Aku tidak tahu bagaimana caranya Kamu datang kembali kedalam hidup ku.Ku pikir aman-aman saja sebab pertahananku dirasa cukup kuat menghalau itu.
Kau menyelusup masuk membawa harapan kecil memicu perasaan hingga meledak ledak tak karuan, ritmenya bertahap, seperti hujan yang semula mendung lalu mencapai puncak badai yang hebat.
Kamu bahkan tahu bagaimana aku mencintai laut tapi mengapa kau menciptakan ombak yang menggulung dan menghanyutkan seluruh harapan ku.
Mengapa tak kau berikan aku kesempatan untuk lari berpegang pada ranting, rumput atau apapun yang bisa kupegang selain hatimu.
Hembusan angin, suara kendaraan, deru ombak, derik pepohonan hingga lagu-lagu yang sering kudengar selalu membawamu di kepalaku. Kenapa harus kamu?
Kau telah membawa aku kembali pulang, menyusun kembali kepingan hati diatas kata 'Tanggung jawab' Meski tidak mungkin pulih sempurna. Namun bolehkah aku berharap aku dan kamu akan menjadi kita, selamanya?
...-Aina Caroline-...
.
.
.
Aina terlihat begitu serius mendengarkan cerita Albert tentang pertengkarannya dan sang Mama. Sementara El Barack duduk di depan sana, memandangi sang adik sepupu yang malam ini membuatku sedikit kesal.
"Sudahlah, kalau kamu memang tidak mau tinggal bersama Ibumu lagi, kamu bisa tinggal di apartemenku," ujar El Barack pada akhirnya.
"Terima kasih, Kak El. Tapi untuk malam ini, aku akan menginap disini." Albert kembali menoleh melihat Aina yang duduk disampingnya. "Kak Ai, kata paman Kakak akan membuka toko pastry and cake di pusat kota, benar?"
"Oh itu, semua di urus oleh Papa dan Boril. Aku tinggal menjalankan saja dan menambah beberapa menu tambahan. Toko itu lumayan besar dan mewah, nanti kalau buka aku akan kabari kamu," jawab Aina dengan antusias.
"Benarkah? Tapi apakah tidak ada lowongan pekerjaan lagi di toko Kakak? Untuk sementara waktu aku tidak mau mengelola restoran dan resort Mama. Aku ingin buktikan kalau aku bisa mandiri, bagaimana boleh?"
Mendadak El-barack menegapkan posisi tubuh sambil menunjuk lurus kearah Albert. "Hey bocah. Apa kau sudah tidak menganggap ku lagi? Kamu bisa bekerja di perusahaanku, kau ingin posisi apa tinggal bilang!"
Aina berpindah duduk di samping El Barack. "Jangan membentaknya seperti itu, Albert sudah 21 tahun bukan bocah lagi seperti empat tahun lalu. Aku pikir tidak ada salahnya, dia sudah biasa mengelola bisnis kuliner, aku akan lebih tertolong."
"Dengarkan istri anda wahai Tuan El Barack." Albert menyadarkan tubuhnya di sofa dengan santai. "Aku hanya ingin bekerja sesuai dengan passion yang aku punya."
Tatapan mata elang El Barack kembali terlihat jelas. Dia tahu maksud Albert dan tentu saja tidak akan membiarkan hal itu. "Aku sudah memutuskan, kamu akan tetap ikut aku bekerja di perusahaan, besok kau ikut aku."
Raut wajah El-Barack terlihat begitu datar saat beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara Aina masih duduk disana memandangi kepergian sang suami dengan tatapan bingung.
Setelah beberapa saat dia kembali beralih melihat kearah Albert. "Ehm, kalau begitu Kakak juga harus kekamar. Kamu tahu kamar yang mana yang harus kamu tempati malam ini. Selamat beristirahat."
Albert hanya bisa tersenyum, membiarkan Aina pergi meninggalkannya sendiri di ruangan itu. Namun pandangannya tak pernah lepas dari Aina yang terus melangkah pergi. "Cantiknya, empat tahun berlalu dan pesonanya semakin kuat saja, beruntung sekali Kak El."
~
Aina yang baru saja sampai didalam kamar, langsung menghampiri El Barack yang berdiri di balkon kamar. Entah kenapa Aina merasa sikap El tadi tidak biasa. "Tuan, kenapa berdiri diluar sini ?"
El melirik Aina yang saat ini berdiri disampingnya. "Ai, apa kamu tidak bisa bicara santai denganku meski sedang berdua seperti ini? Berhentilah memanggilku Tuan, itu menjengkelkan."
"Maaf." Suara Aina terdengar lirih. "Sebenarnya saya eh maksudnya aku bingung harus memanggil seorang El Barack Alexander bagaimana."
El Barack mengubah posisinya menghadap Aina. Di tatapnya wanita itu sambil berpangku tangan. "Apa sesulit itu memanggil suami sendiri dengan panggilan yang wajar?"
Helaan napas Aina terdengar begitu berat. Semakin hari dia semakin merasa sikap El-barack semakin posesif. "Wajar seperti apa? Menikah dengan anda saja bukanlah sesuatu yang wajar untuk wanita biasa seperti saya."
"Kau ini lagi-lagi merendahkan diri sendiri." Dengan gemas El-barack mencubit kedua sisi pipi tembem Aina. Sikapnya saat ini benar-benar tidak mencerminkan ucapannya beberapa hari yang lalu didepan Boril.
"Aw sakit." Aina mengusap pelan kedua sisi pipinya. "Sebenarnya apa yang terjadi, sikap kamu agak berbeda akhir-akhir ini, sangat posesif dan semakin berani me ...." Aina tidak bisa melanjutkan ucapannya karena terlalu malu membahas hal itu.
"Me apa?" Sementara El malah semakin memajukan tubuhnya. "Menciummu, maksudnya? Anggap saja itu ... suatu kemajuan hubungan kita."
"Kemajuan? Hey Tuan yang sangat bijaksana, kemajuan dalam hubungan fisik tanpa melibatkan hati, itu adalah sebuah keegoisan. Huuft, sudahlah aku mau tidur." Aina mencoba untuk menghindar, agar obrolan tentang hal sensitif itu tidak semakin dalam hingga menimbulkan perdebatan antara dia dan El Barack.
Tak lama El-barack segera menyusul masuk, dia berbaring disamping sang istri yang tidur membelakanginya. Sejenak dia terdiam sambil menatap nanar langit-langit kamar. Entah kenapa mulutnya menjadi kaku bahkan untuk sekedar meminta maaf.
Ucapan Aina benar-benar membuat dia tertampar. Saat mempersunting Aina dia berpikir dengan bertanggung jawab atas perbuatannya maka semua akan selesai dan dia bisa memiliki Al dan Aina selamanya.
Menginginkan seseorang tanpa melibatkan perasaan, adalah sebuah keegoisan besar itulah yang saat ini mulai El-barack pahami.
Perlahan El Barack kembali melirik kesamping, terlihat napas Aina mulai teratur itu berarti dia sudah tertidur lelap. El mengubah posisinya menghadap sang istri.
Tangan kekarnya bergerak pelan menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah Aina. "Maafkan aku, Ai. Aku terlalu munafik tapi apa kamu sendiri jika cinta itu sumber kebahagiaan?"
Lama El Barack memandangi sang istri hingga beberapa menit kemudian, matanya mulai terpejam. Dia tidur sambil memeluk Aina dengan erat.
***
Keesokan paginya, Albert baru saja keluar dari dalam kamar sambil meregangkan tubuhnya. "Hoaam, pagi ini benar-benar dingin." Pandangannya tiba-tiba saja tertuju ke balkon utama lantai dua, di mana El sedang berdiri sendirian.
Tanpa pikir panjang Albert segera melangkah menuju balkon utama untuk menghampiri Kakak sepupunya. "Pengantin baru bangun pagi sekali."
El Barack menoleh melihat sang adik. Sudah sejak malam tadi dia penasaran dan ingin bertanya sesuatu kepada Albert. "Al, jujur padaku sekarang. Apa kamu masih menganggap Aina cinta pertamamu?"
Senyum ceria yang tadi tergambar diwajah Albert mendadak surut. Dia tidak menyangka Kakak sepupunya itu masih mengingat tentang cinta pertamanya. "Memang kenapa, apa Kakak cemburu padaku?"
"Bukan seperti itu." El Barack kembali mengalihkan pandangannya kearah langit pagi. "Walau bagaimanapun, dulu kamu pernah bilang kepadaku bahwa kamu menyukai Aina, meski usia kalian terpaut 7 tahun."
"Hm, aku tidak bisa membantah hal itu. Tapi seharusnya Kakak tidak perlu khawatir, dia milik Kakak sekarang. Kecuali ... Kakak menyia-nyiakan dia dan menyakiti hatinya, maka itu berarti Kakak memberikan aku peluang untuk merebutnya."
El Barack kembali menoleh menatap Albert. "Kau mengajak aku bersaing?" Entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa terbakar, meski Albert adalah adik sepupunya sendiri.
Tidak biasanya Albert bersikap serius seperti sekarang sampai berani menatap mata Elang seorang El Barack. "Aku bukan tidak tahu. Kakak menikahi dia hanya sebatas tanggung jawab 'kan? Jika Kakak benar-benar menghendaki dia, cobalah untuk mencintainya, rebut hatinya. Selain aku masih banyak pria di luar sana yang siap untuk membahagiakan Kak Ai, jika hal itu sampai terjadi apa Kak El siap?"
Albert menepuk pundak El Barack beberapa kali. "Pikirkan baik-baik, jangan sampai menyesal." Dia segera berbalik dan kembali masuk kebagian dalam Mansion.
Bersambung 💕🙏
Gaes jangan lupa besok vote author ya, biar semangat crazy up 🙏🥲
Jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini ya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Acih Sumawati
mulai ada greget dlm cerita /Drool/
2023-10-30
0
Acih Sumawati
apakah El akan mengakui kalau dirinya jg sudah ada perasaan itu pd ai
2023-10-30
0
dewi
beneran punya rasa dia 😅😅
2023-07-02
0