Antonio baru saja keluar dari kamar setelah Al tertidur pulas. Sepertinya bocah laki-laki itu sudah kelelahan, sesaat setelah meminum susu, dia langsung tertidur.
Di depan pintu kamar, sudah ada Boril yang menunggu sejak tadi. Perlahan dia menundukkan kepalanya saat Antonio muncul dari balik pintu. "Selamat malam, Tuan. Tamu yang anda minta sudah datang."
Senyum menyeringai yang menjadi khas pria tua itu terlihat jelas. "Bagus, aku yakin rencana ini adalah jalan terbaik untuk kebahagiaan Alvian, aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja."
Boril terlihat diam dan tenang, namun hatinya pikirannya begitu ramai dengan kekhwatiran. "Maaf, Tuan. Apa anda yakin? Keputusan ini, adalah keputusan sepihak, bagaimana kalau Tuan muda ...." Boril menghentikan ucapannya saat pria paruh baya itu menepuk pundaknya kuat.
Tatapan mata Antonio mengisyaratkan sebuah hal yang tidak ingin dibantah. "Boril, ini semua aku lakukan demi cucuku. Apa aku salah? Sekarang pergilah dan urus semua surat-surat penting untuk acara besok. Bayar berapapun yang orang-orang itu minta agar kita bisa mendapatkan data identitas Aina."
Boril benar-benar dilanda kebimbangan. Dia dituntut untuk menjalankan misi rahasia yang akan berdampak pada hubungan Aina dan El Barack. Namun apa dia bisa menolak? Antonio adalah orang yang amat berjasa dalam hidupnya. "Baik, Tuan. Akan saya laksanakan."
"Bagus." Antonio kembali menepuk-nepuk pundak Boril lalu melanjutkan langkahnya ke ruangan khusus, dimana seorang tamu penting sudah menunggu.
Sesampainya di ruangan itu, dia mempersilakan tamunya yang sempat berdiri agar kembali duduk. "Saya tidak menyangka kamu Akane datang secepat ini."
"Mana mungkin saya menolak, Tuan. Anda adalah seorang pengusaha konstruksi yang sangat penting terkenal. Ini merupakan sebuah kehormatan bagi saya," ucap pria itu sopan.
"Reynald Cargloss, kamu seorang pengusaha muda yang sangat membutuhkan dukungan," ucap Antonio sesaat setelah duduk di hadapan pria bernama, Reynald. "Saya ingin mengajak kamu berkerjasama. Dan saya yakin ini akan sangat menguntungkan kamu."
"Saya mau, apapun itu. Bekerja sama dengan perusahaan Rich Grup adalah cita-cita terbesar saya saat ini. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik, Tuan." Reynald terlihat begitu antusias menyampaikan keinginannya.
Sementara Antonio mengangguk dan tersenyum karena dia sudah memprediksi rencananya akan berjalan dengan baik dan lancar. Dia akan melakukan apapun demi nama naik Alexander. "Bagus, kalau begitu datanglah lagi kemari besok untuk penandatanganan surat kerjasama dan juga kamu harus mendampingi adikmu, Aina."
Seketika mata Reynald membulat. Dia tahu sang adik dulu bekerja sebagai sekertaris di perusahaan itu, namun sekarang dia pun tidak tahu keberadaan Aina. Tetapi tiba-tiba saja Antonio menyebutkan nama itu ditengah pembicaraan mereka tentang bisnis. "Apa maksud Anda?"
***
Pagi ini, Aina terbangun dari tidurnya dan mendapati El masih tertidur lelap di ruang tv beralaskan tikar tipis. Dia terus memandangi El dari jarak beberapa meter. "Aku pikir dia tidak akan bisa tidur ditempat ini."
Setelah beberapa saat dia mendekat dan langsung duduk di samping El. "Tuan, bangunlah. Ini sudah pagi." Dia terus menepuk-nepuk pundak El Barack pelan.
Kedua netra coklat itu akhirnya terbuka, dia mengerjapkan matanya perlahan memandangi Aina yang saat ini sudah duduk disampingnya. Seolah melihat pemandangan yang tidak biasa, jika dulu setiap membuka mata yang dia lihat hanya ruang hampa, namun pagi ada seorang wanita disampingnya.
Perlahan El Barack bangkit dari posisi berbaringnya sambil mengucek mata. Ini benar-benar di luar ekspektasinya yang malam tadi merasa tidak akan bisa tidur tetapi nyatanya dia tidur sangat nyenyak. "Kau sudah bangun. "Ehm, apa kamu sudah siap pergi?"
"Saya sudah mengemas semua pakaian dan barang penting. Kalau anda mau mandi dulu silakan saja, saya akan tunggu diluar," ucap Aina lalu kembali berdiri.
"Oh baiklah. Aku akan cuci muka saja." El pun segera beranjak, namun saat hendak melangkah tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang janggal. Seingatnya malam tadi Aina belum menjawab pertanyaannya.
"Tunggu dulu." El Barack mendekati Aina sambil mengangkat jari telunjuknya. "Kamu sudah mengemasi semua pakaian dan barang-barang penting ... itu berarti kamu mau pindah ke kota?"
Aina menganggukkan kepalanya pelan. "Jika itu jalan yang terbaik. Meskipun luka itu masih sama, tapi sebagai seorang Ibu, saya ingin Al mendapatkan kasih sayang dari ayahnya."
Dia tidak menyangka akhirnya keinginan untuk membawa Aina kembali terlaksana dengan baik. Setidaknya sampai tahap ini, untuk tahap selanjutnya, dia juga tidak tahu. Karena untuk menikah pun mereka sama-sama tidak memiliki perasaan satu sama lain.
"Terima kasih, Ai. Kamu memang wanita yang sangat baik," ucap El sambil merentangkan kedua tangannya, hendak memeluk Aina.
"Eittss, sedikit saja anda menyetuh saya lagi! Saya akan menarik kembali ucapan saya barusan," ucap Aina bernada ancaman.
Raut wajah El pun kembali datar. "Ck, ya ya maaf. Aku lupa kalau sekarang Aina Caroline sudah menjelma jadi wanita bar-bar."
***
Sekitar pukul tujuh pagi. Aina dan El saat ini sedang dalam perjalanan menuju Mansion. Saat keluar dari gapura pembatasan daerah, Aina menyempatkan diri untuk menoleh kebelakang untuk terakhir kalinya.
Pagi tadi dia hanya sempat pamit sebentar dengan Ibu kontrakan saat El sedang mandi. Dia pamit dan juga menitipkan barang-barang seperti kompor dan perabotan lain yang belum bisa dia bawa dan mungkin tidak akan pernah dia ambil lagi.
"Kamu sedih karena harus pergi?" tanya El pada akhirnya.
"Tentu saja, hanya ditempat itu orang-orang bisa menerima keberadaan saya dengan baik. Meski hamil tanpa suami, selamanya saya akan mengingat jasa-jasa semua orang itu."
Aina yang sejak tadi melihat kearah jendela kini beralih kearah El yang sedang fokus menyetir. "Saat sampai di kota nanti, saya ingin kembali bekerja dan mengontrak rumah."
"Kamu tidak merindukan keluargamu? Aku masih ingat kamu punya seorang Kakak 'kan?" tanya El Barack seraya melirik kearah Aina. Namun dari ekspresi wanita itu dia tahu pasti ada sesuatu yang kurang baik. "Apa mereka juga tidak menerima kehamilan kamu?"
Jika membahas sang Kakak, Aina selalu saja tidak sanggup mengatakan apapun. Dibandingkan harus menjawab pertanyaan El, dia memilih mengalihkan pandangannya lagi ke arah jendela mobil. "Entahlah, jangan dibahas."
El pun kembali diam. Dia tidak tahu seberapa dalam penderitaan yang Aina rasakan karena perbuatannya. Yang jelas saat ini, dia akan membayar semua rasa sakit itu bagaimanapun caranya.
Ya, dia tidak mungkin bisa mengembalikan kehidupan Aina seperti sedia kala, namun setidaknya dia ingin membuat senyum di wajah Aina kembali merekah.
***
Satu jam lebih perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai El Barack memasuki wilayah Mansion utama keluarga Alexander. Sesaat setelah dia turun dari mobil bersama Aina, Boril muncul bersama seorang kepala pelayan.
"Selamat datang, Nona dan Tuan. Tuan besar sudah menunggu Anda didalam," ucap Boril yang hari ini terlihat begitu serius.
"Aina ayo kita masuk." Tidak ada kecurigaan apapun di wajah El Barack. Dia dan Aina melangkah beriringan masuk ke Mansion mewah itu.
Sesampainya didalam barulah mereka terlihat bingung sekaligus kaget. Bagaimana tidak, saat ini mansion mewah nan luas itu sudah di dekorasi dengan bunga-bunga dan beberapa kain warna silver dan putih.
Saat melihat sang Papa turun dari lantai dua, El dan Aina pun mempercepat langkah mereka. "Pa, ada acara apa ini?"
Antonio terdiam sebentar, memandangi Aina dan El Barack bergantian. "Ehm, hari ini kalian akan menikah, bersiaplah."
"Apa, menikah!" ucap El dan Aina secara bersamaan.
Bersambung 💕
Jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Yuni Rachman
enak deh disuruh nikah
2023-10-24
0
dewi
🤣🤣🤣🤣
2023-07-02
0
Susi Di
ah kakek si pling gercep y,,,demi cucu y al
2023-06-02
0