Malam hari, waktu sudah pukul sembilan lebih. Waktunya pulang, karena memang kedai di mana Laras bekerja hanya beroperasi sampai jam sembilan malam. Namanya kedai kopi, tapi tidak sesuai namanya untuk bahan tongkrongan anak muda seharusnya, tapi kedai kopi milik Andre seperti kafe biasanya jam operasinya.
"Laras, kamu sudah beres-beres?" tanya Anisa.
"Sudah, ini baru selesai." jawab Laras merapikan bajunya.
"Ya udah yuk, pulang." ajak Anisa.
"Ayo." jawab Laras mengambil tas ransel kecilnya.
"Oya, tadi kok aku ngga lihat kak Andre ya?" tanya Laras.
"Aku juga ngga tahu, dari datang tadi pagi ngga lihat. Kenapa?" tanya Anisa.
"Ngga apa-apa. Nah itu ojeknya datang." jawab Laras.
Lalu keduanya naik ojek online yang mereka pesan sebelumnya. Mereka senang bisa kerja di kedai kopi milik Andre, meski lelah tapi sangat menyenangkan bagi Laras.
Tapi berbeda dengan pikiran Anisa, dia memikirkan Danu. Pembicaraan Danu yang mesra pada seseorang yang mungkin itu pacarnya, dari pembicaraan dua temannya itu. Memang Danu menelepon pacarnya, tapi siapa pacar Danu?
"Sudah sampai mbak." kata abang ojol.
Anisa diam saja, dia masih memikirkan tadi siang. Laras heran kenapa Anisa belum juga turun dari motor abang ojolnya.
"Mbak, sudah sampai nih di jalan mawar." kata abang ojol lagi.
"Anisa!" teriak Laras.
"Eh ya, Ras?"
"Kamu kenapa melamun?"
"Oh maaf bang, heheh." kata Anisa turun dari motor dan menyerahkan ongkosnya.
Laras menggeleng kepala saja, Anisa menatap Laras dengan senyum getir. Dia bukannya memikirkan suami sahabatnya itu, tapi sikap Danu saat menelepon seseorang di telepon.
_
Satu minggu sudah Laras bekerja di kedai kopi milik Andre, dia sangat bersemangat dan senang. Melupakan statusnya juga kesedihannya. Selama seminggu itu juga, Danu suaminya tidak pernah mencari atau sekedar meneleponnya.
"Kamu ngga di cari suamimu, Laras?" tanya Anisa.
"Ngga tahu, biarkan aja. Aku juga udah ngga peduli." jawab Laras.
"Bagaimana dengan statusmu? Kamu kan masih istrinya, kalau kamu ada yang suka. Bagaimana?" tanya Anisa lagi.
Laras diam, dia menatap Anisa lekat. Pertanyaan Anisa sungguh membuatnya berpikir. Benar sekali, kalau dia ada yang menyukai dan ingin melamarnya bagaimana? gumam Laras.
Dia menunduk, kebingungannya mulai terlihat.
"Jangan di pikirkan, aku hanya bertanya aja kok." ucap Anisa merasa tidak enak pada Laras.
"Aku mau fokus kerja aja dulu. Kalau sampai berbulan-bulan mas Danu ngga mencariku, artinya dia menceraikan aku." ucap Laras lirih.
"Ya benar, kamu juga bisa mengajukan gugatan perceraian kok jika memang Danu tidak pernah mencarimu." kata Anisa.
"Ya. Kita kerja lagi yuk." kata Laras.
"Ayok!"
Laras tersenyum, getir sekali rasanya. Walau belum ada rasa cinta di hati Laras untuk suaminya, namun jika sudah menikah dia tetap menghormati dan akan melayani suaminya.Tapi kenyataannya dia malah di usir dari rumah suaminya itu.
Laras menghela nafas panjang, dia tersenyum menatap Anisa lagi, Anisa pun membalas senyuman Laras. Lalu keduanya tertawa lepas.
"Kalian menertawakan apa?" tanya Andre yang tiba-tiba datang dan langsung ikut duduk di samping Laras.
"Ngga apa-apa,kak. Hanya ada sesuatu yang lucu aja." jawab Laras melirik Anisa yang di angguki oleh temannya itu.
"Apa tidak sibuk, pak Andre?"tanya Anisa.
Sejujurnya jika dia ngobrol dengan Laras ada bosnya itu merasa tidak enak. Mau bercanda juga sedikit kaku, berbeda dengan Laras. Dia santai dan biasa saja, walaupun dia pernah menolak Andre tapi sekarang dia biasa saja. Karena Anisa bilang Andre sudah punya pacar.
Tak lama, seorang perempuan masuk dan ikut bergabung dengan mereka. Dia tersenyum pada Andre dan cipika cipiki padanya. Mulanya Andre kaget, namun dia biasa lagi. Perempuan itu duduk di samping Andre dan memandang Laras yang tersenyum padanya.
"Dia karyawan barumu?" tanya perempuan itu.
"Iya,,dia Laras. Baru seminggu bekerja di kedaiku." kata Andre memperkenalkan pada perempuan itu.
"Salam kenal." ucap Laras sopan sambil membungkuk.
"Oh, salam kenal juga. Saya pacar Andre, namaku Tania." ucap Tania ramah sambil menyalami Laras dan Anisa.
Andre hanya diam, dia melirik Laras yang masih tersenyum senang lalu membuang muka ke arah lain.,Dia sempat dia melihat Anisa meliriknya juga.
"Ras, waktu istirahat sudah selesai. Ayo kita kerja lagi." kata Anisa menarik tangan Laras.
Laras pun bangkit, dia juga merasa tidak enak harus berlama-lama di situ. Mengganggu mereka berdua, pikir Laras.
"Saya ke belakang dulu kak Andre, mba Tania." ucap Laras membungkuk dan pergi dari hadapan Andre dan Tania.
Andre menghela nafas pelan, baru juga duduk sebentar dengan Laras harus ketemu lagi dengan Tania, pikir Andre. Dia melirik Tania yang memainkan ponselnya.
"Sayang, yang ini bagus ngga?" tanya Tania menunjukkan sesuatu di ponselnya pada Andre.
"Emm, bagus." jawaban Andre hanya singkat, lalu dia bangkit dari duduknya dan melangkah ke dalam ruang kantiornya.
Tania hanya meruncingkan bibirnya ke depan, kemudian dia bangkit dan mengikuti kemana Andre melangkah masuk menuju ruang khusus kantornya.
_
_
*******************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
abdan syakura
Jgn lupa Laras..
gugat cerai Danu ..jija
dia tdk memberimu nafkah lhr dan bathin
2023-03-21
0
heni diana
Semngat laras bekrjalah dengn giat lupa saja orang yg tak pernah menganggapmu raih lah kebhagianmu laras..
Mas andre mash ada hati ya sma laras??..
2022-12-17
0
Aisyah Luqman
lanjut ...
2022-12-16
0