Boril menyeret langkahnya masuk keruang kerja El Barack. Wajahnya terlihat begitu pucat dan lemas, seperti orang yang tidak sarapan pagi.
Menyadari kedatangan Boril, El hanya menoleh sebentar kemudian kembali fokus ke layar laptopnya. "Baru hari pertama dan kamu sudah terlambat. Hari ini akan ada rapat pengesahan jabatan CEO yang kembali aku pegang."
Boril tidak memperdulikan ucapan sang atasan, dia melepaskan tas kerjanya begitu saja lalu bersimpuh di depan meja kerja. "Tuan, sepertinya saya sudah melakukan kesalahan besar."
Mendengar itu, El Barack beralih melihat Boril. Keningnya mengerut bingung. "Apa maksudmu? Apa malam tadi kamu ke klub malam dan tidur dengan dengan wanita sembarangan?"
Kepala Boril menggeleng cepat. "Bukan itu." Dia menegapkan kepalanya, memandangi El dengan raut wajah sendu. "Tuan, kita sudah banyak menghabiskan waktu bersama. Anda tidak akan memenggal kepala saya hanya karena melakukan satu kesalahan 'kan?"
Kali Ini El mulai nampak serius, dia segera berdiri dari posisi duduknya dan mendekati Boril. "Berdirilah." Dia membantu Boril agar segera berdiri. "Sekarang katakan padaku, kesalahan apa yang sudah kamu lakukan?"
Sebelum mengungkapkan yang terjadi, Boril mencoba mengatur napas agar lebih tenang. "Sebelumnya saya minta maaf, sangat sangat minta maaf. Tadi Tuan besar, datang menemui saya dan mengajak saya bicara. Dan ... dan saya tadinya tidak mau bilang tapi mulut kurang ajar ini, ti--"
"Jadi kamu memberitahu semuanya?" ucap El memotong ucapan Boril. Mata elang itu menatap tajam kearah sang sekretaris. "Kamu memberitahu tentang Aina dan Alvian?"
Boril mengangguk pasrah. "Benar, Tuan." Dia menundukkan kepalanya seraya mencengkram kedua tangan dengan erat. "Saya benar-benar minta maaf Tuan. Saya tidak bisa mengabaikan pertanyaan Tuan besar, sekali lagi sa ...." Saat Boril kembali menegapkan kepala, El sudah tidak ada dihadapannya. "Tuan, kemana dia."
***
Aina, mencengkram erat ujung bajunya. Hari ini rasa khawatirnya sudah sampai puncaknya, namun lagi-lagi dia tidak bisa mengatakan apapun.
Dia hanya bisa terdiam dengan wajah pucat, melihat putranya bercengkerama dan tertawa bahagia dengan seorang pria paruh baya, yang membawa begitu banyak mainan berharga fantastis.
Al yang sejak tadi asik bermain, melangkah cepat menghampiri sang Mama. "Ma, liat deh. Kakek beliin ini untuk Al, keyen 'kan?" Al nampak begitu antusias saat memperlihatkan mainan robot kepada sang Mama.
"Iya, sayang bagus sekali. Al suka ya?" Aina masih bisa bertanya sambil tersenyum. Sedikitpun dia tidak ingin memperlihatkan masalah itu kepada sang putra. Dia kembali beralih melihat pria paruh baya yang memandangnya sejak tadi. "Terima kasih karena sudah begitu perhatian dengan Al, tapi ini sangat berlebihan."
Sudah empat tahun, dan Aina tiba-tiba menjadi asing dengan pria itu. Antonio Alexander, pria yang dulu selalu dia temui di kantor Rich Grup, saat masih bekerja sebagai sekretaris El Barack.
Lengkungan senyum tergambar begitu ramah diwajah keriput itu. "Oh tidak apa-apa, sekertaris ... ehm, maksud saya Aina. Saya sudah mengetahui tentang masalah kamu dan El dimasalalu. Dan juga saya sudah tau bahwa Al ini adalah cu--"
"Maaf, Tuan." Potong Aina. Kali ini dia mencoba untuk memberanikan diri, menatap mata Antonio. "Apapun yang terjadi dimasalalu antara saya dan Tuan El. Itu hanyalah kenangan buruk, tolong jangan ganggu saya dan anak saya."
Antonio menghela nafas pelan seraya mengangguk perlahan. "Hm, baiklah. Saya mengerti, tapi saya ingin mendengar keputusan Al. Dia adalah cucu saya, jadi dia berhak mempunyai kehidupan layak." Antonio beranjak menghampiri Al yang sedang asik bermain. "Al mau ikut Kakek, nanti kita beli semua mainan yang kamu mau."
"Mau mau mau!" Al melompat-lompat kegirangan. Ya, selama ini bocah kecil itu tidak pernah mendapatkan banyak mainan yang bagus dan mahal, karena kehidupannya dan sang Mama sangat sederhana.
Antonio kembali beralih melihat Aina dengan raut wajah penuh kemenangan. "Kamu lihat, anak seusianya sangat membutuhkan perhatian dan kehidupan yang layak. Dan dia bisa mendapatkan semua itu, dia adalah Alvian Alexander."
Aina tidak bisa membendung air matanya. Dia tertunduk dan mulai menangis. Hatinya terenyuh saat melihat sang putra begitu bahagia dengan segala kemewahan yang ditawarkan Antonio. Sementara dia bisa apa, tidak ada kemewahan yang bisa dia berikan.
Bocah tiga tahun itu, tidak tahu apa-apa. Dia belum bisa mengerti apa yang Ibunya rasakan saat ini. Yang dia tahu hanyalah kesenangan, layaknya anak-anak pada umumnya saat di tawarkan hal menyenangkan.
Antonio segera berdiri dari posisinya. "Saya akan membawa Al ke kota. Saya akan membayar waktu-waktu yang tidak saya habiskan bersama cucu saya."
Aina segera menyeka air matanya, lalu menghampiri sang putra. "Al, lihat Mama, Nak. Kamu benar mau ikut Kakek jalan-jalan ke kota?"
Bocah kecil itu mengangguk malu. "Iya, Ma. Al suka main cama Kakek, Ma. Boleh ya ma, atau Mama ikut aja Ma."
Aina benar-benar tidak berdaya. Hal terbesar yang dia inginkan di dunia ini adalah melihat putranya bahagia. "Em, Al duluan saja ya. Nanti Mama menyusul. Al tidak boleh nakal ya, harus jadi anak baik."
"Asik!" Al kembali melompat-lompat kegirangan lalu berhambur memeluk sang Mama. "Maacih Ma. Al cayang Mama."
Tangis Aina pecah meski hening tanpa suara. Dia mempererat pelukannya, menepuk pelan punggung sang putra. "Iya, Mama juga sayang sama Al."
Setelah beberapa saat, Aina menyeka air matanya dan segera melepaskan pelukan itu. Dia kembali melihat kearah Antonio. "Saya akan menjemput anak saya, minggu depan. Saya percaya anda bukan orang kejam yang akan memisahkan seorang ibu dari anaknya."
Antonio menyunggingkan senyumnya. "Untuk masalah itu, kamu bisa mendiskusikannya dengan El Barack. Urusan saya hanya tentang Alvian, calon penerus keluarga Alexander."
Aina mencengkram erat kedua tangannya, melihat tatapan mata Antonio yang seolah mengisyaratkan hal yang sama seperti yang di ucapkan El kemarin.
***
Satu jam berlalu, El keluar dari mobil sesaat setelah sampai di halaman rumah Aina. Perasaannya sudah tidak enak, saat tidak melihat dua orang yang kemarin dia minta untuk berjaga-jaga agar Aina tidak kabur membawa Al.
Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu, ketika melihat Aina duduk melamun di sofa ruang tamu. Perasaannya semakin campur aduk, namun masih nekat untuk mendekati Aina. "Ai, dimana Al?"
Perlahan Aina mendogakkan kepala, memandangi pria tinggi yang berdiri tepat di hadapannya. "Puas kamu." Air mata yang sempat mengering, kini kembali mengalir deras. "Puas kamu, telah merebut semuanya dariku?"
El Barack masih berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal, namun melihat Aina seperti ini, perasaan bersalah itupun mulai muncul. "Ai, maaf. Aku benar-benar tidak tahu kalau Papa akan mengetahui tentang Al secepat ini."
Aina berdiri dari posisi duduknya, menghampiri El dengan sorot mata penuh kebencian. "Sebenarnya saya salah apa, selama bertahun-tahun saya menjalani ini sendiri, dihina karena hamil tanpa suami, apa anda tahu rasanya menjadi seperti saya!"
"Ai, Aku tahu. Aku minta maaf." Entahlah, El seperti kehabisan kata-kata. Saat ini di depan matanya untuk pertama kali dia melihat Aina begitu hancur. Bahkan dia bisa melihat kebencian yang mendalam dari mata wanita itu.
"Pergi kamu dari sini!" Aina mendorong tubuh El sekuat tenaga. "Aku tidak mau melihat kamu lagi."
"Aina dengarkan aku!" Namun sayang tubuh kokoh El Barack tidak goyah sedikitpun. Malah sebaliknya, dia didorong oleh El hingga terbaring di atas sofa.
Saat ini Aina tidak bisa bergerak karena Al berada diatas tubuhnya. Sejenak mereka saling menatap dalam diam, dengan jarak yang begitu dekat. Aina bisa merasakan aroma tubuh yang begitu lekat dalam ingatan.
"Bicara sedikit saja, aku tidak akan ragu untuk--"
"Untuk apa? Apa yang akan anda lakukan kepada saya, dasar pria bren ...."
Belum selesai ucapan Aina, mulutnya sudah dibungkam oleh El Barack dengan satu ciuman. Bibir mereka kembali menyatu untuk pertama kalinya setelah kejadian empat tahun silam.
Tubuh Aina yang sempat memberontak kini perlahan melemah, matanya terpejam. Seolah tersihir dengan sentuhan lembut dan hangat seorang El Barack Alexander.
Apa yang terjadi dengan diriku. Aku harusnya menolak semua ini. Tapi ... tapi kenapa aku menjadi tidak berdaya, pria ini masih menguasai diriku bahkan setelah empat tahun berlalu, batin Aina.
Bersambung 💕😁🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
ALNAZTRA ILMU
sudahla aina. kawinsaja
2025-01-16
0
Hari Saktiawan
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
2024-07-13
0
Katherina Ajawaila
kasihan juga Aina, kasian juga Alvin butuh kel yg lengkap. keputusan hanya outhour yg nentuin😘😘😘
2024-03-05
0