Sudah hampir satu lantai kamar hotel di bersihkan oleh Eca. Itu berarti ia harus membersihkan hampir seratus kamar dalam satu lantai. Gadis itu membagi tugas dengan teman baiknya Yuna. Eca bagian ganti seprei dan vakum lantai, sementara Yuna bagian membersihkan toilet dan menyiapkan perlengkapan fasilitas untuk tamu hotel.
Tuan Haidar sedari tadi menunggu gadis itu namun tidak muncul juga. ia sudah menghubungi ke nomor ponsel Eca, sedangkan Eca meninggalkan di loket miliknya di ruang kerja cleaning servis.
Haidar menghubungi tuan Gunawan untuk mencari gadis itu.
Tuan Gunawan hanya memberitahu kalau Eca sedang bertugas di lantai sembilan.
Haidar tidak sanggup menunggu lagi. Ia segera menghampiri gadis itu untuk membawa sendiri ke ruangannya.
Yuna begitu kaget melihat tuan Haidar saat masuk ke kamar yang sedang mereka bersihkan. Gadis ini langsung panik begitu melihat tuan Haidar sedang menegur Eca.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Eca?"
"Aku masih bertugas Tuan! nanti saja kalau sudah selesai, aku baru ke ruang kerja Tuan."
Sahut Eca sambil menggantikan sarung bantal.
"Rupanya kamu sulit dibilangin. Ikut aku dan tinggalkan pekerjaanmu! Dan hei, kau! Gantikan pekerjaannya, mengerti?"
Titah tuan Haidar pada Yuna.
"Ba..baik Tuan!"
Yuna hanya melihat pergelangan tangan Eca di tarik oleh tuan Haidar menuju lift.
"Ada hubungan apa antara tuan Haidar dan Eca?"
Tanya Yuna sambil berpikir keras.
"Lepaskan tanganku Tuan! ini sangat sakit."
Eca menarik tangannya dari genggaman Haidar.
"Apa yang aku minta kemarin sore kepadamu?"
"Aku tahu tapi, aku tidak mungkin langsung ke ruangan Tuan."
"Perintahku lebih penting daripada pekerjaanmu itu."
Lagi-lagi tuan Haidar menggenggam pergelangan tangan Eca menuju ruang kerjanya melewati para staff yang memperhatikan keduanya masuk ke ruang kerja milik tuan Haidar.
"Hahhhh! Apakah tuan Haidar sedang berpacaran dengan salah satu cleaning servis?"
Gosip mulai bertebaran hingga terdengar oleh manajer hotel, nona Else.
Eca yang sudah duduk di depan tuan Haidar mulai risih saat tatapan penuh kelembutan tuan Haidar padanya tanpa ada kata yang keluar dari bibir si tampan ini.
"Tolong sampaikan apa yang anda ingin katakan kepadaku Tuan Haidar karena aku..?"
"Mulai besok kamu jadi sekertaris ku..!"
Deggggg....
"Tapi, aku tidak pantas menduduki jabatan bergengsi itu dengan ijasah yang tidak memenuhi standar untuk ja..!"
"Tidak penting dengan itu semua. Aku lebih mementingkan skill kamu daripada ijasah."
"Ini akan menjadi perdebatan di kalangan staff lainnya, jika tuan mempekerjakan aku untuk menggantikan sekertaris tuan Haidar yang ada sekarang ini. Maaf aku tidak bisa tuan!"
Eca segera berdiri dan hendak keluar dari ruang kerja tuan Haidar.
"Kamu mau keluar dari hotel ini selamanya atau menerima tawaranku sebagai sekertaris ku?"
Eca menghentikan langkahnya sesaat dan membalikkan tubuhnya.
"Apakah tuan sedang mengancam ku?"
"Karena kamu wanita yang cukup sulit untuk ditaklukkan dengan cinta. Aku melamarmu kemarin, tapi apa yang ku dapat? Kamu tidak menggubris ku sama sekali.
Hanya ini satu-satunya cara untuk membuatmu bisa bekerja di tempat yang layak sesuai kemampuanmu."
"Beri aku waktu untuk memikirkannya!"
"Pikirkan masa depan si kembar dan jangan terlalu menuruti ego mu."
Ucap tuan Haidar untuk terakhir kalinya.
Eca membuka pintu itu dan kembali ke lantai sembilan untuk melanjutkan pekerjaannya.
Nona Else masuk ke ruang kerja Haidar dengan wajah kelam. Tuan Haidar tak mempedulikan gadis manja itu dan lebih memilih meneruskan pekerjaannya.
"Apa hubunganmu dengan petugas cleaning servis itu, Haidar?" Tanya Else penuh selidik.
"Cleaning servis itu punya nama, Else."
Sahut Haidar mengingatkan gadis manja ini agar menghargai orang lain tanpa melihat jabatan dan status sosial orang lain.
"Baik. Ada apa kamu mengajak gadis itu, maksudku Ayesha ke ruang kerjamu?"
"Aku menyukainya dan sedang melamar Eca barusan. Apakah ada masalah, Else?"
"Kamu....? Menyukai Ayesha...? Selera mu pada wanita rendah sekali Haidar. Dia seorang cleaning servis dan kau menyukainya? apakah aku kurang cantik dan ...?"
"Kau bukan tipikal aku dan sedikitpun aku tidak menyukaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat baik adikku Keysa. Keluar dari ruangan ku sekarang!"
Bentak tuan Haidar yang sama sekali tidak menyukai gadis manja dan angkuh itu.
"Kamu akan menyesali perbuatanmu Haidar karena memilih wanita yang tidak sederajat dengan keluargamu."
Tukas Else lalu meninggalkan Haidar yang kembali fokus ke layar laptop miliknya.
Eca menjemput si kembar di rumah tuan Delvin. Dengan tubuh yang hampir rontok tulang persendian di dalamnya, gadis itu menggendong dua bayi itu sekaligus.
"Apakah mereka sudah tidur bibi?"
"Baru tidur tadi pagi saja, non. Dan sampai sekarang keduanya sibuk main. Tapi mereka sudah mandi hanya saja belum makan sore." Ucap bibi Inem.
"Terimakasih bibi Inem."
Ucap Eca segera meninggalkan halaman rumahnya tuan Delvin.
Bobot tubuh keduanya yang makin montok membuat tubuh Eca sudah tidak kuat menggendongnya kalau tidak menggunakan kain gendongannya.
Walaupun si kembar sudah bisa jalan, hanya saja Eca selalu senang menggendong tubuh montok itu dengan senang hati.
Eca mengajak si kembar main bersama walaupun tubuhnya sendiri sangat lelah.
"Bunda mau susu!" Pinta Ciky.
"Chiko juga bunda!"
"Tunggu sebentar ya sayang!"
Eca menakar susu formula untuk keduanya dengan botol minum mereka masing-masing.
Keduanya tidur dalam pelukan bundanya setelah botol susu itu habis di teguk. Eca yang terlihat lelah ikut tertidur hingga lupa waktu.
Delvin yang baru pulang kerja melihat rumah Eca terlihat gelap semuanya. Ia segera menghampiri rumah Eca dan mencoba memanggil gadis itu beberapa kali namun tidak ada sahutan.
Delvin segera masuk ke dalam rumah Eca untuk menyalakan lampu teras, ruang tamu dan dapur agar terlihat terang. Pintu kamar Eca yang terbuka memudahkan Delvin melihat ketiga yang tidur saling berpelukan.
Pandangan mata Delvin agak sedikit terganggu saat melihat rok Eca yang tersingkap hingga memperlihatkan paha mulus dengan segitiga hitam yang di pakai Eca terlihat jelas olehnya.
"Sial..! Kenapa aku harus melihat pemandangan ini." Gerutu Delvin yang langsung terangsang melihat tempat yang menggiurkan untuk lelaki dewasa dan normal seperti dirinya.
Ia pun menarik selimut untuk menutup tubuh Eca. Delvin keluar dari kamar Eca dan duduk di ruang keluarga lalu memainkan ponselnya sambil menunggu gadis itu bangun.
Chiko yang tiba-tiba menangis menyadarkan Eca dan gadis ini terbangun dan langsung menyalakan lampu kamar untuk menerangi kamarnya.
Mendengar tangis Chiko, Ciky juga ikut terbangun. Eca mengangkat tubuh keduanya agar masuk ke dalam pelukannya.
Namun Eca sangat kaget saat merasakan suhu tubuh keduanya yang sama-sama demam tinggi.
"Baby!" Pekik Eca membuat Delvin segera masuk ke kamar Eca.
"Ada apa Eca?" Tanya Delvin panik.
Eca yang melihat kedatangan Delvin yang tiba-tiba membuatnya juga kaget. Tapi amarahnya tidak bisa ia luapkan pada pria tampan itu mengingat anak-anaknya yang sedang sakit.
"Keduanya demam. Tolong jaga mereka sebentar!" Pinta Eca segera turun dari tempat tidur untuk mengambil peralatan medisnya yang masih ia simpanan saat KKN di desa dulu.
Ia segera memasang termometer pada ketiak Chiko dan Ciky secara bergantian. Ia juga memakai stateskop dan mulai melakukan pemeriksaan pada kedua bayi itu dibantu oleh Delvin yang memegang kedua tubuh bayi itu secara bergantian.
Delvin yang baru pertama kali melihat peralatan medis milik Eca dengan perlakuan Eca yang melakukan pemeriksaan pada tubuh si kembar, merasa kaget kalau gadis ini bukan wanita sembarangan.
Iapun menyimpan semua pertanyaan tentang Eca yang dia pikir selama ini gadis yang hanya mengenyam pendidikan tinggi tapi bukan pendidikan kedokteran.
"Pantas selama ini aku tidak pernah melihat gadis ini membawa si kembar ke dokter kalau keduanya sedang sakit. Rupanya dia seorang dokter.
Tapi kenapa dia mengaku kalau bekerja di hotel, kalau profesi sebenarnya adalah seorang dokter?" Batin Delvin dengan sejibun pertanyaan di benaknya.
Eca memasang selang infus pada punggung tangan si kembar dengan menggantungkan cairan infus ke tiangnya.
Gadis ini benar-benar mempersiapkan semuanya yang dibutuhkan pasien anak hingga ia tidak perlu ke rumah sakit untuk memangkas biaya perawatan.
"Delvin tolong gendong Chiko dan dan aku gendong Ciky! Apakah kamu bisa meminta tolong pelayan untuk menebus obat yang sudah aku tulis di copy resep ini."
Pinta Eca pada Delvin karena kedua anaknya yang terus menangis karena demam mereka yang tinggi.
"Aku akan menelepon mereka untuk membelinya di apotik."
"Bayi akan tenang kalau saat sakit di dekap dengan tulus."
Ucap Eca agar Delvin tidak menggendong bayi secara asal.
"Apa kamu kira selama ini aku tidak pernah tulus menggendong mereka?" Protes Delvin.
"Iya aku tahu Tuan! Aku hanya bilang saja bukan untuk menggurui mu."
Eca harus mengalah pada pria tampan ini yang telah menyentuh bibirnya. Demi si kembar ia berusaha melupakan kekesalannya pada Delvin.
"Eca! Apakah kamu seorang dokter?"
Deggggg....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Elisanoor
Bapaknya siapa ? Delvin apa si Haidar ???
2023-01-29
4
Mila Adriani Ode
penasaran, sebenarnya siapa sih ibu kandung si kembar
2022-12-17
1
Yuli Pariani
keren
2022-12-17
1