Pesta ulang tahun Else yang di adakan di salah satu diskotik di Jerman terlihat meriah. Mereka turun di lantai dansa usai melakukan perayaan itu.
Alin yang terlihat tidak begitu respon dengan ulangtahun Else membuatnya malas turun di lantai dansa. Ia mengajak Keysa adik dari kekasihnya Haidar menemaninya ke toilet karena rawannya diskotik itu.
Melihat dua sahabatnya itu meninggalkan meja mereka, Else meminta pelayan untuk menaburkan minuman Alin dengan obat perangsang.
Tidak lama Alin dan Keysa kembali lagi ke tempat duduk mereka. Keduanya meneguk minumannya yang non alkohol sambil menikmati alunan musik romantis mengiringi pengunjung yang sedang berdansa termasuk Else.
"Selamat tinggal Alin, akhirnya Haidar tidak akan lagi mau bertunangan denganmu karena sebentar lagi kau akan diperkosa oleh para pria bule di klub ini. Dia akan menjadi milikku.
Ujar Else menyeringai licik.
Iapun terus berdansa dengan teman kampusnya. Walaupun saat itu Else sudah memiliki kekasih, namun ia tetap menginginkan Haidar yang memiliki segalanya daripada kekasih bulenya yang hanya memiliki tampang keren tapi modal kere.
"Apakah malam ini kamu happy, sayang?"
Tanya Miller sambil mengeratkan pinggangnya Else merapatkan ke tubuhnya.
"Aku sangat happy Miller karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri Milioner."
Gumam Else dalam bahasa Indonesia.
Miller yang tidak begitu mendengar ucapan Else hanya tertawa geli. Keduanya tenggelam dalam kenikmatan musik yang makin membuat mereka bergairah.
Miller mengajak Else untuk meninggalkan tempat itu karena ingin mengajak gadis ini bercinta. Tapi Else menolaknya dengan keras.
"Kau bisa melakukan dengan wanita kalian tapi tidak dengan kami, wanita timur."
Else mendorong tubuh Miller dan segera menghampiri meja dua sahabatnya.
"Ke mana perginya kedua orang itu?"
Else memperhatikan satu persatu wajah gadis yang sudah berganti duduk di tempat mereka.
Keysa dijemput oleh kekasihnya dan Alin berjalan menuju tempat parkir tapi bingung dengan mobilnya yang tidak ia kenali karena semuanya sama di matanya.
Dua orang pria bule itu mencoba mendekatinya, namun Alin masih mengumpulkan kesadarannya berusaha melawan dengan mengibaskan tasnya di depan kedua lelaki yang ada di hadapannya.
"Pergi kalian!"
Bentaknya membuat kedua lelaki itu menjauhinya. Alin mengamati plat nomor kendaraannya dan akhirnya ketemu juga.
Alin masih membawa mobilnya dengan sadar menuju apartemen miliknya. Ketika tiba di apartemennya tubuhnya mulai bereaksi. Obat itu mulai menyerang otaknya. Ia masuk ke dalam lift dan melihat seorang pria tampan sedang menatap ponselnya.
Tanpa diduga Delvin, Alin langsung memeluknya dalam keadaan setengah mabuk.
"Ayo kita bercinta sayang!"
Delvin spontan mendorong tubuh Alin untuk menjauhinya namun gadis itu berusaha membuka kancing bajunya dan memperlihatkan dada sekangnya.
"Hei kau..!"
"Cium aku! Sentuh aku...!" Pinta Alin tidak tahu malu lagi.
Dalam keadaan bingung, Delvin membopong tubuh gadis itu seperti karung beras.
Ia hanya bisa membawa gadis itu ke kamar apartemennya karena tidak mengetahui kamar mana milik gadis itu.
Ia lalu membaringkan tubuhnya Alin di tempat tidurnya.
"Tidurlah! Kamu sedang mabuk walaupun mulutmu tidak bau alkohol." Ucap Delvin lalu masuk ke kamar mandi.
Ketika keluar dari kamar mandi, gadis itu sudah dalam keadaan polos membuat Delvin tersentak. Bagaimanapun juga, ia adalah seorang laki-laki normal yang tidak bisa mengendalikan syahwatnya saat Alin menggodanya dengan memperlihatkan aset berharganya.
Keduanya akhirnya melakukan hubungan cinta satu malam itu dengan gelora syahwat yang sudah membuncah.
Delvin yang mengira, Alin adalah gadis penghibur melakukan percintaan panas itu tanpa ada cinta diantara keduanya karena keduanya hanya memuaskan na*su mereka saat ini.
...----------------...
Pagi tiba, Alin merasakan tubuhnya di peluk seseorang. Ia membuka matanya dan melihat kamar yang ia tempati bukan kamarnya.
Ia menyibakkan selimutnya dan menyingkirkan lengan tangan Delvin dari pinggangnya. Ia beringsut perlahan bangun mencari pakaiannya.
"Astaga! Apa yang telah aku lakukan? kenapa aku bisa berada di sini bersama dengan lelaki ini?"
Ujar Alin sambil mengenakan pakaiannya.
Air matanya tumpah ruah dengan amarah yang tidak dapat terbendung. Saat ini ia tidak bisa mengingatkan apapun. Ia merasa Delvin salah satu pria hidung belang yang sedang mengincar tubuhnya.
Ia segera meninggalkan kamar apartemennya Delvin tanpa ingin membangunkan Delvin yang masih terlelap.
Area sensitifnya begitu sakit dan perih. Alin mengumpulkan kesadarannya dan melihat area sekitarnya yang ternyata apartemennya sendiri.
"Syukurlah aku berada di apartemenku sendiri. Ini hanya beda lantai saja dengan milik lelaki itu."
Alin masuk ke lift menuju lantai sepuluh. Setibanya di kamarnya ia langsung masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower tanpa membuka bajunya.
Alin menangis histeris dengan dada yang terasa sangat sakit. Selama ini ia sangat menjaga kesuciannya untuk sang kekasihnya Haidar.
"Apa yang akan dikatakan Haidar jika dia mengetahui kalau aku sudah tidak suci lagi. Sementara pertunangan ku akan di adakan tiga bulan lagi. Aku hanya menunggu wisuda saja saat ini. Apa yang terjadi denganku semalam..?"
Alin tidak puas dengan rasa penyesalannya. Ia mengambil gunting dan menggunting rambutnya tanpa beraturan.
Rasanya ia ingin membunuh dirinya saat ini tapi ia begitu takut untuk melakukannya.
"Tidakkkkkk....! Kembalikan lagi kesucianku...? Kenapa lelaki itu tega melakukan itu kepadaku...?"
Tangisnya makin deras bersamaan dengan air pancuran yang terus mengguyur tubuhnya.
Sementara di kamar apartemen milik Delvin, pria ini baru tersadar dan melihat tubuh polosnya dengan kissmark di dada dan lehernya.
Iapun tersenyum membayangkan percintaan panasnya semalam dengan gadis yang tidak ia kenal itu.
"Ternyata permainannya hebat juga bisa membuatku mabuk kepayang."
Ucap Delvin sambil nyengir kuda.
Tawanya langsung terbenam saat melihat bekas seprei putih itu dengan noda darah segar. Delvin menepuk jidatnya dengan mengucapkan istighfar.
"Astaga! Hah...Ternyata gadis itu masih perawan..? Aku harus mencarinya dan bertanggungjawab kepadanya."
Delvin segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Di kamar Alin, gadis itu sudah bersiap berangkat ke bandara untuk pulang ke Jakarta. Alin menumpang pesawat komersial walaupun ayahnya memiliki pesawat jet pribadi.
Saat ini, ia tidak mampu berpikir karena bayangan percintaan panas semalam terus menghantuinya. Tapi bayangan itu sirna kala wajah kekasihnya tersenyum kepadanya.
"Apakah aku harus jujur pada Haidar tentang diriku? Apakah dia mau menerima keadaanku..?"
Alin kembali menangis hingga matanya sudah sangat bengkak. Rambutnya yang sudah bondol ditutupnya dengan topi. Walaupun di dalam pesawat ia tidak ingin melepaskan kacamata hitamnya.
Delvin mulai mencari tahu keberadaan Alin di apartemen yang sama dengannya. Hanya saja ia tidak mengetahui lantai berapa gadis itu tinggal.
Alin memang blasteran Jerman indo. Wajahnya setengah bule itu tidak terlihat seperti orang Indonesia. Itulah sebabnya, Delvin tidak mengetahui kalau Alin adalah gadis keturunan Indonesia.
"Ternyata masih ada gadis bule yang melindungi mahkotanya." Batin Delvin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Elisanoor
kesian gua ma si Haidar
2023-01-30
2
felisya enterprise
coba klo eca masih Deket dgn Haidar...pasti jadi musuhnya dan
Thor Delvin suruh tes DNA
2022-12-24
4
Heni Hariyati
lanjut
2022-12-24
1