Laras mengambil ponselnya, dia akan menghubungi Anisa. Barangkali Anisa bisa menampungnya tidur di kostnya, setidaknya hanya malam ini saja. Dia memencet nomor Anisa dan tersambung.
Tuut.
"Assalamu alaikum, Ras.A da apa malam begini menelepon?" tanya Anisa di seberang sana.
"Wa alaikum salam Nis, aku boleh ngga aku nginep di tempat kamu malam ini?" tanya Laras ragu.
"Iya boleh, datang aja ke kostanku."
"Ya, aku sedang pesan ojol. Maaf ya merepotkanmu malam-malam begini." kata Laras.
"Ngga apa-apa, kebetulan teman satu kostku sedang pulang ke kotanya.Kamu datang aja kesini." kata Anisa dengan senang walau dia heran dengan Laras.
"Ya udah, aku tutup teleponnya. Aku pesan ojol dulu. Assalamu alaikum." Laras menutup sambungan teleponnya dengan Anisa.
Kemudian membuka aplikasi ojol. Menyematkan alamat yang di tuju, ke kost Anisa. Setelah selesai, dia menunggu abang ojol datang.
"Mbak Laras?"
"Ya, ke jalan Mawar ya."
"Oke mbak."
Laras naik motor abang ojol tersebut. Dan motor pun melaju, sepanjang perjalanan dia banyak melamun dan memikirkan tindakan Danu padanya. Hingga satu jam dalam perjalanan, Laras akhirnya sampai di kostan Anisa.
Anisa sudah menunggu di depan gerbang,,yang sebelumnya dia sudah minta izin pada ibu kost kalau ada temannya yang mau menginap di tempatnya. Memang kostan Anisa agak ketat menerima tamu, karena itu untuk menjaga kenyamanan penghuni lainnya.
"Ayo masuk, aku sudah izin sama ibu kost."kata Anisa ketika Laras sudah membayar ongkos ojol.
Laras mengikuti Anisa dari belakang. Sebenarnya Anisa heran dengan bawaan tas besar yang di bawa Laras, tapi dia tahan untuk bertanya di dalam kamarnya saja. Tidak enak di dengar yang lain cerita Laras.
Setelah sampai di kamar, Laras meletakkan tasnya di pinggir dipan kecil milik Anisa. Dia memandang sekeliling ruangan kamar itu. Anisa memberikannya minum air putih dan Laras menerimanya sekaligus meneguknya sampai habis.
"Terima kasih." ucap Laras meletakkan gelas di meja samping dipan.
Anisa memandangi Laras, dia melihat ada bekas air mata di pipinya. Laras merasa di pandangi Anisa jadi tidak enak, dia membuang wajahnya ke samping lalu menunduk.
"Kamu kenapa malam-malam begini bawa tas besar? Di usir?" tanya Anisa yang sejak tadi penasaran dengan bawaan Laras.
Laras hanha mengangguk, dia menatap Anisa lekat. Haruskah dia cerita semuanya pada Anisa?
"Kamu telat uang bayar kost?" tanya Anisa masih penasaran.
Laras kembali menatap Anisa lekat, lalu menghela nafas berat. Memang sebaiknya cerita pada sahabatnya itu. Dia kembali menghela nafas panjang, memastikan Anisa bisa di percaya tidak membocorkan semua yang dia alami.
"Aku mau cerita, tapi kamu janji jangan cerita ke siapa-siapa. Karena ini adalah rahasia." kata Laras.
"Memang kamu punya rahasia apa?" tanya Anisa semakin heran.
"Sebenarnya aku itu sudah menikah." ucap Laras menatap Anisa lekat.
"Apa?!" ucap Anisa kaget, tidak percaya.
Laras menutup mulut Anisa yang menganga karena kaget.
"Ssst, jangan teriak. Kamu nanti membuat yang lain kaget." kata Laras melepas tangannya dari mulut Anisa.
"Aku kaget, Laras. Kamu itu ada-ada aja deh. Menikah? Dengan siapa?" tanya Anisa bingung.
Laras menarik nafas panjang, kemudian dia menceritakana dari pertama dia di panggil untuk datang ke rumah sakit dan di sana telah menunggu dirinya. Semua telah di rencanakan oleh ibu Ramona, menikah dengan Danu anaknya. Hingga akhirnya dia tinggal di rumah suaminya beberapa minggu ini.
Sampai perjanjian dia dan Danu kalau di luar rumah tidak saling kenal. Hingga dia bisa di usir dari rumah suaminya. Laras menunduk, dia merasa seperti anak yang terbuang. Merasa miris sendiri.
Anisa yang memdengar cerita Laras jadi kasihan, malang sekali hidup Laras. Dia menggeser duduknya dan memeluk gadis malang itu. Dia tahu Laras itu gadis yang kuat dan tegar, tapi jika menimpa masalah bertubi-tubi seperti itu, tetap saja akan runtuh juga hatinya.
"Kamu yang sabar ya, Ras. Aku tahu kamu kuat orangnya." kata Anisa masih memeluk Laras.
Mau tidak mau, Laras pun akhirnya menangis terisak, dia merasa sakit dan kecewa dengan hidupnya. Meski dari kecil dia berusaha jadi gadis yang baik, tetap saja ada yang tidak menyukainya. Anisa semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan menangis lagi, kamu harus kuat Ras. Aku yakin semuanya akan berlalum" kata Anisa lagi.
"Iya, Nis. Terima kasih ya, kamu sahabatku satu-satunya yang bisa mengerti aku." kata Laras menghapur air matanya.
"Tega benar ya pak Danu, demi gadis manja itu sampai mengusirmu. Malam-malam lagi, apa tidak menunggu besok dulu." kata Anisa.
"Aku sudah bilang. Tapi dia tetap tidak peduli." kata Laras.
"Aku kok jadi kesal ya sama pak Danu itu. Kupikir dia itu pendiam dan baik orangnya, tapi ternyata sikap diamnya itu mengandung banyak masalah." kata Anisa lagi ikut kesal.
"Sudahlah, jangan pikirkan masalahku. Aku minta kamu tutup mulut dengan statusku ini. Karena itu permintaan mas Danu, dan juga orang-orang belum tahu dengan statusku itu. Dan lagi pula sekarang juga aku tidak peduli. Ibu Ramona juga sudah tiada, ngga akan meminta pertanggung jawaban dariku juga mas Danu." ucap Laras, dia menghela nafas panjang. Berusaha menerima kenyataan hidupnya.
"Ya udah, kamu sementara tinggal di sini aja. Kebetulan teman kostku dia pulang ke kotanya seminggu. Nanti aku bilang sama ibu kost." ucap Anisa.
Dia merangkul Laras lagi, memberi kekuatan pada gadis itu. Sungguh malang sekali nasibnya, dari kecil hidup di panti asuhan hingga lulu SMA dia bekerja dan ngekost sendiri, walau ibu Rima menahan jangan pergi dari panti namun dia merasa tidak enak harus hidup di panti. Sedangkan di panti banyak sekali anak-anak yatim yang di tampung di sana.
"Besok kita bisa berangkat kerja bareng, ya." ucap Anisa melepas pelukannya.
"Iya. Mm, tapi aku nanti ngga lama di sini. Mau cari kost lagi di tempat lain." ucap Laras.
"Kalau tidak salah, kamar sebelahku mau pindah kost. Kamu ngekost di sini saja." ucap Anisa.
"Benarkah?"
"Iya, nanti aku tanyakan sama orangnya besok."
"Baiklah, terima kasih ya. Aku tunggu kabar darimu dengan kamar kost itu."
"Oke."
Lalu Laras berbaring di kasur sebelah Anisa, milik teman Anisa yang pulang ke kotanya.
"Di sini nyaman ngga, Nis tempatnya?Maksudnya lingkungannya?"
"Kalau ngga nyaman, dari dulu aku sudah pindah ngekost."
"Enak ya, nyaman." ucap Laras menatap langit-langit setelah dia berbaring di atas dipan teman Anisa.
Anisa tersenyum, dia memandang Laras yang sedang melamun. Andai dia jadi Laras, sudah tentu akan menolak perjodohan itu. Tapi sepertinya Laras sedang membalas budi terhadap ibu Ramona. Walau hidupnya yang jadi taruhannya, terasa pahit dan kemalangan yang dia dapatkan.
Tak berapa lama, Laras dan Anisa tertidur. Mereka mengobrol sebentar lalu terlelap setelah mengganti pakaian. Malam semakin larut, perjalanan masih panjang untuk Laras. Dan ujian apa lagi yang akan dia terima nanti, yang jelas saat ini dia ingin tidur dengan tenang.
_
_
****************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
heni diana
Alhamdulillah mash ada annisa yg bisa menerima keluh kesahmu laras kamu tangguh buktikan sma danu kmu mash bisa hidup tanpa dia..
Biarlah dia yg menyeaal udah nyianyiain kmu..
2022-12-16
2
Anita Almantik
jangan balik lagi k pustaka laras
kerja aj sm andre
kayak ny andre masih suka tu...
udah jelas cinta suami bukan tuk mu laras.
2022-12-15
0