Pagi itu Eca ingin bertemu langsung dengan tuan Haidar untuk mengajukan pengunduran dirinya tanpa melalui bosnya bagian cleaning servis.
Cyra yang mengenakan pakaian stelan bawahan kulot dan blazer pink yang senada membuatnya terlihat anggun dengan rambut digulung ke atas hingga memperlihatkan leher jenjangnya.
Ia sengaja berpenampilan sedikit nyentrik hanya ingin menghargai tuan Haidar selaku CEO hotel tersebut.
Ayesha melaporkan diri ke resepsionis ingin bertemu dengan tuan Haidar.
"Apakah saya bisa bertemu dengan tuan Haidar?" Tanya Eca ramah.
"Bukankah kamu Eca yang kerja bagian cleaning servis? Ko penampilan kamu terlihat berbeda, pakai acara ketemu dengan tuan Haidar segala lagi." Ucap Rona sambil berdecih.
"Saya sudah buat janji dengan beliau, apakah saya boleh menemuinya?"
Eca masih terlihat terlihat tenang menghadapi dua resepsionis yang congkak ini, menganggap posisi mereka lebih tinggi dari dirinya hanya seorang cleaning servis.
"Baik. Kalau kalian tidak mengijinkan aku bertemu dengan tuan Haidar, aku akan menghubunginya dan mengadukan sikap kalian ini padanya."
Ancam Eca namun ditanggapi dua resepsionis ini dengan tawa menggelegar.
"Ha...ha..! Emang kamu siapa Eca? berani-beraninya mengancam kami. Sana kembali ke kerjaan mu mencuci closet."
Ucap Yosi menghina Eca.
Eca memperdengarkan lagi rekaman obrolan mereka melalui ponselnya lalu mengirimkan ke tuan Haidar.
"Hei bedebah! apa yang kamu lakukan? Gadis sialan!" Umpat Rina geram.
Tuan Haidar segera turun menjemput Eca sendiri membuat Eca tersentak.
"Ikut aku nona Eca! Hei kalian berdua, mulai besok jangan pernah muncul lagi di hotel ini!"
Ucap tuan Haidar sambil menggenggam pergelangan tangan Eca menuju pintu lift.
"Hahhh! Kita dipecat karena gadis itu?" Sentak keduanya dengan mulut yang masih terbuka.
"Kalian pantas di pecat karena kalian tidak pantas kerja di hotel ini dengan sikap kalian yang congkak."
Ucap tuan Gunawan yang baru tiba di hotel.
"Selamat pagi tuan Gunawan! maaf kan kami! Tadi kami hanya bercanda dengan gadis itu."
Ucap Rina buru-buru.
"Kenapa kalian begitu bangga dengan posisi kalian hanya seorang resepsionis dibandingkan nona Eca yang merupakan seorang dokter dengan memiliki otak jenius, hah!"
Omel tuan Gunawan lalu memecat keduanya.
"Tuan..tuan! Tolong maafkan kami! Kami janji tidak akan mengulangi perbuatan kami lagi."
"Cukup! Hotel ini tidak membutuhkan karyawan seperti kalian."
Tuan Gunawan langsung masuk ke dalam lift meninggalkan dua gadis yang suka nyinyir dengan staff rendahan di hotel tersebut.
Di dalam sana, di ruang kerjanya tuan Haidar sedang mengobrol ringan dengan Eca menanyakan tentang kondisi terakhir si kembar.
Usai basa basi dengan Eca, kini tuan Haidar mulai membicarakan hal yang sangat serius dengan Eca.
"Eca!"
"Iya Tuan!"
"Kamu terlihat sangat cantik hari ini dengan berpenampilan seperti itu."
Puji Tuan Haidar sambil tersenyum penuh makna.
"Terimakasih untuk pujiannya."
"Apakah anda sudah siap bekerja hari ini, Eca?"
"Saya mohon maaf tuan Haidar. Saya berpenampilan seperti ini karena baru saja dari rumah sakit untuk melakukan interview magang dengan pihak rumah sakit. Saya ingin menyelesaikan tugas akhir saya agar bisa wisuda tahun ini." Ucap Eca.
"Jadi kamu ingin mengatakan kalau kamu ingin mengundurkan diri dari pekerjaanmu?"
"Iya Tuan saya ke sini ingin menolak tawaran tuan Haidar untuk menjadikan saya seorang sekertaris tuan. Karena saya ingin fokus dengan magang di rumah sakit."
"Tapi Eca, bukankah kamu tidak punya...?"
"Maaf tuan saya mendapatkan bea siswa penuh, jadi kebutuhan finansial saya sudah ditanggung oleh pemerintah."
Deggggg...
"Astaga! Kami sudah mengatur posisi kamu sebagai sekertaris aku dan sekertaris yang lama akan di pindahkan di bagian manajer."
Ucap tuan Haidar terlihat kecewa.
Dreeett..
Ponsel tuan Haidar berbunyi. Pria ini segera menerimanya setelah ijin pada Eca.
"Sebentar Eca, aku harus menerima telepon ini."
Ucap tuan Haidar sambil melangkah menjauhi Eca.
Eca hanya mengangguk lalu memperhatikan sekitarnya yang ada di dalam ruang kerja tuan Haidar.
Ia juga melihat meja kerja tuan Haidar yang sedikit berantakan kemudian di rapikan oleh Eca karena gadis ini tidak begitu suka melihat sesuatu yang berantakan.
Eca melihat bingkai foto ukuran 10R yang terlungkup di angkatnya sebentar dan ingin membersihkannya dengan tisu pada kacanya yang terlihat buram karena debu.
Tapi alangkah kagetnya Eca saat melihat wajah cantik seorang gadis yang tidak pernah ia lupakan sampai saat ini sedang berpelukan dengan tuan Haidar.
"Gadis ini.... bukankah dia ibu dari si kembar? Jadi tuan Haidar adalah ayah dari si kembar...?"
Eca terlihat syok dan tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya tidak kuat menahan beban yang tiba-tiba terasa sesak di dadanya.
Ia tidak sanggup lagi menunggu tuan Haidar selesai bicara. Eca langsung lari keluar dan langsung menuju pintu lift yang sedang terbuka oleh seseorang.
Eca membekap mulutnya agar tangisnya tidak terdengar oleh salah satu staf yang sedang berdiri di sampingnya.
"Nona! Apakah anda baik-baik saja?"
Eca mengangguk dengan tetap membekap mulutnya. Pintu lift segera terbuka. Ia dengan cepat lari menuju tempat parkir untuk mengambil motornya.
"Tidak ..ini tidak mungkin! mereka .. mereka tidak mungkin orangtuanya si kembar. Si kembar adalah anak-anakku, hanya anak-anakku."
Batin Eca sambil mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.
Ia ingin segera sampai tiba di rumahnya dan memeluk anak-anaknya.
"Apa yang harus aku lakukan?aku tidak akan mengembalikan si kembar pada orangtua kandungnya. Ibunya telah meninggalkan mereka padaku. Aku tidak mau menyerahkan kepada merekaaa.... Tidakkkk....!"
Teriak Eca seperti orang gila hingga menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya.
"Tuan! Bukankah motor itu milik nona Eca?"
Ucap sang sopir saat melihat motor Eca berada di depan mereka sedang berhenti di lampu merah.
"Tolong bunyikan klakson agar ia menepikan motornya!" Pinta tuan Delvin.
Bunyi klakson mobil milik tuan Delvin tidak di gubris sama sekali oleh Eca. Saat lampu hijau menyala, ia dengan cepat menancap gas motornya dengan kecepatan tinggi membuat tuan Delvin yang melihat itu sangat kaget.
"Sebaiknya kita pulang pak Handy! Sepertinya Eca sedang mengalami sesuatu yang membuat ia terlihat marah."
"Baik Tuan!"
Pak Handi menambah kecepatan mobil mewah itu menunju ke mansionnya tuan Delvin.
Di dalam kamarnya Eca menangis histeris mendapati kenyataan yang sangat menyakitkan baginya. Ia sengaja tidak ingin mengambil si kembar dari bibi Inem agar ia bisa menangis sendirian di kamarnya.
Seperti biasa, tuan Delvin tidak pernah mengetuk pintu rumah Eca terlebih dahulu karena pintu rumah itu tidak di kunci.
Ia segera masuk ke kamar Eca dan mendapati gadis itu sedang duduk di sudut kamarnya sambil memeluk kedua kakinya dengan memangku kepalanya dan menangis sesenggukan sendirian.
"Eca..!" Panggil tun Delvin sambil menghampiri gadis itu.
Delvin mengusap kepala Eca lembut dan seketika Eca mengangkat wajahnya dan melihat wajah tampan Delvin yang memandangnya bingung.
"Delviinn...!"
Eca langsung memeluk Delvin dan meneruskan tangisannya ke dalam dekapan Delvin.
"Ada apa sayang...?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Sandisalbiah
wajar sih kalau Esa merasa takut kehilangan si kembar.. dia yg sudah mengorbankan segalanya. waktu, materi, masa depannya..
2024-01-19
1
felisya enterprise
segera nikah dan buat surat adopsi.. Delvin kan sultan juga. jangan takut..
kalo sama tuan Haidar nanti banyak duri2 pelakor
2022-12-20
1
Kadek Bella
lanjut thoor
2022-12-20
1