Setelah penguburan ibu Ramona, Danu dan Laras kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan mereka banyak diam, hanya helaan panjang dari keduanya yang masih memikirkan ibu Ramona yang meninggal hanya di rawat satu bulan di rumah sakit. Meski sudah di duga sebelumnya dan tinggal menunggu waktu saja, tapi tetap saja merasa kehilangan.
Danu ingin mencari tahu kenapa ibunya meninggal cepat sekali. Jika sakit kanker itu baru stadium dua,seharusnya masih bisa di obati dengan cara kemoterapi. Tapi mengapa dia mendapat kabar kalau ibunya kritis dan setibanya di sana hanya beberapa menit saja, sudah meninggal.
Ini sangat janggal, pikir Danu. Dalam pikirannya menerawang, Danu melihat seorang gadis sedang menunggu mobil jemputan. Dia memperhatikan, dan ya dia gadis yang berbaju putih abu-abu sedang duduk bermain ponselnya.
Wajah Danu sumringah, dia masih menatap gadis itu. Lalu tanpa di duga Danu menyuruh Laras untuk turun. Laras bingung, kenapa Danu menyuruhnya turun di tengah jalan.
"Kamu turun di sini." ucap Danu tiba-tiba.
"Lho kenapa mas? Rumahnya kan masih jauh." tanya Laras heran.
"Aku bilang kamu turun ya turun! Kamu naik ojol aja sana!" ucap Danu ketus.
Mau tidak mau Laras pun turun, dia masih menatap suaminya dengan heran. Setelah Laras turun dari mobilnya, Danu putar balik. Dia melajukan mobilnya pelan, menghampiri seorang gadis yang sedang duduk di halte bis. Setelah sampai, dia turun dari mobilnya dan mendekat pada gadis berbaju putih abu-abu itu dengan wajah ceria.
Laras memperhatikan Danu dari jauh, dia melihat suaminya yang tampak sumringah dan senang menatap gadis itu. Rasa nyeri di dada tiba-tiba datang.
"Jadi, gadis itu yang di incar mas Danu sejak dulu?" gumam Laras masih menatap Danu dan gadis berseragam putih abu-abu itu.
Dia tega menurunkan istrinya di tengah jalan demi mendekati gadis itu dan bercengkrama dengan wajah ceria. Tidak mengingat lagi kesedihan karena ibunya meninggal. Laras menunduk, hatinya benar-benar sakit.
Dia memang sudah menanda tangani kontrak pernikahan sebelumnya, tapi tetap saja hatinya sakit ketika melihat suaminya bercengkrama dengan perempuan lain di depannya dengan sangat senang dan bahagia.
"Tak ada raut sedih di tinggal ibunya. Apakah dia mas Danu?" gumam Laras lagi.
Berbeda setiap kali dia melihat wajah Danu di rumah dengan sekarang, sangat jauh berbeda. Sang direktur bank dengan sifat pendiam, dan kini dia terlihat banyak bicara di depan gadis itu.
Laras berbalik, dia melangkah pergi dari tempatnya dia turun dari mobil suaminya. Walau dia belum mencintai suaminya, tapi jika dia ingat ikatan pernikahan antara dirinya dan Danu. Tetap saja merasa sakit, dan merasa tersisihkan.
Laras mengambil ponselnya, dia memesan ojek online di aplikasinya. Baru setelah itu dia mencari tempat duduk. Hanya ada pinggiran trotoar yang bisa dia duduki, dia duduk sambil menatap ke arah lain.
Laras menoleh ke belakang lagi, dia melihat apakah suaminya itu masih ada atau sudah pergi. Tapi ternyata masih ada dan semakin akrab kelihatannya.
"Aku bukan pilihannya, tapi melihat dia seperti itu rasanya aku tidak berguna sebagai istri." gumam Laras.
Setelah menunggu sepuluh menit, ojek online datang menghampirinya. Memberikan helm padanya dan bersiap untuk berangkat. Sebelum berangkat, Laras sempat melihat suami dan gadis itu. Namun sudah tidak ada di sana,dia kemudian naik motor ojek online itu.
_
Sampai rumah, Laras kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya. Membersihkan diri dan menyiapkan makan malam buat dirinya dan suaminya. Dia sebenarnya tidak yakin akan di makan masakannya, namun tetap dia sediakan di meja makan.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam petang, dia bergegas mengambil air wudhu dam sholat magrib. Setelah sholat dia kemudian makan malam sendirian, seperti biasa. Kadang dia bingung, jika tidak menyiapkan dia di omeli suaminya. Tapi jika dia membuat makan malam, suaminya tidak makan makanan yang dia buat.
Jadi sering sekali makanan yang dia buat di buang karena sudah tidak bisa di makan lagi. Jika membuat makanan yang simpel, Danu suka mengatainya terlalu irit. Sampai dia sendiri bingung harus bagaimana.
"Mas Danu pulang jam berapa ya? Apa dia makan di luar atau tidak?" ucap Laras sambil mengunyah makanannya.
Memang Danu itu kelihatannya pendiam, tapi cerewetnya keluar jika dia tidak suka pada apapun yang tidak sesuai hatinya. Lebih baik dia tidak membuatkannya saja, karena dia yakin suaminya itu tidak akan makan di rumah. Karena jam sudah menunjukkan pukul delapan, Danu belum juga pulang.
"Lebih baik aku mengerjakan tugas kuliah saja. Mas Danu pasti pulang malam, mungkin mereka kencan dulu." ucap Laras.
Laras masuk kamar, dia tidak menunggu suaminya pulang. Dia akan mengerjakan tugas kuliah lebih dulu, meski rasa kantuk juga lelah karena pemakaman mertuanya cukup melelahkan.
Jam sembilan malam lebih Danu baru pulang, dia juga sangat terlihat letih. Setelah masuk dan mandi dia segera tidur, di sampingnya Laras sudah tidur lebih dulu. Ada laptop di sampingnya.
"Kenapa dia ceroboh sekali sih! Bikin pekerjaanku saja." ucap Danu kesal.
Dia memindahkan laptop Laras di meja, lalu mengambil guling dan meletakkannya di tengah-tengah sebagai pembatas dirinya dan Laras. Danu merebahkan tubuhnya, memejamkannya lalu terlelap.
Tidur satu kamar, satu ranjang tidak membuat Danu menginginkan Laras melayaninya sebagai istri di ranjang, dia lebih baik menyibukkan diri dari pada harus melampiaskan nafsu birahinya pada istrinya itu.
Aneh memang, tapi dia bisa tahan dengan itu, karena Laras sendiri tidak pernah memakai baju tidur yang membangkitkan gairah suaminya. Sepasang suami istri itu hanya sibuk dengan dirinya sendiri.
Pagi menjelang, Laras bangun lebih dulu. Dia mandi dan juga sholat subuh. Kemudian dia menuju ke dapur untuk menyiapkan memasak dan memasak air untuk membuat kopi. Membuat sarapan kali ini sekalian untuk bekalnya di perpustakaan dan juga di kampus.
Karena siang hari dia akan pergi ke kampus karena ada dua jam mata kuliah. Lama dia berkutat di dapur, hingga Danu sudah bangun dan sudah berpakaian rapi siap untuk bekerja kembali.
Dia duduk di kursi makan, menunggu Laras menyiapkan kopi pagi setiap harinya.
"Mana kopiku?" tanya Danu.
"Sebentar mas, aku siapkan ini." jawab Laras.
Laras membawa secangkir kopi di letakkan di depan Danu. Dia kembali ke dapur untuk mengambil menu sarapan untuk sarapan pagi ini dengan suaminya. Dia letakkan nasi dan juga lauk pauknya, dia juga menyiapkan bekal di meja makan.
Danu memperhatikan apa yang di lakukan oleh Laras menyeruput kopinya tanpa mengalihkan pandangan pada Laras yang merapikan nasi di kotak makannya.
"Tidak usah bawa bekal untukku! Kayak anak kecil aja bawa bekal." kata Danu.
Laras menoleh, dia tersenyum dan meneruskan pekerjaannya memasukkan nasi dan lauk pauknya.
"Ini untukku mas, siang aku ke kampus. Jadi bisa irit jajanan di kampus nanti." kata Laras.
Danu diam, dia kembali menyeruput kopinya. Menahan rasa malunya karena menyangka akan di bawakan bekal untuknya.
"Aku berangkat." kata Danu tanpa memandang Laras dia pergi.
"Mas Danu, tunggu." ucap Laras.
Dia mengejar Danu dan menarik tangannya, kemudian menciumnya. Danu diam saja, lalu dia pergi keluar menuju mobilnya. Dia berangkat pagi-pagi karena akan menjemput gadis yang dia pacari untuk berangkat ke sekolah.
_
_
*****************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Cahaya Hayati
Danu seperti ABG saja tidakp antas seorang CEO berpelakuan remaja puber😃😃😃
2023-03-29
0
abdan syakura
Tinggalkan saja si Danu,Laras...
aduhhhh Toxic....
Mumet Aq.....
Semangat,Thor!!!
2023-03-21
0
Vivi Bidadari
Ada ya laki" seperti Danu sdh punya istri yg halal malah lanjut dgn yg haram demi kata cinta jadi ga logika...
Pernikahan toxid entar penyesalan yg datang aduhhhh Danu Danu eling tohh
2023-02-12
0