Kedatangan Haidar ke Bali bukan untuk berlibur. Ia memang memiliki rumah di Bali di mana kedua orangtuanya ingin menghabiskan hari tua mereka di Bali.
Orangtuanya memang ingin menjodohkan Haidar dengan seorang wanita yang merupakan putri dari sahabat Ibunya.
"Haidar! Ibu sudah mengatur perjodohanmu dengan Nindy dan ibu harap kalian berdua cocok."
"Ibu! Tolong jangan memaksaku untuk menikah dengan perempuan yang aku tidak kenal sama sekali Bu."
"Yang kamu kenal dan kamu cintai bukankah sudah mengkhianati kamu dan kabur begitu saja di hari pertunangan kalian..?"
"Bu tolong jangan libatkan nama wanita itu dalam obrolan kita..!"
"Apakah kamu masih mengharapkan gadis itu kembali padamu....?" Sudah hampir dua tahun dia seperti hilang di telan bumi."
"Sudahlah Bu! Dia bukan jodohku dan aku tidak lagi mau mengingatnya. Tapi aku harap jangan menjodohkan aku dengan Nindita.
Nindita adalah gadis yang sangat cantik dan baik. Apa salahnya mengenalnya lebih dulu. Jika kalian tidak cocok, kamu boleh meninggalkan dirinya."
Pinta nyonya Ami.
"Baiklah. Kalau ibu maunya seperti itu. Haidar akan belajar mengenalnya lebih dulu. Tolong jangan kecewa kalau Haidar tidak jadi dengan dirinya ibu."
"Iya sayang, ibu mengerti perasaanmu."
Tuan Haidar pamit pada ibunya ingin beristirahat. Ia masuk ke kamarnya yang penuh kenangan akan mantan kekasih yang sekarang menghilang entah ke mana.
"Alin..! Apa yang membuatmu tiba-tiba pergi begitu saja dari hidupku. Aku tidak percaya apa yang dikatakan Else bahwa kamu hamil dengan laki-laki lain dan kabur dengan lelaki itu. Ingin rasanya aku membunuh lelaki itu yang telah merenggut kesucianmu sebelum aku.
Siapa dia Alin...? Tapi aku tidak akan percaya sebelum mendengar dari mulutmu sendiri kalau kamu kabur dariku karena kamu hamil."
Gumam Haidar sambil memainkan saklar lampu tidurnya.
Hati pria tampan ini merasa sangat hancur mengenang kekasihnya itu. Informasi tentang sang kekasih tidak bisa ia dapatkan.
Ia harus mengubur cintanya hingga hatinya kembali bertaut pada sosok Eca yang sempat membuat hatinya bergetar dan lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan karena Eca juga sudah menikah dengan orang lain.
Di resort milik Delvin, keluarga kecil ini sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Eca sudah membicarakan kepada Delvin tentang keinginannya untuk menyelesaikan tugas akhirnya agar bisa wisuda tahun ini dan meraih gelar sarjana kedokteran.
Delvin sangat mendukung keinginan istrinya dan ia siap merawat si kembar jika ditinggal tugas oleh ibu angkat mereka.
Mereka juga harus menikah lagi secara agama dan negara untuk mendapatkan surat adopsi untuk si kembar.
...----------------...
Eca mulai magang di rumah sakit yang direkomendasikan oleh kampusnya. Gadis ini melakukan tugasnya dengan baik dalam waktu tiga bulan itu.
Kehebatannya dalam memecahkan kasus beberapa penyakit pasien dengan menemukan solusi yang tidak bisa terpecahkan oleh dokter ahli sekalipun.
CEO rumah sakit itu begitu kagum dengan prestasi Eca. Ia diberi kesempatan untuk bekerja di rumah sakit itu. Dokter Gaes meminta asistennya untuk memanggil Eca menghadapnya.
"Dea! Tolong panggilkan dokter Eca untuk ke ruangan ku!"
"Dokter Eca..?"
"Umm.. maksudku dokter Ayesha. Anak magang itu."
Dokter Gaes memperbaiki kalimatnya agar si asisten mengerti.
"Baik dokter."
Dokter Eca masuk ke ruang kerja CEO rumah sakit tersebut. Selama magang di rumah sakit itu, ia belum pernah berhadapan langsung dengan pemilik rumah sakit tersebut. Ia pun segera ke ruangan itu dengan perasaan gelisah karena takut berbuat salah.
"Apakah aku sudah melakukan kesalahan? Kenapa aku harus di panggil oleh pemilik rumah sakit ini..?"
Eca terlihat bingung dan juga penasaran. Ia hanya menunggu di sofa sambil melihat dokter Gaes menghubungi seseorang.
"Dokter Eca!"
"Iya dokter! Saya Eca."
"Maaf kita baru bisa ngobrol sekarang, karena selama kamu magang aku belum sempat bertemu langsung denganmu. Bukankah dua hari lagi magang mu selesai?"
"Benar dokter."
"Dokter Eca! Aku puas dengan hasil kerjamu selama kamu membantu beberapa dokter disini sesuai di bidang mereka.
Ada fakta menarik saat kamu mempelajari kasus penyakit yang sulit sekali dokter spesialis sekalipun menemukan kendalanya tapi kamu bisa."
"Terimakasih dokter untuk apresiasinya."
"Aku sengaja memanggilmu menghadap ku karena aku ingin kamu mau melanjutkan pekerjaanmu untuk mengabdi di rumah sakit ini usai kamu mendapatkan gelar kedokteran dan izin tugasmu sebagai dokter. Apakah kamu siap bergabung di rumah sakit ini..?"
"Saya tidak bisa memutuskannya dokter. Saya harus diskusi dulu dengan suami, apakah dia mengijinkan aku tetap bekerja atau mengurus anak-anak di rumah." Ujar Eca tegas.
"Jadi kamu sudah berkeluarga...?"
"Iya dokter."
"Astaga! Aku pikir kamu masih gadis. Baiklah. Aku tunggu keputusan mu selama dua hari ini Semoga suamimu mendukung profesimu sebagai seorang dokter.
Sayang sekali, jika dokter berprestasi sepertimu harus menghabiskan waktumu di rumah mengurus keluarga."
Ucap dokter Gaes dengan sentuhan provokasi pada kata-katanya.
"Terimakasih dokter! Saya akan mempertimbangkan kembali permintaan anda."
Ucap dokter Eca lalu pamit pada dokter Gaes.
Setiap harinya, Delvin sendiri yang mengantar jemput istrinya di rumah sakit. Sore itu Eca terlihat sangat senang dengan ajakan dokter Gaes untuk bergabung di rumah sakit miliknya.
"Kelihatannya kamu senang sekali sayang? apa ada kabar baik yang ingin kamu bagikan kepadaku, hmm?"
"Benar Delvin, saat ini aku sangat senang karena dua hari lagi nilai magangku keluar dan aku siap menunggu ijasah ku keluar dan ikut wisuda tiga bulan lagi."
"Apakah hanya itu?"
"Ada lagi hal lainnya Delvin dan ini sangat berharga untukku setelah sekian lama mimpiku ingin mengabdi kepada masyarakat akhirnya terwujud.
Aku ingin menjadi manusia seutuhnya dengan menjadikan diriku bermanfaat untuk orang lain." Ucap Eca sedikit diplomatis.
"Apakah kamu ingin bertugas di rumah sakit tersebut?" Tebak Delvin.
"Itu pun kalau kamu mengijinkan sayang."
"Tapi, aku kuatir kamu akan lalai kepada kami. Kamu mengabaikan si kembar dan aku dan melupakan niat kita yang ingin punya anak sendiri." Ucap Delvin cemas.
"Aku janji tidak akan mengabaikan tugasku sebagai ibu dan istri. Tolonglah Delvin. Ini adalah impianku.
Jika kamu tidak menikahi ku, mungkin mimpiku akan terkubur begitu saja karena fokus membesarkan si kembar."
"Baiklah sayang! Kejarlah mimpi itu kamu pantas memiliki mimpi itu. Kamu sudah mengorbankan hidupmu untuk anak orang lain yang tidak kamu kenal dan mempertaruhkan apapun demi si kembar, itulah membuat aku salut padamu.
Gadis langka yang sulit di temui di jaman sekarang ini, di mana orang yang memiliki anak kandung malah menelantarkan anaknya tapi tidak denganmu, kamu rela menanggung semua hinaan demi tujuan mulia."
"Terimakasih Delvin atas dukunganmu. Aku makin sayang padamu. Muuachh.."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Queen Tdewa
pasti tu anak kamu Delvin...tpi kok bisa kamu menghamili pacar ny Haidar
2023-02-13
1
Nor Azlin
ini bermakna Haidar hanya tunangan perempuan yang hamil anak dari dalvin ...kerana perselingkuhan yang secara tak sengaja telah berlaku membuahkan hasil ...jadi dia mengilangkan diri dari Haidar & berjumpa dengan si eca ini kesimpulan yang aku fikirkan betul thor?
2023-01-01
3
Ayu Afrinetty
jangan bilang Alin hamil sama delvin
2022-12-31
1