Hampir satu minggu Laras menunggu telepon dari Danu, dia gelisah. Di kedai kopi juga dia banyak melamun. Membuat Anisa jadi heran melihat Laras banyak diam. Laras sebenarnya lebih senang tinggal di kostan bersama Anisa, dia hanya bingung dan tidak mau mengabaikan surat wasiat mertuanya. Namun demikian semua tergantung suaminya.
"Kamu akhir-akhir ini banyak diam, Ras. Ada apa?" tanya Anisa sewaktu keduanya sedang di ruang ganti.
"Aku bingung dapat surat wasiat dari ibu Ramona." jawab Laras lirih.
"Surat wasiat?" tanya Anisa.
"Iya."
Lalu Laras mengeluarkan surat yang selalu dia bawa kerja di tasnya. Anisa mengambil surat itu,dia membuka isinya dan membacanya. Tampak wajah Anisa mengerut heran.
"Terus, kamu harus gimana?" tanya Anisa
"Aku tidak tahu." jawab Laras bingung.
"Kamu menunggu suamimu menghubungimu?" tanya Anisa.
Laras menunduk, perkataan Anisa membuat Laras gelisah. Anisa menatap sahabatnya itu dengan rasa kasihan. Dilema memang, dia di usir dari rumah suaminya sedangkan surat itu meminta Laras untuk tidak meninggalkan suaminya.
"Tapi, suamimu dapat surat juga ngga? Kalau dapat surat dari ibunya, kemungkinan kamu juga akan di hubungi oleh suamimu." ucap Anisa, Laras masih diam.
"Salah ngga kalau aku mengabaikan surat wasiat itu?" tanya Laras.
"Aku ngga tahu, tapi kalau mengabaikan permintaan terakhir dari orang yang sudah meninggal ngga etis, Ras. Kurasa di alam sana ibu Ramona akan bersedih." kata Anisa.
"Tapi bukan aku yang meninggalkan mas Danu, tapi dia sendiri yang mengusirku dari rumah." kata Laras.
"Ya udah, jangan di pikirkan. Kamu kerja aja seperti biasa.Kalau suamimu menghubungimu,tinggal terima aja.Jangan sedih gitu."ucap Anisa memberi semangat pada Laras.
Laras mengangguk,dia akan mengikuti saran Anisa untuk mengabaikan surat itu dulu.Jika Danu menghubungi dan memintanya kembali ke rumahnya,dia akan menerimanya demi sebuah surat wasiat mendiang mertuanya.
_
Sepuluh hari Laras menunggu,dan siang ini Laras mendapat telepon dari Danu.Laras tertegun,dia melihat nomor suaminya menghubunginya.Di kala dia melupakan telepon dari Danu,tiba-tiba suaminya itu menghubunginya.Lama dia membiarkan dering telepon itu.
"Halo?"
"Kamu lama banget ngangkat teleponnya!"bentak Danu.
"Maaf mas,saya lagi kerja."ucap Laras memberi alasan.
"Alasan!"
Laras diam,dia menghela nafas panjang.Baru menelepon sudah ketus begitu.
"Ada apa mas Danu?"tanya Laras pelan.
"Kamu pulang ke rumah sore ini.Ada yang ingin aku bicarakan."titah Danu masih dengan nada ketus.
Laras kembali diam,dia menimbang apakah itu karena surat wasiat dari ibunya?
"Laras! Kamu dengar tidak?!"teriak Danu di seberang sana.
"Iya,mas.Saya dengar."jawab Laras pelan,menghela nafas lagi.
"Kamu harus pulang,jangan membantah!"teriak Danu lagi.
Klik
Laras menatap ponselnya,sejujurnya dia enggan pulang ke rumah suaminya.Menelepon saja Danu tidak ada lembut-lembutnya,selalu kasar.Apa lagi nanti di rumah.Tapi dia harus pulang sore ini,menolak ajakan suaminya juga tidak baik.Bukankah dia selalu menunggu telepon suaminya dan mengajaknya pulang?
Tapi,bagaimana dengan pekerjaannya yang sampai jam sembilan malam? Apa dia harus ijin lagi? Dengan alasan apa?
Di tengah kebingungannya,Anisa kembali mendatangi Laras yang masih diam.Anisa tahu Laras dapat telepon dari suaminya.
"Ada apa?"tanya Anisa.
Laras menatap Anisa,dia bingung harus berkata apa.
"Dapat telepon dari suamimu?"
Laras mengangguk lalu menunduk,dia duduk di kursi di pinggir dapur.
"Ngomong apa suamimu?"
"Sore ini aku harus pulang.Aku bingung ijin sama kak Andrenya dengan apa alasannya."ucap Laras lesu.
Anisa menghela nafas panjang,apa sebegitu takutnya Laras pada suaminya? Dia ingin membantu sahabatnya itu.
"Kamu pulang aja,biar aku yang akan meminta ijin buat kamu."
"Nanti kamu mau kasih alasan apa sama kak Andre?"
"Udah tenang aja,itu urusanku.Kamu pulang aja ke rumah suamimu."
"Terima kasih,Nis.Kamu baik banget sama aku."ucap Laras tersenyum,Anisa pun ikut tersenyum.
Satu jam lagi Laras pulang,dia kini lebih rajin sebelum dia pergi dari kedai kopi itu.Dia juga merasa tidak enak sama mba Astri,selalu ijin dan meninggalkan pekerjaannya.Walaupun dia membantu mba Astri membuat adonan dan menyiapkan bahan saja,tapi tetap saja Laras merasa tidak enak hati.
Jam lima sore Laras bergegas pulang setelah dia ijin pada mba Astri.Walau sebenarnya mba Astri penasaran kenapa Laras sering ijin,namun dia tidak mau bertanya.
Setelah sampai di rumah sauminya di antar ojek online,Laras masuk pagar yang masih tertutup.Dia mendorongnya dan melangkah lebih dalam.Mobil Danu belum datang,artinya suaminya itu belum ada di rumah.
Laras duduk di kursi depan teras,dia yakin pintunya di kunci.Laras menunggu Danu pulang,dia berjalan mondar mandir di teras rumah.
Walau dulu hanya beberapa minggu tinggal di rumah itu,namun Laras tidak pernah berkeliling sekitar rumah.Karena ketika suaminya berangkat,dia pergi ke perpustakaan dan pulangnya hanya di dalam rumah,menyiapkan makan malam lalu langsung tidur.Tak ada kegiatan apapun,semuanya di lakukan seperti itu.
Sepuluh menit menunggu,mobil Danu memasuki halaman rumah.Laras berdiri tepat di depan pintu rumah,ragu dia menghampiri suaminya untuk bersalaman.Tapi tangan kanan Danu di masukkan ke dalam saku celana menghindari tangan Laras untuk menyalaminya.Merogoh sakunya mengambil kunci di dalam saku itu,lalu membuka pintu rumah.
Laras yang mendapat penolakan dari suaminya hanya diam mematung,suaminya masih dingin dan acuh.
Ah,apa yang Laras harapkan dari Danu.Dia sadar suaminya itu hanya ingin memenuhi wasiat ibunya saja.Kembali Laras menarik nafas panjang,menbuang rasa sedih dan perih di hatinya atas penolakan Danu.
Lalu dia masuk ke dalam rumah,duduk di ruang tamu.Tanpa masuk lebih dalam ke kamar suaminya itu.
Tak lama Danu keluar dan menghampirinya.Laras bangkit,dia berdiri agar suaminya duduk juga di sofa.
"Kamu bereskan kamarnya,besok kamu ambil barang-barangmu.Dan mulai besok kamu tidak boleh kerja lagi,cukup di rumah saja."ucap Danu,lalu dia pergi tanpa mendengar perkataan Laras.
Laras makin bingung,dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi suaminya itu.Yang memerintahnya seenaknya tanpa mau mendengar keluhannya.
Laras mengejar Danu untuk masuk ke dalam kamar.
"Nanti malam aku bicarakan apa yang tadi di telepon.Sekarang kamu bereskan ranjangku dan sofa kamu juga."
Setelah berkata seperti itu,Danu pergi meninggalkan Laras yang masih kebingungan dan ingin mengatakan sesuatu.Kembali Laras kecewa,dia menatap suaminya yang sudah masuk ke dalam mobil hendak keluar lagi.
_
_
_
☆☆☆☆☆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Anita Almantik
ku menangis
2022-12-19
1
Erna Riyanto
q kok ikut geregetan sm si Danu ini....kok kyk GK punya hati....gitu bgt sm laras
2022-12-18
1
heni diana
Astagfirullah si danu makin g jelas aja apa maksdnya g punya hati bngtt sich..jngn sampai dia cuman mau jadiin laras buat beres" rumah aja tnpa perhatian layaaknya suami terhadap istri mna ketus gth mending pergi aja laras kamu juga g dia anggap..
2022-12-17
1