Tuan Haidar meminta Eca untuk kembali lagi ke tempatnya bekerja. Sementara ia dan tuan Gunawan sendiri sedang memikirkan untuk mempertimbangkan kembali pekerjaan yang pantas untuk Eca setelah mengetahui kemampuan gadis itu yang bukan gadis sembarangan.
"Apa yang harus kita lakukan untuk gadis itu, agar posisinya di hotel ini bisa kita pindahkan ke tempat yang lebih baik daripada menjadikan dia seorang cleaning servis?" Tanya tuan Haidar.
"Kebijakan itu hanya ada pada anda tuan Haidar karena anda pemilik hotel ini. Tapi, keputusan itu akan mengundang kontroversi para pemegang saham yang akan menolak gadis itu dipindahkan bagian lain karena ijasahnya hanya sampai SMA."
Ucap tuan Gunawan.
"Apa yang harus kita lakukan untuk membantunya agar ia bisa mendapatkan lagi gelar sarjana kedokterannya?"
"Yang dia butuhkan gadis itu adalah orang yang bisa membatunya untuk menjaga anaknya dan uang bulanan sebagai penunjang kelangsungan hidup mereka."
Ucap tuan Gunawan memberi saran.
"Betul katamu pak Gunawan. Kalau bukan kita yang memikirkan nasibnya, lalu siapa lagi.
Siapa bajingan yang telah menghamilinya dan ia harus menjadi ibu muda di saat ia ingin meraih impiannya sebagai seorang dokter?"
Tanya tuan Haidar yang terlihat sedih.
"Ayesha! Kau sudah mengingatkan aku pada seseorang yang telah mengubah kehidupanku menjadi mimpi buruk." Batin Haidar.
"Tuan! Apakah anda akan memindahkan posisi pekerjaan nona Ayesha di hotel ini?"
"Tidak!"
"Baiklah. Terserah tuan saja. Kalau begitu saya permisi tuan!"
"Silahkan!"
...----------------...
Eca mengajak si kembar ke tempat permainan sesuai dengan usia mereka. Mereka pergi menumpang taksi menuju Mall.
Eca mengajak si kembar bermain mandi bola dengan balita lainnya. Hal yang sangat sederhana tapi membuat si kembar sangat bahagia.
Eca mengambil foto si kembar dan merekam keceriaan anak angkatnya itu. Puas bermain mandi bola, ketiganya merayakan ulang tahun di sebuah restoran siap saji.
"Chiko, Ciky! Hari ini kalian ulang tahun yang ke satu tahun! Bunda hanya bisa beli kue ulang tahun yang kecil untuk kalian."
Ucap Eca sambil menata kue di atas meja
Keduanya bertepuk tangan saat melihat kue ulang tahun yang sudah di hiasi lilin di atasnya.
"Hore!! kita ulang tahun!"
Ucap keduanya dengan lidah yang masih cadel.
Eca menyalakan lilin dan meminta si kembar meniup lilin itu.
"Kita tiup lilinnya bersamaan ya! satu dua tiga. Selamat ulangtahun Ciky, Chiko! semoga selalu sehat dan panjang umur.
Ketiganya bertepuk tangan. Eca mencium pipi si kembar sambil menahan tangisnya. Dan si kembar membalas mencium pipi Eca dari kedua sisi. Momen itu di rekam oleh seseorang dari kejauhan.
"Inikah anak-anaknya? Apakah mereka kembar? Tapi kenapa anak-anak itu sama sekali tidak mirip dengan Eca?"
Gumam Haidar lalu menghampiri ketiganya.
"Bunda! Chiko mau kue!"
"Ciky juga mau kue, bunda!"
"Iya sayang! Tunggu ya! Bunda potong dulu untuk kalian. Nah, ini buat Chiko dan satu lagi buat Ciky.
"Makasih bunda sayang!" Keduanya menyuapkan sendiri kue itu ke mulut mereka dengan pipi yang sudah belepotan.
Ketiganya saling tertawa menikmati momen berharga itu untuk ulang tahun pertama mereka.
"Selamat siang Eca!"
Degggg ...
Eca terhenyak hingga matanya terbelalak. Gadis ini segera berdiri dan memberikan hormat kepada tuan Haidar yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Selamat siang tuan Haidar!"
"Bolehkah aku bergabung dengan kalian?"
"S.. silahkan Tuan!"
"Apakah mereka anak-anakmu?"
Tanya tuan Haidar sambil menatap si kembar yang tidak begitu peduli dengan kehadiran bosnya bunda mereka.
"Mereka adalah anak kembarku."
"Apakah karena mereka kamu merelakan mimpimu untuk menjadi seorang dokter?"
"Demi mereka aku rela menukar nyawaku dengan nilai apapun di dunia ini. Tidak ada yang lebih berharga di dunia ini selain kehadiran mereka dalam hidupku."
Ucap Eca penuh penekanan pada kalimatnya.
"Bagaimana dengan ayah bajingan itu? Apakah dia tidak tahu kamu telah melahirkan bayinya?"
Deggg...
"Cih! Seandainya aku tahu bajingan itu, rasanya aku ingin mencekik lehernya karena sudah meninggalkan ibu mereka."
Eca terlihat melamun.
"Ayesha! Hallo!"
Tuan Haidar menjentikkan dua jarinya di depan wajah Eca yang terlihat melamun.
"Maafkan saya tuan. Aku harap anda tidak perlu mengurus masalahku. Dan aku tidak ingin anda bertanya sesuatu yang terlalu privasi bagiku."
Ucap Eca seraya membersihkan wajah si kembar dengan tisu basah yang di bawahnya.
"Maafkan saya Eca! Saya sudah terbawa suasana."
"Terimakasih atas pengertiannya, tuan Haidar."
"Bunda! Ciky ngantuk."
Ucap gadis kecil itu sambil mengangkat kedua tangannya minta digendong.
"Chiko mau bobo, bunda."
Eca mengangkat tubuh keduanya dan memasukkan keduanya ke dalam kain gendongannya untuk menidurkan keduanya yang langsung terlelap dalam dekapan Eca.
Sifat kelembutan dari seorang ibu yang dilihat Haidar membuatnya terenyuh. Betapa ketulusan hati seorang ibu tidak ada bandingannya di dunia ini.
"Anak-anakmu sangat manis Eca. Pantas saja kamu sangat menyayangi mereka." Ucap tuan Haidar.
"Terimakasih untuk pujiannya Tuan."
"Ayesha! Sebenarnya ada yang ingin aku tawarkan kepadamu jika kamu tidak keberatan.
Dan aku harap kamu mau menerima tawaranku ini demi merubah kehidupanmu agar bisa memberikan kehidupan si kembar yang lebih layak."
Ucap tuan Haidar hati-hati.
"Mereka adalah hidupku. Aku rela bekerja keras untuk mereka selama pekerjaan itu halal. Aku rasa aku sudah memberikan mereka kehidupan yang sudah layak saat ini."
"Itu karena mereka masih kecil dan kebutuhan mereka masih terbatas. Tapi sejalannya waktu mereka pasti membutuhkan lebih banyak biaya dan itu tidak sedikit. Gaji mu sebagai cleaning servis tidak cukup untuk membiayai masa depan mereka Eca."
"Apa yang sedang anda tawarkan kepadaku tuan Haidar?"
"Kebahagiaan, perlindungan, kenyamanan dan cinta kasih. Aku melamarmu untuk menjadi istriku, Ayesha."
Ucap tuan Haidar begitu frontal.
Duaaarrr....
"Apakah anda sudah sinting? tidak ada angin, tidak ada hujan, muncul tiba-tiba seperti jelangkung hanya untuk mengucapkan kata-kata bodoh itu?"
Sergah Eca sengit.
Si kembar sempat membuka mata mereka karena suara Eca terdengar kencang membuat mereka tidur keduanya terganggu.
"Hussst! Sayang, bobo lagi ya. Maafkan bunda."
Eca menenangkan kembali si kecil yang kembali terpejam.
"Permisi tuan kami mau pulang!"
"Eca! Biarkan aku mengantarkan kalian pulang. Kasihan bayimu sudah tidur. Ijinkan aku menggendong salah satu dari mereka."
"Tidak usah! Mereka bisa bangun kalau digendong sama Tuan."
"Kasihan kamu nya, Eca. Mereka sudah cukup berat. Berikan salah satu mereka padaku!"
Akhirnya Eca memberikan Chiko untuk digendong tuan Haidar. Keduanya masuk ke dalam lift menuju tempat parkir di mana mobil Haidar berada di basemen.
Haidar sangat pintar untuk membujuk Eca agar gadis itu memberikan salah satu bayinya. Dengan begitu ia punya kesempatan untuk mengantar gadis ini pulang ke rumah kontrakannya.
"Eca! Tolong pikirkan lagi tawaranku. Dengan kita menikah kamu bisa melanjutkan lagi pendidikan mu untuk meraih gelar kedokteran."
"Tidak perlu menunggu aku menikah untuk mendapatkan ijasah kedokteran. Kesempatan itu akan datang padaku jika saatnya sudah tiba.
Allah punya cara tersendiri untuk memelihara, mendidik dan merawat makhlukNya di dunia ini tanpa perlu bantuan orang lain. Itulah mengapa Allah dimaknai sifat robbil aalamiiin. Dan itulah makna dari ayat ke dua surah Al-fatihah. Camkan itu kalau anda adalah orang yang beriman."
Ucap Eca membuat tuan Haidar termangu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Haifa ayah si kembar...
2024-01-19
0
Siti Nurjanah
apa itu ibu kandungnya si kembar yg ada dlm ingatanmu tuan Haidar?
2023-11-07
0
Queen Tdewa
apakah ibu kandung si kembar yg kau ingat
2023-02-12
1