Saat sudah kembali ke mansionnya. Delvin tidak lagi merasa ceria seperti sebelumnya. Ia lebih banyak murung kalau tidak bersama dengan keluarga kecilnya.
Ia memikirkan perkataan Alin tentang anak kembarnya yang bersama dengan wanita itu saat ini.
"Apakah aku harus mencari gadis itu agar bisa bertemu dengan anak-anakku?"
Pikirannya kembali menerawang sambil mengisap sebatang rokok di balkon kamarnya. Saat ini Eca sedang bertugas sebagai dokter jaga di rumah sakit.
Eca sengaja ambil tugas di malam hari agar bisa menemani si kembar saat keduanya beraktivitas.
Eca ingin mengantar sendiri si kembar ke sekolah dan saat si kembar sekolah ia bisa tidur hingga si kembar pulang sekolah.
Kini Delvin memanfaatkan malam tanpa istrinya dengan mengisap rokok untuk membuang rasa gelisah nya.
Malam itu angin bertiup cukup kencang. Bintang menghilang tertutup awan hitam seakan menunggu perintah untuk menurunkan hujan sesuai kehendak Allah.
Suara geledek mulai menyambar dengan gemuruh yang cukup menggetarkan jantung bagi yang mendengarnya.
Kilat tidak ingin ketinggalan untuk mengeluarkan cahayanya dengan patahan menyerupai akar memanjang menembus bumi.
Panorama alam yang cukup mencengangkan itu tidak menggoyahkan Delvin yang tetap tenang menikmati pesta langit di atas sana.
"Seperti apa rupa anak-anakku? Aku sangat merindukan kalian. Maafkan ayah sayang karena tidak mengetahui kehadiran kalian di bumi ini. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi."
Gumam Delvin mulai menikmati rintik hujan mengenai tubuhnya kini.
Ia tidak ingin beranjak dari tempat duduknya dan lebih memilih menikmati air hujan.
"Ya Allah! Aku merindukan anak-anakku bukan wanita itu. Aku sangat mencintai istriku Eca dan aku tidak terpengaruh dengan kehadiran gadis itu. Beri aku petunjuk di mana anak-anakku! Pertemukan aku dengan mereka ya Allah. Ampunilah dosaku karena sudah menodai gadis itu."
Ucap Delvin ditengah derasnya hujan yang mengguyur bumi.
Sementara itu, dokter Eca sedang melakukan operasi dadakan pada pasien dengan timnya. Operasi itu cukup menyita waktu hingga pukul enam pagi baru selesai dari pukul satu malam.
Kebetulan pagi itu bertepatan dengan hari weekend hingga ia tidak memikirkan untuk mengurus si kembar.
Ia hanya meminta suaminya menjemput pukul delapan pagi karena saat ini ia sedang tidur sebentar untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Rupanya sudah pukul delapan pagi, Delvin belum juga datang menjemputnya. Dokter Gaes yang baru datang pagi itu menawarkan diri untuk mengantar dokter Eca.
"Dokter Eca! Apakah anda mau pulang?"
"Iya dokter! saya sedang menunggu suami saya menjemputku."
"Masuklah ke mobilku. Biakan aku mengantarmu. Ini sudah siang kamu harus istirahat."
"Tapi aku..!"
"Ayolah! aku tidak mungkin membawa lari dirimu kecuali kamu masih gadis."
Canda dokter Gaes sambil nyengir.
"Baiklah. Maaf sudah merepotkan dokter Gaes."
"Aku sangat senang direpotkan anda dokter cantik." Batin dokter Gaes.
Mobil itu kembali bergerak menuju ke arah rumah dokter Eca. Sebenarnya dokter Eca biasanya langsung tidur kalau suaminya yang jemput.
Tapi karena dokter Gaes yang mengantarnya, ia harus tetap terjaga karena mengarahkan alamatnya rumahnya.
Saat memasuki kawasan perumahan elit, dokter Gaes baru tahu kalau suami dokter Eca bukan orang sembarangan.
"Perasaan di sini yang tinggal semuanya pengusaha. Apakah suami dokter Eca salah satu pengusaha hebat di Jakarta?"
Dokter Gaes tidak bisa lagi meremehkan latar belakang Eca.
"Dokter berhenti di depan sana yang ada bunga Flamboyan nya." Pinta Eca.
Dokter Gaes membuka pintu untuk dokter Eca sambil memperhatikan mansion yang sangat mewah tiga kali lipat dari mansionnya.
"Silahkan mampir dokter Gaes!"
"Oh tidak usah Dokter Eca. Terimakasih tawarannya. Lain kali saja saya mampir."
Dokter Gaes masuk lagi ke mobilnya menuju rumah sakit. Eca melambaikan tangannya lalu melangkah ke dalam rumahnya.
"Bundaaaa...!" Sambutan hangat dari si kembar membuat Eca kembali semangat.
"Bunda ko baru pulang?"
"Tadi bunda lagi tunggu ayah tapi ayahnya sepertinya ketiduran deh sampai lupa jemput bunda."
"Memang dari tadi ayah belum bangun bunda." Ujar Ciky.
"Tidak apa. Mungkin ayah sedang kelelahan. Kalian sudah wangi dan segar, tapi bunda tidak bisa ajak kalian main. Bagaimana kalau kalian main di perpustakaan bunda."
"Kami baru dari perpustakaan bunda."
"Yah, udah duluan ke sananya. Kalau begitu kalian mau main apa? "
"Mau ikut masak sama chef Yana."
"Emang masak apa?"
"Kita mau buat kue bunda sayang?"
"Ok deh kalau gitu kalian belajar buat kue sama chef Yana, bunda istirahat dulu, bagaimana?"
"Ok bunda cantik..muuachh. Selamat' tidur!"
Ciky dan Chiko mengecup kedua pipi bundanya. Mereka langsung ke dapur di mana chef Yana selalu membuat vlog untuk Chanel YouTube miliknya saat memasak.
Chef Yana senang masak atau buat kue dengan si kembar karena mereka selalu memperkenalkan bahan dengan menggunakan tujuh bahasa yang mereka kuasai.
Wajah cantik Ciky dan ocehannya yang sangat menggemaskan membuat para pelayan selalu terhipnotis dengan gadis itu. Kalau Chiko lebih terlihat datar dan sangat kharismatik menuruni sifat asli ayahnya Delvin.
Dari Chanel YouTube itu yang sudah diikuti oleh jutaan subscribe, rupanya diikuti juga nyonya Arini yang sangat gemas dengan Ciky kalau gadis kecil ini sudah bicara.
"Rasanya aku ingin bertemu dengan gadis kecil itu, dia terlihat sangat menggemaskan."
Ujar nyonya Arini sambil makan popcorn di samping tempat tidurnya.
"Ciky, Chiko! Hari ini chef Yana akan mengajarkan kalian membuat cheese cake, kue kesukaan bunda kalian.
Nah, sekarang Ciky menyebutkan semua bahannya dengan bahasa Jerman dan Chiko dengan bahasa Rusia. Ok let's go!"
Titah chef Yana semangat.
"Hai semuanya! Selamat datang di channel chef Yana! hari ini Ciky akan memperkenalkan bahan apa saja yang akan kita gunakan untuk membuat cheese cake."
Ujar Ciky sambil menyebutkan bahan tersebut.
Sementara Chiko lebih membahas cara pembuatannya dengan bahasa Rusia.
Di kamar milik kedua orangtuanya si kembar, Eca melihat suaminya tidur terkurung dalam selimut yang tebal.
Ia menggantikan bajunya dan memakai piyama tidur. Eca mengecup pipi suaminya, ternyata Delvin sedang demam.
"Astaga! Kenapa badannya tiba-tiba hangat?"
Eca segera mengambil perlengkapan dokternya.
"Delvin sayang! Bangun sayang! Apakah lagi kamu sakit?"
Rupanya keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuh Delvin. Suhu tubuhnya yang sudah mencapai empat puluh dua derajat membuat Eca terlihat panik.
"Delvin! Apa yang terjadi kepadamu sayang? Kenapa kamu bisa sakit tanpa memberi tahuku. Maafkan aku sayang! Apakah kamu sakit gara-gara aku?"
Eca menanggalkan lagi bajunya dan masuk ke dalam selimut sambil memeluk tubuh sang suami seperti yang sering dilakukan Delvin pada si kembar jika si kembar dan dirinya sedang demam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Alya Yuni
Trllu bnyk di tutp si Delvin mls bca
msa pemeran utama trsiksa
2022-12-25
0
Patimah Atim
lanjut thoor semangat up Nya
2022-12-25
1
Yuliana Tunru
jujur delvin..biar eca tau jfn terlalau byk misteri thorr gemes q takutx eca merasa diabaikan delvin hingga berpisah.😭😭😭
2022-12-25
1