[Aku akan langsung kesana, tunggu aku.] El Barack segera memakai jasnya, meraih kunci mobil lalu melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya. Pikirannya benar-benar tak tenang saat untuk pertama kalinya mendengar suara isak tangis Aina.
Boril yang sedang sibuk di belakang meja kerjanya, langsung berdiri saat melihat El keluar dengan tergesa-gesa. "Tuan, Anda mau kemana?"
"Aku akan menemui Aina, kamu handel rapat sore ini atau batalkan saja." Dia terus melanjutkan langkahnya, tanpa mendengar tanggapan Boril.
"Hufft, sepertinya aku akan bekerja lembur mulai sekarang," ucap Boril sambil memandangi kepergian sang atasan hingga menghilang dari balik pintu ruangan.
***
"Apa, kamu melihat Aina?" Lin berdiri dari posisi duduknya, dia bahkan tak lagi perduli saat Snack favoritnya berhamburan dilantai ruangan. "Baiklah, terima kasih untuk informasinya, Kakak tutup dulu."
Wajah Lin terlihat begitu kesal, dia sampai mondar mandir tidak jelas hanya karena mendengar Aina kembali dilihat oleh orang-orang terdekatnya. "Hidupku sudah sangat tenang dan bahagia, kenapa pembawa si*Al itu masih hidup sih."
"Lin, kamu kenapa?" Reynald yang baru saja pulang langsung menunduk, memunguti toples dan kemasan Snack yang berjatuhan dilantai. "Ada masalah, wajah kamu kelihatan panik sekali?"
"Ini gawat sayang." Lin menarik tangan Reynald dan menuntunnya duduk di sofa ruang tamu mereka. "Adik kamu, tadi si Sisil melihat dia sedang makan di salah satu restoran. Aku pikir dia sudah menghilang ke ujung dunia tapi ternyata dia ada disekeliling kita.
"Kenapa kamu bicara seperti itu tentang adikku?" tanya Reynald dengan rahang yang mulai menegang.
"Ah maksudku bukan seperti itu. Kamu tahu 'kan, Aina itu sudah membawa aib besar untuk keluarga kita. Jadi lebih baik jika dia tinggal jauh dari sini," jelas Lin sambil menepuk punggung tangan sang suami.
"Jangan pernah membahas dia dan jangan pernah menganggu hidupnya. Dia sudah bahagia sekarang. Lin, jangan menguji kesabaranku."
Lin mengerutkan keningnya, bingung. "Tunggu dulu, Jangan-jangan kamu sudah tahu kalau Aina kembali ke kota ini? Sayang, kamu menyembunyikan semua ini dariku?"
Reynald mendengus kesal sambil berdiri dari posisi duduknya. "Ya, aku sudah tahu. Bahkan aku yang menjadi wali saat dia menikah beberapa waktu lalu."
"Apa!" Lin berdiri, menatap sang suami tak percaya. "Jadi benar dia sudah menikah? Sayang, kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku, apa sekarang kamu lebih memihak dia dari pada aku?"
"Iya, sekarang aku sadar jika seharusnya sejak dulu aku memihak adikku. Bukannya menuruti semua keinginanmu yang tidak menginginkan keberadaannya. Lin, aku peringatkan, sekali saja kamu mengusiknya, kamu akan kehilangan aku untuk selamanya."
Lin tak bisa berkata-kata, dia hanya bisa terperangah memandangi kepergian sang suami yang menaiki tangga menuju lantai dua rumah itu. "Dasar, baru mendengar kabarnya saja, aku sudah kena sial."
**.
El Barack menginjak pedal gas sedalam mungkin, menyusuri jalanan kota yang nampak lengang sore ini. Langit yang mulai menjingga membuat dia ingin segera sampai ke tempat tujuan.
Tak butuh waktu lama untuk dia sampai ke toko kue yang dibeli sang Papa untuk Aina. Dia segera keluar dari mobil, melangkah masuk kedalam toko.
Pasangannya langsung tertuju ke Aina, yang duduk tertunduk di salah satu kursi yang tersedia di tempat itu. Dengan langkah pelan dia mendekat, dan langsung bersimpuh di hadapan Aina. "Ai, kamu baik-baik saja?"
Perlahan Aina menegapkan kepalanya, menatap sang suami dengan mata yang membengkak. "Akhirnya kamu datang juga. Huuft, sebenarnya kamu tidak perlu menghampiri ku tapi--"
"Ssstt." El meletakkan jari telunjuknya di depan mulut Aina. "Kamu tidak perlu berpura-pura kuat saat berada dihadapanku. Luapkan saja semuanya, aku tahu beban yang kamu pikul saat ini, sebagian besar adalah salahku."
Tetesan air mata kembali membasahi wajah Aina, meski tanpa suara isakan seperti tadi. "Aku ... aku hanya tidak suka jika ada seseorang yang menghina anakku. Alvian, adalah anak baik, dia tidak tahu apa-apa."
El Barack pun ikut merasakan kesedihan sang istri. Orang tua mana yang rela anaknya di perlakukan buruk. "Sekarang katakan padaku, siapa orang itu? Aku akan membuat dia membayar mahal karena sudah menghina anakku."
Aina menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak usah, cukup. Aku tidak mau membuat masalah semakin rumit. Aku hanya ingin kamu berjanji, untuk melindungi privasi tentang identitas Alvian, bisa?"
"Tentu saja. Kamu bisa mempercayai aku." El-barack segera berdiri dan mengulurkan tangannya kehadapan sang istri. "Ayo berdirilah."
Aina meraih uluran tangan itu dan segera berdiri dari posisi duduknya. Dia berusaha menutupi wajahnya yang saat ini sedang dalam keadaan terburuk. "Kenapa kamu ingin bertemu disaat wajahku berantakan seperti ini."
Mendengar itu, El Barack malah terkekeh kecil. "Ck, haha kamu ini ada-ada saja." Ditariknya sang istri kedalam pelukannya. "Kamu terlihat cantik dalam kondisi apapun. Ai, jangan pernah merasa sendiri lagi, aku mohon libatkan aku, percayalah bahwa aku mampu melindungi kamu dan anak kita."
Maafkan, aku Aina. Aku akan tetap mencari orang yang telah membuat kamu menangis seperti ini. Akan aku buat dia berlutut hadapanmu, batin El seraya mempererat pelukannya.
Bersambung 💕
Tuan El pendendam ya Bund😹😹
Terima kasih untuk semuanya yang sudah vote, semoga kedepannya Author semakin semangat update. 🙏💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Kis Pulza
tul ai bagaimana keadaan anak klo di hina orang tua pasti sakit di dada
2024-01-18
0
Lina ciello
cerai wae rey... due wanita kok koyo ngunu
2023-05-11
0
Sri Azhari
papa EL so sweet banget sie,,, AQ padamu pokok e..... ❤️❤️❤️
2023-03-19
2