Sejak kehilangan jejak Alin, Delvin dikejar rasa bersalah. Ia tidak bisa mencari Alin karena tidak ada identitas gadis itu yang bisa ia jadikan untuk menelusuri keberadaan Alin.
Delvin menjadi lebih pendiam dan selalu diserang kehamilan simpatik. Ia jadi malas makan kecuali mengkonsumsi makanan pedas.
Sejak Alin hamil, Delvin lebih sinis kepada wanita. Sedikitpun ia tidak tertarik mengenal wanita manapun karena ingatannya hanya pada wajah cantik Alin. Seakan gadis itu sudah mengunci hatinya sehingga kehilangan rasa pada gadis lain.
Perasaan Delvin mulai berubah pada wanita lain, sejak Alin melahirkan bayi kembarnya yang ia tinggalkan begitu saja pada Eca.
Kembali kepada Alin. Selama menjalankan kehamilannya, tidak pernah sekalipun, Alin memeriksakan kehamilannya ke dokter maupun ke bidan desa.
Dia hanya meminum susu ibu hamil dan juga obat-obatan khusus untuk ibu hamil yang di kirim oleh saudara kembarnya dari Jakarta.
"Cepatlah kalian keluar dari rahimku, dengan begitu aku bisa bebas dan memulai lagi hidupku.
Hiduplah dengan orang lain yang akan merawat kalian, semoga kalian ditakdirkan bertemu dengan ayah kandung kalian. Dan anggap saja aku sudah mati."
Ucap Alin tanpa ingin mengusap perutnya seperti ibu hamil pada umumnya.
Kini usia kehamilannya hampir memasuki sembilan bulan. Setiap pagi ia selalu berjalan kaki di komplek perumahan di mana Eca sedang kos di tempat itu dengan teman-temannya.
Setiap pagi ia melihat Eca selalu berangkat ke puskesmas dengan motornya. Ia mulai mencaritahu tentang Eca dari tukang sayur yang selalu berkeliling di komplek itu.
"Non mau belanja apa..?"
"Saya mau ayam dan ikan gurame ini, mas."
"Ayamnya di potong berapa?"
"Empat saja mas. Saya mau buat ayam bakar."
Alin berusaha ramah pada Abang sayur sambil mengamati Eca yang sedang memanaskan motornya.
"Ikannya di potong berapa, non?"
"Di lebarin saja bang, aku juga mau bakar ikannya."
Alin memalingkan wajahnya ketika motor Eca sudah berlalu dari hadapan mereka. Eca membunyikan klakson motornya pada tukang sayur sebagai bentuk sapaan pamit pada tukang sayur langganannya.
"Mas! Di rumah itu banyak sekali yang kos. Dan gadis yang baru lewat itu kerja di mana mas?"
"Oh itu..! Mereka mahasiswa kedokteran dari Jakarta lagi melakukan KKN di sini. Dan gadis itu, dia sedang bertugas di puskesmas. Tapi kadang suka menolong warga kalau lagi sakit parah.
Orangnya sangat baik nggak pernah nolak kalau di pinta warga untuk berobat di panggil ke rumah mereka walaupun itu sudah tengah malam."
Ujar Abang sayur lalu memberikan belanjaan milik Alin.
"Terimakasih ya mas!"
Alin memberikan uang lima ratus ribu untuk Abang sayur.
"Non! Ini bayarannya kebanyakan." Ujar Abang sayur sambil menghitung uang itu.
"Ambil saja mas! Mohon doanya agar persalinan saya lancar."
"Alhamdulillah, Masya Allah! Bapak doakan semoga selamat non saat lahiran nanti."
Ucap Abang sayur dengan mata berkaca-kaca.
Alin tersenyum lalu membawa sendiri belanjaannya sambil berjalan kaki hingga sampai ke rumah bibi Ijah.
Alin sudah memutuskan untuk menjadikan Eca sebagai ibu pengganti untuk bayi kembarnya.
"Non! itu apa?" Tanya bibi Ijah yang sedang menyapu halaman rumahnya.
"Oh iya bibi! Tolong masak ayam bakar dan ikan bakar untukku!"
Ucap Alin lalu duduk di bangku depan rumah bibi Ijah.
" Non Alin mau sarapan apa..?"
"Aku mau minum susu saja bibi. Aku lagi malas sarapan, nanti saja maunya makan ikan bakar."
Ujar Alin sambil mengipas tubuhnya yang sangat gerah.
"Baiklah. Tunggu sebentar ya non."
Bibi Ijah dan putrinya membersikan ikan dan ayam untuk diolah sesuai permintaan Alin.
Walaupun bibi Ijah kembali ke kampung, ia selalu mendapatkan gajinya yang diberikan Alin setiap bulannya.
...----------------...
Sekitar pukul delapan malam, perut Alin mulai terasa kontraksi. Ia berusaha tenang sambil melirik jamnya agar bisa lebih malam melahirkan.
Alin yang saat itu ingin berangkat ke rumah sakit bersalin dan mau melahirkan sendirian meminta bibi Ijah merapikan tas berisi baju bayi dan juga bajunya.
Ia ingin ke rumah kontrakan Eca untuk meminta tolong gadis itu membantunya melahirkan.
"Bibi! aku mau berangkat ke rumah sakit duluan. Nanti bibi Ijah menyusul saja ya."
"Non mau di panggilkan taksi?"
"Saya sudah memanggilnya melalui aplikasi."
"Baik non. Hati-hati ya!"
Malam itu Alin meminta taksi mengantarkannya ke rumah kontrakan Eca. Alin sudah mengetuk pagar itu beberapa kali tapi tidak ada respon dari dalam.
"Mengapa rumah itu sangat gelap? Apakah penghuninya sudah pada tidur?"
Gumam Alin sambil mengusap pinggangnya yang terasa sangat sakit.
Jika aku melahirkan di rumah sakit, mereka akan mengambil bayiku dan aku tidak akan tahu di mana jejak bayiku berada.
Auhhght! Ya Allah aku tidak bisa lagi melangkah kakiku seperti mati rasa."
Alin tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya karena kontraksi yang terus mendera otot perut dan pinggangnya secara bersamaan.
Eca yang baru pulang dari mengobati salah satu rumah warga tersentak melihat tubuh seorang wanita hamil dalam keadaan payah.
(Proses kelahiran Alin Bisa baca dibaca bab 1)
Pasca melahirkan, Alin segera meninggalkan klinik bersalin itu dengan meninggalkan uang dan tas bayi untuk Eca. Ia juga sudah mempersiapkan kertas yang berisi pesan yang sudah ia tulis untuk Eca.
Saat melihat bidan Hanum tidak ada di tempatnya, Alin segera meninggalkan klinik itu dengan menumpang ojek yang sedang melintas di depan klinik.
"Bang tolong antar saya ke pangkalan taksi."
"Baik non!"
Dengan taksi itu Eca meminta di antarkan langsung ke bandara Ahmad Yani. Ia memesan tiket pesawat yang menuju bandara Soekarno-Hatta Jakarta.
Wajah panik kedua orangtuanya Alin ketika mendengar putrinya menghilang dan tidak melahirkan di rumah sakit yang ia katakan pada bibi Ijah.
"Bagaimana bisa bibi Ijah, Alin menghilang begitu saja? Apakah dia melahirkan di klinik dan membawa pergi anaknya?"
"Entahlah nyonya! Kami tidak bisa telusuri semua klinik karena klinik di sini sangat banyak."
Ucap bibi Ijah membuat nyonya Arini makin frustasi.
"Dasar gadis nakal! Selalu saja membuat ulah. Aku tidak akan menerima bayi kembarmu itu sebagai cucuku jika kamu bawa ke rumah ini.
Bawalah mereka pergi dari hidup kami dan jangan pernah muncul di hadapanku."
Umpat nyonya Arini yang masih memikirkan reputasi nama besar keluarganya.
Hampir dua Minggu Alin menginap di hotel Jakarta sebelum bertolak ke Australia.
Beruntunglah ia membawa semua dokumen pribadinya hingga mudah pergi ke luar negeri tanpa mengabari kedua orangtuanya.
"Maafkan aku bayiku! Aku adalah ibu yang payah lagi pengecut. Aku siap dibenci oleh kalian suatu saat nanti. Semoga kalian tumbuh sehat bersama ibu pengganti kalian.
Aku yakin ibu kalian akan merawat kalian sebaik mungkin. Aku tidak akan mengambil kalian dari dia. Ini adalah keputusan ku."
Ucap Alin sambil mengusap air matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Etik Puji Astuti
lanjut kk
2022-12-30
1
Heni Hariyati
mudahan aja alin nepati janjinya ngak ambil twist. buat Eca dan Delvin punya kembar Thor biar rame banyak anak banyak pengeluaran kata Mbah uyut saya hehehe...
2022-12-25
5