Tuan Haidar mengantar baby Chiko sampai ke dalam kamarnya Eca, di mana kedua bayi itu tidur di kamar yang sama dengan sang bunda.
Kasur king size itu cukup muat untuk mereka bertiga. Secara bersamaan, baik Eca dan Haidar membaringkan si kembar di atas kasur itu. Si kembar sempat bergerak dan membuka mata mereka saat dibaringkan, namun Eca dan Haidar langsung menepuk bokong bulat empuk itu agar kembali tertidur.
Keduanya terlihat seperti sepasang suami istri yang sedang meniduri anak mereka. Kelembutan Haidar menenangkan Chiko agar kembali tidur, membuat Eca tersenyum pelit.
"Kau terlihat seperti seorang ayah yang sudah berpengalaman dalam menenangkan sang bayi."
Ucap Eca yang terlihat akrab dengan Haidar yang dianggapnya seperti lelaki biasa bukan bosnya lagi.
"Aku masih bujang dan baru pertama kali berhadapan dengan bayi saat ini. Mungkin naluri seorang ayah sudah terlihat padaku untuk mendapatkan hati sang ibu dari si kembar ini."
Sindir tuan Haidar namun ditanggapi dingin oleh Eca.
Ia segera beringsut dari tempat tidur itu setelah memastikan baby Chiko tidak lagi gelisah.
"Jangan terlalu banyak berharap tuan Haidar, karena bayiku masih terlalu kecil untuk aku melangkah ke pelaminan. Aku belum tertarik untuk memikirkan berumah tangga."
Tolak Eca tegas.
Eca membuka pintu kamarnya agar mereka segera meninggalkan kamar itu sebelum setan datang merasuki pikiran mereka.
Sang sopir pribadi menunggu dengan sabar di luar sana menanti bosnya yang masih betah bicara dengan sang karyawan rendahan seperti Eca.
"Eca!"
"Iya Tuan!"
"Jangan jadikan si kembar sebagai alasanmu untuk menolakku."
Ucap tuan Haidar masih dengan sikapnya yang keras kepala.
Eca terlihat bingung dan juga tidak enak hati karena sebelumnya Tuan Delvin sudah melamarnya.
Mereka hanya melamarnya bukan karena cinta tapi karena iba, itu yang saat ini terlintas dipikiran Eca yang membuatnya sulit untuk menentukan sikap.
"Apakah kamu akan masuk kerja ini, Eca?"
"Hari ini saya off Tuan. Besok pagi baru masuk kerja."
"Baiklah. Kalau begitu besok pagi aku ingin bertemu denganmu di ruang kerjaku. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."
Ucap Haidar yang bersiap pamit untuk pulang.
"Kalau membahas tentang lamaran lagi aku akan menolaknya, tuan." Sahut Eca.
"Jangan terlalu GR jadi perempuan. Aku hanya membicarakan tentang pekerjaan denganmu. Untuk urusan pribadi lebih enak dibahas di luar jam kerja."
Balas tuan Haidar membuat Eca terlihat malu.
"Sial! kenapa aku sangat percaya diri sekali mengatakan kepadanya, hingga ia mempermalukan aku seperti itu."
Batin Eca yang mengantarkan tamunya sampai ke depan pintu utama.
Eca melambaikan tangannya saat mobil mewah silver itu bergerak pelan meninggalkan kediamannya.
Bersamaan dengan pulangnya tuan Haidar, datanglah mobilnya tuan Delvin tiba di mansionnya.
Pria tampan itu tersentak ada mobil mewah yang baru saja meninggalkan kediaman Eca. Ia memperhatikan Eca yang masih berdiri di depan pintu pagarnya yang juga memperhatikan dirinya.
Eca hanya mengangguk hormat ke arah tuan Delvin yang enggan membuka kaca jendela mobilnya karena begitu cemburu saat ini.
Eca menutup pintu pagarnya dan masuk ke rumahnya tanpa mempedulikan tuan Haidar yang sudah turun ingin mengejarnya.
Pintu pagar itu kembali di buka oleh tuan Delvin dengan perlahan. Pintu rumah Eca yang dibiarkan terbuka oleh gadis itu karena ia ingin bebenah rumahnya mumpung si kembar sedang tidur.
Eca yang baru saja mengambil sapu di dapur, di kejutkan oleh kehadiran tuan Delvin yang sudah berada di balik punggungnya.
"Apakah rumahmu sudah bebas di masuki oleh lelaki lain? Apakah selain bekerja, kamu juga menerima pekerjaan lain untuk melakukan prositusi dirumah ini? Apakah si kembar adalah hasil prositusi itu, hah?"
Teriak tuan Delvin yang sudah terbakar cemburu di hatinya.
Plakkkkk....
"Pikiranmu sangat picik tuan Delvin. Serendah itukah aku di hadapanmu? Kamu nekat masuk ke rumahku hanya ingin menyampaikan kalimat sampah itu padaku? Begituuuu!"
Bentak Eca begitu murka saat harga dirinya dilecehkan begitu saja oleh lelaki yang selama ini ia hormati sepenuh hatinya.
Tuan Delvin berdecih dengan suara tawa yang terdengar sinis. alih-alih tersentuh dengan ucapan Eca, pria gagah ini meraih pinggang ramping Eca merapat ke tubuhnya.
Eca tersentak menatap tajam wajah tampan Delvin yang menatapnya dengan penuh gairah.
Ia mengunci kedua tangannya sang gadis dan memagut bibir ranum Eca dengan kasar.
"Uhmm!"
Eca berusaha berontak kala ciuman itu sudah dikuasai gairah yang membangkitkan rangsangan hebat yang dilakukan oleh tuan Delvin yang menganggap Eca bukan gadis baik-baik.
Eca merasa sangat terhina dan rendah diri diperlakukan tuan Delvin begitu liar padanya. Gadis itupun menangis hingga air matanya terasa asin di lidah tuan Delvin yang perlahan melepaskan pagutan nya pada bibir sensual milik Eca.
"Maafkan aku Eca! Aku sangat cemburu melihatmu dengan lelaki lain hingga aku tidak bisa mengusai emosiku. Aku terlalu mencintaimu dari awal melihat kehadiranmu dengan bayimu tanpa seorang suami yang mendampingimu. Kau tahu itu, tapi kamu pura-pura tidak mengindahkan perasaanku.
Terlalu sakit untuk menahan perasaan cinta yang begitu dalam padamu dengan menanti kesiapan mu mau menerimaku sebagai bagian dari kalian. Maafkan aku terlalu mencintaimu." Gumam Delvin lirih.
Menyadari kesalahannya yang telah menyakiti hati Eca, tuan Delvin meninggalkan Eca begitu saja yang sedang menangis tersedu-sedu di ruang dapur itu.
Eca menutup wajahnya berusaha tangisnya tidak kedengaran oleh si kembar yang masih tertidur pulas setelah seharian bermain mandi bola dengannya.
"Aaaaaaaa! Teriak Eca dalam tangisannya dengan hati yang sudah terkoyak oleh penghinaan yang telah dilontarkan oleh tuan Delvin kepadanya.
"Dasar bajingan. Kamu memperlakukan aku seolah-olah aku ini pernah disentuh oleh lelaki lain. Seluruh tubuhku masih suci. Kenapa seenaknya saja kamu menyentuhnya tanpa ijinku."
Eca masih saja menangis tanpa henti hingga kelopak matanya membengkak.
"Bunda...hiks ..bunda ....hiks!"
Chiko terbangun memanggil sang ibu.
Eca buru-buru mengusap air matanya dan menemui permata hatinya itu.
"Eh, jagoan bunda sudah bangun."
Eca menggendong Chiko sambil memberikan susu formula yang sudah ia siapkan untuk keduanya.
Chiko menyedot susu itu dalam dekapan bundanya sambil menonton film kartun yang ada di dalam kamar mereka.
Sementara Eca masih setia dengan lamunannya dengan air mata yang kembali mengembang membayangkan lagi adegan ciuman panas oleh tuan Delvin pada bibirnya.
Sementara itu, tuan Delvin merasakan penyesalan yang mendalam karena tega menghina Eca dan juga melecehkan gadis itu.
"Apa yang telah aku perbuat pada gadis itu. Kenapa aku mudah terpancing amarah saat melihat rumah itu di datangi laki-laki lain.
Pasti saat ini dia sangat membenciku dan beralih pada lelaki itu. Kenapa aku sangat bodoh sekali. Dasar siall!"
Teriak Delvin merutuki dirinya sendiri. Sudah hampir pukul satu pagi ia sulit memejamkan matanya mengenang peristiwa tadi sore yang memaksa mencium bibir Eca. Wanita yang selama ini ia sangat cintai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Sandisalbiah
hah... 🤦♀🤦♀🤦♀
2024-01-19
0
Rafanda 2018
klo aku jd eca pindah kota,,,ngapain masih di situ torr
2023-06-15
2
Alya Yuni
Pindah aja dri it kos
2022-12-17
1