunjuk ke arah sebuah panci yang airnya meluap karena apinya terlalu panas.
"aaaahhh." Dia sangat panik hingga tak tahu harus pergi atau tidak.
Lynn secara tak sadar menggerakkan tangannya dan menggapai tangan Ellie.
"tenanglah." Dia mengeluarkan suaranya dengan cukup lembut di hadapan Ellie.
Ellie melihat ke arah Lynn.
Dia kemudian menghirup nafasnya dengan dalam.
"tunggulah disini, dan beristirahatlah... aku akan membuatkan makanan yang akan membuatmu sembuh besok."
Ellie pergi menuju panci yang meluap dan memindahkan beberapa kayu yang membuat apinya menjadi besar.
Alena pergi ke arah Lynn dan duduk di pangkuannya.
Lynn dan Alena kemudian memandangi seorang wanita yang dapat menghandle sesuatu bahkan dalam keadaan paniknya.
.........
"baiklah! sudah jadi, sebuah sayur hangat dengan tambahan tanaman herbal untuk meredakan panasmu Sayang."
"ah.. uhm.. Terimakasih.. Sayang." Lynn merasa canggung.
Tapi tak se canggung sebelumnya karena dia saat ini mulai memahami apa yang terjadi.
Intinya semua kejadian yang tak mungkin terjadi bisa saja terjadi pada Lynn dan dia harus terbiasa untuk itu.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Poka😖
ditunggu lanjutannya Thor!
2022-12-26
1
Poka😖
konyol banget tingkah Teala kukira dia itu orangnya kalem atau gimana tapi kok malah kayak gini🤣🤣🤣
2022-12-26
1
yukisan
semangat thor
2022-12-26
1