09. Di Kedai Kopi

Pagi ini Laras sudah mulai bekerja di kedai kopi milik Andre bersama Anisa. Dia berangkat bersama karena Laras masih menginap di kost Anisa. Anisa senang di kamarnya ada temannya, Laras.

Namun demikian dia merasa kasihan pada Laras yang di usir oleh suaminya dari rumahnya. Laras bersiap-siap, dia memakai baju lengan panjang dan celana panjang hitam. Baju warna hijau muda dia masukkan ke dalam celananya agar terlihat rapi.

Anisa yang melihat penampilan Laras jadi tersenyum, dia mengalungkan tas selempangnya di pundaknya. Menunggu Laras yang sedang merapikan bedak di pipinya.

"Sepulang dari kedai, kita jalan-jalan yuk, Ras. Aku sudah lama ngga pernah jalan-jalan bareng kamu." kata Anisa memandang Laras dari belakang.

Selesai bersolek, Laras berbalik memandang Anisa dan menganggukkan kepala. Lalu dia merapikan bedaknya kembali, setelah selesai dia letakkan bedak itu di dompet pouchnya. Mengambil tas ransel kecil yang selalu dia bawa.

"Udah rapi kan wajahku?" tanya Laras.

"Udah kok. Yuk berangkat."

"Oke."

Anisa dan Laras tertawa kecil lalu mereka melangkah bersama keluar dari kamar kost Anisa dan menunggu ojek online yang mereka pesan secara bersamaan.

"Oya Nis, kalau Sabtu Minggu rame ngga kedai?",tanya Laras.

"Ya, lumayan rame. Kamu kuliah?" tanya Anisa, Laras menunduk.

"Iya, tapi aku berhenti sajalah." jawab Laras ragu.

"Lho, kenapa? Pak Andre juga pasti nggak keberatan kalau Sabtu Minggu kamu nggak masuk, dia pasti ngerti karena kamu kuliah." kata Anisa memberi semangat pada Laras.

Laras diam, dia sebenarnya tidak enak kalau harus meninggalkan kedai di waktu yang ramai. Tapi, bagaimana dengan kuliahnya. Karena memang waktu kuliahnya Jum'at Sabtu Minggu. Dia mengambil kelas karyawan.

"Ngga enak aku, kalau harus ninggalin kerjaan di waktu kedai lagi rame nantinya." kata Laras.

"Ya udah, jangan di pikirkan. Yang penting kamu kerja aja dulu." ucap Anisa.

"Ya."

Setelah keduanya mengobrol sebentar, tak lama ojek yang mereka pesan akhirnya datang juga. Ojek yang membonceng Laras datang lebih cepat di banding Anisa, dan tiga menit setelahnya datang ojek Anisa.

Tidak membutuhkan waktu lama, karena pagi sekali memang mereka berangkta. Di jam kantor biasanya jalanan sangat ramai, jadi mereka berangkat lebih pagi. Sampai di kedai kopi, mereka pun turun dan membayar ongkos ojek lalu masuk ke dalam kedai tersebut.

Di kedai kopi, Laras di beri pengarahan apa yang dia kerjakan. Sebenarnya,,untuk saat ini belum ada pekerjaan yang pas buat Laras. Dia hanya membantu di bagian pembuatan kue saja, belum di beri tugas khusus oleh Andre sang bos.

Laras menurut saja tugasnya hanya membantu, yang penting dia bekerja dan bisa punya kesibukan. Dulu, ketika di perpustakaan sebelum di buka dia selalu memeriksa buku-buku yang berantakan dan meneliti apa yang tidak ada di rak buku.

Lalu mengumpulkan buku yang sudah rusak di pindahkan ke keranjang khusus buku-buku yang sudah rusak dan usang. Tapi sekarang kesibukan itu beralih ke dapur, walau dia juga biasa di dapur. Namun jika dapurnya besar dan komplit peralatannya juga fungsinya pun beragam, tetap saja dia bingung.

Tapi dia tetap semangat dan banyak belajar dari pegawai bagian dapur, terutama bagian pembuatan kue. Sedangkan Anisa hanya mengantar pesanan saja dan membersihkan meja yang sudah di tinggalkan oleh pelanggan.

"Ras, gimana menurut kamu?" tanya Anisa pada Laras di waktu jam istirahat.

"Apanya?"

"Ya kerjaan kamulah. Kamu gimana bekerja jadi asisten mba Astri?" tanya Anisa lagi.

"Ya enak sih, tapi aku masih bingung. Dapurnya tuh besar banget, belum lagi kalau barista meminta di ambilkan peralatan di dapur untuk membuat kopi, suka bingung." kata Laras di sela makan siangnya.

"Ya wajar sih,,kan kamu baru sehari di sini.,Tapi enak ngga kerjanya?",tanya Anisa lagi.

"Enak, ada kamu jadi enak. Heheh.",jawab Laras, melirik Anisa yang wajahnya berubah jadi senyum.

"Laras, nanti kalau sudah makan kamu bantu saya bikin adonan ya." kata mba Astri.

"Siap, mba Astri." ucap Laras.

Kemudian dia bergegas menyelesaikan makannya, sementara Anisa sudah berlalu pergi kareja ada pelanggan yang masuk ke kedai. Sejenak, Anisa melihat siapa yang datang di kedai. Tiga laki-laki yang berpakaian jas rapi, di antara ketiganya Anisa tahu siapa dia.

Ya, laki-laki satunya itu adalah Danu. Sang direktur muda bank swasta di kota ini. Dia masuk ke kedai bersama dua orang rekannya. Duduk di pinggir dekat jendela, sangat strategis tempat duduknya karena di tempat itu bisa melihat orag lalu lalang di jalan.

Dan satu orang laki-laki memanggil Anisa yang berdiri, menanti pelayanannya. Anisa mendekat pelan. Menatap Danu sekilas yang sedang menerima telepon entah dari siapa, yang Anisa lihat Danu menerima telepon itu dengan wajah ceria dan banyak senyum.

Sudah dekat, Anisa sengaja berdiri dekat Danu. Dia sedikit menguping pembicaraan Danu dan orang di seberang telepon sana. Sembari mencatat apa yang di pesan oleh kedua rekan Danu.

"Danu, lo pesan apa?" tanya temab satunya, Anisa menatap Danu.

"Samakan aja sama kalian, gue lagi asyik nih." ucap Danu masih meladeni teleponnya.

Dua temannya hanya mencibir saja. Walau Danu direktur bank, namun jika bersama dengan kedua temannya itu bersikap layaknya berteman biasa.

"Iya, sayang. Ini aku lagi di kedai kopi bareng teman aku." kata Danu menjawab pertanyaan orang di balik telepon itu.

"Dia harus laporan terus ya, sama bocil itu?",tanya teman Danu pada teman satunya.

"Ya, dia kan belum absen hari ini." kata teman lainnya melirik Danu yang sedang asyik menelepon.

Anisa mendesah pelan, agak heran juga dia. Seberapa cantik sih anak SMA pacarnya suami Laras ini? gumam Anisa dalam hati.

"Mba, udah itu aja ya. Dan tolong jangan pake lama ya." kata teman Danu.

"Baik pak, di tunggu ya." Anisa menjawab cepat.

Karena dia tidak mau ketahuan sedang menguping pembicaraan Danu di telepon. Lalu Anisa pergi dari hadapan tiga laki-laki itu, menengok kembali ke arah Danu yang sudah selesai menelepon. Ada rasa kesal juga, namun Anisa diam saja. Hingga dia tidak sengaja menabrak Laras yang sedang membawa tepung.

"Astaghfirullahal adzim!" ucap Laras, dia memegang erat tepung yang hampir jatuh lalu menatap Anisa yang diam terpaku karena menabraknya.

"Kamu kenapa sih, Nis? Jalan kok lihat ke depan pengunjungke aja?" tanya Laras heran pada Anisa.

"Eh, Ras. Ngga apa-apa kok. Tadi kebetulan aku lagi nengok ke depan jadi aku ngga tahu ada kamu lewat." ucap Anisa berbohong.

"Ya udah, lain kali kalau jalan jangan sambil melamun." ucap Laras pada Anisa, dia lalu melangkah meninggalkan Anisa yang masih kaget.

"Iya Ras, aku tadi lihat suamimu di depan." gumam Anisa.

Anisa kemudian pergi ke tempat barista, menyerahkan catatan pesanan dan menunggunya di depan meja sambil memperhatikan ketiga laki-laki yang tadi memesan padanya.

Satria yang sedang membuat pesanan melirik ke arah Anisa yang masih memperhatikan pelanggan ketiga laki-laki di meja sana.

"Kamu kenapa melihat ke meja pelanggan itu?" tanya Satria yang meracik kopi pesanan Anisa tadi.

"Oh, ngga. Aku cuma heran aja sama cowok, kenapa ya suka banget selingkuh." ucap Anisa asal, matanya masih menatap ketiga laki-laki yang duduk di saja.

"Memangnya siapa yang selingkuh?" tanya Satria penasaran.

"Ya ada aja.",ucap Anisa memotong pembicaraan tadi agar Satria tidak terlalu banyak tanya.

"Nih, selesai. Jalannya jangan sambil melamun lagi, nanti nabrak lagi." kata Satria yang sejak tadi mengetahui kalau Anisa menabrak Laras.

"Heheh." Anisa tertawa kecik sambil mengambil nampan berisi tiga kopi.

Lalu dia mengantar pesanan ketiga laki-laki yang sedang mengobrol serius. Masih menatap Danu dari kejauhan, dia terus melangkah dan berpikir apakah dia akan memberitahu Laras kalau ada suaminya di kedai itu?

Sedangkan di belakang dapur, Laras sedang sibuk membantu mba Astri membuat brownis juga cup cake. Dia memperhatikan dengan serius apa yang di kerjakan mba Astri.

"Kamu suka membuat kue, Laras?" tanya mba Astri yang sedang mengaduk adonan dengan mikser.

"Suka mba." jawab Laras memperhatikan adonan yang sedang di aduk.

"Kamu bisa bikin kue apa?" tanya Astri.

"Ya paling bikin bolu, brownis juga bisa." jawab Laras masih serius memperhatikan apa yang di lakukan oleh Astri.

"Bikin kue tradisional bisa?" tanya Astri lagi.

"Bisa juga."

"Kenapa kamu ngga buka gerai kue tradisional aja?"

"Belum ada modal, juga ngga punya peralatannya, mba. Kalau ada modal buat beli peralatannya saya mau mba buka gerai kue tradisional." kata Laras.

"Mmm, iya juga ya. Harus punya modal dan butuh banyak uang buat beli peralatannya itu. Ya udah, kamu kumpulin modal dikit-dikit aja dulu. Kamu bisa buka gerai kue tradisional kalau modal sudah terkumpul, ngga harus banyak asal bisa beli alat yang di butuhkan dan beli bahannya juga." kata Astri memberi saran.

"Iya mba. Mba Astri sendiri kenapa ngga buka toko sendiri?" tanya Laras.

"Aku udah nyaman kerja di sini." jawab Laras.

"Karena bosnya, mba? Heheh." tanya Laras bergurau.

"Hahah! Bisa jadi. Tapi ngga juga, ya nyaman ajalah pokoknya. Pegawai disini enak semua, jadi nyaman." jawab Astri sambil tersenyum.

Laras pun ikut tersenyum, dia juga sebenarnya enak juga, padahal baru sehari. Tapi dia juga tidak tahu, kerja disini akan selamanya atau berhenti ketika waktu skors di perpustakaan itu selesai.Laras tidak mau ambil pusing,dia akan jalani dulu.Kedepannya dia tidak tahu bagaimana.

_

_

******************

Terpopuler

Comments

Aisyah Luqman

Aisyah Luqman

lanjut ...

2022-12-16

0

Anita Almantik

Anita Almantik

lanjut
jangan pikirkan danu lagi laras
pikirkan masa depan mu
ibu ramona kan tdk ad lg yg membuat mu balas budi laras

2022-12-16

1

heni diana

heni diana

Bagus laras jalani aja dulu sekarng mah fokus buat masa depan kamu maslah danu biarin aja lah klo pun cerai juga kmu mash perawan..

2022-12-16

0

lihat semua
Episodes
1 01. Mendadak Menikah
2 02. Perjanjian Nikah
3 03. Meninggalnya Ibu Ramona
4 04. Layaknya Seorang Istri
5 05. Merasa Terhianati
6 06. Di Perputakaan
7 07. Di Usir Dari Rumah
8 08. Menginap Di Kost Anisa
9 09. Di Kedai Kopi
10 10. Pacar Andre
11 11. Surat Wasiat
12 12. Kebimbangan Laras
13 13. Perjanjian Lagi
14 14. Pagi Hari
15 15. Kantor Pengacara
16 16. Mengenai Ibu Ramona
17 17. Membacakan Wasiat
18 18. Jasmin Berkunjung
19 19. Nomor Ponsel
20 20. Rencana Danu Untuk Laras
21 21. Telepon
22 22. Di Pamggil Pak Robi
23 23. Laras Bercerita
24 24. Kesibukan Laras
25 25. Danu Marah
26 26. Pindah Rumah
27 27. Melamar Jasmin
28 28. Pernikahan Danu Dan Jasmin
29 29. Daftar Kuliah
30 30. Menginap Acara Kampus
31 31. Mencari Jasmin
32 32. Makan Di Rumah Laras
33 33. Tidak Dapat Jatah
34 34. Danu Kesal
35 35. Ke Rumah Laras Lagi
36 36. Hanya Pelampiasan Saja?
37 37. Perubahan Sikap Danu
38 38. Jasmin Selingkuh
39 39. Menginap
40 40. Bertengkar
41 41. Melihatnya
42 42. Periksa
43 43. Bertemu Andre
44 44. Andre Kecewa
45 45. Danu Terkejut
46 46. Danu Vs Andre
47 47. Jasmin Pura-pura
48 48. Curhatan Danu
49 49. Menyewa Orang
50 50. Di Depan Toko Kue
51 51. Membujuk Jasmin
52 52. Datang Bersama
53 53. Datang Lagi
54 54. Orang Suruhan
55 55. Bukti
56 56. Fakta Di Luar Dugaan
57 57. Nasehat Rizwan
58 58. Dua Perasaan Berbeda
59 59. Sikap Danu
60 60. Memberi Pelajaran
61 61. Ibu Dan Anak
62 62. Selesai Makan Siang
63 63. Foto-Foto
64 64. Syok
65 65. Surat Cerai
66 66. Ke Panti Asuhan
67 67. Mencari Laras
68 68. Sosial Media
69 69. Di Pemakaman
70 70. Di Pemakaman 2
71 71. Melahirkan
72 72. Perasaan
73 73. Salah Paham
74 74. Kejutan Di Rumah Baru
75 75. Obrolan Santai
76 76. Tidak Bisa Menggantikan
77 77. Menemui Jasmin
78 78. Lagi Aneh
79 79. Bukan Laki-Laki Romantis
80 80. Kebahagiaan Danu Dan Laras
Episodes

Updated 80 Episodes

1
01. Mendadak Menikah
2
02. Perjanjian Nikah
3
03. Meninggalnya Ibu Ramona
4
04. Layaknya Seorang Istri
5
05. Merasa Terhianati
6
06. Di Perputakaan
7
07. Di Usir Dari Rumah
8
08. Menginap Di Kost Anisa
9
09. Di Kedai Kopi
10
10. Pacar Andre
11
11. Surat Wasiat
12
12. Kebimbangan Laras
13
13. Perjanjian Lagi
14
14. Pagi Hari
15
15. Kantor Pengacara
16
16. Mengenai Ibu Ramona
17
17. Membacakan Wasiat
18
18. Jasmin Berkunjung
19
19. Nomor Ponsel
20
20. Rencana Danu Untuk Laras
21
21. Telepon
22
22. Di Pamggil Pak Robi
23
23. Laras Bercerita
24
24. Kesibukan Laras
25
25. Danu Marah
26
26. Pindah Rumah
27
27. Melamar Jasmin
28
28. Pernikahan Danu Dan Jasmin
29
29. Daftar Kuliah
30
30. Menginap Acara Kampus
31
31. Mencari Jasmin
32
32. Makan Di Rumah Laras
33
33. Tidak Dapat Jatah
34
34. Danu Kesal
35
35. Ke Rumah Laras Lagi
36
36. Hanya Pelampiasan Saja?
37
37. Perubahan Sikap Danu
38
38. Jasmin Selingkuh
39
39. Menginap
40
40. Bertengkar
41
41. Melihatnya
42
42. Periksa
43
43. Bertemu Andre
44
44. Andre Kecewa
45
45. Danu Terkejut
46
46. Danu Vs Andre
47
47. Jasmin Pura-pura
48
48. Curhatan Danu
49
49. Menyewa Orang
50
50. Di Depan Toko Kue
51
51. Membujuk Jasmin
52
52. Datang Bersama
53
53. Datang Lagi
54
54. Orang Suruhan
55
55. Bukti
56
56. Fakta Di Luar Dugaan
57
57. Nasehat Rizwan
58
58. Dua Perasaan Berbeda
59
59. Sikap Danu
60
60. Memberi Pelajaran
61
61. Ibu Dan Anak
62
62. Selesai Makan Siang
63
63. Foto-Foto
64
64. Syok
65
65. Surat Cerai
66
66. Ke Panti Asuhan
67
67. Mencari Laras
68
68. Sosial Media
69
69. Di Pemakaman
70
70. Di Pemakaman 2
71
71. Melahirkan
72
72. Perasaan
73
73. Salah Paham
74
74. Kejutan Di Rumah Baru
75
75. Obrolan Santai
76
76. Tidak Bisa Menggantikan
77
77. Menemui Jasmin
78
78. Lagi Aneh
79
79. Bukan Laki-Laki Romantis
80
80. Kebahagiaan Danu Dan Laras

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!