Pesta ulang tahun yang ke lima tahun terlihat sangat meriah. Si kembar begitu bahagia, ulang tahun mereka dirayakan di salah satu hotel mewah yang di hadiri teman-teman sekolahnya.
Potongan kue pertama di berikan Chiko untuk sang bunda di ikuti Ciky memberikan potongan kuenya pada sang ayah Delvin.
"Bunda...! Terimakasih sudah melahirkan kami."
Ucapan Chiko yang singkat membuat Eca merasakan getaran kuat pada hatinya karena ucapan Chiko yang menganggapnya ibu kandung tidak sedikitpun terlintas di pikiran Eca.
Istri dari Delvin ini hanya bisa mengangguk sambil mengusap air matanya. Delvin membisikkan sesuatu agar Eca tidak begitu emosional dengan ucapan Chiko.
"Terimakasih sayang sudah hadir dalam kehidupan ayah dan bunda." Balas Eca sewajarnya.
Walaupun sampai saat ini Eca belum di karuniai seorang keturunan, namun kehadiran si kembar sudah membuatnya merasa ia sudah memiliki anak tidak peduli lahir dirahimnya atau tidak.
Teman-temannya mulai berpamitan dengan si kembar usai menikmati hidangan makanan dan membawa pulang bingkisan dari si kembar.
"Bunda! apakah Ciky boleh membuka kado dari teman Ciky?"
"Nanti saja di kamar sayang, jangan di sini karena ruangan ini di pakai lagi oleh yang lain."
Eca meminta petugas hotelnya mengantarkan kado si kembar ke kamar mereka.
Saat ini mereka sedang menginap di hotel karena rumah Delvin sedang direnovasi yang sedikit lagi hampir selesai tapi masih dalam tahap finishing.
Eca menemani si kembar untuk membuka kado sementara Delvin masih ada urusan lain dan tetap berada di meeting room.
Delvin segera meninggalkan meeting room saat petugas memintanya untuk pindah tempat duduk.
Saat sudah berada di dalam lift, ada seorang wanita muda sedang tertunduk sambil menangis sesenggukan dengan rambut menutupi wajahnya.
Delvin yang melihat itu mencoba menegur gadis itu yang sedari tadi membelakangi dirinya.
"Nona...! Apakah anda baik-baik saja?"
Tanya Delvin dengan sedikit memperhatikan wajah gadis itu.
"Tidak usah pedulikan saya, Tuan!" Ucap wanita itu ketus.
Ia mengusap air matanya dengan tisu dan mengangkat perlahan wajahnya menatap Delvin.
Baik Delvin maupun gadis itu sama-sama tersentak
"Kau..!"
"Kau...!"
Dengan wajah penuh amarah, wanita muda ini langsung menyerang Delvin dengan pukulan ke dada Delvin.
"Bukankah kau lelaki yang telah menghancurkan hidupku..?"
"Aku yang menghancurkan hidupmu...? Apakah kamu lupa kamu sendiri yang datang padaku malam itu dan mencoba merayuku dengan tubuhmu itu..?"
Ucap Delvin tidak terima dengan tuduhan gadis yang ada di hadapannya ini.
Ia menahan kedua tangannya wanita itu lalu mendorong tubuh itu dengan kasar.
Lift hampir berhenti di lantai tiga puluh di mana Delvin harus keluar menuju kamarnya.
"Asal kau tahu saja akibat malam terkutuk itu aku hamil dan aku telah melahirkan anakmu dan hari ini adalah ulang tahun mereka, itulah sebabnya aku menangis."
Deggggg...
Delvin menutup lagi pintu lift dan penasaran dengan ucapan wanita cantik di depannya ini. Lift itu kembali naik menuju lantai tiga puluh tujuh di mana lantai kamar milik wanita itu.
"Katakan di mana anakku kalau benar-benar kamu melahirkan anakku?"
"Jika aku mengatakan di mana mereka, apakah kamu mau menikahi aku..?"
"Aku sudah berkeluarga. Itu suatu yang mustahil aku lakukan. Aku sangat mencintai istriku dan anak-anakku."
Ucap Delvin makin membuat gadis itu frustasi.
"Kalau begitu lupakan keinginanmu untuk bertemu dengan anak-anakmu. Permisi...!"
gadis itu melangkah keluar saat pintu lift terbuka. Delvin begitu bingung untuk menentukan sikap antara mengikuti gadis itu atau kembali ke kamar istrinya.
Delvin tidak ingin membuat skandal. Ia tidak mempedulikan ucapan gadis itu dan memilih kembali ke kamarnya menemui istrinya dan si kembar yang sedang menunggunya.
Tapi hatinya tidak bisa menepis rasa penasarannya pada ucapan gadis itu kalau ia sudah melahirkan anaknya.
"Bukankah tadi gadis itu mengatakan anak-anak..? Apakah dia melahirkan anak kembar? Berarti anakku kembar...? Oh bagaimana ini...? Apakah aku harus jujur kepada Eca tentang masa laluku?
Mimpi buruk yang sudah aku kubur karena memanfaatkan gadis yang sedang mabuk itu mendatangiku. Dan parahnya aku telah merenggut kesucian gadis itu."
Delvin menekan bel kamarnya. Perasaannya sudah tidak sebahagia tadi. Bertemu lagi dengan wanita masa lalunya yang melibatkan dirinya dengan cinta satu malam membuatnya kembali risau.
Eca membuka pintu kamarnya dan si kembar langsung menyongsong ayah mereka.
"Ayah ..! Hadiah Ciky banyak sekali ayah."
"Hadiah punya Chiko lebih banyak ayah. Tapi Chiko lebih suka hadiah dari ayah dan bunda." Ucap Chiko antusias.
Tatapan mata Delvin terlihat nanar. Semangatnya seakan tersedot dengan ucapan gadis masa lalunya tentang anak-anaknya yang juga kembar.
Eca memperhatikan perubahan ekspresi wajah sang suami membuatnya sedikit terganggu.
"Ayahhhhh....! Kenapa ayah diam saja..? Katakan sesuatu ayah!" Rengek Ciky yang tidak suka melihat sikap ayahnya menjadi dingin pada mereka.
"Maafkan ayah sayang! Ayah agak kurang sehat hari ini. Bisa kalian main berdua dulu..?"
"Yah, ayah .. hari inikan ulang tahun kita, kenapa ayah malah sakit." keluh Chiko kecewa.
Melihat respon Delvin yang terlihat tidak baik-baik saja membuat Eca turun tangan menenangkan si kembar untuk kembali ke kamar mereka.
"Ciky, Chiko! Ayo kembali ke kamar kalian! Besok ayah dan bunda akan mengajak kalian bermain ke Ancol, bagaimana?"
"Benarkah bunda? Ciky boleh bertemu dengan ikan lumba-lumba?"
"Chiko mau main di Waterboom."
"Iya kita akan mengunjungi tempat itu."
Hibur Eca lalu meninggalkan keduanya dan melihat keadaan Delvin.
"Apakah kamu baik-baik saja, sayang?"
Tanya Eca ikut berbaring di sebelah tubuh suaminya.
"Kepalaku tiba-tiba pusing Eca."
"Mau dipijitin sayang?"
"Iya! Aku merindukan pijitin tangan lembut ini."
Delvin mengecup telapak tangan Eca. Eca kembali duduk dan memangku kepala suaminya untuk memberikan pijatan lembut di sekitar wajah dan kepala Delvin untuk memberikan relaksasi pada suaminya.
Sementara Delvin masih membayang wajah cantik wanita yang mengaku sudah melahirkan anak-anaknya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk gadis itu dan anak-anakku darinya? sementara aku saat ini sudah berkeluarga. Apakah aku harus jujur pada Eca. Apakah dia mau menerima masa laluku? Kepalaku rasanya mau pecah saat ini."
Keluh Delvin sambil terus menarik nafasnya dengan perasaan gusar.
"Apakah ada masalah sayang..?"
"Ada sedikit masalah di perusahaan. Tapi aku bisa menanganinya, sayang. Maafkan aku sudah membuat kamu ikut cemas." Ucap Delvin.
"Baiklah. Cobalah di bawa tidur dan singkirkan masalah berat dari pikiranmu karena itu tidak akan membantumu menyelesaikan masalah."
Pinta Eca penuh kelembutan.
Sementara di kamar berbeda ibu kandung si kembar masih menangis mengenang bayinya yang telah ia tinggalkan begitu saja usai melahirkan.
"Sayang! Maafkan mama karena telah meninggalkan kalian. Mama tidak tahu harus mencari kalian di mana sementara klinik itu sudah tidak ada dan pemiliknya tidak tahu pindah di mana..?" Keluh ibu si kembar..
Gadis itu mengenang lagi peristiwa malam laknat itu.
Flashback on
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Siti Nurjanah
berarti si dalvin ayah dr si kembar
2023-11-08
0
Rafanda 2018
ko jd gini ceritanya torrr
2023-06-15
1
Queen Tdewa
ibu ny si kembar
2023-02-13
1