Harapan terakhir

"Apa maksud kamu tiba-tiba ingin membahas tentang mantan sekretarisku?" tanya El-barack sesaat setelah dia dan Boril sampai di balkon utama Mansion. Sudah empat tahun berlalu, dia bahkan sudah asing dengan nama, Aina Caroline.

Kedua bola mata Boril melirik kanan kiri untuk memantau situasi, lalu perlahan dia kembali melangkah hingga posisinya sejajar dengan El Barack. "Sebelumnya saya minta maaf, Tuan. Sudah empat tahun belakangan ini saya terus memantau Nona Aina melalui orang suruhan saya."

El Barack menoleh dengan raut wajah bingung. "Untuk apa kamu memantau dia? Apa dia seorang tersangka sebuah kasus atau dia telah melakukan kejahatan?"

Perasaan gelisah kembali menghantui Boril. Karena selama empat tahun ini dia sudah menyimpan rahasia itu sendiri, agar sang majikan fokus menjalani pengobatan dan tidak terbebani.

Obrolan antara Antonio dan El Barack tadi membuat Boril semakin yakin untuk mengungkapkan semua yang dia simpan selama ini. Dia mencoba mengatur napas sebelum kembali melanjutkan ucapannya.

"Ehm, sebenarnya ... empat tahun lalu saya melihat Nona Aina keluar dari gedung apartemen tempat anda tinggal dengan penampilan acak-acakan." Boril terus menerangkan semuanya secara rinci.

Jika dulu Boril hanya bisa berasumsi, sekarang dia mempunyai bukti kuat untuk membenarkan kejadian itu. Dia bicara tanpa ragu, dengan harapan akan ada satu harapan terakhir untuk keluarga Alexander.

Setelah mendengar penjelasan sang asisten, El Barack tidak bisa bicara apapun, perlahan dia mundur hingga terduduk di sebuah sofa yang ada di balkon itu. "Jadi hari itu, aku dan dia ...."

"Benar, Tuan. Selama empat tahun ini Nona Aina membesarkan anak laki-lakinya sendiri karena diusir oleh Kakaknya. Selama empat tahun ini saya bolak balik Melbourne- Indonesia hanya untuk memastikan mereka baik-baik saja."

"Kenapa kamu baru mengatakan padaku sekarang!" Seru El Barack, dia mengusap wajahnya dengan kasar saat berusaha memutar memori kenangan lalu. Ya, yang tersisa dalam ingatannya hanyalah seorang Aina yang polos dan pekerja keras.

"Maafkan saya, Tuan. Sebulan setelah sampai di Melbourne anda di diagnosa kanker, bagaimana bisa saya semakin menambah beban pikiran Anda. Jika anda mau menghukum atau me--"

"Antar aku kesana." Potong El Barack. "Aku harus memastikan sendiri jika, anak itu benar-benar adalah daraah dagingku." El Barack berdiri dari posisi duduknya. "Kenapa kamu melamun, ayo."

"Ba-baik, Tuan." Boril hanya bisa menunduk, lalu melangkah pergi mengikuti El Barack dari belakang. Meski merasa lega karena sudah mengungkapkan semuanya, namun ada satu hal yang Boril takutkan yaitu, kemungkinan tentang El Barack yang akan mengambil paksa anak Aina.

Perjalanan menuju tempat tinggal Aina akan memakan waktu, apalagi ini sudah malam. Namun semua itu tidak menyurutkan keinginan El Barack, karena Aina adalah harapan terakhirnya.

***

Seorang bocah kecil menyeret boneka kesayangannya menuju dapur dengan raut wajah sendu. Sesampainya di ambang pintu dapur dia menghentikan langkahnya, memandangi seorang wanita yang terlihat sedang sibuk berkutat dengan bahan makanan. "Ma, Al lapal."

"Al, sudah bangun, Nak." Wanita itu menoleh sambil tersenyum memandangi sang putra. Ya, dialah Aina Caroline, seorang orang tua tunggal yang harus mengambil peran Ayah dan Ibu diwaktu bersamaan. "Mama sudah goreng nugget untuk kamu, tunggu sebentar ya."

Dengan cekatan Aina mengambil nasi dan juga nugget ayam yang sudah dia siapkan untuk sang putra. Pukul empat dini hari dia sudah terbangun, menggoreng risol mayo dan kue basah lainnya.

Sudah empat tahun ini dia memilih untuk menjual kue, yang awalnya di titip ke toko-toko kini dia sudah cukup banyak menerima pesanan. Dari hasil menjual kue dia bisa membiayai kehidupannya dan sang putra.

"Ini makanannya. Al, duduk di depan TV dulu ya, Mama masih goreng risol, nanti Mama menyusul." Aina menepuk pelan pundak sang putra.

"Iya, Ma." Al berbalik lalu melangkah menuju ruang TV yang tidak jauh dari dapur. Anak laki-laki itu sangat sabar, seolah mengerti jika sang Mama bekerja keras untuk menghidupinya.

Aina memandangi sang putra dari kejauhan. Sudah begitu lama waktu berlalu, tetapi setiap melihat Alvian hatinya selalu saja terenyuh. Dia segera menyeka air mata lalu melanjutkan aktivitasnya menggoreng risol.

***

"Ini, Bu. Total pesanan 40 puluh risol, saya kasih bonus dua lagi, terima kasih banyak." Aina memberikan plastik berisi risol kepada customernya yang sudah menunggunya di teras depan.

"Sama-sama, Ai. Teman-teman kantor saya ketagihan sama risol mayo buatan kamu, bulan depan ada acara, saya pasti akan pesan kue sama kamu." Wanita itu terlihat sumringah melihat risol di kantong plastik itu.

"Tante, makan lisol teyus," sahut Al yang tiba-tiba datang dari arah belakang Aina. "Kan kue Mama banyak yang lain co--" Al tidak bisa melanjutkan ucapannya karena mulutnya di bekap sang Mama.

"Maaf ya, Bu. Al memang sedikit cerewet." Aina menghela napas pelan. Karena sang putra selalu saja sok akrab dengan para customernya. Meski orang-orang menganggap Al lucu, tapi Aina tetap saja merasa tidak enak.

"Haha, tidak apa-apa, Ai. Baru saja saya mau nanya Al kemana, kok tumben tidak muncul." Ibu itu mengeluarkan uang pecahan seratus ribu sebanyak dua lembar. "Ini untuk risolnya 120 ribu, sisanya kasih bocah tampan ini ya."

"Terima kasih, Tante baik," ucap Alvian, menunjukkan senyum terbaiknya. Terkadang Aina merasa tidak enak kepada para customer yang begitu baik kepada putranya.

"Ti-tidak usah, Bu. Itu terlalu banyak, biar saya ambil kembaliannya sebentar." Aina segera melangkah cepat masuk kedalam rumah untuk mengamankan uang kembalian. Namun sayang saat dia kembali keluar, Ibu itu sudah tidak ada.

"Teyat, Ma. Tantenya udah pelgi," sahut Al saat melihat sang Mama datang dengan terburu-buru.

"Huuft, lagi-lagi Mama tidak bisa menolak." Aina mengusap lembut pucuk kepala Al. "Kalau begitu uangnya kita masukkan ke celengan kamu yuk."

"Boyeh," ucap Al antusias. Saat hendak masuk kedalam rumah. Al dan Aina menghentikan langkah mereka ketika melihat sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah. "Ma, itu capa Ma?"

"Mama tidak tahu." Aina masih terlihat santai hingga sedetik kemudian, wajahnya mulai menegang. Ya, dari jarak beberapa meter dari teras dia melihat seorang pria berpakaian formal keluar dari mobil.

Siapa lagi kalau bukan El Barack Alexander. Dia membuka kacamata hitam yang menutupi kedua netra hitamnya, memandangi Aina dan juga Al sambil terus melangkah mendekat bersama Boril.

Kepanikan mulai melanda Aina, dia ingin lari masuk kedalam dan mengunci pintu. Namun tubuhnya terasa kaku, tidak bisa bergerak. Bagaimana bisa, kenapa dia bisa datang kesini, batin Aina.

Langkah El Barack terhenti tepat di depan Aina. Dia melirik kearah bocah laki-laki yang menatapnya dengan berani. Bahkan aku tidak memerlukan tes DNA. Semua yang ada pada diri bocah laki-laki ini, benar-benar mirip denganku. Batin El Barack.

El Barack kembali beralih melihat Aina. Lengkungan senyum kini tergambar jelas di wajah maskulin itu. "Long time no see, sekertaris Ai."

Bersambung 💕

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

sekali nembak langsung jadi, tokcer ngk tuh Al😁😁😁😁

2024-03-05

0

dewi

dewi

anak ketemu gede

2023-07-01

1

MamaSipit

MamaSipit

suka banget ceritanya

2023-05-15

0

lihat semua
Episodes
1 Mistake (Kesalahan)
2 After Mistake
3 Harapan terakhir
4 Kembalinya luka lama
5 Pilihan terbaik
6 Kedatangan Antonio
7 Semalam Bersamamu
8 Rencana Antonio
9 Hari ini kita menikah!
10 Awal yang posesif
11 Biarkan semua orang tahu
12 Apa itu cinta?
13 Balas dendam!
14 Ketika suhu ruangan diatas rata-rata
15 Apa kamu siap?
16 Getaran Cinta?
17 Jangan hina anakku!
18 Libatkan Aku
19 Permintaan Al
20 Sentuhan kecil
21 Kenali dia lebih dalam
22 Pelajaran Keras
23 Jangan Tanya Aku
24 Krisis Kepercayaan Diri
25 Kembali Usil
26 Tidak Akan Selesai
27 Do you love Me?
28 Ancaman Reynald
29 Makan Malam Perdana
30 Tingkah El-barack
31 Palsu?
32 Hadiah untuk Kakak ipar
33 Diam seribu bahasa
34 Acara Pembukaan
35 Bersikap Baik
36 Kamu satu-satunya
37 Aku mencintaimu!
38 Tanpa Batas waktu
39 Cemas luar dalam
40 Kamu Cemburu?
41 Malam Ini Bersamamu
42 Turuti Saja
43 Sudah Begitu Lama
44 Dengarkan Aku
45 Gagal Estetik
46 Keinginanku
47 Peringatan Albert
48 l Love you to?
49 Pelajaran Empat Tahun Lalu
50 Kecurigaan Yuna
51 I love you so much
52 Kamu menyukainya?
53 Di jodohkan?
54 Menyelidiki
55 Harus bisa, harus terima
56 Kamu dimana?
57 Apa yang harus aku lakukan?
58 Peringatan El-barack.
59 Tak bisa berpaling.
60 Camkan itu!
61 Dengan Caraku
62 Cintaku Bukan Cinta Biasa
63 Jangan pernah kembali
64 Teman hidup?
65 Cerita Malam.
66 Look at me
67 Mendapatkan bukti
68 Jangan ditutupi
69 Rasa penasaran El-barack
70 Rencana El-barack.
71 Harusnya Aku
72 Bagaimana Mungkin?
73 Mengapa Kembali
74 Long time no see
75 Biarkan Aku Saja
76 Keputusan Aina
77 Semua Didepan Mata
78 Mari Berpisah!
79 Pilihan Terbaik
80 Memulai kembali
81 Jangan Datang lagi
82 Menjauhlah
83 Reuni Masalalu
84 Tidak akan goyah
85 Perpisahan adalah pelajaran
86 Dreams come true
87 Happy End
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Mistake (Kesalahan)
2
After Mistake
3
Harapan terakhir
4
Kembalinya luka lama
5
Pilihan terbaik
6
Kedatangan Antonio
7
Semalam Bersamamu
8
Rencana Antonio
9
Hari ini kita menikah!
10
Awal yang posesif
11
Biarkan semua orang tahu
12
Apa itu cinta?
13
Balas dendam!
14
Ketika suhu ruangan diatas rata-rata
15
Apa kamu siap?
16
Getaran Cinta?
17
Jangan hina anakku!
18
Libatkan Aku
19
Permintaan Al
20
Sentuhan kecil
21
Kenali dia lebih dalam
22
Pelajaran Keras
23
Jangan Tanya Aku
24
Krisis Kepercayaan Diri
25
Kembali Usil
26
Tidak Akan Selesai
27
Do you love Me?
28
Ancaman Reynald
29
Makan Malam Perdana
30
Tingkah El-barack
31
Palsu?
32
Hadiah untuk Kakak ipar
33
Diam seribu bahasa
34
Acara Pembukaan
35
Bersikap Baik
36
Kamu satu-satunya
37
Aku mencintaimu!
38
Tanpa Batas waktu
39
Cemas luar dalam
40
Kamu Cemburu?
41
Malam Ini Bersamamu
42
Turuti Saja
43
Sudah Begitu Lama
44
Dengarkan Aku
45
Gagal Estetik
46
Keinginanku
47
Peringatan Albert
48
l Love you to?
49
Pelajaran Empat Tahun Lalu
50
Kecurigaan Yuna
51
I love you so much
52
Kamu menyukainya?
53
Di jodohkan?
54
Menyelidiki
55
Harus bisa, harus terima
56
Kamu dimana?
57
Apa yang harus aku lakukan?
58
Peringatan El-barack.
59
Tak bisa berpaling.
60
Camkan itu!
61
Dengan Caraku
62
Cintaku Bukan Cinta Biasa
63
Jangan pernah kembali
64
Teman hidup?
65
Cerita Malam.
66
Look at me
67
Mendapatkan bukti
68
Jangan ditutupi
69
Rasa penasaran El-barack
70
Rencana El-barack.
71
Harusnya Aku
72
Bagaimana Mungkin?
73
Mengapa Kembali
74
Long time no see
75
Biarkan Aku Saja
76
Keputusan Aina
77
Semua Didepan Mata
78
Mari Berpisah!
79
Pilihan Terbaik
80
Memulai kembali
81
Jangan Datang lagi
82
Menjauhlah
83
Reuni Masalalu
84
Tidak akan goyah
85
Perpisahan adalah pelajaran
86
Dreams come true
87
Happy End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!