Perjalanan bulan madu di Bali, di mana Eca menikmati suasana resort yang menjadi salah satu mas kawin dari suaminya Delvin.
Resort pribadi yang terlihat mewah berdiri megah menghadap ke arah laut mendapatkan kesan romantis untuk pengantin baru ini.
Walaupun harus membawa dua baby sitter untuk menjaga si kembar, namun tidak mengurangi kebahagiaan mereka.
Hal yang paling menyenangkan bagi mereka berdua di kala si kembar sedang tidur atau anteng main bersama baby sitter nya.
Dengan begitu keduanya bisa jalan berdua mengunjungi tempat wisata tanpa mendengar rengekan si kembar. Seperti sore itu Eca meminta suaminya untuk berkunjung ke daerah Legian Kuta Bali.
Banyak turis dari berbagai negara menyatu dengan warga lokal dan saling berinteraksi satu sama lain sesuai kepentingan mereka.
"Sayang! Aku ingin ke tempat aksesoris itu."
Pinta Eca sambil menunjuk ke salah satu tempat pedagang yang ada di pinggir jalan.
"Apakah aku boleh berkunjung ke tempat lainnya Eca?"
Pinta Delvin yang tidak begitu suka menemani istrinya belanja aksesoris untuk wanita.
"Baiklah. Nanti aku akan menghubungimu kalau sudah selesai belanja."
Eca mengecup bibir suaminya sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati sayang! Jaga dirimu."
Delvin berjalan mundur sesaat lalu berbalik menuju tempat penjualan barang kebutuhan pria.
Eca yang mengenakan atasan putih dibalut celana jins biru sedang mengamati beberapa aksesoris yang ingin di cobanya.
Dari anting, kalung dan gelang dicobanya satu persatu.
Seorang pria bule menegur Eca dengan melontarkan pujian padanya.
"Anda sudah terlihat sangat cantik nona tanpa perlu perhiasan murahan itu."
"Maaf! anda sedang bicara denganku..?"
Eca terpancing juga dengan ocehan si pria bule itu seakan memandang remeh Eca yang dikira gadis yang bisa ia ajak kencan.
"Benar aku sedang bicara denganmu nona, boleh kita berkenalan?"
Ujar pria bule itu sambil mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Eca terlihat memerah menghadapi wajah pria bule yang memiliki tampang nakal menggoda dirinya.
"Apakah aku terlihat seperti wanita murahan bagimu Tuan? Kau sedang berada di negaraku tapi kau tidak bisa belajar sopan santun untuk beradaptasi dengan warga lokal.
Dan satu hal lagi, jangan pernah menghina kerajinan tangan para warga lokal. Jika dilihat dari harganya itu memang terlihat murahan bagimu, tapi perjuangan hidup mereka untuk menciptakan sebuah karya yang mengagumkan, tidak bisa di nilai dengan angka. Dan uangmu tidak ada artinya di hadapanku maupun mereka."
Eca segera meninggalkan tempat itu setelah membayar belanjaannya.
Wajah bule itu seketika takjub dengan jawaban Eca yang begitu sinis padanya.
Ia mengedarkan pandangannya mencari suaminya yang tadi sempat terpisah mencari kebutuhan mereka masing-masing.
Mata Eca yang terlihat cilingak-cilinguk ke beberapa konter pusat perbelanjaan itu, hingga tanpa sadar menabrak seseorang.
"Maaf tuan!" Ucap Eca sekedarnya tanpa ingin melihat wajah orang yang ditabraknya.
Entah mengapa ia merasakan lengannya ditarik seseorang dan masuk dalam pelukannya.
"Astaghfirullah!"
Eca mendongakkan wajahnya dan melihat sosok yang selama ini ia hindari malah berdiri memeluknya dengan erat.
"Eca...!"
Suara itu terdengar sendu.
"Tuan Haidar!"
Eca terhenyak sambil membekap mulutnya. Karena tidak suka diperlakukan Haidar yang seenak memeluknya, Eca berusaha melepaskan diri.
"Tolong lepaskan aku Tuan! Aku sudah bersuami!"
Deggggg....
Lingkaran tangan itu spontan melepaskan tubuh Eca mendengar Eca sudah milik orang lain.
"Apakah kamu sudah berbaikan dengan pria yang menghamilimu dan melahirkan si kembar, Eca...?"
Tanpa mau berpikir hal lainnya, Eca langsung mengangguk. Ia tidak ingin Haidar menanyakan banyak hal tentang dirinya terutama si kembar.
"Eca..!"
"Maafkan saya Tuan Haidar! Aku tidak bisa bicara denganmu karena suamiku tipikal suami posesif."
Ucap Eca bohong.
Gadis ini segera menghubungi suaminya Delvin yang masih berada di toko sepatu.
"Cih! Ada apa dengan ponselnya? kenapa jadi sulit dihubungi?"
Eca akhirnya mencari setiap konter yang mungkin ada suaminya. Rupanya Haidar masih penasaran dengan Eca. Ia mengikuti langkah gadis itu.
Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Eca. Lengan gadis itu di tarik hingga Eca hampir menjerit.
"Eca!"
"Tu..tuan Haidar!"
"Eca! Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
Deggggh....
"Jangan katakan kalau ini ada hubungannya dengan si kembar."
Batin Eca ketar ketir.
"Eca..!"
"Apa yang ingin kamu tanyakan tuan Haidar?"
"Mengapa hari terakhir kamu menemui ku, kamu tiba-tiba pergi?"
"A..iya itu... ada urusan perkuliahan ku yang membutuhkan data pribadiku. Jadi aku kembali lagi ke kampus. Maaf...! aku lupa pamit padamu."
Sahut Eca berusaha tenang..
"Tapi, ada salah satu staf ku mengatakan kalau kamu saat itu sepertinya sedang menangis dan dia mengira aku sudah melakukan sesuatu padamu. Apakah benar seperti itu..?"
Tanya Haidar penuh selidik.
"Itu karena aku masih sedih ingat si kembar yang masih belum sehat dan harus meninggalkan mereka dalam waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan kuliah ku."
Bohong Eca untuk meyakinkan tuan Haidar.
"Lantas mengapa kamu tidak mengundangku saat kamu menikah dan mengapa kamu kembali lagi pada ayah si kembar setelah kamu di campakkan?"
"Maaf tuan Haidar! Saya rasa anda terlalu jauh mencampuri urusan pribadi saya.
Apapun yang saya lakukan pada hidup saya, tidak perlu mendapat ijin anda, bukan..? Dan saya harap berhenti mengikuti saya apa lagi bertanya sesuatu yang bersifat terlalu privasi."
"Eca...saya hanya....?"
Eca mengangkat satu tangannya agar Haidar tidak perlu berkomentar apapun lagi. Ia meneruskan langkahnya untuk mencari sang suami yang juga mencarinya saat ini.
Haidar menatap punggung Eca dan juga penasaran siapa suaminya Eca.
"Harusnya aku lebih dulu mendapatkan kamu Eca daripada bajingan yang telah menghamilimu tanpa ada tanggung jawabnya."
Ucap tuan Haidar sambil berdecih.
Eca mempercepat langkahnya agar tidak lagi di ikuti oleh Haidar. Ia mencoba menghubungi lagi suaminya, namun ponsel Delvin masih sulit di hubungi.
"Buang saja itu ponselnya kalau tidak mau dihubungi." Ucap Eca kesal.
Plukk...
"Tuan Haidar lepaskan aku....aku tidak..!" Pekik Eca ketakutan.
"Siapa tuan Haidar, sayang..?"
Mata Eca langsung melebar saat tahu yang memeluknya dari belakang secara tiba-tiba adalah suaminya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Delvin.
"Ke mana saja kamu, Delvin? Hampir semua konter aku mencari mu tapi kamu tidak ditemukan."
Omel Eca dengan wajah merengut menahan kesal.
"Ponselku mati sayang. Aku juga mencari mu. Tolong jangan marah padaku! Apa kamu masih ingin mencari sesuatu atau makan sesuatu..?"
"Tidak..! Aku ingin kita kembali ke resort."
"Baiklah. Tapi siapa tuan Haidar..? Apakah tadi dia memelukmu..?"
Degggg....
"Maaf sayang! Itu adalah bos ku. Dia tidak tahu kalau aku sudah menikah. Kami tidak sengaja berpapasan di sini. Dan dia spontan memelukku dan aku segera melepaskannya."
Ucap Eca jujur.
"Dia...? Berani memelukmu...? Apakah sebelumnya dia pernah melakukan itu padamu...?" Tanya Delvin curiga.
"Tidak akan ku biarkan siapapun menyentuhku. Lagi pula dia tadi hanya spontan melakukan itu karena saking senangnya bertemu denganku. Dan aku juga sudah mengatakan kalau aku sudah menikah.
Cukup pertanyaannya! Aku tidak mau mendengar kecurigaan mu padaku." Jawab Eca.
Keduanya memutuskan untuk kembali ke resort tanpa membahas tentang Haidar lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Nor Azlin
pasangannya Haidar itu Nadia thor temannya eca biar tidak terus ganggu eca nya
2023-01-01
1
Heni Hariyati
relakan Eca bahagia Haidar. nanti author kasih jodoh buatmu yg sama baiknya dgn Eca sabar ya
2022-12-23
3
Ria Nasution
terus yang jadi pertanyaan, apakah sikembar anak si tuan Haidar atau?????
2022-12-23
1