Chapter 10 : Sebuah Tempat dimana kau merasakan nostalgia (1) (Revisi)

"Alena."

"Hmm?"

Lynn bertanya kepada Alena yang sedang memakan semur daging.

Sudah tengah hari saat ini dan semur daging buatan Laurissa sudah matang.

Mereka bertiga benar-benar memakannya dengan lahap.

"Setelah selesai makan, maukah kau pergi denganku?" Tiba-tiba Lynn mengajak Alena untuk pergi.

"Kemana?"

"Rahasia."

"Kau mulai lagi Lynn!" Alena terpancing lagi.

"Tapi, baiklah kurasa... Kau takkan berbuat macam-macam kan?"

"Tentu saja tidak, memangnya apa yang kau kira akan kulakukan?"

"Menculikku... Mungkin."

"Mana mungkin, tapi jika hanya itu satu-satunya cara.."

"Nek!" Alena merengek.

"Sudahlah kalian berdua jangan ribut, cepat makanlah makanan yang ada di piring itu sebelum dikerumuni oleh semut." Laurissa memarahi keduanya.

"baikkk...."

Mereka berdua langsung memakan makanan mereka dengan lahap.

.........

Selesai makan Lynn langsung masuk ke dalam kamarnya.

Tok! Tok!

Seseorang mengetuk pintu kamar Lynn.

Lynn pergi membukanya dan Alena ada di sana.

"Ahh Alena, apakah kau sudah siap?"

"Tunggu sebentar, aku sedang mempersiapkan sesuatu sebelum berangkat."

Lynn mempersilahkan Alena masuk ke dalam kamarnya.

Dia melihat ke arah ransel yang sudah disiapkan oleh Lynn.

"Jadi kau akan benar-benar berangkat yah Lynn."

"Hmm? Ahh iya, aku harus berangkat."

"Aku akan kesepian disini tanpamu kau tahu."

"Karena itulah aku mengajakmu Alena."

"Aku tak bisa meninggalkan Nenek, mau bagaimanapun dia adalah orang yang pertama kali menerimaku, aku tak bisa meninggalkannya begitu saja dan memulai kehidupan baru."

"Tak kusangka seorang anak kecil sepertimu sudah berpikir seperti itu."

"Berapa umurmu sekarang Alena?"

"8.... Tidak kurasa sudah 9 tahun."

"kau sudah cukup besar..."

Lynn terus memasukkan barang-barang yang tak diketahui oleh Alena ke dalam ransel yang lebih kecil dibandingkan ransel yang sebelumnya Alena lirik.

Lynn menggendong ransel itu.

"Ya.. baiklah aku sudah siap, apa kau siap?"

"Memangnya kemana kita akan pergi?"

"Kau akan tahu setelah berada di sana."

Lynn dan Alena pergi setelah berpamitan dengan Laurissa.

Perjalanan yang mereka lakukan benar-benar menguras keringat karena matahari masih berada tepat di atas kepala mereka.

"Apakah masih lama waktu untuk sampai Lynn?"

"Mungkin sampai Satu jam lagi."

"Ap?! Satu jam!? Ahh, kurasa aku takkan bisa mencapainya." Alena berlutut setelah menerima kenyataannya.

"Hahaha, kalau begitu bagaimana jika kita beristirahat dulu sebentar di bawah pohon itu."

"Ya!" Tanpa basa-basi lagi.

"Maafkan aku tak bisa menggendongmu kali ini Alena, karena aku membawa ransel di belakangku."

"Memang apa isi ransel itu."

"Kau akan tahu nanti."

"Memangnya ada apa di sana?! Kau begitu ingin menyembunyikannya dariku yah!" Alena tersulut lagi.

Lynn hanya tersenyum melihat tingkah Alena.

"Minumlah ini."

Lynn memberikkan botol minumannya yang terbuat dari kulit hewan pada Alena.

Alena meminumnya.

"Yuck! Apa ini?"

"Ahh, aku salah memberimu botol."

Alena langsung memuntahkan minuman yang baru diminumnya.

"Ini minumlah."

Alena ragu-ragu untuk meminumnya tapi setelah dia memastikan kalau itu adalah air dia meminumnya langsung dengan banyak.

"Jangan terburu-buru seperti itu."

"Ahh! Inilah yang ku butuhkan, lagipula minuman apa itu?! rasanya sangat pahit."

"itu adalah ekstrak tanaman herbal, aku membawanya untuk menambah staminaku, tapi memangnya minuman itu sepahit itu yah? Padahal aku sudah menambahkan gula ke dalamnya."

"Benar-benar pahit, cobalah sendiri."

Lynn meneguknya.

!

Dia kaget dengan pahitnya.

"hahahaha, seperti yang sudah kubilang."

"Yah, kau benar... Tapi menambahkan banyak gula ke dalamnya kata Laurissa akan mengurangi khasiatnya."

"Ah, jadi itu resep dari Nenek yah."

"Benar, Laurissa benar-benar seperti ensiklopedia berjalan."

"Ensi- apa?"

"Ahh, tidak.. aku hanya mengarang kata-kata itu."

"Itu adalah sebutan untuk seseorang yang mengetahui segalanya."

Lynn mencoba menjelaskan artinya pada Alena.

"?" Alena malah makin kebingungan.

"Ahh tentu saja kau takkan mengerti yah."

Alena mengangguk.

"Yah, mau bagaimana lagi."

.........

Awan mulai menutupi terik matahari.

"Ahh, Alena lihatlah mataharinya sudah tertutup oleh awan, kurasa sudah saatnya kita melanjutkan perjalanan."

"Malas..." Dia mengeluh karena sudah nyaman dengan tempatnya saat ini.

"jangan seperti itu, cepatlah bergegas."

Selagi Lynn membereskan ranselnya, Alena mencoba menggerakkan badannya dan berdiri.

"Ayo, kita lanjutkan perjalanannya lagi." Lynn telah menggendong ranselnya.

"Ya, sebelum hujan datang benar kan?" Alena menyangka-nyangka kalau awan yang menutupi matahari adalah pertanda akan datangnya hujan.

"Itu bukanlah awan hujan Alena." Lynn menyangkalnya

"Lalu apa?"

"Itu adalah nikmat Tuhan."

Lynn dan Alena melanjutkan perjalanan menuju tempat 'rahasia' yang dikatakan oleh Lynn.

Setelah satu jam perjalanan telah ditempuh oleh mereka berdua.

Mereka sampai di sebuah tempat yang dipenuhi oleh rumput hijau dan tanah yang tinggi.

...Wush! Wush! Wush!...

...Sash! Sash! Sash!...

Angin menghasilkan suara yang lebih besar dibanding di desa, dan terdapat suara desisan air.

"Hei Lynn sebenarnya dimana kita? Dan juga kenapa kau tiba-tiba menutup mataku."

Lynn menutup mata Alena dengan sebuah kain yang cukup tebal untuk menutup pandangan Alena setelah dia menyadari kalau tujuan mereka sudah dekat.

"Apa kau ingat, tempat yang dulu kau sebutkan saat pertama kali kita berjalan-jalan setelah berdagang di pasar?" Alih-alih menjawab pertanyaan Alena, Lynn malah mengajukan sebuah pertanyaan.

Alena menggelengkan kepala tanda tak tahu.

"Entahlah, aku lupa."

"Cobalah ingat lagi."

Alena yang menggenggam tangan kanan Lynn menguatkan genggamannya setelah dia mencoba berusaha mengingat kembali.

"Percuma saja, aku tak bisa mengingatnya."

"Kalau begitu, lepaskan genggaman mu, aku akan melepaskan kain yang menutup matamu."

Alena melepaskan genggamannya.

Lynn pergi ke belakang Alena dan mulai melepaskan ikatan kain yang menutupi mata Alena.

"Sayang sekali kau bisa lupa, padahal aku sangat mengingat kejadian itu."

"Ya... Maaf, aku memang mudah melupakan sesuatu.

"Hahaha, perkataan itu benar-benar mencerminkan dirimu Alena."

"Tapi aku yakin jika kau melihat pemandangan ini kau takkan bisa melupakannya seumur hidupmu."

"Memangnya dimana kita?"

Pertanyaan itu tak dijawab olehnya.

Kain yang terikat sudah terbuka.

Perlahan-lahan Lynn mengangkat kainnya dari mata Alena.

Dia masih menutup matanya karena belum bisa beradaptasi dengan cahaya matahari yang menyorot matanya itu.

Setelah beberapa saat menutup mata, Alena perlahan membuka matanya.

Seketika dia mematung.

...Wush!...

Sebuah angin kencang menabrak tubuh Alena yang sedang mematung.

Di depannya terlihat hamparan padang rumput yang luas.

...Sash!...

Sebuah suara desisan air itu membuat Alena penasaran dan tubuhnya tergerak untuk mencari tahu darimana asalnya.

Dia berjalan secara tak sadar dan melihat adanya ombak yang terus menabrak dinding tanah yang sedang di pijaknya.

Alena langsung melihat ke arah Lynn karena tak percaya dengan apa yang telah dia perlihatkan untuknya.

"Lynn."

"Ya, Alena?

"Aku tak percaya kalau kau akan membawaku ke sini."

"Itu memang niat awalku."

Alena mendekati Lynn.

Dengan tanpa peringatan dia langsung memeluk tubuh Lynn.

"Terimakasih."

"Kurasa aku takkan bisa melihat pemandangan seperti ini, tapi karena mu aku dapat melihatnya lagi."

"aku benar-benar berterimakasih kepadamu."

"Lynn."

Alena berkata sambil menempelkan mulutnya pada perut Lynn dan membuat suara yang dihasilkannya kurang jelas didengar oleh Lynn.

Tapi Lynn mengerti apa yang dikatakannya dan mengelus-elus rambut Alena.

Mereka berpelukan untuk waktu yang cukup lama, saking lamanya terlihat matahari sudah hampir ditelan oleh lautan.

...****************...

Terpopuler

Comments

Poka😖

Poka😖

Parah sii Lynn.. dia melarikan diri dari kenyataan tapi disisi lain dua orang misterius di akhir bikin penasaran

2022-12-26

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Kehancuran, Kegelapan dan Kesepian (Revisi)
2 Chapter 2 : Mimpi dan Kenyataan (Revisi)
3 Chapter 3 : Schlomit, Tempat damai dengan orang baik di dalamnya (1) (Revisi)
4 Chapter 4 : Schlomit, Tempat damai dengan orang baik di dalamnya (2) (Revisi)
5 Chapter 5 : Schlomit, Tempat damai dengan orang baik di dalamnya (3) (Revisi)
6 Chapter 6 : Schlomit, Tempat damai dengan orang baik di dalamnya (4) (Revisi)
7 Chapter 7 : Kepada Pemuda yang tersesat di angkasa (Revisi)
8 Chapter 8 : Terimakasih (Revisi)
9 Chapter 9 : Persiapan menuju Añýa (Revisi)
10 Chapter 10 : Sebuah Tempat dimana kau merasakan nostalgia (1) (Revisi)
11 Chapter 11 : Sebuah tempat dimana kau merasakan nostalgia (2) (Revisi)
12 Chapter 12 : Sebuah tempat dimana kau merasakan nostalgia (3) (Revisi)
13 Chapter 13 : Sebuah tempat dimana kau merasakan nostalgia (4) (Revisi)
14 Chapter 14 : Pelayan yang mendapatkan teman
15 Chapter 15 : Sihir
16 Chapter 16 : Kehidupan Budak
17 Chapter 17 : Sebuah Rencana
18 Chapter 18 : Wert karena itu simpel
19 Chapter 19 : Kelompok yang berambisi
20 Chapter 20 : Dimulai! Operasi melarikan diri
21 Chapter 21 : Melarikan diri, cerita terus berlanjut
22 Chapter 22 : Kerajaan yang damai dengan seorang yang putus asa
23 Chapter 23 : Wadah yang aneh
24 Chapter 24 : Sosok yang basah kuyup
25 Chapter 25 : Ingatan yang terus memasuki pikiran
26 Chapter 26 : Nina
27 Chapter 27 : Seseorang yang menangis dalam kegelapan
28 Chapter 28 : Masa lalu yang diubah
29 Bab 29 : Reuni kecil
30 Announcement
31 announcement (2)
Episodes

Updated 31 Episodes

1
Chapter 1 : Kehancuran, Kegelapan dan Kesepian (Revisi)
2
Chapter 2 : Mimpi dan Kenyataan (Revisi)
3
Chapter 3 : Schlomit, Tempat damai dengan orang baik di dalamnya (1) (Revisi)
4
Chapter 4 : Schlomit, Tempat damai dengan orang baik di dalamnya (2) (Revisi)
5
Chapter 5 : Schlomit, Tempat damai dengan orang baik di dalamnya (3) (Revisi)
6
Chapter 6 : Schlomit, Tempat damai dengan orang baik di dalamnya (4) (Revisi)
7
Chapter 7 : Kepada Pemuda yang tersesat di angkasa (Revisi)
8
Chapter 8 : Terimakasih (Revisi)
9
Chapter 9 : Persiapan menuju Añýa (Revisi)
10
Chapter 10 : Sebuah Tempat dimana kau merasakan nostalgia (1) (Revisi)
11
Chapter 11 : Sebuah tempat dimana kau merasakan nostalgia (2) (Revisi)
12
Chapter 12 : Sebuah tempat dimana kau merasakan nostalgia (3) (Revisi)
13
Chapter 13 : Sebuah tempat dimana kau merasakan nostalgia (4) (Revisi)
14
Chapter 14 : Pelayan yang mendapatkan teman
15
Chapter 15 : Sihir
16
Chapter 16 : Kehidupan Budak
17
Chapter 17 : Sebuah Rencana
18
Chapter 18 : Wert karena itu simpel
19
Chapter 19 : Kelompok yang berambisi
20
Chapter 20 : Dimulai! Operasi melarikan diri
21
Chapter 21 : Melarikan diri, cerita terus berlanjut
22
Chapter 22 : Kerajaan yang damai dengan seorang yang putus asa
23
Chapter 23 : Wadah yang aneh
24
Chapter 24 : Sosok yang basah kuyup
25
Chapter 25 : Ingatan yang terus memasuki pikiran
26
Chapter 26 : Nina
27
Chapter 27 : Seseorang yang menangis dalam kegelapan
28
Chapter 28 : Masa lalu yang diubah
29
Bab 29 : Reuni kecil
30
Announcement
31
announcement (2)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!