Keributan antara ayah dan anak ini tidak dapat terelakkan. Delvin yang sangat mengenal Eca tidak mau istrinya ini di hina oleh orang lain, walaupun itu adalah kedua orangtuanya sendiri.
"Kalian memang kedua orangtuaku, itu tidak berarti kalian seenaknya menghina orang yang sudah aku pilih untuk mendampingi aku seumur hidupku.
Andai saja Daddy dan mami mengetahui siapa Eca, mungkin kalian akan menyesal telah menghinanya hari ini." Ucap Delvin sengit.
"Kami yang melahirkan dan membesarkan mu, kami lebih tahu siapa yang pantas untuk mendampingi kamu daripada janda yang tidak tahu asal usulnya ini." Timpal nyonya Zoya.
"Aku memiliki kedua orangtua yang sudah meninggal. Aku punya seorang saudara laki-laki yang tinggal di Surabaya.
Aku bukan berasal dari keluarga kaya karena kedua orangtuaku bukan orang terpandang. Tapi aku bangga memiliki mereka karena membesarkan aku dari harta yang halal hingga membentuk kepribadianku yang berakhlakul Kharimah.
Tidak ada kebanggaan seorang anak selain memiliki nilai itu, karena itu lebih mulia di hadapan Allah daripada kasta dan harta yang Daddy dan mami banggakan itu. Maaf! ini sudah larut malam.
Jika merasa terhormat mengaku orang yang berkelas, harusnya tahu cara bertamu di waktu yang tepat. Permisi ini kami harus istirahat!"
.
Ucap Eca yang terpaksa melawan kedua mertuanya.
Ia mengajak suaminya masuk ke kamar mereka agar si kembar kembali beristirahat.
"Hei gadis kampung! Tidak perlu mengajarkan kami caranya bersikap sopan santun. Jaga mulutmu yang lancang itu, karena sudah melawan mertuamu sendiri." Umpat nyonya Zoya.
"Lebih baik mami dan dady simpan energi untuk memarahi kami besok! Sekarang istirahatlah karena aku kuatir di usia kalian darah tinggi bisa kumat kapan saja disertai serangan jantung dadakan dan itu tidak baik untuk kesehatan kalian." Imbuh Eca.
"Janda so tahu, lagunya seperti seorang dokter hebat." Ucap Nyonya Zoya sinis.
Eca tidak mempedulikan hinaan itu dan ia langsung masuk ke kamarnya menyusul suaminya.
Kedua orangtuanya Delvin makin senewen dengan perlakuan Eca yang membuat putra mereka lebih mendengarkan perkataannya daripada perkataan mereka.
Eca harus bersikap tegas kepada kedua mertuanya agar bisa meredakan emosi keduanya dengan mengakhiri perdebatan.
Jika diteruskan maka, pertengkaran itu terus terjadi diantara mereka, dan itu akan terjadi sampai pagi karena tidak ada yang mau mengalah.
Nafas Delvin yang masih tersengal dengan amarah yang masih membuncah ditenangkan oleh Eca yang langsung memeluknya erat.
Walaupun bukan wanita yang ahli dalam menenangkan seorang lelaki, namun Eca lebih menerapkan ilmu psikolog dalam menangani pasien hatinya yaitu suaminya sendiri.
"Sayang! Kemari lah!"
Eca lebih merapatkan tubuhnya dengan posisi wajah Delvin yang dibiarkan terbenam dalam dada sekangnya.
Seketika, Delvin menemukan ketenangan di dada itu. Bukan hanya dua bukit itu yang akan memanjakan dirinya tapi wangi tubuh istrinya dan belain lembut yang dilakukan Eca pada kepalanya seakan memberikan sentuhan magic yang luar biasa dahsyatnya.
"Tenangkan dirimu sayang.
Jangan terlalu terbawa suasana yang menghalangi cinta kita. Setiap kebahagiaan punya ujiannya tersendiri untuk meraih kesempurnaan.
Apapun yang orangtuamu katakan tidak perlu di klarifikasi dengan perkataan. Biakan waktu yang akan membuktikan setiap kebenaran yang akan menang dari tuduhan yang mereka layangkan.
Balas lah segala sesuatu melalui akhlak, karena orang yang membencimu tidak butuh penjelasan tapi lebih kepada tindakan."
Jelas Eca menenangkan suaminya.
Ternyata perlakuan yang Eca berikan melalui kelembutannya mampu membuat pikiran Delvin menjadi lebih tenang. Ia mulai terbuai dan mulai tergoda dengan dada sekang sang istri yang sudah ia sesap untuk menikmati dua benda kenyal itu.
Pertempuran yang sempat tertunda karena perang kecil yang tercipta kini berganti dengan acara ritual yang sangat di nantikan mereka di malam pertamanya.
Tidak terlalu lama pemanasan awal itu terjadi, karena mereka sudah menikmati sebelumnya. Delvin hanya perlu menuntaskan hasrat birahi yang tertunda untuk membuktikan kesucian seorang istri malam ini.
Darah kesucian itu terlihat jelas dihadapan delvin. Rasa bangganya pada istrinya tak terlukiskan dengan uraian kalimat indah sekalipun.
Kepuasan yang mereka raih bersama dengan rasa bahagia telah nyata dengan ditunaikan kewajiban mereka masing-masing.
Seorang ibu pengganti untuk si kembar yang rela di cemoohkan dengan status janda hingga menutupi status sebenarnya sebagai seorang gadis perawan yang malam ini terbukti oleh suaminya sendiri. Benar apa yang di katakan Eca barusan.
Setiap tuduhan yang bermuara padamu tidak perlu diklarifikasi dengan perkataan cukup dengan membuktikan dirimu hebat dengan perbuatan.
Karena tidak perlu semua orang tahu istrinya masih perawan, hanya seorang suami yang cukup membuktikan keabsahan pengakuan itu dengan darah segar yang baru saja ia tancapkan miliknya pada sang istri.
"Sayang! Apakah aku membuatmu kesakitan?"
Tanya Delvin yang melihat wajah Eca meringis menahan rasa sakit saat ia masih terus menghentakkan pinggulnya pada Eca yang tetap tenang menerimanya sebagai bentuk pengabdian.
"Tidak sayang! Walaupun awalnya sakit tapi pada akhirnya kenikmatan yang aku rasakan saat ini."
Imbuh Eca dengan senyum merekah.
Sejenak semuanya terasa kembali indah. Waktu yang tersisa yang hampir menjelang fajar digunakan keduanya dengan terus bercinta dan bercinta hingga lelah yang mengantarkan mereka terlelap dalam mimpi yang indah.
Pukul empat pagi keduanya segera mandi wajib dan mempersiapkan diri melakukan sholat subuh.
Di luar sana hujan deras dengan angin kencang terdengar jelas dari sela-sela pintu balkon dari kaca hingga bergetar saking dahsyatnya suara petir yang menggema dari atas langit sana.
Azan subuh terdengar sayup diantara hujan deras itu. Delvin yang sudah berpakaian rapi siap mengimani istrinya yang berdiri di belakangnya.
Keduanya nampak khusu menunaikan sholat subuh berjamaah di pagi syahdu itu. Hanya dengan sholat khusuk ketenangan jiwa akan mampu kita raih walaupun masalah belum menemukan solusi.
Usai memberikan salam terakhir dan memanjatkan doa yang terbaik untuk mereka, Eca menyalami punggung tangan suaminya penuh takzim dan Delvin memberikan kecupan sayang pada kening dan bibir sang istri.
"Sayang!"
"Hmm!"
"Sebaiknya kita lihat mommy dan Daddy!"
Pinta Eca yang ingin minta maaf kepada kedua mertuanya.
"Mereka tidak tidur di sini Eca. Mereka punya rumah sendiri di Bintaro."
"Terus rumah ini milik siapa..?"
"Milik suamimu dan sekarang milik nyonya Delvin Andra Wiguna."
Ucap Delvin sambil tersenyum.
"Apakah mereka akan ke sini lagi, sayang?"
"Jika mereka terus menerus menganggu kita, lebih baik untuk sementara kita tinggal di resort di Bali. Lagi pula kamu belum melihatnya. Sekalian kita bisa bulan madu ke sana." Sahut Delvin.
"Apakah kita tidak dianggap kurangajar sama kedua orangtua kamu sayang?"
"Apakah kamu ingin mendengar lagi hinaan mereka?" Delvin balik bertanya.
"Tentu saja tidak sayang. Baiklah kita akan berangkat bulan madu ke Bali."
Ucap Eca menyetujui ajakan suaminya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Elisanoor
Bagus bgt dialog nya
2023-01-30
2
Etik Puji Astuti
lanjut kk
2022-12-28
1
felisya enterprise
delfin muslim ya..,
2022-12-23
1