Pagi ini Laras sudah mulai bekerja di kedai kopi milik Andre bersama Anisa. Dia berangkat bersama karena Laras masih menginap di kost Anisa. Anisa senang di kamarnya ada temannya, Laras.
Namun demikian dia merasa kasihan pada Laras yang di usir oleh suaminya dari rumahnya. Laras bersiap-siap, dia memakai baju lengan panjang dan celana panjang hitam. Baju warna hijau muda dia masukkan ke dalam celananya agar terlihat rapi.
Anisa yang melihat penampilan Laras jadi tersenyum, dia mengalungkan tas selempangnya di pundaknya. Menunggu Laras yang sedang merapikan bedak di pipinya.
"Sepulang dari kedai, kita jalan-jalan yuk, Ras. Aku sudah lama ngga pernah jalan-jalan bareng kamu." kata Anisa memandang Laras dari belakang.
Selesai bersolek, Laras berbalik memandang Anisa dan menganggukkan kepala. Lalu dia merapikan bedaknya kembali, setelah selesai dia letakkan bedak itu di dompet pouchnya. Mengambil tas ransel kecil yang selalu dia bawa.
"Udah rapi kan wajahku?" tanya Laras.
"Udah kok. Yuk berangkat."
"Oke."
Anisa dan Laras tertawa kecil lalu mereka melangkah bersama keluar dari kamar kost Anisa dan menunggu ojek online yang mereka pesan secara bersamaan.
"Oya Nis, kalau Sabtu Minggu rame ngga kedai?",tanya Laras.
"Ya, lumayan rame. Kamu kuliah?" tanya Anisa, Laras menunduk.
"Iya, tapi aku berhenti sajalah." jawab Laras ragu.
"Lho, kenapa? Pak Andre juga pasti nggak keberatan kalau Sabtu Minggu kamu nggak masuk, dia pasti ngerti karena kamu kuliah." kata Anisa memberi semangat pada Laras.
Laras diam, dia sebenarnya tidak enak kalau harus meninggalkan kedai di waktu yang ramai. Tapi, bagaimana dengan kuliahnya. Karena memang waktu kuliahnya Jum'at Sabtu Minggu. Dia mengambil kelas karyawan.
"Ngga enak aku, kalau harus ninggalin kerjaan di waktu kedai lagi rame nantinya." kata Laras.
"Ya udah, jangan di pikirkan. Yang penting kamu kerja aja dulu." ucap Anisa.
"Ya."
Setelah keduanya mengobrol sebentar, tak lama ojek yang mereka pesan akhirnya datang juga. Ojek yang membonceng Laras datang lebih cepat di banding Anisa, dan tiga menit setelahnya datang ojek Anisa.
Tidak membutuhkan waktu lama, karena pagi sekali memang mereka berangkta. Di jam kantor biasanya jalanan sangat ramai, jadi mereka berangkat lebih pagi. Sampai di kedai kopi, mereka pun turun dan membayar ongkos ojek lalu masuk ke dalam kedai tersebut.
Di kedai kopi, Laras di beri pengarahan apa yang dia kerjakan. Sebenarnya,,untuk saat ini belum ada pekerjaan yang pas buat Laras. Dia hanya membantu di bagian pembuatan kue saja, belum di beri tugas khusus oleh Andre sang bos.
Laras menurut saja tugasnya hanya membantu, yang penting dia bekerja dan bisa punya kesibukan. Dulu, ketika di perpustakaan sebelum di buka dia selalu memeriksa buku-buku yang berantakan dan meneliti apa yang tidak ada di rak buku.
Lalu mengumpulkan buku yang sudah rusak di pindahkan ke keranjang khusus buku-buku yang sudah rusak dan usang. Tapi sekarang kesibukan itu beralih ke dapur, walau dia juga biasa di dapur. Namun jika dapurnya besar dan komplit peralatannya juga fungsinya pun beragam, tetap saja dia bingung.
Tapi dia tetap semangat dan banyak belajar dari pegawai bagian dapur, terutama bagian pembuatan kue. Sedangkan Anisa hanya mengantar pesanan saja dan membersihkan meja yang sudah di tinggalkan oleh pelanggan.
"Ras, gimana menurut kamu?" tanya Anisa pada Laras di waktu jam istirahat.
"Apanya?"
"Ya kerjaan kamulah. Kamu gimana bekerja jadi asisten mba Astri?" tanya Anisa lagi.
"Ya enak sih, tapi aku masih bingung. Dapurnya tuh besar banget, belum lagi kalau barista meminta di ambilkan peralatan di dapur untuk membuat kopi, suka bingung." kata Laras di sela makan siangnya.
"Ya wajar sih,,kan kamu baru sehari di sini.,Tapi enak ngga kerjanya?",tanya Anisa lagi.
"Enak, ada kamu jadi enak. Heheh.",jawab Laras, melirik Anisa yang wajahnya berubah jadi senyum.
"Laras, nanti kalau sudah makan kamu bantu saya bikin adonan ya." kata mba Astri.
"Siap, mba Astri." ucap Laras.
Kemudian dia bergegas menyelesaikan makannya, sementara Anisa sudah berlalu pergi kareja ada pelanggan yang masuk ke kedai. Sejenak, Anisa melihat siapa yang datang di kedai. Tiga laki-laki yang berpakaian jas rapi, di antara ketiganya Anisa tahu siapa dia.
Ya, laki-laki satunya itu adalah Danu. Sang direktur muda bank swasta di kota ini. Dia masuk ke kedai bersama dua orang rekannya. Duduk di pinggir dekat jendela, sangat strategis tempat duduknya karena di tempat itu bisa melihat orag lalu lalang di jalan.
Dan satu orang laki-laki memanggil Anisa yang berdiri, menanti pelayanannya. Anisa mendekat pelan. Menatap Danu sekilas yang sedang menerima telepon entah dari siapa, yang Anisa lihat Danu menerima telepon itu dengan wajah ceria dan banyak senyum.
Sudah dekat, Anisa sengaja berdiri dekat Danu. Dia sedikit menguping pembicaraan Danu dan orang di seberang telepon sana. Sembari mencatat apa yang di pesan oleh kedua rekan Danu.
"Danu, lo pesan apa?" tanya temab satunya, Anisa menatap Danu.
"Samakan aja sama kalian, gue lagi asyik nih." ucap Danu masih meladeni teleponnya.
Dua temannya hanya mencibir saja. Walau Danu direktur bank, namun jika bersama dengan kedua temannya itu bersikap layaknya berteman biasa.
"Iya, sayang. Ini aku lagi di kedai kopi bareng teman aku." kata Danu menjawab pertanyaan orang di balik telepon itu.
"Dia harus laporan terus ya, sama bocil itu?",tanya teman Danu pada teman satunya.
"Ya, dia kan belum absen hari ini." kata teman lainnya melirik Danu yang sedang asyik menelepon.
Anisa mendesah pelan, agak heran juga dia. Seberapa cantik sih anak SMA pacarnya suami Laras ini? gumam Anisa dalam hati.
"Mba, udah itu aja ya. Dan tolong jangan pake lama ya." kata teman Danu.
"Baik pak, di tunggu ya." Anisa menjawab cepat.
Karena dia tidak mau ketahuan sedang menguping pembicaraan Danu di telepon. Lalu Anisa pergi dari hadapan tiga laki-laki itu, menengok kembali ke arah Danu yang sudah selesai menelepon. Ada rasa kesal juga, namun Anisa diam saja. Hingga dia tidak sengaja menabrak Laras yang sedang membawa tepung.
"Astaghfirullahal adzim!" ucap Laras, dia memegang erat tepung yang hampir jatuh lalu menatap Anisa yang diam terpaku karena menabraknya.
"Kamu kenapa sih, Nis? Jalan kok lihat ke depan pengunjungke aja?" tanya Laras heran pada Anisa.
"Eh, Ras. Ngga apa-apa kok. Tadi kebetulan aku lagi nengok ke depan jadi aku ngga tahu ada kamu lewat." ucap Anisa berbohong.
"Ya udah, lain kali kalau jalan jangan sambil melamun." ucap Laras pada Anisa, dia lalu melangkah meninggalkan Anisa yang masih kaget.
"Iya Ras, aku tadi lihat suamimu di depan." gumam Anisa.
Anisa kemudian pergi ke tempat barista, menyerahkan catatan pesanan dan menunggunya di depan meja sambil memperhatikan ketiga laki-laki yang tadi memesan padanya.
Satria yang sedang membuat pesanan melirik ke arah Anisa yang masih memperhatikan pelanggan ketiga laki-laki di meja sana.
"Kamu kenapa melihat ke meja pelanggan itu?" tanya Satria yang meracik kopi pesanan Anisa tadi.
"Oh, ngga. Aku cuma heran aja sama cowok, kenapa ya suka banget selingkuh." ucap Anisa asal, matanya masih menatap ketiga laki-laki yang duduk di saja.
"Memangnya siapa yang selingkuh?" tanya Satria penasaran.
"Ya ada aja.",ucap Anisa memotong pembicaraan tadi agar Satria tidak terlalu banyak tanya.
"Nih, selesai. Jalannya jangan sambil melamun lagi, nanti nabrak lagi." kata Satria yang sejak tadi mengetahui kalau Anisa menabrak Laras.
"Heheh." Anisa tertawa kecik sambil mengambil nampan berisi tiga kopi.
Lalu dia mengantar pesanan ketiga laki-laki yang sedang mengobrol serius. Masih menatap Danu dari kejauhan, dia terus melangkah dan berpikir apakah dia akan memberitahu Laras kalau ada suaminya di kedai itu?
Sedangkan di belakang dapur, Laras sedang sibuk membantu mba Astri membuat brownis juga cup cake. Dia memperhatikan dengan serius apa yang di kerjakan mba Astri.
"Kamu suka membuat kue, Laras?" tanya mba Astri yang sedang mengaduk adonan dengan mikser.
"Suka mba." jawab Laras memperhatikan adonan yang sedang di aduk.
"Kamu bisa bikin kue apa?" tanya Astri.
"Ya paling bikin bolu, brownis juga bisa." jawab Laras masih serius memperhatikan apa yang di lakukan oleh Astri.
"Bikin kue tradisional bisa?" tanya Astri lagi.
"Bisa juga."
"Kenapa kamu ngga buka gerai kue tradisional aja?"
"Belum ada modal, juga ngga punya peralatannya, mba. Kalau ada modal buat beli peralatannya saya mau mba buka gerai kue tradisional." kata Laras.
"Mmm, iya juga ya. Harus punya modal dan butuh banyak uang buat beli peralatannya itu. Ya udah, kamu kumpulin modal dikit-dikit aja dulu. Kamu bisa buka gerai kue tradisional kalau modal sudah terkumpul, ngga harus banyak asal bisa beli alat yang di butuhkan dan beli bahannya juga." kata Astri memberi saran.
"Iya mba. Mba Astri sendiri kenapa ngga buka toko sendiri?" tanya Laras.
"Aku udah nyaman kerja di sini." jawab Laras.
"Karena bosnya, mba? Heheh." tanya Laras bergurau.
"Hahah! Bisa jadi. Tapi ngga juga, ya nyaman ajalah pokoknya. Pegawai disini enak semua, jadi nyaman." jawab Astri sambil tersenyum.
Laras pun ikut tersenyum, dia juga sebenarnya enak juga, padahal baru sehari. Tapi dia juga tidak tahu, kerja disini akan selamanya atau berhenti ketika waktu skors di perpustakaan itu selesai.Laras tidak mau ambil pusing,dia akan jalani dulu.Kedepannya dia tidak tahu bagaimana.
_
_
******************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Aisyah Luqman
lanjut ...
2022-12-16
0
Anita Almantik
lanjut
jangan pikirkan danu lagi laras
pikirkan masa depan mu
ibu ramona kan tdk ad lg yg membuat mu balas budi laras
2022-12-16
1
heni diana
Bagus laras jalani aja dulu sekarng mah fokus buat masa depan kamu maslah danu biarin aja lah klo pun cerai juga kmu mash perawan..
2022-12-16
0