Aina yang sempat terlena kini mulai tersadar. Matanya membulat dan langsung mendorong tubuh El-barack menjauh darinya. "Hey, apa anda mencari kesempatan dalam kesempitan!"
El-barack mengusap bibirnya yang basah karena ciuman itu. Dia duduk disamping Aina sambil menyandarkan tubuh. "Aku sudah bilang jangan bicara. Anggap saja itu hukuman dan hadiah untuk awal pertemuan kita."
Hampir kehabisan kata-kata, Aina menggelengkan kepalanya melihat pria yang dimatanya selalu dicap seorang bre*sek. "Baik dulu ataupun sekarang anda selalu meninggalkan kesan buruk untuk saya."
"Aku malah lebih buruk dan menyedihkan dari pada yang ada dibayangan kamu." El-barack menoleh menatap Aina yang masih menatapnya dengan kesal. "Bukan hanya kamu yang melalui masa-masa sulit tapi begitu juga aku."
Melihat raut wajah sendu El-barack, Aina langsung memalingkan wajahnya. Dia tidak mau tertipu daya hanya karena ucapan yang menurutnya sebuah omong kosong. "Huuft, saya akan datang menjemput Al besok. Sekarang anda pulang lah, untuk apa berlama-lama disini."
Sesaat setelah ucapan Aina, tiba-tiba terdengar suara petir yang bergemuruh dan detik selanjutnya, hujan mulai turun. El Barack, berdecak seraya memandang keluar jendela. "Bagaimana ini, sepertinya semesta pun mendukung agar aku tetap disini."
"A-apa?" Aina berdiri dan langsung mengintip keluar teras. Hujan yang turun memang cukup deras. Dia kembali memandang kearah sofa dimana El-barack duduk seolah enggan untuk beranjak. "Anda 'kan kesini mengendarai mobil, tidak akan kena hujan juga. Ayo keluar dari rumah saya sekarang."
El-barack segera berdiri namun bukannya melangkah keluar, dia malah melanjutkan langkahnya masuk ke bagian dalam rumah kontrakan itu. "Rumah ini sangat bersih dam rapi." Langkahnya terhenti saat melihat foto-foto yang terpajang di dinding. "Apa ini Al?"
Percuma saja kamu mengusirnya Aina. Dia itu adalah orang yang semena-mena dan keras kepala, batin Aina. Empat tahun yang lalu saat masih menjadi sekertaris, dia sudah terbiasa dengan sikap keras kepala El Barack.
"Huftt baiklah kalau anda kekeh ingin tetap disini. Saya mau tidur." Aina melangkah masuk kedalam kamar dan langsung menguncinya.
"Aina, apa seperti itu caramu menjamu seorang tamu kehormatan sepertiku?"El terus mencoba mengetuk-ngetuk pintu kamar. "Baiklah kalau kamu mau tidur, aku juga akan tidur di sofa."
El Barack tidak bercanda dengan ucapannya. Dia benar-benar melangkah menuju sofa dan merebahkan tubuhnya disana. Meski harus meringkuk karena sofa itu tidak cukup panjang untuk tubuh tingginya.
Pandangannya menatap lurus kearah langit-langit ruangan. Apa yang harus aku lakukan agar dia bisa bersifat lunak padaku. Aku hanya ingin menebus semua kesalahanku. Tapi ternyata Aina bukan wanita segampang itu, batinnya.
***
Malam semakin pekat, Aina belum sekalipun keluar dari kamarnya. Pikirannya dipenuhi dengan Alvian, baru beberapa jam berpisah dia sudah sangat merindukan bocah kecil itu. "Kira-kira Al sekarang sedang apa ya?"
Lama Aina tenggelam dalam pikiran sendiri hingga tiba-tiba indra penciumannya mendeteksi bau gosong yang teramat pekat. "Bau apa ini." Dia melangkah keluar dari dalam kamar. Saat pintu terbuka, bau gosong itu semakin terasa.
Tanpa pikir panjang, dia bergegas menuju dapur. "Astaga," ucapannya saat melihat El Barack sedang berdiri di depan kompor, dia bisa melihat asap yang keluar dari penggorengan. "Apa yang anda lakukan?"
"Uhuk uhuk, aku lapar. Dan aku lihat ada mie goreng. Jadi aku goreng saja, tapi kenapa malah gosong begini uhuk uhuk." El Barack terus terbatik-batuk karena asap dari penggorengan.
"Ini memang mie goreng, tapi masaknya tidak digoreng dengan minyak. Minggir." Aina mengambil alih posisi El dan segera menutup penggorengan itu. "Anda benar-benar tamu yang sopan, masuk kedapur orang dan hampir menyebabkan kebakaran."
"Apa ini adalah sikap aslimu? Aina yang aku kenal dulu adalah wanita penurut, polos dan hanya menjawab 'Iya Tuan' 'maafkan saya Tuan' Kenapa sekarang kamu galak sekali." El begitu antusias menyuarakan isi pikirannya.
Empat tahun yang lalu Aina yang El kenal adalah wanita sederhana yang tidak berani menatap matanya. Namun sekarang waktu benar-benar sudah mengubah banyak hal termasuk sifat seseorang.
"Keadaan bisa mengubah karakter seseorang, yang dulu saya selalu menunduk patuh kepada anda. Tapi sekarang ...." Aina tiba-tiba mengingat betapa polosnya dia dulu. Dan dia selalu kesal saat mengingat itu semua. "Sekarang saya tidak akan mengulang kebodohan yang sama."
El Barack lagi-lagi bisa melihat sisi lain dari dari Aina yang dulu tidak pernah dia tahu. "Huuft, maafkan aku. Aku lupa jika penyebab kamu seperti sekarang itu karena pria bren*sek sepertiku, maaf. Ehm, malam ini kamu setuju ataupun tidak, aku akan menginap."
Aina sampai terperangah mendengar ucapan El. "Kenapa? ... maksud saya, tidak boleh. Mau bagaimanapun kita bukan muhrim, tidak enak dengan tetangga. Anda harus pulang."
"Salah sendiri mau dihalalin tidak mau. Kamu tidak usah khawatir, aku berjanji tidak akan macam-macam. Aku hanya ingin merasakan tidur ditempat ini. Tempat dimana Al menghabiskan masa-masa emasnya tanpa sosok seorang Ayah. Besok kamu bisa ikut aku menjemput Al di mansion. Jarak dari sini ke kota lumayan jauh loh."
Lagi-lagi yang ada dipikiran Aina hanyalah tentang kata 'percuma' Ya, rasanya percuma saja melarang seseorang seperti El-barack. "Huftt ya baiklah. Anda bisa tidur di sofa atau di ruang TV."
"Tidak masalah. Tapi ... apa kamu bisa memasak sesuatu yang bisa aku makan? Aku sangat lapar sampai lemas. Kalau aku maati disini kamu akan terkena mas--"
"Iya iya! Saya menyerah kali ini. Tapi bukan berarti saya luluh, saya hanya tidak mau anda maati konyol disini." Aina segera membuka kulkas dan melihat bahan makanan apa yang bisa dia masak.
***
Sekitar pukul tujuh malam, Aina dan El duduk ruang TV, menikmati makan malam mereka. Tidak ada obrolan diantara mereka, hanya suara hujan rintik mendominasi suasana.
"Ehm, masakan kamu enak juga. Sepertinya risol ini juga enak." El hendak mengambil satu buah risol di atas piring, namun tiba-tiba Aina menahan pergelangan tangannya. "Kenapa?"
"Jangan makan yang itu, isinya ikan." Aina menaruh risol dengan isian ayam diatas piring makan El. "Makan yang ini saja."
Lengkungan senyum tergambar jelas diwajah El-barack. "Kamu masih ingat aku alergi seafood. Ck, ternyata keadaan tidak merubah semua tentang kamu. Terima kasih."
"Jangan salah paham. Tempat ini jauh dari rumah sakit. Kalau alergi anda kambuh, saya tidak mau tanggung jawab."
Meski masih terlihat dingin, namun El-barack tahu Aina adalah wanita yang baik. Terlepas dari semua masalah mereka dimasalalu, El dan Aina adalah dua orang yang pernah saling bekerja sama.
"Aina, aku minta maaf untuk semua kesalahanku di masa lalu. Aku benar-benar sedang frustasi saat itu sampai tidak ingat apapun. Tadinya aku ingin mengajak kamu menikah demi Alvian tapi sekarang aku tahu sikapku sangat lancang. Aku tidak akan memaksa kamu lagi, tapi apa bisa kamu pindah ke kota? Setidaknya aku bisa lebih dekat dengan anakku dan kamu tidak akan kehilangan dia. Bagaimana?"
Bersambung 💕🙏
Jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini ya gaess..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
dewi
👍👍👍👍
2023-07-02
1
Yunia Afida
udah pindah ke kota aja
2022-12-23
1
Yunia Afida
kamu harus bersikap lembut, cintai dia
2022-12-23
2