Roda kehidupan terus berjalan menapaki waktu setiap harinya. Sehingga tidak terasa pertumbuhan bayi kembar milik Eca makin bertambah menggemaskan.
Usia bayinya yang kini sudah menginjak usia tiga bulan itu memaksa Eca harus mencari nafkah yang lebih untuk memenuhi kebutuhan si kecil.
Eca yang tinggal di rumah sederhana dikelilingi rumah mewah di komplek perumahan elit itu menjadikan dirinya, sorotan dari salah satu rumah yang berhadapan langsung dengannya.
Seorang pria tampan dengan ekspresi wajah datar, rupanya selalu memperhatikan Eca dan baby kembarnya melalui teropong yang ada di dalam kamarnya.
Teropong itu bisa menembus ke tempatnya Eca setiap kali gadis ini sedang memomong bayinya.
Secara tidak langsung ia ikut mengamati perkembangan baby kembar yang saat ini diberi nama Ciky dan Chiko.
Nama kecil yang di sematkan oleh Eca untuk memudahkan ia memanggil babynya walaupun di akte kelahiran mereka tidak terdapat nama itu di dalamnya.
Setiap kali Eca membawa babynya jalan-jalan dengan stroller nya, selalu bertemu dengan seorang pria tampan yang menjadi tetangga di depan rumahnya.
Hanya saja tampang cuek yang diperlihatkan pria itu membuat Eca tidak pedulikan pria itu yang selalu memperhatikan mereka jalan-jalan pagi.
Kadang Eca harus bertemu dengan pria itu sedang lari pagi setiap kali ia sedang mengajak si kembar jalan-jalan. Seakan pria tampan itu sedang mengawasi mereka dari berangkat hingga mereka pulang dan itu sepertinya bukan sebuah kebetulan namun pria tampan itu sedang mempersiapkan dirinya agar bisa menemani Eca jalan-jalan dengan bayi kembarnya.
Pagi itu Cyra yang ingin ke pasar menggendong dua bayinya dengan kain gendong yang khusus untuk baby kembar.
Gadis ini nekat naik motor membawa bayinya menuju ke pasar tradisional. Delvin yang baru keluar dari gerbang utama mansion dengan mobilnya itu, terpaksa meminta sopirnya untuk menghentikan mobilnya.
Ia melihat Eca yang saat itu baru selesai menutup pagar rumahnya. Delvin buru-buru turun dari mobilnya.
"Permisi nona!"
Eca membalikkan tubuhnya dan melihat wajah tampan yang sedang berdiri menatapnya dengan sedikit kesal.
"Iya tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Apakah anda akan pergi dengan membawa bayi kembar menaiki motor itu?"
"Iya tuan! Kami mau ke pasar. Emang ada apa ya?"
"Ke pasar? dengan motor itu sambil membawa bayi?"
"Hmm!"
Ucap Eca langsung nangkring di atas motornya sementara dua bocah ini terlihat senang karena ibu mereka membawa mereka jalan-jalan.
"Apakah kamu sudah gila bawa bayi kembar ini ke pasar?"
"Aku tidak bisa belanja pada abang-abang sayur yang menawarkan bahan makanannya yang lumayan mahal jika dibandingkan dengan harga di pasar. Lagi pula apa masalah anda?"
"Masalahku adalah aku tidak tega melihat bayi kembar ini harus panas-panasan bersamamu ke pasar. Jika kamu ingin ke pasar, biarkan mereka di titipkan bersamaku saja dan kamu boleh ke pasar."
Ucap Delfin membuat Eca tersentak.
"Anda ini siapa? Kenapa tiba-tiba mengatur kehidupan saya?"
Tanya Eca dingin walaupun ia tahu Delvin adalah tetangganya sendiri..
"Aku tetanggamu di depan rumah ini. Kamu saja yang terlalu cuek dan tidak mempedulikan tetanggamu sendiri." Omel Delvin.
Sopir pribadinya Delvin tercengang melihat kepedulian sang tuan yang selama ini selalu cuek dengan orang lain nampak terkesima.
"Sorry bung! Kasta kita berbeda dan aku paling alergi bergaul dengan orang kaya. Permisi!"
Ucap Eca hendak menyalakan stater motornya namun kuncinya langsung dicabut oleh Delvin.
"Kenapa kamu sangat keras kepala, hah? Bagaimana kalau bayi ini sampai jatuh dan terluka saat kamu teledor? Apakah kamu tidak takut jika terjadi sesuatu kepada bayimu? Kalau kamu ingin belanja, ayo aku antar pakai mobil supaya lebih nyaman."
Ucap Delvin membuat Eca menjadi melebarkan matanya.
"Apaaa...? mimpi apa aku semalam bisa bicara dengan pria dingin ini." Batin Eca bingung.
Delvin memanggil satpam rumahnya untuk memasukkan motor milik Eca ke dalam teras rumah Eca dan iapun membuka pintu mobil untuk gadis itu bersama bayi kembarnya.
"Sejak kapan lelaki ini sangat baik padaku, walaupun aku tahu kau tetanggaku tapi tampang mu sangat membuatku muak."
Batin Eca yang sudah duduk di jok tengah bersama bayinya.
Eca masih menggendong si kembar dengan perasaan bingung melihat kebaikan pria tampan ini.
"Jalan pak! Titah Delvin pada sopir pribadinya.
"Kita ke mana Tuan!"
"Ke pasar modern langganan bibi Ela."
"Baik Tuan!"
Mobil mulai bergerak menuju pasar, sementara itu Delvin meminta salah satu bayinya Eca untuk ia gendong. Ia memangku bayi perempuan yang selama ini membuatnya sangat gemas.
Setelah sekian lama hanya bisa memperhatikan bayi kembar ini bersama ibunya dari kejauhan, Kini Delfin baru merasakan bisa menggendong bayi ini secara langsung.
Entah mengapa bayi ini nampak sangat senang berada dalam pangkuan Delvin.
Eca yang melihat putrinya untuk pertama kalinya di gendong oleh orang lain merasa sangat senang.
"Aku tidak tahu seperti apa rupa ayah kalian. Apakah dia tahu kalau kalian sudah hadir di dunia ini? Andaikan dia tahu pasti dia sangat bahagia memiliki kalian.
Tapi, bagaimana sebaliknya kalau dia menolak kehadiran kalian hingga ibu kalian juga enggan untuk merawat kalian?"
Batin Eca terlihat sangat sesak memikirkan lagi wanita itu.
Wanita muda yang sangat cantik terlihat frustrasi pasca melahirkan bayi kembarnya.
Sepanjang jalan keduanya tampak tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Delvin mulai membuka suara untuk memecahkan suasana agar tidak terlihat kaku diantara mereka.
"Maaf nona? kita belum berkenalan. Siapa nama anda dan baby kembar ini?"
"Aku..?"
"Iya kamu."
"Namaku Eca dan baby kembar ku bernama Ciky dan Chiko." Sahut Eca gugup.
"Namaku Delvin. Terimakasih Eca. Senang berkenalan dengan kalian."
"E..iya."
"Ke mana ayah si kembar? selama ini aku perhatikan kalian hanya tinggal bertiga, apakah kamu hanya seorang singel mom?"
Degggg...
"Astaga! Bagaimana ini? Aku harus jawab apa? Aku tidak mungkin mengatakan kalau bayi kembar ini bukan anakku. Tapi kalau dijawab mereka ini anakku, aku saja masih gadis."
"Eca ...! Apa kamu mendengar pertanyaan ku..?"
"A.. iya. Itu.. Suamiku sudah meninggal." Ucap Eca gugup.
"Berapa usia bayimu?"
"Tiga bulan."
Delvin memperhatikan fisik Eca yang tidak terlihat sama sekali kalau gadis ini baru habis melahirkan. Seperti ciri-ciri wanita pasca melahirkan. Tubuhnya tidak bengkak apa lagi pa**daranya.
"Mana mungkin seorang ibu pasca melahirkan tubuhnya masih sebagus ini?"
Batin Delvin yang agak sangsi dengan pengakuan Eca.
Tapi, ia juga tidak menepikan perasaannya jika Eca begitu menyayangi baby kembarnya.
"Mungkin saja pengakuannya ini memang benar adanya kalau dia adalah seorang janda."
Batin Delvin yang mengagumi kecantikan ibu dari bayinya si kembar.
"Tapi, aku melihat kamu sepertinya masih pantas di sebut gadis dari pada seorang singel parents dari baby kembar."
Ucap Delvin kemudian.
Degggg....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Sandisalbiah
lah.. emang masih gadis dia...
2024-01-19
0
Dede Suryani
Eca apa cyra
2023-10-28
1
asterchamomile
Delfina atau Delvin kk?
2023-01-18
0