Dua bulan berada di Indonesia, Alin tidak bisa menemui kekasihnya Haidar. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.
Ia juga tidak memberitahu kalau dia sudah berada di Indonesia. Sementara Haidar berpikir kalau Alin masih berada di Jerman. CEO dari sebuah hotel mewah ini berniat ingin menjemput Alin di Jerman.
"Alin..! Bagaimana dengan acara pertunangan kita..? Aku sudah meminta manajer hotel ku untuk tidak menerima booking dari konsumen.
"Lakukan saja sesuai rencana Haidar. Minggu depan aku akan pulang ke Indonesia."
"Apakah kamu mau aku yang menjemputmu sayang..?"
"Tidak perlu. Aku lebih senang mendatangimu." Sahut Alin tegas.
Keduanya mengakhiri percakapan mereka. Alin hanya mencari solusi yang tepat untuk mengatakan kepada Haidar tentang apa yang menimpa dirinya.
"Lebih baik aku jujur pada Haidar sebelum kami menikah. Dia tidak pantas aku tipu. Semoga dia menerima keadaanku yang sebenarnya kalau aku tidak suci lagi."
Gumam Alin sambil menarik nafas berat.
Sementara Haidar begitu antusias menyambut hari pertunangannya dengan mempersiapkan segalanya dengan matang.
Haidar menghubungi lagi Alin untuk memastikan gadis itu sudah berada di Indonesia.
"Alin! Apakah kita bisa bertemu sekarang?"
"Cukup kedua keluarga kita saja yang membahas pertunangan kita. Aku Ingin bertemu denganmu di hari pertunangan kita, biar lebih romantis." Balas Alin.
"Kita mau bertunangan sayang, bukan mau menikah, kenapa kamu memperlakukan dirimu seperti gadis yang sedang dipingit." Keluh Haidar.
"Bersabarlah sayang! aku ingin kamu lebih penasaran denganku." Tolak Alin secara halus.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita video call saja Alin."
"Itu sama saja bohong. Sudahlah Haidar, jangan terlalu memaksaku." Alin terus mengelak hingga akhirnya Haidar mengalah.
"Baiklah. Sepekan bukan waktu yang lama. Sampai jumpa nanti di hari pertunangan kita sayang."
Ucap Haidar akhirnya mengalah.
Akhirnya, hari yang dinantikan Haidar dan Alin tiba juga. Alin mengenakan kebaya modern rancangan salah satu desainer terkenal di Indonesia.
Kedua orangtuanya sangat lega akhirnya salah satu anak kembar mereka menikah. Rombongan dari pihak Alin segera berangkat ke hotel milik Haidar yang ada di pusat kota Jakarta.
Entah mengapa, Alin merasakan mual yang luar biasa membuatnya ingin muntah.
"Hoek..Hoek!"
Alin membekap mulutnya dan meminta sopir untuk menepikan mobilnya. Ibunya terlihat cemas saat Alin turun dari mobil mengeluarkan isi perutnya.
Tubuhnya makin lemas dengan pandangan matanya mulai kabur, hingga akhirnya Alin pingsan dalam pelukan ibunya.
"Astaga Alin..!
Pekik ibunya sambil menahan putrinya. Ayahnya turun dari mobil dan langsung menggendong putrinya tersebut.
"Bawa kami ke klinik terdekat pak Iwan!" Pinta Tuan Daniel.
"Baik Tuan ..!"
Baja hitam mewah itu kembali melaju menuju klinik. Nyonya Marini tidak bisa melakukan apapun saat ini melihat putrinya pucat seperti mayat hidup.
"Apakah putriku terlalu setress memikirkan pertunangannya hingga membuat asam lambungnya naik Ayah..?" Tanya Nyonya Marini..
"Sebaiknya kita tunggu saja pendapat dokter mommy."
Keduanya saling menggenggam tangan mereka menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan Alin.
Tidak lama kemudian, dokter bicara dengan kedua orangtuanya Alin dengan sangat hati-hati.
"Tuan, nyonya! Putri anda saat ini sedang hamil sekitar tiga bulan. Dan calon bayinya kembar.
Deggggg...
"Tidak mungkin...! Ini sangat memalukan." Gumam Tuan Daniel Geram.
Dering telepon dari pihak keluarga Haidar terus berbunyi membuat tuan Daniel menantikan ponselnya.
"Mommy bawa pulang Alin ke rumah. Ayah ingin tahu kenapa putri kita tega mempermalukan kita."
Tuan Daniel meninggalkan klinik itu dengan hati yang terluka.
"Jelaskan semua ini pada mommy Alin! Tidak mungkin ini anaknya Haidar bukan."
Alin terlihat syok. Ia juga bingung harus menjelaskan apa pada ibunya saat ini. Lelaki yang menghamilinya saja dia tidak tahu keberadaannya. Apa yang bisa ia jelaskan kepada keluarganya.
Pikirannya sangat kacau dengan hati yang begitu sakit. Air matanya pun seakan hilang dari sumbernya.
Setibanya di rumah, ayahnya mulai interogasi pada Alin yang hanya bisa tertunduk malu dan takut.
"Apakah budaya barat sudah mempengaruhi prinsip hidupmu Alin..? Dari kamu berangkat kuliah Ayah sudah memperingatkan kamu agar menjaga dirimu dari pergaulan bebas.
Sekarang lihatlah! Ulahmu yang sudah mencoreng nama baik keluarga membuat ayah tidak tahu mau menjelaskan apa pada keluarga Haidar. Beritahu ayah, siapa lelaki yang sudah menghamilimu?"
"Aku tidak tahu ayah. Kami bertemu dan berpisah begitu saja. Kami tidak saling kenal. Saat itu aku lagi mabuk. Aku tidak tahu lagi setelah kejadian malam itu."
Degggh...
"Jadi kamu diperkosa..?"
"Tidak ayah! Kami melakukannya suka sama suka tapi dalam keadaan mabuk saat merayakan ulang tahun Else." Jelas Alin sedikit berbohong.
"Astaga Aliinnn....! Plakkkkk...!"
Ayahnya menampar putrinya dengan tangan gemetar. Ia tidak menyangka putrinya juga sudah dibawa pengaruh minuman keras.
"Pergi kamu dari rumahku. Ayah tidak ingin kamu lahir anak haram di rumah ini. Pergiiiiiii..! Akhhhhkkk..Brukkk..!"
Kini gantian ayahnya Alin yang jatuh pingsan. Pelayan dan ibunya Alin segera membawa tuan Daniel ke rumah sakit.
Sejak saat itu ayahnya menderita stroke dan harus mendekam di kursi roda.
Alin makin merasa bersalah. Ibunya meminta pelayan mereka membawa Alin ke kampungnya untuk melahirkan bayinya di sana.
"Bibik Ijah!"
"Iya nyonya!"
"Bibik Ijah! Tolong bawa putriku ke kampung mu. Biarkan ia melahirkan di sana. Dan berikan bayinya pada orang lain."
"Mommy! Tolong jangan lakukan itu pada Alin, mami! Alin tidak mau melahirkan di kampung."
Tolak Alin saat mengetahui kalau bayinya akan di serahkan kepada orang lain.
"Apakah kamu ingin melihat pemakaman mommy, Alin..? Turuti perintah mami, atau kamu akan di coret dari daftar pewaris harta ayah....?
Setelah melahirkan, menetap lah di Australia. Kamu boleh kembali ke Indonesia setelah lima tahun kemudian."
Titah nyonya Arini tanpa mempedulikan perasaan putrinya yang makin hancur.
"Mommy, ijinkan Alin melahirkan di luar negeri mami. Alin tidak mau melahirkan di kampung. Alin akan menitipkan bayi Alin ke panti asuhan di sana."
Pinta Alin sambil memeluk kaki ibunya.
Membiarkan kamu di luar negeri supaya kamu bisa bebas melakukan apa saja seperti perempuan nakal, hah?"
"Mommy! Kenapa sebagai ibuku saja mami tidak mau mengerti perasaanku, apa lagi yang bisa aku andalkan pada orang lain?"
"Berhentilah mengeluh dan belajarlah bertanggungjawab atas perbuatanmu yang telah memalukan keluarga."
Ucap nyonya Arini lalu masuk ke kamarnya.
Dua orang pelayan yang sudah mengemas koper Alin, membawa koper itu ke dalam mobil. Alin dan bibi Ijah, berangkat malam itu juga ke Jawa tengah.
Alin keluar dari rumah orangtuanya dengan perasaan yang sudah tidak bisa ia gambarkan saat ini.
Tidak ada lagi bisa ia lakukan selain menjalankan hari-harinya sambil menantikan kelahiran bayinya di kampung salah satu pelayan kesayangannya bibi Ijah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Itin
kasihan juga Alin...
ini semua ulah Else.
2023-01-01
3
Patimah Atim
lanjut thoor semangat up Nya..
2022-12-25
1
Heni Hariyati
jangan ambil twis dari Eca, persatukan David dengan Eca.
2022-12-25
3