Sore hari Laras mendapat telepon dari suaminya. Karena nomornya belum tersimpan,maka Laras hanya membiarkan saja telepon itu. Dan dering telepon itu terus saja berbunyi, sehingga mau tak mau Larase mengangkatnya.
"Halo, assalamu alaikum." kata Laras memberi salam.
"Walaikum salam, kenapa kamu lama mengangkatnya?!" suara agak keras dari laki-laki di sana.
Laras mengerutkan dahinya, dia baru ingat setelah menikah siang tadi dengan Danu, dia meminta nomor telepon.
"Oh ya mas Danu, maaf saya kira siapa. Ada apa ya mas?" tanya Laras sopan.
Walau bagaimanapun Danu adalah seorang direktur bank, dia lebih tua lima tahun dari Laras juga dia adalah suaminya. Jadi Laras menjawab telepon sesopan mungkin pada suaminya itu.
"Ck, kamu membuang waktuku." kata Doni ketus.
Laras menautkan alisnya, berpikir seperti ada yang salah. Namun dia diam saja, mendengarkan ocehan suaminya yang baru beberapa jam lalu itu.
"Iya mas, maaf. Saya tidak tahu kalau yang menelepon itu mas Danu." ucap Laras dengan rendah hati, karena sejatinya istri harus menurut. Itu pemikiran Laras.
"Kamu pulang jam berapa?" tanya Danu lagi.
"Setengah jam lagi, mas." jawab Laras.
"Kamu tunggu di perpustakaan, nanti saya jemput." kata Danu.
"Iya mas."
Klik!
Tanpa mengucapkan salam, Doni menutup teleponnya. Laras hanya menggeleng kepala saja. Laras tahu Danu anak ibu Ramona itu, orangnya pendiam. Tapi sekali marah kadang membuat orang takut. Laras tahu itu, karena dia pernah melihat suaminya marah pada supir yang datang telat menjemputnya.
Hingga supir itu hanya menunduk diam dan takut di pecat. Memang orang pendiam itu kadang emosinya meluap dan kadang tak terkendali jika sudah tidak sesuai dengan hatinya.
Laras merapikan buku-buku yang berserakan di meja dan rak buku. Hari ini banyak sekali yang membaca buku di perpustakaan milik ibu Ramona. Perpustakaan milik ibu Ramona itu tidak seberapa besar, hanya berukuran enam kali sembilan meter.
Tapi buku-buku di perpustakaan itu hampir komplit sehingga banyak mahasiswa dan pelajar yang datang untuk membaca dan juga meminjam buku. Empat puluh lima menit akhirnya Danu datang menjemput Laras di perpustakaan. Laras keluar dari perpustakaan setelah dia membereskan dan menutup tempat itu.
Dia menghampiri mobil Danu dan langsung masuk ketika Danu membuka kunci pintu mobilnya. Dan tidak menunggu lama, Danu melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Dalam perjalanan tidak ada yang saling bicara, Danu sibuk dengan pikirannya sedangkan Laras sibuk dengan ponselnya.
Doni melirik istrinya yang sibuk sendiri dengan ponselnya.
"Aku mau membuat perjanjian sama kamu nanti di rumah." kata Danu tiba-tiba, masih fokus dengan menyetir.
"Perjanjian apa mas?" tanya Laras.
"Perjanjian nikah. Nanti aku jelaskan di rumah, dan kamu harus menyetujuinya." kata Danu.
Laras menatap suaminya dengan heran, perjanjian apa lagi?
"Iya mas."
Hanya itu jawabannya, jika pun dia bertanya lagi pasti jawabannya akan tetap di rumah. Makanya dia lebih baik menurut saja pada suaminya itu.
Sampai di rumah Danu, karena Laras pernah ke rumah Danu sekali ketika dia di suruh ibu Ramona merawat Danu yang sedang sakit demam dan tidak ada yang membantunya. Sekarang dia ke rumahnya sebagai istrinya yang akan tinggal selamanya atau entah sampai kapan.
Tapi baginya, sekalipun menikah tanpa cinta tetap saja ingin menikah sekali seumur hidup dengan suaminya. Laras masuk ke dalam, dia sebenarnya bingung, apakah langsung tinggal di rumah suaminya atau bagaimana?
Seharusnya langsung tinggal, tapi baju-bajunya belum dia ambil di kostannya. Hanya ada kaos oblong satu. Danu masuk kamarnya dan ganti baju, dia sengaja pulang cepat karena mau mengurus perjanjian dengan Laras. Biasanya dia pulang jam delapan atau jam sembilan malam, karena dia direktur bank swasta yang baru di angkat dua bulan lalu.
Reputasinya di kantor sangat bagus, makanya dia tidak mau dirinya terlihat jelek di mata bawahannya. Juga tidak mau ada yang tahu tentang pernikahannya dengan anak dari panti asuhan, karena itu sangat memalukan dirinya. Itu pemikirannya.
Setelah selesai, dia mengambil kertas dari dalam tasnya lalu bergegas keluar menuju ruang tamu yang sejak tadi Laras bingung mau apa di rumah suaminya itu. Donu ikut duduk di kursi single, sedangkan Laras duduk di kursi sebelahnya.
Dia menatap suaminya dan beralih ke kertas yang di pegangnya. Mungkinkah itu surat perjanjian nikah? tanya Laras dalam hati.
"Kamu bacalah surat ini, lalu kamu tanda tangani." kata Doni menyodorkan kertas itu pada Laras.
Laras menerimanya dengan ragu, memandang suaminya lalu beralih ke isi suratnya. Tidak banyak isi poin itu, hanya ada empat poin. Dan setiap poin banyak kalimat yang tertulis, hanya satu yang membuatnya jadi tertegun.
Poin satu menerangkan kalau Laras boleh tinggal di rumahnya sebagai istri yang baik, melayani suaminya seperti kebanyakan suami istri pada umumnya. Poin kedua menerangkan jika sudah di luar rumah dan mereka bertemu anggaplah tidak mengenal satu sama lain.
Poin ketiga menerangkan Laras harus pulang dari aktivitasnya tepat jam empat sore, dan poin terakhir yang membuat Laras tertegun adalah suaminya dalam satu tahun akan menikah lagi dengan perempuan yang dia cintai nanti.
Laras membaca berulangkali poin terakhir, dia ingin bertanya namun suaminya segera memberi tahu maksud poin tersebut karena dia tahu Laras bingung dengan poin terakhir.
"Kamu harus merelakanku untuk menikah lagi ketika kita sudah satu tahun menikah." ucap Danu, membuat Laras mendengarnya tak percaya.
"Kenapa begitu mas?" tanya Laras penasaran dengan jawaban suaminya.
"Karena aku sudah mencintai perempuan lain sebelum aku menikah denganmu. Aku berniat menikahinya setelah dia cukup umur untuk di nikahi." ucap Danu.
Laras makin tertegun, belum sehari jadi istri Danu Laras harus merasakan sakit hati jika suaminya itu ada gadis lain. Meskipun dia belum ada rasa cinta di hati untuk Danu, tapi dia berjanji akan mencintai dan jadi istri yang baik setelah menikah itu.
Tapi sekarang, dia harus menelan pahit kenyataan bahwa suaminya punya wanita lain. Dan gadis yang suaminya cintai itu masih anak sekolah?
"Gadis itu masih sekolah?" tanya Laras untuk meyakinkan praduganya.
Danu diam saja, dia membuang pandangannya ke arah lain. Tidak membantah ucapan Laras.
"Satu tahun lagi dia lulus sekolah, dan aku sudah bilang padanya setelah lulus sekolah aku langsung menikahinya." ucap Danu dengan tegas, dia tidak mempedulikan bagaimana perasaan istrinya itu.
Kembali Laras terdiam, dia hanya menunduk melihat isi perjanjian itu dengan hati miris dan tentu saja terluka. Di umur pernikahannya yang baru beberapa jam harus menerima kenyataan seperti itu. Laras menarik nafas panjang, menenangkan hatinya yang kacau tiba-tiba.
"Cepatlah kamu tanda tangani surat itu, aku ingin istirahat sebentar lalu aku akan pergi lagi menemui temanku." kata Danu menatap Laras tajam.
Tanpa menunggu lagi, Laras menanda tangani surat itu dan memberikannya pada Danu setelah selesai menanda tanganinya. Danu menerima suratnya lalu beranjak dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Laras masih duduk diam, merenungi bagaimana nanti kehidupan rumah tangganya dengan Danu.
Tapi biarlah, toh dia juga belum ada perasaan apapun pada suaminya itu, namun demikian dia sudah berjanji pada diri sendiri waktu di rumah sakit akan menyayangi dan menjaga amanah ibu asuhnya, ibu Ramona.
_
_
*****************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Maria Nunes
Thor, Danu atau Doni?
2022-12-12
0
heni diana
Ya ampun laras kamu mau balas budi atas kebaikan ibu romana yg udah mengurus kamu tapi kamu jngn diem aja donk kalu danu berlaku seenaknya aja gth..
Semoga aja dengn keikhlasan laras dalm perjalanan rumah tnaggangnya danu bisa mncintai laras dan menjadikan laras satu satunya dalm hidup danu..
2022-12-12
0