Eca tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan Delvin kepadanya. Ia mengusap tubuh Ciky yang masih sangat panas belum turun juga demamnya. Begitu pula Chiko yang berada dalam gendongannya Delvin.
Delvin membaringkan tubuh kecil itu ke kasur dan segera mencopot baju kausnya hingga memperlihatkan bentuk tubuh kekarnya dengan dada bidang serta susunan roti sobek yang begitu sempurna membuat Eca meneguk liurnya dengan gugup tapi juga heran dengan perbuatannya Delvin.
"Hei, mengapa kamu membuka bajumu?"
"Biar panas mereka pindah ke tubuhku. Baringkan mereka ke tubuhku Eca!"
Pinta Delvin sambil merentangkan kedua tangannya menyambut dua tubuh montok itu menempel ke dadanya.
Eca melakukannya dengan hati-hati agar keduanya tidak bangun karena tangan keduanya sedang diinfus.
Tubuh Delvin yang setengah polos bersandar di tempat tidur dengan si kembar berada dalam dekapannya membuat Eca sangat terharu.
Peran Delvin seperti seorang ayah yang begitu menyayangi kedua anak angkatnya ini menjadi pertimbangan tersendiri untuknya.
Mata tajam Delvin tidak sedikitpun terpejam agar ia bisa merasakan tubuh dua malaikat ini agar suhu panas tubuh mereka menurun.
Tidak lama kemudian reaksi tubuh si kembar berdampak langsung pada Delvin yang langsung berkeringat saat suhu tubuh si kembar yang panas tadi sudah beralih pada tubuhnya.
"Cih! Perbuatannya seperti seorang ayah yang sudah berpengalaman merawat anaknya yang sakit." Ledek Eca membatin.
Eca segera mendekat dan mengusap tubuh si kembar yang benar-benar sudah adem hanya tinggal wajah pucat yang masih kelihatan lemas.
"Apakah aku boleh memindahkan mereka ke kasur?"
Tanya Eca setengah berbisik pada Delvin yang mengangguk lembut.
Eca mengangkat perlahan tubuh Chiko lalu di baringkan di atas kasur dan Ciky di baringkan sendiri oleh Delvin.
Eca merasa lega suhu tubuh si kembar sudah menurun tidak sepanas tadi. Ia lalu mengangkat wajahnya dan mata keduanya langsung beradu.
Delvin menikmati sesaat wajah cantik itu. Ia memperhatikan setiap lekukan wajah cantik Eca mulai dari iris tebal, manik hitam legam dengan bentuk mata jeli, hidung kecil yang sangat mancung dan terakhir bibir sensual milik Eca yang pernah ia nikmati.
Begitu pula Eca melakukan hal yang sama seperti Delvin pada wajah tampan itu.
"Eca! menikahlah denganku! agar aku bisa melindungi kalian bertiga. Lihatlah malam ini! bagaimana kalau tidak ada aku di sismu, kamu pasti kewalahan menangani mereka sendiri."
Ucap Delvin penuh harap.
"Delvin mengapa kata-kata itu lagi yang kamu ucapkan kepadaku? padahal aku ingin dicintai sebagai dua orang dewasa yang sedang jatuh cinta bukan karena si kembar."
Keluh Eca dalam hatinya sangat kecewa.
"Aku belum siap dan tolong jangan memaksaku!"
Balas Eca membuat Delvin menggerutu kesal dalam hatinya.
"Mengapa kamu sangat keras kepala Eca? apa yang kurang dari diriku sehingga menghalangi mu untuk menerima lamaran ku." Batin Delvin.
Eca mengambil ponselnya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Astaga! Ini sudah larut malam, berarti kita sudah cukup lama merawat si kembar tuan Delvin. Sebaiknya kamu pulang Tuan Delvin, tidak enak dengan warga dan para pelayanmu yang akan berpikiran buruk tentang kita terutama padaku." Ucap Eca.
"Paling kita didesak untuk menikah dan itu yang aku inginkan Eca jika cara halus tidak kamu inginkan mungkin cara warga akan lebih ampuh agar kita segera menikah."
Batin Delvin sambil mengulum senyumnya.
"Mengapa kamu tersenyum begitu? apakah perkataanku barusan sangat lucu menurutmu?"
"Ah tidak! Aku hanya merasa lucu saja bisa berada di kamar ini bersamamu seperti suami istri yang sedang merawat anak-anak kita secara bersama."
Ucap Delvin bohong.
"Awas saja kalau pikiranmu saat ini sedang berfantasi liar padaku." sungut Eca kesal.
"Cih! Jauh sekali pemikiran mu itu Eca. Apakah jangan-jangan kamu yang sedang berfantasi liar padaku saat ini, hmm? apakah kamu menginginkannya, sayang?"
Goda Delvin makin membuat wajah Eca seperti tomat merah yang terlihat segar membuat Delvin makin gemas dengan penampilan Eca yang saat ini yang sedang awut-awutan,
dengan rambut berantakan tetapi tidak mengurangi kecantikan wanita berusia dua puluh dua tahun ini, yang sangat alami tanpa ada polesan makeup. Dan selama ini ia belum pernah melihat Eca sekalipun berdandan.
"Baiklah, kalau kamu tidak merasa nyaman, aku akan pulang."
Ucap Delvin seraya mengambil
kausnya dan memakainya kembali.
Baru saja Delvin beranjak pergi, Chiko membuka matanya ketika merasa bau ciri khas tubuh Delvin hilang dari penciumannya.
"Ayah... ayah...!"
Panggil Chiko dengan mengangkat sebelah tangannya agar Delvin segera menghampirinya lagi.
"Sayang! putra hebat ayah!"
Delvin mengusap lagi pipi dan dahinya Chiko yang memang sudah tidak hangat.
"Ayah! gendong Chiko!" Pinta Chiko manja.
Delvin menatap wajah cantik Eca untuk meminta persetujuan dari gadis itu. Eca mengangguk pasrah karena tidak mau Chiko merengek sampai pagi memanggil Delvin dengan sebutan ayah.
Si kembar memang sudah sangat dekat dengan Delvin dengan usia mereka sampai satu tahun ini, sejak usia mereka tiga bulan.
"Ya Allah! Jangan membuat aku harus menerima pinangan pria ini karena kedua anakku, tanpa ada cinta diantara kami."
Batin Eca sedih.
Eca menyeduh susu untuk si kembar agar perut keduanya tetap hangat. Delvin memegang botol susu Chiko dan putra Eca ini menyedotnya hingga tandas.
Delvin menggendong Chiko penuh kasih sayang, hingga malaikat kecil ini kembali tertidur.
Sekarang gantian Eca memberikan susu pada Ciky yang sedang haus saat ini.
Karena hampir pukul dua pagi Eca tidak kuat lagi menahan rasa ngantuknya, ia pun tertidur dan mengabaikan Delvin yang masih terjaga. Delvin dengan begitu tulus menjaga ketiganya. Ia duduk di sisi Chiko sambil memperhatikan wajah ketiganya.
Lagi-lagi ia harus melihat rok Eca yang tersingkap dan kali ini kelihatan bokong padat gadis itu dengan segitiga hitam. Delvin tidak ingin menyiksa dirinya dan segera bangun untuk menyelimuti tubuh jenjang Eca.
"Kau harus menjadi milikku Eca, karena aku sudah melihat bagian-bagian tubuhmu yang seharusnya tidak boleh untukku, tapi aku tidak akan membiarkan laki-laki lain memilikimu.
Persetan dengan ayah si kembar yang sudah menjamah tubuhmu terlebih dahulu dan meninggalkan kalian begitu saja."
Ucap Delvin lalu nekat mengecup kening Eca.
Ia kembali ke sisi Chiko dan ikut duduk di sebelah putranya Eca ini.
Sekitar pukul empat pagi azan mulai menggema seantero kota Jakarta. Suara azan saling bertautan dari beberapa mesjid untuk memanggil umat muslim menunaikan kewajiban mereka.
Eca mengerjapkan matanya dan melihat wajah tampan Delvin yang masih setia di tempatnya dan tersenyum padanya.
"Apakah kamu tidak sholat tuan Delvin?"
"Apakah tidak apa aku tinggalkan mereka?"
"pulanglah tuan! Biarkan keduanya menjadi urusanku." Ucap Eca.
"Baiklah! Aku pulang sholat dulu dan istirahat sebentar. Nanti pagi aku ke sini lagi melihat si kembar. Tapi kalau terjadi sesuatu pada si kembar jangan sungkan meneleponku atau memanggilku di rumah." Ucap Delvin .
Ia menciumi pipi dan kening si kembar lalu meninggalkan rumah Eca untuk kembali ke rumahnya.
"Terimakasih atas ketulusan cintamu pada si kembar, tuan Delvin!" Ucap Eca tulus.
"Aku lebih tulus mencintaimu Eca bukan karena si kembar tapi karena dirimu!"
Eca berharap balasan kata-kata itu keluar dari mulut Delvin. Tapi laki-laki ini sama sekali tidak peka.
Ia hanya mengangguk dan tersenyum pada Eca merasakan pengorbanannya mampu menaklukkan hati sang ibu dari si kembar.
"Ayolah tuan Delvin! Ucapkan kalimat ajaib itu dan aku akan menerima pinangan mu.
"Sama-sama Eca! Jaga dirimu!"
"Upsss! Dasar idiot! bukan itu yang aku harapkan darimu, bodoh!"
Eca mengangguk dengan perasaan jengah dan hati dongkol. Ia menutup pintu rumahnya dan mengunci dari dalam agar Delvin tidak seenaknya keluar masuk ke rumahnya tanpa ijinnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Sandisalbiah
ternyata Eca keras kepala juga orgnya..
2024-01-19
0
Sumiati 32
Terima saja Delvin Eca
2023-09-18
1
Yuli Pariani
siip
2022-12-19
1