Pagi buta seperti ini biasanya Laras akan sibuk di dapur, setelah sholat subuh. Dia akan membuat sarapan bubur ayam, karena membuat bubur ayam itu membutuhkan waktu banyak, jadi pagi-pagi dia sudah di dapur. Menyiapkan bahan-bahannya dan juga memasak air untuk membuat kopi untuk suaminya.
Laras mengambil beras untuk membuat bubur,dan mencucinya. Setelah selesai lalu di masak memakai mejikom, memasukkan garam dan daun salam.Setelah itu di aduk hingga tercampur, lalu dia tutup untuk mematangkan buburnya.
Setelah membuat bubur, dia mengambil ayam dalam frizer dan di bersihkan. Dia siapkan bumbu untuk memasak kuah ayam,tak lupa menyiapkan daun bawang untuk di iris. Menggoreng bawang buat taburan juga kerupuk. Menu sederhana ini dia buat untuk sarapan suaminya,barangkali dia tertarik untuk sarapan pagi di rumah.
Setelah selesai semua,dia menata hasil masakannya di meja makan. Menyiapkan minum juga tak lupa buah untuk cuci mulut. Walau bukan makan siang atau makan malam, Laras selalu menyiapkan buah di meja makan.
Tak lama Danu keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi, tas kerja juga sudah di tangan. Ketika hendak menuju ruang depan, dia melihat menu makanan di meja tidak biasa. Bubur ayam, itu kesukaannya. Dia pun menuju meja makan untuk mencoba sarapan buatan istrinya. Dia duduk di kursi yang biasa dia duduk untuk makan ketika masih sendiri.
Laras ikut duduk setelah dia merapikan dapur. Dia menyiapkan bubur ayam untuk suaminya. Mengambil minumnya juga kerupuk yang tidak dia masukkan ke dalan bubur, hanya di toples saja. Dia senang suaminya itu mau sarapan bubur buatannya.
"Di makan mas buburnya." ucap Laras.
"Hmm."
Danu kemudian memakan satu suap buburnya, dia meresapi rasanya. Lumayan enak, pikirnya. Kemudian dia menyantap kembali buburnya sampai habis.
"Mas, nanti siang aku ke panti asuhan ya." kata Laras meminta izin pada suaminya.
"Hmm." hanya gumaman jawaban Danu.
Itu artinya dia menyetujui rencana Laras mengunjungi panti asuhan. Setelah selesai makan, Danu bangkit dari duduknya. Dia kemudian pergi meninggalkan Laras yang masih makan bubur ayamnya.
Laras bangkit dari duduknya,mengikuti suaminya dari belakang menuju halaman depan.
"Mas Danu, tunggu." kata Laras agar berlari mengejar suaminya yang hendak masuk ke dalam mobil.
Danu berhenti, memandang Laras dengan malas. Dan Laras menarik tangan kanan Danu dan menciumnya. Danu terdiam, dia sudah biasa seperti ini namun tetap saja selalu tertegun.
Buru-buru dia masuk ke dalam mobilnya dan langsung menjalankannya tanpa memandang ke arah istrinya itu.
Seperti ucapannya pada Danu tadi pagi, Laras pergi ke panti asuhan. Setelah ijin dari kepala penjaga perpustakaan, Laras langsung memesan ojek online. Di depan dia menunggu ojol sambil bermain ponselnya.
Jam dua belas lebih dua puluh menit, waktu istirahat bagi karyawan dan pegawai. Laras duduk di kursi menunggu, tak lama ojek pesanannya pun datang. Berbarengan dengan masuknya mobil yang dia kenal.
Ya, mobil suaminya masuk ke halaman perpustakaan. Dia keluar dengan seorang gadis berseragam SMA. Danu menggandeng tangan gadis itu lalu masuk ke dalam perpustakaan.
Laras menatap keduanya, melihat kedua orang layaknya sepasang kekasih sedang mengantar pacarnya mencari buku. Hati Laras kembali perih, melihat pemandangan itu untuk yang kedua kalinya.
"Mba, ini ojeknya jadi?" tanya abang ojol itu pada Laras.
"Eh, iya bang jadi. Ayo kita ke alamat yang sudah saya kasih di aplikasi." kata Laras.
Matanya kembali menatap ke arah gedung perpustakaan. Sakit hatinya, mengingat dia seorang istri seperti melihat suaminya berselingkuh. Namun dia ingat dalam perjanjian, di luar rumah dia tidak mengenal Laras apa lagi mengakui sebagai istri sahnya.
Dan lagi, suaminya mengatakan kalau dia sudah punya pacar. Ya, gadis yang tadi bersamanya itu adalah pacarnya. Lucu memang, pacarnya seorang gadis SMA yang dia dengan sabar menunggu untuk menikahinya.
"Lucu sekali." gumam Laras.
"Apa yang lucu mbak?" tanya abang ojolnya.
"Oh, ngga bang." jawab Laras.
Kalau dia sudah punya pacar, kenapa dia tidak bilang sama ibunya kalau sudah punya pacar. Kenapa mau menikah dengannya? Begitu pikir Laras. Dia masih memikirkan suaminya itu. Hingga teguran dari abang ojol dia diam saja karena lamunannya itu.
"Mba, sudah sampai." ucap abang ojol itu membuyarkan lamunan Laras.
"Ah, iya bang maaf." ujar Laras sambil melepas helm yang tadi dia gunakan.
Kemudian dia menyerahkan helmnya dan uang ongkos ojeknya.
"Terima kasih mba, lain kali jangan melamun mba. Nanti di patuk ayam. "ucap abang ojol bercanda.
Laras tertawa kecil, kemudian dia memasuki halaman panti asuhan dan langsung masuk ke dalam panti.
Laras menemui ibu Rima, ketua yayasan panti asuhan milik ibu Ramona, mertuanya.
"Assalamu alaikum bu Rima." ucap Laras.
"Walaikum salam, Laras. Bagaimana kabarmu?" tanya ibu Rima menghampiri Laras dan memeluknya.
"Aku Alhamdulillah baik bu. Ibu bagaimana, sehatkan?" tanya Laras.
"Alhamdulillah. Dua hari yang lalu ibu mampir ke kostanmu, tapi kata ibu kostnya kamu sudah pindah. Benar kamu pindah? Kemana?" tanya ibu Rima kembali duduk di sofa, mempersilakan Laras duduk juga.
Laras yang mendapat pertanyaan dari ibu Rima kaget, tidak menyangka akan di sambangi tempat kostnya dulu. Laras diam.
"Laras?"
"Ah, ya bu. Aku pindah ke tempat lain bu." jawab Laras gugup.
Tidak mungkin kan dia harus jujur kalau dia tinggal bersama Danu. Laras menunduk, kemudian ponselnya berbunyi. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon.
Nita.
"Assalamu alaikum, Nit. Ada apa?" tanya Laras.
"Wa alaikum salam Ras, aku mau tanya buku yang Biologi kelas tiga kok ngga ada ya? Ini ada yang menanyakan buku itu." kata Nita.
"Lho, bukannya ada di bagian rak masing-masing. Memang sudah habis?" tanya Laras.
"Sudah habis, barangkali ada yang sudah mengembalikan. Atau kamu tahu menyimpannya di mana?" tanya Nita di seberang sana.
"Belum ada yang mengembalikan seingat aku. Kamu bilang saja sama orangnya, sudah habis begitu. Kenapa jadi ribet harus tanya ke aku?" ucap Laras heran.
"Masalahnya ini yang nanya pak Danu, dia membawa pacarnya untuk meminjam buku itu. Aku sudah bilang bukunya habis, eh malah si pacarnya marah. Dia ngga mau tahu harus ada bukunya. Aku jadi bingung nih."
"Ck, orang tuh ngga bisa ikut aturan ya." ucap Laras kesal.
Walau yang meminta adalah anaknya yang punya perpustakaan, tapi harus tahu aturan di setiap lembaga.
"Gimana, Ras?" tanya Nita lagi.
"Ya sudah, aku kesana. Kamu bilang tunggu aku dulu, biar aku jelaskan." kata Laras.
Walau sebenarnya dia merasa deg degan harus bertemu dengan suami serta pacarnya, tapi mereka menyulitkan pegawai perpustakaan. Itu tidak bisa di biarkan. Kalau buku sudah tidak ada,jangan menyusahkan orang lain untuk mencari yang tidak ada.
"Bu Rima maaf, aku harus ke perpustakaan lagi. Di sana ada masalah sedikit, jadi aku harus tangani." kata Laras pada ketua yayasan panti asuhan itu.
"Ya sudah, kamu pergi saja. Lain kali saja kamu kesini lagi." ucap ibu Rima sedikit kecewa Laras harus kembali ke perpustakaan.
"Maafkan saya bu, nanti saya akan datang lagi kemari." kata Laras untuk mengobati rasa kecewa ibu Rima.
"Ya, terserah kamu. Ibu tunggu kapan saja kamu kemari."
"Terima kasih bu."
Ibu Rima tersenyum, dia mengantar Laras sampai di depan pintu. Laras langsung pergi memesan ojek online agar cepat sampai di perpustakaan.
_
_
*****************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
abdan syakura
Astaghfirullah teganya yaa
Istri ada,bawa gandengan lain .
miris bgt...
Smg cuma ada di Novel ya,Thor😉
2023-03-21
0
Vivi Bidadari
Suami Danu ga perlu juga dipertahankan hanya menambah luka saja...
Semoga ada jalan terbaik buat MU Laras sabar tapi jika sdh tak kuat lepaskan saja
2023-02-12
0
heni diana
Gila nie danu maksudnya apa coba dia pasti tau kan yg akan menjelaskan tentang buku itu k pacrnya sang istri dia mau bikin hati laras makin sakit apa??..
Laras klo kamu mau mempertahankan rumah tanggamu ayo donk usaha lagi buat rebut hati danu meski ada perjanjian klo hati danu udah kamu dpatkan bisa berakhirkan perjnjiannya.
2022-12-14
0