Sebelumnya dia sudah membuat janji dengan pengacaranya, yaitu pak Heri untuk membuat surat wasiat dengan hukum yang sah. Setelah di dapat berkas itu, pak Heri kembali duduk berhadapan dengan Danu.
Membuka lembaran berkas itu dan memperhatikannya secara seksama agar tidah salah baca. Pak Heri melihat pak Danu yang begitu tenang,sedangkan Laras hanya dia saja.
"Begini pak Danu, mm ... aset milik ibu Ramona itu apakah anda tahu semua?" tanya pak Heri untuk mengetahui sejauh mana anak dari kliennya itu tahu aset milik ibunya.
"Ya, saya tahu. Ada butik yang di kelola oleh sahabat ibu saya, perpustakaan, panti asuhan dan sebidang tanah di kampung serta rumah." jawab Danu.
Pak Heri mengangguk pelan. Dia kemudian beralih pada lembaran berikutnya.
"Baik, begini pak Danu. Saya di minta oleh mendiang ibu Ramona agar anda dan istri anda selalu akur, karena ini menyangkut pembagian warisan yang di miliki mendiang ibu anda. Jadi alangkah baiknya anda dan istri anda baik-baik saja." ucap pak Heri memastikan kedua suami istri itu tidak ada masalah.
"Kami baik-baik saia pak Heri. Tidak perlu pak Heri tanyakan. Lagi pula ini adalah masalah kami, pak Heri cukup membacakan surat wasiat dari ibu saya saja." ucap Danu dengan malas meladeni hal yang meurutnya sepele.
Pak Heri diam sejenak, dia menatap Danu dengan tatapan heran. Lalu menghela nafas panjang. Benar apa yang di ucapkan kliennya itu, kalau Danu sangat angkuh dan keras kepala dan acuh sekali jika dia tidak menyukai akan suatu hal.
"Baiklah, saya bacakan surat waisatnya." membuka lembaran pertama.
"Hari ini pukul sembilan belas malam, tanggal dua puluh satu bulan delapan menyatakan bahwa surat wasiat kuasa saya berikan kepada pengacara Herianto yang akan di sampaikan pada anak dan menantu saya.
Yang mana semua aset-aset itu yaitu:
1.Rumah, tanah, dan perpustakaan serta uang yang ada di bank saya berikan pada anak Saya bernama Danu Tria Nugraha.
2.Butik dan panti asuhan saya serahkan kepada menantu saya, bernama Amanda Larasati serta saham yang ada di perusahaan Manahakam Corp sebanyak lima puluh ribu lembar. Aset itu saya berikan kepada keduanya, apa bila mereka sudah hamil atau mempunyai anak. Mereka bisa mengelola aset yang ada, namun tidak bisa memiliki sebelum keduanya sudah mempunyai keturunan.
Demikian surat wasiat saya mengenai warisan yang saya tinggalkan untuk mereka kelola.
Tertanda Ramona
Danu terkejut dengan isi wasiat yang kedua. Dia menatap Laras dengan kesal, mengapa saham sebanyak lima puluh ribu lembar di berikan kepada Larasati.
"Maaf pak Heri, saya masih terkejut dengan harta milik ibu saya. Saya tidak tahu kalau ibu punya saham di Manahakan Corp sebanyak itu?" tanya Danu.
"Ya, mendiang ibu anda punya banyak aset dan aset itu sudah ibu Ramona pikirkan kedepannya. Karena ibu anda bilang, anda tidak mau keluar dari bank yang sekarang anda bekerja. Jadi mungkin ibu Ramona akan menyerahkan saham itu pada nona Laras dan mau menjalankan bisnis selanjutnya." jawab pak Heri.
"Tapi, saya anaknya kenapa dia yang mendapat saham itu?" tanya Danu tidak percaya dengan surat wasiat itu.
"Saya tidak tahu pak Danu, mungkin ini sudah di pikirkan masak-masak oleh mendiang ibu anda." jawab pak Heri.
"Lalu kenapa di berikannya harus punya anak dulu baru bisa di ambil warisan itu?"
"Itu juga saya tidak tahu pak Danu. Jika anda mau, anda bisa berdiskusi dengan istri anda mengenai saham tersebut untuk di kelola oleh anda. Di dalam surat wasiat tidak di sebutkan kalau saham itu hanya boleh di pegang oleh istri anda. Itu pun atas persetujuan istri anda." ucap pak Heri memberi solusi.
Danu melirik Laras yang masih diam dan menunduk. Dia masih tidak percaya dengan warisan yang dia dapatkan. Sesungguhnya dia tidak berharap akan warisan itu, dia sadar diri siapa dia ini.
"Ya sudah pak Heri, terima kasih sebelumnya. Bisa surat wasiat itu saya pegang?" tanya Danu.
"Maaf pak Danu, surat ini belum bisa anda gunakan. Selanjutnya anda bisa gunakan apa yang anda dapatkan." kata pak Heri.
Danu berdecak, dia benar-benar jadi kesal. Kenapa ibunya membuat surat warisan yang sangat tidak masuk akal. Bukankah Laras hanya seorang anak panti asuhan? Kenapa ibunya sangat menyayangi dia?
"Ada yang di tanyakan lagi pak Danu?" tanya pak Heri yang melihat Danu masih tidak terima akan keputusan itu.
"Tidak, terima kasih." ucap Danu.
Lalu Danu dan Laras berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya. Mereka masuk ke dalam mobil dan dalam perjalanan hanya diam saja.
Kamu beruntung jadi anak asuh ibuku. Jika bukan karena kamu menikah denganku, kamu tidak akan mendapatkan warisan sebanyak itu." ucap Danu di sela-sepa diam di antara mereka.
"Aku juga ngga tahu mas, kalau ibu memberikan harta sebanyak itu. Saya terus terang tidak percaya semuanya." kata Laras.
"Jangan munafik kamu! Kamu senangkan bisa dapat warisan dari ibuku. Jaman sekarang mana ada perempuan menolak harta warisan dari mertuanya, apa lagi kamu yang bukan siapa-siapa ibuku." ucap Danu masih dengan nada ketus.
Laras diam, dia tidak mau ucapan Danu semakin menyakitkan. Dia sendiri tidak ingin menerima warisan dari mertuanya itu.
"Kalau mas Danu mau mengambilnya silakan mas, aku ngga apa-apa. Itu juga bukan milikku." ucap Laras.
"Bagus kalau kamu menyadarinya. Biar saya yang mengelola semuanya, kamu cukup mendapat jaminan dariku sebagai rasa tanggung jawab suami terhadap istri. Lagi pula delapan bulan lagi saya mau menikahi Jasmin." ucap Danu.
Laras menatap Danu, dia yang mendengar perkataan itu jadi kaget dan menarik nafas kasar.
"Kamu sepertinya mencintai gadis itu mas?" tanya Laras menguatkan diri.
"Tentu saja, dia gadis cinta pertamaku. Kamu siapa? Beban saja dalam hidupku." kata Danu ketus.
"Aku juga perempuan yang di pilihkan oleh ibumu." kata Laras tidak mau kalah.
"Cuih! Kamu berani bicara seperti itu? Karena merasa besar kepala telah mendapatkan warisan sebanyak itu? Perempuan tidak tahu diri!"
"Cukup mas! Mas Danu sejak tadi menghinaku terus, aku punya hati. Sejak pertama menikah mas Danu tidak pernah menghargaiku. Lalu apa mas Danu inginkan dariku?!"
"Bagus kalau kamu sadar! Aku ingin menikah Jasmin dan tinggal di rumahku! Kalau kamu tidak kuat, kamu pergi dari rumahku nantinya!" ucap Danu dengan nada tinggi.
Laras menatap kesal pada suaminya, dia tidak percaya kalau Danu begitu keras dan benar-benar tidak bisa di cegah.
Mereka sampai di rumah, Laras turun dari mobil Danu tanpa menoleh atau menyalami seperti pagi tadi. Setelah Laras turun dari mobil, Danu melajukan mobilnya menuju kantornya. Sore nanti dia ada janji dengan Jasmin untuk jalan-jalan di mall.
_
_
_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Vivi Bidadari
Yq sudah Laras lebih baik kamu pergi saja secara tak langsung juga Danu sdh mengusir mu..
biarkan saja Danu yg sombong itu
2023-02-12
0
heni diana
Makin k snii omongan danu makin nyakitin aja klo g kuat laras pergi aja yg jauh dri danu..
2022-12-20
1