Lynn, Alena, dan Laurissa pergi meninggalkan pos penjaga setelah menjelaskan apa yang terjadi pada Rigel, seorang penjaga desa.
Mereka berjalan cukup jauh dengan Laurissa yang dituntun oleh Alena.
Laurissa terlihat tak setua itu tapi sepertinya dia kesulitan untuk berjalan.
Lynn terus melihat dua orang itu.
"Ada apa anak muda?" Laurissa ternyata sadar bahwa dia diperhatikan oleh Lynn.
"tidak... ehm, maaf jika aku tidak sopan, apakah Alena adalah cucumu?"
Alena melihat sinis kepada Lynn.
"tenanglah Alena... bukan anak muda... cucuku tinggal bersama dengan anakku di kota, dia sudah lama tak mengunjungiku dan Alena datang, dia cukup membantuku."
'ahh, jadi permasalahan klasik seperti ini juga ada di sini, aku jadi ingat kepada nenekku yang mengalami hal yang sama.' Lynn berkata dalam hatinya.
"tapi, bagaimana dengan orang tua Alena?"
"..." Laurissa tak menjawabnya.
"...gal." Alena mengucapkan satu kata tapi itu tak terdengar dengan jelas oleh Lynn.
"apa Alena?" Tanya Lynn.
"Meninggal, ayah dan ibuku... mereka semua meninggal." Alena menjelaskannya dengan singkat tapi Lynn langsung menangkap apa yang dikatakannya.
"..." Lynn terdiam.
"maaf." ucapnya.
"tak apa, aku juga sudah terbiasa hidup begini, benar kan Nek?" ucap Alena dengan tersenyum.
"yah, kau benar." Laurissa mengacak-acak rambut Alena dan membuatnya nyaman.
Lynn melihat ke depan dan terus berjalan.
"Hei anak muda!" teriakkan yang tak terlalu kencang itu memanggil Lynn.
Lynn dengan spontan meresponnya dan menoleh ke belakang.
"kau melewati rumahku." Laurissa dan Alena berhenti di depan sebuah rumah.
Lynn menghampiri mereka berdua.
"ini dia rumah kecilku, ada kamar kosong dan kau boleh tidur di sana setidaknya sampai kau sudah mengingat dengan cukup jelas."
"Alena sayang, bisakah kau membukakan pintu dan mengarahkan anak muda ini ke kamar yang kosong?" Suruhan itu disampaikan dengan sangat lembut.
Laurissa sungguh orang yang baik.
"baiklah!" Alena dengan cepat membuka pintu dan membalikkan badannya melihat ke arah Lynn.
"apa yang kau tunggu, cepatlah masuk." Alena bertingkah layaknya anak perempuan di usianya.
Laurissa tersenyum melihat ulah anak itu dan pergi duduk di sebuah kursi yang ada di teras rumah.
Lynn masuk ke dalam rumah, dan terlihat interior rumah yang terlihat biasa saja, seperti rumah-rumah pada umumnya.
"cepatlah! kesini." Suruh Alena yang terdiam di sebuah pintu kamar.
"ini dia tempat untuk kau tidur, jangan lupa berterimakasih pada Nenek."
"tentu saja, aku sangat berterimakasih padanya."
"jangan katakan itu padaku, ucapkan pada dia secara langsung."
"terserah kau saja."
"bleeeh." Alena menarik kulit bawah matanya dan menjulurkan lidahnya lalu pergi menuju ke depan rumah untuk menemui Laurissa.
Lynn masuk ke dalam kamar.
Di dalamnya terdapat satu ranjang dan juga laci, dengan sebuah lilin di atasnya.
Akhirnya dia sendirian, dan bisa memikirkan semuanya dengan detail.
"tapi sebelum itu..."
"mari kita lihat apa saja yang kupunya, untungnya saja Rigel tak mengambil semua yang kumiliki sebelum melakukan pembicaraan." Lynn menggeledah tubuhnya sendiri dan mencari tahu apa saja yang dia bawa.
Dia meletakkan semua barang yang bisa dia temukan ke atas laci.
Dan sesudah menggeledah hingga tak ada lagi barang yang bisa ditemukan, Lynn mulai menganalisa apa saja yang dibawanya.
Terdapat sebuah kantong yang berisi koin, Lynn menduga kalau itu adalah mata uang, lalu sebuah pisau kecil, dan terdapat sebuah gelang dengan ukiran simbol aneh di atasnya.
☋☊☍☌
"apa ini..." Lynn memperhatikan gelang itu dan mengangkatnya lalu mendekatkannya ke depan matanya.
"aku tak pernah melihat simbol-simbol ini sebelumnya... tapi entahlah kurasa ini tidak penting." Lynn langsung menaruh gelang itu ke atas laci.
"baiklah, kembali ke awal."
"begitu banyak yang terjadi sehingga aku tak bisa memikirkannya tapi."
"dimana aku saat ini?" Pertanyaan utama saat ini.
"apakah semua ini berhubungan? mengingat sejak aku tertidur di pesawat hal-hal aneh langsung terjadi kepadaku dan disinilah aku sekarang."
"lagipula apakah ini memang kenyataan? bisa saja aku masih bermimpi bukan?"
Melihat ke arah ranjang.
"tidak, aku takkan tidur... aku takut jika ini adalah sebuah mimpi lagi, setidaknya aku ingin menikmati hari ini sampai malam hari tiba dan melihat bintang di langit malam kali ini."
Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu kamar.
Lynn membuka pintu dan melihat Laurissa berada di sana.
"bagaimana menurutmu anak muda?"
"yah, tentu saja, sangat nyaman..."
"baguslah jika begitu... bisakah kau membantuku?"
"tentu! apa yang bisa kubantu, aku akan sangat senang bisa membantumu Laurissa, mengingat kau telah sangat membantuku dengan memberikanku tempat untuk bernaung."
"hahaha, sudahlah jangan mengungkit hal itu, aku tak keberatan sama sekali."
"ya! tentu saja... omong-omong apa yang harus kulakukan?"
"ikuti aku."
Laurissa menunjukkan jalan menuju ke belakang rumah, terlihat disana banyak sayuran yang siap dipetik.
"bisakah kau membantuku memetik buah-buahan dan juga sayuran yang sudah siap panen?"
Alena juga sedang berada disana dan sembari membawa keranjang.
"geh, kau lagi." ucap Alena seperti jijik terhadap Lynn.
"baiklah, akan kulakukan... setelah itu apa?"
"setelah kau memetik semuanya, simpan saja keranjang yang berisi buah di sana." Laurissa menunjuk ke arah tumpukan keranjang yang berisi buah.
"dan keranjang yang berisi sayur di sana." Dia menunjuk lagi ke arah keranjang yang berisi sayuran.
"jangan sampai salah meletakkannya."
"baiklah."
Lynn membawa keranjang kosong dan segera memetik buah-buahan yang siap panen.
Apel, anggur dan juga jeruk adalah buah-buahan yang ditanam di belakang rumah Laurissa.
Walaupun masing-masing pohon itu hanya terdapat satu pohon, tapi pohon-pohon itu sedang berbuah lebat.
"hati-hati..." Alena memperingati Lynn yang akan memetik jeruk.
Lynn berhenti.
"ada apa?"
"terkadang terdapat duri di batang pohon jeruk, dan juga kau terlalu sedikit memetik anggur itu untuk satu tangkai, penjualan anggur dihitung dari seberapa banyak terlihat anggur itu dalam satu tangkai."
"ahh jadi buah-buah ini untuk dijual lagi..."
"memangnya apa yang bisa dilakukan seorang wanita tua untuk menghidupi hidupnya." ucapan Alena itu membuat Lynn agak tergetar tak percaya karena ucapan itu keluar dari seorang anak kecil.
"baiklah... kurasa, bagaimana dengan sayurannya?"
"ahh untuk itu, kau hanya perlu mencabutnya dari tanah, disana ada bawang dan juga kentang." Alena menunjuk ke arah satu petak tanah yang terdapat daun yang tak terlalu tinggi.
"baiklah, aku akan menyimpan buah-buahan ini dan mulai menggali tanahnya." Lynn meletakkan keranjang-keranjang yang berisi penuh buah.
Setelah selesai mengangkatnya Lynn pergi menuju petak tanah yang ditunjuk oleh Alena sebelumnya.
"perhatikan ini, kau hanya perlu menggalinya dan banyak kentang yang bisa kau panen, cobalah di sana." Setelah menunjukkan caranya pada Lynn, Alena menunjuk ke arah kentang berikutnya yang belum dia gali.
Lynn pergi ke tempat yang ditunjuk Alena dan mulai menggali tanahnya.
Gali, gali dan gali, Lynn menggali tanah cukup dalam dan bagian atas kentang mulai dirasakan oleh Lynn.
"ini dia!" Lynn kegirangan, ini pertama kalinya dia memanen sebuah kentang.
"hihihi." Melihat tingkah lucu Lynn seperti seorang anak-anak, Alena tertawa karena merasa dia mempunyai seorang teman baru.
"baiklah, Lynn.. bawa kentang dan bawang ini ke tumpukan keranjangnya lalu cucilah tanganmu."
"setelah ini kemana kita Alena?"
"kita akan menuju ke pasar."
"pasar?"
"ya, pasar... di antara 3 desa yang ada di ujung teritorial kerajaan, hanya desa ini yang mempunyai pasar... karena itulah ramai orang yang mengunjungi desa ini."
"wah, aku tak mengetahui itu."
"nek!" Alena menghampiri Laurissa yang kebetulan datang untuk melihat pekerjaan Lynn.
Alena dan Laurissa berbincang cukup lama.
"jadi... bagaimana anak muda?"
"ini cukup melelahkan, tapi aku menikmatinya."
Tentu saja Lynn mencoba untuk menikmati kenyataan yang bisa saja hilang saat tertidur nanti, dia mencoba menikmati tiap detik yang berjalan.
"baguslah kalau begitu, apakah kau tak keberatan jika kusuruh kau menemani Alena pergi ke pasar untuk menjual sayur dan buah buahan itu?"
"dengan senang hati akan kulakukan." tanpa berpikir Lynn langsung menjawab permintaan Laurissa.
"kalau begitu, ikuti aku." Laurissa pergi berjalan dan Lynn mengikutinya.
Dia pergi menuju ke samping rumah dan melihat sebuah gerobak yang terbuat dari kayu.
"bawalah sayur dan buah itu menggunakan ini."
Lynn sangat menikmati kehidupan yang disebut sebagai kesempatan kedua ini, dia benar-benar bersyukur diperlihatkan hal seperti ini walaupun jika semua ini hanya sebatas mimpi.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Poka😖
Yahh Thor... saya agak kecewa sama chapter ini, gimana yahh soalnya kurang gimana gitu... semoga chapter berikutnya lebih baik
2022-12-26
2