"ikutlah bersamanya Alena."
Sebuah ucapan yang tak terduga itu diucapkan oleh Laurissa.
Lynn langsung menatap mata Laurissa karenatak percaya dengan yang baru saja didengarnya.
"Tapi Laurissa, kenapa?"
"Diamlah dulu Lynn, nanti ku jelaskan."
"Sekarang bagian Alena yang memutuskan."
"Ya!" Wajah Alena terlihat senang.
Tapi tak lama kemudian wajahnya memelas lagi.
"Tidak..."
Dia kebingungan.
Di satu sisi dia ingin pergi bersama Lynn tapi di sisi lain dia tak bisa meninggalkan Laurissa.
"Sudahlah, kau pikirkan saja sampai besok, basuhlah muka mu dan segera tidurlah."
Alena dalam dilema.
Tapi dia langsung mengikuti perintah Laurissa.
Dia sudah masuk dalam pikirannya sendiri.
"Baiklah, anak muda... Kurasa sudah saatnya membicarakan mengenai anak itu."
Lynn mengubah posisi duduknya.
"Alena." Laurissa memulainya.
"Anak itu."
"Kesepian."
"Apakah kau tahu anak muda? Bagaimana dia sebelum tinggal di tempatku?"
Lynn menggelengkan kepalanya.
"Dia kelaparan, tak bisa berbicara dengan orang dan hanya berjalan diluar tanpa arah tujuan yang jelas."
"Setelah kematian kedua orang tuanya, tak ada yang mau mengurusnya dan dia tak memiliki kerabat."
"Sampai suatu saat dia bertemu dengan Rigel."
"Rigel melihat Alena dengan prihatin dan membawanya pulang bersamanya."
"Tapi Alena langsung pergi setelah diurus oleh Lilie istri Rigel."
"Dan setelah itu, entah ini adalah sebuah takdir atau bukan tapi setelah dia kabur dari rumah Rigel di jalan kita bertemu denganku."
"Mungkin ada benang merah yang tak terlihat mengikat kami hahahaha."
"Di sana aku melihat tatapan kosong dari anak itu."
"Aku memeluknya dengan erat bahkan dengan sangat erat hingga menitihkan air mata."
"Sejak saat itulah dia mulai tinggal bersamaku."
"..."
"Apakah kau pernah merasa kesusahan?" Lynn penasaran.
"Tentu saja, saat awalnya dia sangat susah diatur, dan disisi lain aku harus berjualan untuk memenuhi kebutuhanku."
"Hahaha mengingat hal itu membuatku merasa mempunyai anak lagi pada saat itu."
"Aku benar-benar menyayanginya."
"Tapi lihatlah aku sekarang."
"Seorang wanita tua yang tak bisa merawatnya bahkan jika dia sakit."
"Waktuku hanya tersisa sedikit, dibandingkan denganmu yang masih muda."
"Aku selalu membayangkan jika aku mati..."
"Mungkin Alena akan merasakan kesepian tak berujung, tak memiliki tempat berlindung dan tempat untuk pulang lagi."
"Dan saat itulah kau muncul anak muda."
"Kau benar-benar muncul pada saat yang tepat."
"Selama aku mengenal Alena dia tak pernah bertingkah seperti anak kecil."
"Tapi sejak kau datang dia mulai memperlihatkan sikap anak kecilnya."
"Dia mungkin merasa kalau kau adalah ayah atau mungkin kakak dari dirinya."
Lynn mengangguk.
"Dan sejak awal kau disini aku sudah memutuskan, jika kau pergi.. maka Alena ikut pergi denganmu."
"Jadi, kumohon padamu Lynn." Ini adalah pertama kalinya Laurissa menyebut nama Lynn secara langsung.
"Jagalah Alena untukku, biarkan dia tumbuh seperti anak lainnya, ajarilah dia arti kehidupan ini, ajarilah dia mengenai pahitnya dunia ini, jadikan dia manusia."
Lynn mengangguk.
Laurissa yang tersenyum.
Bibirnya mulai bergetar.
Senyuman yang dia pahat itu berubah menjadi raut wajah sedih.
Dia mulai menangis dan mendekati Lynn.
"Terima kasih."
Terima kasih sudah mau menerima permintaan terakhir dari orang tua ini, tak banyak yang bisa kuberikan kau padamu tapi kau memberikanku segalanya.
Situasi haru sudah mulai meredup, Lynn menenangkan Laurissa yang menangis kencang.
Alena sepertinya sudah tidur di kamarnya jadi dia tak mendengar satupun percakapan yang dilakukan oleh Lynn dan Laurissa.
"Laurissa, tapi bagaimana denganmu jika kita berdua meninggalkanmu? Bukankah tak ada yang menjagamu."
"Jangan khawatirkan itu anak muda, uang yang ku kumpulkan sudah cukup untuk bisa hidup tanpa perlu berniaga lagi dan hidup hanya dari hasil kebunku."
"Baiklah... Itu bagus, kurasa."
"Ya, kau cepat tidurlah.. besok mungkin kau harus bangun pagi, kau takkan langsung pergi besok bukan?"
"Baiklah."
Lynn pergi menuju kamarnya dan berada sendirian sekarang.
Dia mencoba membuka dan membaca surat itu lagi.
Tak ada yang aneh dengan surat itu.
Hanya ada satu hal yang membuatnya penasaran.
Simbol-simbol aneh yang ada di gelangnya juga terdapat di surat itu.
...☌...
...☍...
...☋...
...☊...
Di setiap sisi surat terdapat simbol-simbol itu.
"Sebenarnya dimana aku, apakah aku memang berada di Dunia lain?"
"Arrgh, tapi tak ada gunanya memikirkan itu, aku takkan mendapatkan jawaban, hanya satu cara supaya aku mendapatkan jawaban yang pasti."
"Yahh... Kurasa aku akan tidur."
Lynn pergi ke ranjangnya dan mulai menutup matanya.
...
Dia bermimpi saat itu, melihat Alena yang senang dan berlari darinya.
Pemandangan ini juga seperti dia pernah melihatnya.
Sebuah tebing di sisi pantai.
"Hei Lynn!"
"Hihihihihi."
Alena benar-benar bertingkah seperti anak kecil.
Lynn tersenyum dalam tidurnya.
Setelah cukup lama tertidur, dia membuka matanya dan segera pergi membasuh wajahnya.
"Selamat pagi Lynn, Hoaaam"
Seperti lupa kejadian yang terjadi di hari sebelumnya, Alena menyapa Lynn seperti biasanya.
"Pagi, Alena."
"Bagaimana tidurmu?"
"Baik."
"Omong-omong mengenai keputusan kemarin jadi bagaimana?"
"Keputusan apa?"
Alena melupakan apa yang terjadi kemarin.
"..."
Dia terdiam dan mencoba mengingatnya.
"Aaaah!" Dia berteriak.
Dia baru mengingat kalau dia sedang marah kepada Lynn.
Lynn tersenyum.
"Selamat pagi." Lynn menyapa Alena yang baru sepenuhnya terbangun.
Wajah Alena memerah karena malu.
"pa-pagi.."
Alena dengan cepat membasuh muka dan pergi dari hadapan Lynn.
Lynn hanya bisa tersenyum.
"Baiklah, kurasa aku harus mencari tahu informasi dasar mengenai Añýa"
Lynn pergi menuju ke depan rumah dan mulai berjalan.
Banyak orang yang menyapanya.
"Selamat pagi Lynn."
"Sendirian saja hari ini Lynn?"
"Dimana Alena, Lynn?"
"Apakah kau baik-baik saja Lynn?"
Desa ini memang yang terbaik, Lynn beradaptasi dengan mudah hanya dalam waktu satu bulan.
Orang-orangnya ramah dan murah senyum.
"Hei Lynn!" Sapaan itu adalah sapaan yang sangat dikenalnya.
Lynn membalikkan badannya dan menyapanya balik.
"Yo, Rigel."
"Apa-apaan yo, itu... Omong-omong dimana Alena? Apakah dia sedang marah padamu atau semacamnya?"
"Yah.. begitulah."
"Ahh, aku tak bisa membayangkan jika anakku marah padaku suatu saat nanti, mungkin aku akan sangat kesusahan."
Lynn dan Rigel memiliki umur yang sama karena itu, hal yang wajar jika mereka berdua dekat, walaupun awalnya mereka cukup susah untuk bisa dekat tapi seiring berjalannya waktu.
"Oh benar juga Lilie sedang hamil besar benar bukan? Kapan kira-kira bayi itu lahir?"
"Yahh, entahlah kata dokter waktunya tak lama lagi, bisa saja 10 hari lagi atau seminggu lagi."
"Selamat ya Rigel, kau akan menjadi seorang ayah."
"Jangan begitu Lynn, kau membuatku lebih khawatir."
"Hahaha, berbanggalah Rigel itu adalah sebuah pencapaian.
"Ya... Baiklah."
"Omong-omong Rigel, aku membutuhkan bantuanmu hari ini."
"Oh, ada apa? Tak biasanya kau meminta tolong langsung padaku."
"Yah, karena aku tak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa, dan kau adalah orang yang tepat."
"Baiklah, aku mendengarkan."
Lynn menjelaskan mengenai situasi yang sedang dihadapinya dengan ringkas.
Rigel menganggukkan kepalanya.
"Itu cukup berat, tapi aku yakin kau sudah memilih keputusan yang tepat benar bukan?"
"Ya, begitulah..."
"Tapi aku tak ingin pergi meninggalkan Laurissa begitu saja, walaupun dia bilang untuk tak perlu khawatir tapi aku tak bisa begitu saja meninggalkannya sendirian."
"Yah.. kau benar, tapi menurutku pergilah Lynn."
"Memang berat meninggalkan Laurissa sendirian, tapi kau harus melihat ke orang-orang di sekitar, mereka semua peduli terhadap sesama, jadi kau tak perlu mengkhawatirkan itu."
"Ya... Kurasa kau benar."
"Tapi, Añýa yah.. itu adalah tempat dimana aku dilahirkan."
"Ehh, benarkah?"
Rigel mengangguk.
"Saat umurku 16 tahun aku mengikuti militer di kota itu sampai umurku 18, dan setelah itu aku mengenal Lilie dan menikah dengannya lalu pindah menuju desa tempatnya berasal, sudah dua tahun sejak saat itu."
"Aku tak mengetahui hal itu..."
"Yah, begitulah... Anak Laurissa juga tinggal di Añýa, jadi kau bisa mencarinya nanti disana dan menyampaikan surat atau pesan untuknya dari Laurissa."
"Kau benar-benar suka memberikan informasi tak terduga."
"Hehehe, tapi kau meminta bantuan bukan untuk informasi itu benar bukan?"
"Yah, benar... Aku ingin mencari informasi mengenai Añýa."
"Kalau begitu, kurasa kita harus pindah tempat menuju pos, karena peta dan segala situasinya berada di sana."
Lynn dan Rigel pergi menuju pos penjaga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Poka😖
Wahh bisa-bisanya balik ke masa lalu Lynn...
2022-12-26
1