Laras pergi menuju kedai kopi di mana Anisa temannya bekerja. Dia akan menerima tawaran bekerja di sana. Dia langsung naik angkot yang berhenti di depannya, tidak menggunakan ojek online karena waktu tidak mrmburunya untuk cepat datang.
Rasa kesal juga sakit hati dia abaikan, toh selama ini banyak kepahitan hidup yang dia rasakan. Jadi semua dia anggap biasa saja, bahkan perasaan cinta dan sayang pada laki-laki bahkan tidak dia tanggapi, meski pun dia juga dalam hati kecilnya membutuhkan itu dari laki-laki yang menjadi suaminya.
Dua puluh menit dia sampai di kedai kopi itu, dia langsung masuk menemui Anisa. Anisa pun menghampirinya lalu memeluknya dengan perasaan senang. Anisa membawa Laras masuk ke dalam dapur, kebetulan dia sedang santai.
"Ada apa gerangan sehingga kamu mau menerima tawaran yang sudah kadaluarsa itu?" tanya Anisa menggiring Laras untuk duduk di pojokan. Yang kebetulan suasana kedai lagi sepi.
"Aku di skors oleh pemilik perpustakaan selama sebulan" jawab Laras menghela nafas pelan.
"Lho, kok bisa?" tanya Anisa.
"Bisalah, aku bikin onar." jawab Laras cuek.
"Ck ck ck, Laras bikin onar di perpustakaan kayaknya mustahil. Ada apa sih? cerita dong." kata Anisa.
Dengan malas Laras menceritakan kejadian di perpustakaan secara gamblang sehingga dia harus di skors satu bulan.Dan untung saja dia tidak di pecat.
"Kejam banget sih pak Danu, hanya demi membela gadis manja seperti dia kok sampai mengabaikan peraturan. Cinta memang buta ya. Huff." ucap Anisa yang membuat Laras tertegun.
Kamu belum tahu apa yang aku rasakan, Nis. Mungkin nanti malam aku akan di usir dari kamarnya atau suruh keluar dari rumahnya. Gumam Laras dalam hati.
"Ya udah, kamu kerja di sini aja. Jangan di perpustakaan lagi. Lagi pula kan kamu pintar membuat kue. Pak Andre akan senang kalau kamu kerja di sini." ucap Anisa.
"Sebenarnya aku di amanatkan oleh ibu Ramona untuk tetap bekerja di perpustakaan. Tapi keadaannya begini, aku jadi merasa bersalah dengan almarhumah." kata Laras.
"Tapi kan anaknya yang bikin kamu ngga kerja di situ lagi. Lagi pula ibu Ramona sudah tidak ada, kan kamu bisa pindah kerja dan ada alasannya juga." kata Anisa.
Laras kembali membuang nafasnya, dia juga bingung. "Oya, pak Andre tahu aku mau kerja disini?"
"Tahu, waktu kamu menghubungiku aku langsung kasih tahu pak Andre dan dia langsung setuju. Kamu besok bisa langsung kerja." kata Anisa.
"Pak Andre baik banget ya, padahal aku dulu menolak dia." ucap Laras
Laras mengenang masa lalunya yang dulu pernah di tembak oleh Andre, tapi Laras menolaknya secara halus.
"Udah lama kali, Ras. Dia juga sekarang sudah punya pacar cantik dan juga baik." kata Anisa.
"Baguslah, setidaknya aku tidak merasa canggung nanti kalau sering ketemu." kata Laras.
Sedang asyik ngobrol, Andre orang yang mereka bicarakan datang menghampiri Laras dan Anisa. Dia duduk di samping Laras.
"Hai Laras, bagaimana kabarmu? Katanya kamu mau bekerja disini?" tanya Andre dengan wajah ceria.
"Iya, apa masih ada lowongan untukku pak Andre?" tanya Laras berbasa basi.
"Hahah! Kalau buat kamu selalu ada Laras. Kenapa tidak?" ucap Andre tersenyum.
Laras ikut tersenyum kaku. Tidak menyangka Andre begitu setia menunggunya untuk masuk jadi karyawannya.
"Terima kasih, pak Andre." ucap Laras.
"Jangan panggil pak dong Laras, terlalu formal kedengarannya." kata Andre.
"Baik kak Andre."
"Nah, begitu dong. Besok kamu mulai masuk jam delapan pagi ya, karena membuat kue cemilan itu lumayan butuh waktu banyak." kata Andre yang di angguki oleh Laras.
Sementara Anisa sudah kembali ke dapur, Laras bercerita sedikit dengan masalah di perpustakaan. Dan Andre mendengarkan dengan baik ucapan Laras.
"Mm..., aneh juga ya. Tapi ya sudah, kamu kerja di sini aja sama aku. Ada Nisa juga kan." kata Andre.
"Iya kak. Terima kasih sebelumnya mau menerima saya kerja di sini."
"Jangan sungkan, aku senang kamu mau bekerja di kedaiku." ucap Andre lagi.
Mereka asyik mengobrol tentang apa saja, hingga waktu sudah beranjak sore, Laras pun pamit pulang pada Andre dan Anisa. Dia tidam pulang ke rumah Danu, tapi pergi ke panti asuhan.
_
Laras masih di panti asuhan setelah pulang dari kedai kopi Andre. Dia membantu menyiapkan masak untuk makan malam anak-anak panti. Ibu Rima senang hari ini pekerjaannya cepat selesai karena di bantu Laras.
"Kamu ikut makan di sini ya Ras." ucap bu Rima sambil menumis sayur kangkung.
"Iya bu, saya ikut makan di sini." jawab Laras membereskan piring yang akan di sajikan di meja makan.
Jam delapan malam Laras masih di panti asuhan, dia ingin pulang namun ragu. Takut suaminya pasti membahas masalah tadi siang. Jika pun dia menginap di panti, rasanya tidak baik seorang istri menginap di tempat lain sedang dia sendiri belum izin.
Dalam kebimbangan itu, ibu Rima mendekati Laras yang sedang melamun di depan.
"Kamu menginap ya di sini." pinta ibu Rima.
"Ngga bu, sebentar lagi saya pulang kok." ucap Laras sedikit ragu.
Ibu Rima menghela nafas panjang,sekarang agak susah sekali meminta Laras menginap di panti.
"Kenapa sekarang kamu ngga mau menginap di sini?" tanya ibu Rima.
"Ngga apa-apa bu, saya ngga mau merepotkan ibu Rima." Laras memberi alasan yang masuk akal.
"Tapi ibu malah senang kamu menginap di sini." ucap ibu Rima kecewa.
Laras diam, dia tidak mungkin cerita kalau sekarang tinggal di rumah suaminya.
"Nanti bu kalau Laras ada waktu, menginap di sini.,Sekarang Laras pulang dulu, ngga enak sama ibu kost kalau saya pulang telat." kata Laras memberi alasan, dia takut suaminya marah saja dan ketahuan sudah menikah dengan Danu.
"Ras, ibu lihat kamu seperti banyak masalah." kata ibu Rima ketika dia mengantar Laras sampai di depan pagar. Laras diam, dan menunduk.
"Kalau ada masalah, cerita ya sama ibu. Ibu merasa tidak berguna jika tidak bisa membantu masalahmu." kata ibu Rima lagi.
"Iya bu. Laras akan cerita kalau ada masalah berat. Maafkan Laras ya bu." kata Laras sedih.
Dia bukannya menghindari ibu Rima dan tidak mau bercerita, tapi dia bingung. Maka dari itu, dia lebih baik diam dulu. Selama dia bisa mengatasi masalahnya.
Ojek online pun datang, Laras menyalami tangan ibu Rima dan naik ojek online untuk pulang ke rumah suaminya.
_
Sampai di rumah Danu, dia diam lalu melangkah ragu. Di lihatnya mobil Danu sudah terparkir di tempatnya. Dia melangkah masuk ke dalam rumah,membuka pintu dengan pelan dan langkah pelan menuju ruang keluarga.
Dan Laras berhenti di depan kamar suaminya, dia menatap pintu itu yang tertutup. Dia tidak tahu di belakang Danu sudah berdiri dengan wajah marah dan dingin.
"Bagus sekali ya, kamu pulang malam setelah tadi siang membuat kekacauan di perpustakaan!" ucap Danu dengan keras sambil bersedekap.
Laras berbalik, dia menatap suaminya. Di rumah suaminya itu Laras tidak bisa membantah apapun, karena dia tahu dia hanya menumpang di rumah itu.
"Maaf mas, saya tadi dari panti asuhan." ucap Laras memberi alasan.
"Aku tidak peduli kamu dari mana, sekarang kamu keluar dari rumahku. Sejak semula aku tidak suka sama kamu, dan tadi siang kamu membuatku benar-benar membencimu!" kata Danu dengan lantang dan nada kebencian.
"Aku minta maaf mas, gadis itu saja yang salah. Aku sudah kasih tahu dia kalau ..."
"Tutup mulutmu!" ujar Danu membentak Laras.
Laras diam,dia terkejut dan menatap suaminya lekat. Amarah itu kembali muncul di wajah Danu seperti tadi siang. Kali ini Laras benar-benar bingung dan takut dengan sikap Danu.
"Sekarang cepat kamu kemasi barang-barangmu dan pergi dari rumahku!" kata Danu.
"Mas, maafkan aku." ucap Laras.
"Cepat keluar dari rumahku! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi." kata Danu.
Hati Laras sakit, dia di usir dari rumah hanya gara-gara gadis manja itu? Apa sebegitu cintanya dia pada gadis itu sehingga membuat Laras harus dia usir, dan malam begini. Laras itu istrinya, tega sekali dia mengusir istrinya hanya demi gadis lain.
"Tapi mas, ini sudah malam. Kalau bisa besok saja aku pergi."
"Jangan membantah, aku tidak peduli kamu tidur di jalanan atau jadi gembel!"
Deg!
Air mata Laras mengalir, dia benar-benar sedih dan kecewa. Tapi dia mau bilang apa? Itu rumah suaminya, dia tidak berhak membantah atau menawar.
Tanpa menunggu lagi, Laras masuk ke dalam kamar Danu untuk mengambil baju yang tidak seberapa banyak. Dia memasukkan semuanya ke dalam tasnya, mengalir lagi air matanya tapi dia usap kembali.
Setelah selesai, Laras keluar dari kamar suaminya itu dan menghampiri Danu. Menatapnya dengan kebingungan dan ketidak percaya. Lama dia menatap Danu, kemudian tangannya dia ulurkan untuk menyalami suaminya namun Danu diam saja.
Karena Danu diam saja tanpa mengulurkan tangannya, Laras akhirnya berbalik. Melangkah pergi meninggalkan suaminya yang masih terlihat marah. Laras menengok lagi ke arah suaminya, namun tetap seperti tadi.
Laras melangkah keluar dari rumah. Berdiri di depan gerbang setelah dia keluar dari halaman rumah Danu. Dia kembali menatap rumah itu, dia bingung mau tidur di mana malam ini. Sedangkan di kostanya dulu mungkin sudah di tempati orang lain.
_
_
****************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Cahaya Hayati
suatu saat kau menyesal tapi waktu itu sudah terlambat danu .
2023-03-29
0
Anita Almantik
jangan mau d tindas laras...
orang yang kamu segani udah meninggal
2022-12-15
2
heni diana
Ampun kejam bngt kamu danu,, aku maunya si gadis SMA g bner cinta sama danu dan hanya memanfaatkan ke royalan danu sma dia.. Sbar laras kmu wanita tangguh ras
2022-12-15
1