Siang ini Danu dapat kabar bahwa ibunya kritis di rumah sakit, dengan segera dia merapikan meja kerjanya hanya map penting yang dia rapikan dan mengambil tasnya. Kristin sekretarisnya masuk ke dalam ruangannya dengan membawa makanan yang dia pesan tadi sama OB. Dia heran bosnya buru-buru keluar ruangan.
"Lho pak Danu, ini makanannya sudah datang. Bapak mau kemana?" tanya Kristin heran.
"Buat kamu saja, ibu saya kritis di rumah sakit. Saya segera ke rumah sakit sekarang, dan tolong meja kerja saya di bereskan, Kris." ucap Danu, wajahnya tampak panik sekali.
"Baik pak. Turut berduka cita pak Danu." ucap Kristin, dia merasa prihatin dengan bosnya itu.
Danu berjalan dengan cepat, langkahnya benar-benar tak bisa di hentikan ketika ada yang menyapanya dia hanya mengangguk saja.
Wajah gelisah tampak di sana, suara dering ponselnya tak henti-henti. Dia mengangkat telepon masih dengan wajah cemas.
"Halo."
"Assalamu alaikum, mas Danu sudah di jalan? Ibu kritis mas." kata suara di balik sambungan telepon itu.
"Iya, aku sudah tahu." jawab Danu datar.
Lalu dia menutup teleponnya tanpa mengucapkan apapun lagi. Dia menuju parkir dan memencet tombol kunci, membuka pintu dan langsung masuk. Semenjak menikah dia tidak memakai supir lagi, karena enggan akan di ketahui oleh supirnya dengan statusnya.
Danu melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas delapan puluh kilo meter perjam. Dia ingin cepat sampai di rumah sakit. Dering ponselnya berbunyi lagi, dia melihat nama Laras di sana.
"Ck, kenapa lagi?!" tanya Danu ketus, dia memang tidak suka Laras terus meneleponnya, juga dia sedang terburu-buru.
"Apa mas Danu akan menjemputku untuk ke rumah sakit sama-sama?" ucap Laras ragu.
"Kamu kesana saja sendiri, naik ojek. Jangan menungguku!" kata Danu.
Klik!
Lalu Danu menutup teleponnya dan terus melajukan mobilnya dengan kencang. Setengah jam Danu sampai di rumah sakit, setelah memarkirkan mobilnya dia langsung menuju ruang ICU di mana ibunya di rawat.
Dia melihat banyak selang di tubuh ibunya. Mesin pengukur detak jantung berjalan agak lurus, dan sesekali menampakan cekungan kecil di layar itu. Danu masuk dengan menggunakan baju steril juga masker, dia mendekat pada ibunya memegang tangannya.
Dia merasakan tangan ibunya sudah dingin seperti es. Tangan Danu bergetar ketika membelai wajah ibunya yang masih di pasang selang. Seketika, di layar monitor detak jantung tiba-tiba berubah jadi lurus dan berbunyi. Danu menjerit keras.
"Ibu, tolong jangan tinggalkan aku bu. Bangun bu, ini Danu. Hik hik hi." Danu memegang tangan ibu Ramona yang sudah terkulai.
Air mata Danu meluncur, suara isak tangisnya tak terbendung. Dua orang perawat masuk dan memastikan denyut nadi dan melihat mesin detak jantung. Dan setelah di pastikan ibu Ramona sudah tidak bernafas, perawat melepas semua alat yang menempel di tubuh ibu Ramona.
Danu masih menangis, ketika Laras baru sampai di ruangan itu. Dia tertegun, menatap ibu mertuanya yang sudah terbujur kaku. Sedangkan Danu masih memeluk tubuh ibunya. Laras ikut menangis, dia mendekat di sisi sebelah tangan mertuanya.
Tangannya memegang tangan ibu Ramona dan terisak, tak kuat akan kepergian mertuanya yang sangat baik itu. Setelah tangis keduanya berhenti, Laras beralih pada Danu untuk segera keluar. Di pegang tangan suaminya, namun Danu menepiskan tangannya. Membuat Laras terkejut dan dia tertegun.
Laras menarik kembali tangannya yang tadi terulur, di genggamnya telapak tangan yang tadi di tepis oleh suaminya. Dia keluar sendiri, menoleh menatap wajah mertuanya sekali lagi yang sudah berubah menjadi pucat.
Dia duduk di ruang tunggu,menunggu suaminya keluar.Setengah jam sudah menunggu,baru Doni keluar. Semua perawat di bagian ICU mengurus jenazah ibu Ramona, langsung di mandikan juga di kafani.
Dua jam Danu dan Laras menunggu pengurusan jenazah. Setelah selesai, jenazah ibu Ramona di masukkan ke dalam peti mati dan di bawa ke mobil ambulans. Danu meminta langsung di kuburkan di TPU setelah di sholati. Laras heran dengan permintaan suaminya.
"Mas kenapa langsung di kubur? Apa tidak di bawa dulu di rumah ibu?" tanya Laras heran.
"Ribet lagi kalau di bawa ke rumah ibu, nanti lama lagi karena banyak yang menjenguk. Aku tidak mau berlarut-larut." kata Danu malas berdebat dengan Laras.
"Tapi bagaimana dengan saudara ibu? Juga pengurus yayasan panti asuhan yang ingin melihat jenazah ibu untuk terakhir kali. Apa mas Danu tidak kasihan dengan mereka yang merasa dekat dengan ibu, tapi tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kali." ucap Laras bersikeras untuk membawa jenazah mertuanya singgah di rumah duka.
"Siapa yang akan mengurus? Kamu?" tanya Danu kesal.
"Iya, aku yang akan mengurus semuanya." ucap Laras lantang, dia tidak habis pikir dengan pemikiran suaminya itu.
"Ck, terserah kamu. Bawa ibu ke rumah duka di rumah ibu dan urus semuanya." ucap Danu acuh.
Kemudian dia menyuruh supir ambulans untuk di bawa ke rumah ibunya. Biar saudara dan pengurus yayasan panti asuhan bisa melihat untuk terakhir kali.
Lalu Laras ikut ke mobil ambulas, dia memberi petunjuk kemana mobil itu melaju. Satu jam setengah mobil ambulans tiba di rumah duka, benar saja di sana sudah banyak yang menunggu kedatangan jenazah ibu Ramona. Dari yayasan panti asuhan juga saudara dari ibu Ramona.
Semua tampak bersedih dan merasa heran kenapa hanya Laras yang ikut di mobil ambulans itu. Ada bisik-bisik di dalam rumah itu, namun Laras tidak peduli.
Meski memang Danu tidak terlalu dekat dengan ibunya, namun ibu Ramona menyayangi Danu. Danu orang yang pendiam dan juga keras wataknya, jadi tidak ada yang bisa membantah selain ibunya.
"Pak Danu ngga ikut ke mobil ambulans itu?" tanya ketua yayasan panti asuhan, ibu Rima pada Laras.
"Mas Danu naik mobil sendiri bu, kalau di tinggal mobilnya siapa yang bawa pulang." kata Laras beralasan.
"Apa tidak sama supir?" tanya ibu Rima lagi.
"Sudah dua hari supirnya di berhentikan. Jadi mas Danu menyetir sendiri." ucap Laras lagi.
"Kamu banyak tahu tentang pak Danu, Laras." ucapan ibu Rima membuat Laras diam.
Dia diam, hanya menunduk. Tidak mungkin dia mengatakan kalau Danu adalah suaminya. Tidak ada yang tahu kalau dia dan Danu sudah menikah, bahkan ibu Rima pengurus panti asuhan pun tidak tahu, karena Danu meminta jangan memberitahu siapa pun. Termasuk ibu Rima.
"Laras, apa kamu mulai dekat dengan pak Danu?" tanya ibu Rima menyelidik.
"Saya sempat melihat mas Danu menyuruh supirnya pulang waktu di rumah sakit. Jadi saya tahu bu." jawab Laras memberi alasan yang masuk akal.
"Oh, ibu kira kamu mulai dekat dengan pak Danu. Ibu senang jika kamu dekat dengan beliau, setidaknya panti asuhan ada yang menjaga selepas bu Ramona tiada." kata ibu Rima.
Laras hanya diam, dia juga membenarkan jika memang pernikahannya di akui secara umum. Namun demikian, dia tidak bisa berbuat semaunya karena Danu belum berbicara banyak dengannya.
Dua minggu menjadi istri Danu, hanya bisa melayaninya sebagai istri di pagi hari saja. Membuatkannya sarapan dan kopi, itupun jika Danu memintanya. Danu masuk ke dalam rumah, semua yang berpapasan dengannya mengucapkan bela sungkawa dan mengatakan tetap bersabar dan ikhlas.
Danu hanya mengangguk saja dengan ucapan bela sungkawa dari saudara dan pengurus yayasan. Tak ada yang berani bertanya pada Danu mengenai sakitnya ibu Ramona, mungkin hanya pengurus yayasan berani bertanya pada Laras, karena memang dia yang paling dekat dengan ibu Ramona.
"Mas Danu, kapan ibu Ramona di kuburnya?" tanya petugas yang akan membawanya ke peristirahatan terakhir ibunya Danu.
"Mungkin habis sholat ashar pak. Saya juga belum siap di tinggal secepatnya oleh ibu." ucap Danu.
Dia memang belum ikhlas dengan kepergian ibunya selamanya, ucapannya di rumah sakit pada Laras kalau ibunya langsung di makamkan di TPU itu hanya mengalihkan rasa sedihnya saja.
Sejak dari rumah sakit, dia tidak melihat dokter Samir yang menangani ibunya. Kata perawat dokter Samir mempunyai surat wasiat dari ibu Ramona. Tapi Danu tidak menjumpai dokter keturunan India itu. Dia bertanya pada perawat di situ, kemana dokter Samir.
Dia bilang doktet Samir sedang ada seminar internasional di Jerman. Dokter Samir akan pulang satu bulan kemudian,karena selain mengikuti seminar dokter Samir melakukan penelitian di rumah sakit yang khusus menangani kanker di Jerman.
Doni akan menunggu dokter Samir pulang dari Jerman, karena itu dia meminta telepon perawat untuk memberi tahu jika dokter Samir pulang ke Indonesia.
_
_
*****************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Vivi Bidadari
Kak Author typonya sering tertukar Dano dan Doni 🤔
Konsentrasi Kak
2023-02-12
2
heni diana
Danu gth amat ya seenggany walau g cinta sama laras bersikap baik ke sma dia orng laras istri baik dam penurut..
2022-12-13
0
Anita Almantik
lanjut
2022-12-12
0