Eca menangis dalam pelukan Delvin yang sedang mengelus surei panjang Eca dengan penuh kelembutan.
Pria tampan ini membiarkan Eca meluapkan kesedihannya tanpa ingin bertanya. Puas menangis Eca baru mengurai pelukannya lalu mengusap air matanya.
"Apakah perasaanmu sudah lebih baik sayang?"
"Hmm!"
"Mau berbagi denganku?"
Eca menggeleng. Ia takut kalau kebohongan demi kebohongan yang ia ciptakan akan membuat Delvin makin bingung.
Ia tidak ingin memberitahukan jati diri ibu kandungnya si kembar yang ia sudah tahu bahwa wanita itu adalah kekasih atau tunangannya tuan Haidar. Entah apa hubungan mereka, yang jelas ia tidak ingin Haidar tahu kalau dia yang sedang merawat anak kandung wanita itu.
"Apa kita bisa mempercepat pernikahan kita Delvin?"
"Apakah kamu sudah tidak sabar ingin hidup bersamaku?"
Goda Delvin sambil mengusap air matanya Eca.
"Aku hanya ingin memperjelas status si kembar menjadi anak kita."
"Baiklah kalau begitu Minggu depan kita ke Jerman karena orangtuaku menetap di sana. Kita minta restu mereka untuk menikah. Apakah kamu mau?"
"Kenapa kita tidak menikah secara agama dulu? Kalau semuanya sesuai dengan proses pernikahan agama dan negara itu akan memakan waktu yang cukup lama." Jelas Eca.
Delvin termenung sesaat lalu menyetujui permintaan Eca.
"Jika hanya ingin kita disahkan secara agama, itu lebih baik. Tapi pengakuan adopsi itu harus di sahkan secara hukum negara. Tanpa itu status si kembar akan cacat secara hukum." Timpal Delvin.
"Setidaknya jadikanlah aku milikmu. Setelah itu kita bisa melakukan kebaikan lainnya. Jika kita sudah sah suami istri, aku tidak perlu seperti kucing yang selalu ketakutan jika ketahuan orang lain saat maling makanan."
Canda Eca ditengah kepedihannya.
"Baiklah kita akan menemui saudara laki-lakimu untuk menjadi wali nikah mu."
"Mereka tinggal di Surabaya. Kita bisa ke sana tanpa harus membawa si kembar."
Ujar Eca yang tidak ingin kehadiran si kembar malah akan timbul kesalahan pahaman kakaknya dan juga kakak iparnya.
Tuan Delvin menyetujui apapun permintaan Eca karena gadis ini lebih mengetahui tingkat kenyamanan dirinya.
Malam itu keduanya berangkat ke Surabaya menemui abangnya Eca, yaitu Amarullah dan kakak iparnya Anik.
Di hadapan keduanya, Eca memperkenalkan tuan Delvin dengan menyampaikan keinginan mereka untuk menikah secara agama sebelum di gelar pernikahan resmi.
"Kenapa harus melakukan pernikahan secara dua kali Eca? Apakah saat ini kamu sedang hamil? " Tanya Anik sinis.
"Tidak mbak. Alhamdulillah Eca masih bisa jaga diri. Justru Eca ingin secepatnya menikah agar terhindar dari fitnah terutama dari keluarga terdekat."
Eca membalas ucapan kakak iparnya dengan kata-kata menohok.
"Apa pekerjaan calon suamimu? Apakah dia hanya seorang pengangguran hingga tidak bisa menggelar pernikahan yang lebih layak untuk kalian dan harus memilih pernikahan siri?"
Anik masih ingin menjatuhkan adik iparnya membuat tuan Delvin mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Setidaknya pernikahanku tidak akan mengeruk kekayaan kakak ipar satu persen pun kecuali yang aku inginkan adalah restu dari kakak kandungku. Bagaimana kak Amar, apakah kamu bersedia menjadi wali dalam pernikahanku?"
Tanya Eca yang sudah tidak betah lama-lama berada di rumah kakaknya.
"Baiklah kalau kamu hanya mau menikah secara agama dulu, kakak akan menikahkan kalian. Kapan kalian menikah?"
"Besok. Kalau bisa kakak sekeluarga ikut kami sekarang ke Jakarta." Ucap Delvin.
"Apakah kita akan naik kereta ke Jakarta? tidak! ... aku tidak mau ikut kamu mas, kalau tidak berangkat dengan pesawat."
Remeh Anik pada sang adik ipar.
"Kakak amar dan mbak Anik naik pesawat jet pribadiku. Jadi kalian tidak perlu repot-repot menumpang pesawat komersial.
Saya sudah membooking hotel mewah di Jakarta Untuk kalian. Jadi untuk akomodasinya tidak usah kuatir semuanya sudah dipersiapkan."
Ucap tuan Delvin sekalian membungkam mulut calon kakak iparnya Anik.
Mata Anik melebar tanpa bisa berkata-kata apa-apa. Sifat culasnya mulai terlihat saat mengetahui calon adik iparnya adalah pria tajir melintir.
"Aduh kalau tahu kami akan naik pesawat jet pribadi, aku harusnya ke salon dulu agar terlihat lebih kinclong karena kulitku sedikit kusam dan rambutku masih terasa lembab."
Ujar Anik memanfaatkan situasi.
"Kakak ipar akan mendapatkan perawatan tubuh di hotel nanti, sebaiknya bersiaplah karena kita tidak punya banyak waktu."
Desak tuan Delvin mendengus kesal melihat wajah Anik yang sangat serakah.
"Sepertinya kakakmu sangat menderita hidupnya dengan perempuan iblis ini Eca."
Ucap Delvin dalam bahasa Perancis.
"Entahlah, kenapa kakakku bisa mendapatkan makhluk hidup menakutkan seperti ini."
Gerutu Eca sambil menarik nafas berat.
Tidak lama keluarga itu langsung menuju bandara di mana pesawat jet pribadi milik Tuan Delvin sudah menunggu.
...----------------...
Pernikahan itu berjalan dengan khidmat. Tuan Delvin mengucapkan ijab qobul dengan lugas dengan satu tarikan nafas. Dari pihak saksi menyatakan sah.
Mahar yang diberikan oleh tuan Delvin yaitu seperangkat perhiasan berlian dan sebuah resort mewah yang ada di Bali yang belum di lihat oleh Eca karena sertifikat tanahnya yang saat ini menjadi mas kawinnya.
Anik hampir saja pingsan mendengar mas kawin adik iparnya itu.
"Sial! Kenapa Eca bisa seberuntung seperti ini padahal aku sengaja menjauhkan dia dari kakaknya agar suamiku melepaskan tanggung jawabnya pada perempuan sialan ini."
Gerutu Anik yang sangat iri dengan Eca dari segi fisik, kejeniusan dan sekarang mendapatkan suami konglomerat.
Sementara suaminya hanya seorang manajer sebuah perusahaan produk susu yang ada di Surabaya.
Eca menyalami kakaknya dengan penuh haru.
"Selamat atas pernikahanmu adikku. Kamu sudah menemukan kebahagiaanmu. Kakak harap pernikahanmu ini secepatnya di daftarkan secara negara supaya hakmu sebagai istri di akui."
Pinta Amar yang ingin memperjelas status adik kandungnya.
"Iya kak, kami akan memproses secepatnya."
Ucap Delvin meyakinkan Abang iparnya.
"Apa jangan-jangan si Eca hanya dijadikan istri ke dua, makanya pernikahannya di gelar secara sirih."
Sindir Anik memperlihatkan kedengkiannya pada Eca.
Eca hanya merotasi mata malas dengan menarik nafas jengah mendengar ocehan kakak iparnya.
Amar segera pamit pulang ke Surabaya karena tidak mau melihat istrinya yang masih uring-uringan dengan adiknya.
"Terimakasih kakak ipar. Ada oleh-oleh sedikit untuk kakak ipar yang sudah saya titipkan kepada asisten pribadi saya."
Ucap tuan Delvin saat melepaskan kepergian Amar dan istrinya menuju bandara.
Ketika tiba di bandara Soekarno-Hatta, Anik protes pada suaminya karena mereka naik pesawat komersial saat balik ke Surabaya. Ia ingin menumpang pesawat jet pribadi milik Delvin lagi.
Walaupun sudah mendapatkan kelas bisnis, perempuan ini masih saja mengamuk pada suaminya.
"Sudah cukup sifat norak mu itu mempermalukan aku Anik."
Bentak Amar yang sudah tidak tahan mendengar keluhan istrinya yang tidak pernah puas yang ia dapatkan dari tuan Delvin.
"Ternyata dia hanya pamer saja punya pesawat pribadi pada kita. Dan ini, oleh-oleh apa ini? paling parfum murahan dan benda lain yang tak berguna yang diberikan kepada kita."
Ucap Anik penasaran lalu membuka bag paper yang ternyata berisi uang tiga ratus juta.
"Hahhhh! Uang....? Astaga!"
Wajahnya tiba-tiba berkeringat melihat uang sebanyak itu. Sementara Amar hanya bisa menggelengkan kepalanya menahan malu sekaligus merasa gerah dengan sikap serakah istrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Sandisalbiah
kamu yg bodoh amar.. perempuan model begitu kok dipelihara...
2024-01-19
1
felisya enterprise
pernah tuan Haidar keceplosan klo pernah patah hati gara2 gadisnya menghilang .., yaaa bisa jadi kekasih Haidar kabur sl. keadaan hamil gara2 banyak ygmusuhi ( pelakor2 berebut Haidar )
2022-12-21
1
Heni Hariyati
lanjut thor
2022-12-21
1