"Apa, menikah!" ucap El dan Aina secara bersamaan. Mereka saling menoleh, memandangi satu sama lain. Entah bagaimana cara takdir bekerja hingga saat El menyerah untuk menjadikan Aina sebagai istrinya, sang Papa malah hendak mewujudkan itu semua.
"Ya, kalian akan menikah hari ini juga." Antonio mengalihkan pandangannya kearah Aina. "Aina, saya harap kamu tidak akan menolak. Pernikahan ini adalah jalan terbaik untuk masa depan Alvian."
"Maaf, Tuan. Tapi ...." Aina mencoba untuk mencari alasan namun pikirannya tiba-tiba kosong. Apa yang harus dia lakukan sekarang, semua begitu mendesak. Niatnya untuk pindah malah membawa dia untuk memutuskan satu pilihan yang sulit.
"Aina, semua sudah saya persiapkan. Bukan hanya berkas pernikahan yang sudah siap, tapi wali nikah kamu pun sudah saya bawa kemari," ujar Antonio.
Saat itu juga mata Aina membulat. "A-apa, wali?" Dia mulai bertanya-tanya siapa orang yang dimaksud Antonio. Dia lupa jika data indentitasnya saat bekerja di Rich Grup, mempermudah Antonio untuk menjalankan rencananya.
Pandangan Aina kembali teralihkan saat melihat sang putra menuruni tangga dengan di gendong seorang pria. Ya, siapa lagi kalau bukan kakaknya, Reynald.
Empat tahun berlalu, Aina seolah tak percaya dunianya kembali diporakporandakan. Semesta yang dulu seolah menyudutkan dia, kini kembali mengiringnya kembali kemasa lalu. "Kak Rey?"
Matanya mulai berkaca-kaca, tanpa pikir panjang. Aina berhambur memeluk sang Kakak, sesaat setelah Kakaknya itu menurunkan Al dari gendongannya.
Tangis Aina pecah seketika. Di pelukan sang Kakak dia meluapkan semua rasa rindu yang sudah menggunung sejak lama. Sosok Reynald adalah orang yang amat berarti untuk Aina, hingga waktu itu dia memilih untuk pergi.
***
Di dalam sebuah ruangan khusus yang sudah disiapkan. Aina dan sang Kakak duduk berhadapan. Hari ini Reynald benar-benar mengintrogasi sang adik. Baik itu alasan Aina kabur dari rumah empat tahun lalu dan juga tentang anak Aina yang ternyata cucu dari Antonio Alexander.
"Ai, Kakak tahu tidak berhak atas hidup kamu. Dan mungkin kamu berpikir, Kakak mengatakan ini demi kepentingan pribadi Kakak sebagai seorang pengusaha. Tapi ... setelah melihat Al, Kakak bisa memahami maksud Tuan Antonio."
Aina nampak berpikir, hingga sempat melirik jam dinding yang terus memecah waktu, detik demi detik. Sebentar lagi pernikahan yang direncanakan Antonio Alexander akan segera dilaksanakan, namun hatinya masih dipenuhi kebimbangan.
"Apa ini adalah jalan satu-satunya?" Aina kembali menatap sang Kakak. "Setelah hari itu, aku benar-benar ingin menghilang dari kehidupan kalian, aku juga tidak ingin kembali ke kota ini. Tapi ternyata kisah itu belum selesai, Tuan El, apa aku bisa hidup bersamanya?"
"Kamu bisa, Kakak yakin." Sejujurnya Reynald tak tega melihat sang adik, namun ada satu alasan yang membuat dia setuju dengan rencana Antonio. Dalam hati dia terus berharap jika dengan pernikahan ini, adiknya akan mendapatkan kebahagiaan itu.
Sebagai seorang Kakak dia merasa gagal bertanggung jawab atas diri Aina, dulu. Dan saat ini dia ingin memberikan tanggung jawab itu kepada El Barack. Meski saat ini dia hanya bisa berasumsi, namun entah kenapa dia begitu yakin, Aina akan mendapatkan kebahagiaan itu dalam diri El Barack.
***
Di tempat berbeda. Al duduk di pangkuan sang Kakek sambil terus melirik El Barack yang duduk tak jauh darinya. Bocah kecil itu terlihat takut, karena kesan pertama yang El berikan saat awal bertemu memang kurang baik.
El Barack pun masih berpikir, apa yang harus dia katakan kepada sang putra. Dia bukanlah seorang pria yang pandai merayu seorang bocah. Tatapan matanya benar-benar sama denganku, pantas saja Papa selalu kesal jika aku menatapnya, ternyata seperti ini rasanya ditatap seperti itu, batin El.
"Kakek, Om itu Papa?" tanya Al pada akhirnya, meski dengan suara berbisik. Ya, kemarin Antonio sudah menjelaskan semuanya tentang El Barack kepada sang cucu.
"Iya dia Papa kamu, sayang." Antonio menatap tajam kearah sang putra."Jangan hanya diam saja. Cobalah untuk membujuk anak kamu, dasar Pria tidak peka!"
"Ma-maaf." Dengan langkah ragu-ragu, El Barack mendekat dan langsung bersimpuh di hadapan Alvian. El memejamkan matanya seraya menggerutuki diri yang sampai saat ini masih belum bisa mengambil hati sang putra.
Setelah beberapa saat dia kembali memberanikan diri menatap Al. "Al, ini Papa. Sekarang Papa mau ...." Gemuruh di dada El Barack mulai membuncah, saat bocah kecil itu terlihat serius mendengarkan. "Kita, tinggal sama-sama. Papa, El dan Mama. Kita tinggal disini bersama, boleh?"
Mata bocah kecil itu mengerjapkan matanya, dia melepaskan pegangan tangannya dari sang Kakek. Jari jemarinya mengusap pelan pipi sang Papa. "Boyeh, Al cayang Mama Papa."
Helaan napas El terdengar begitu berat. Rasa bersalah itu kembali muncul hingga menghantam hatinya berkali-kali. Ya, dia menyesali banyak hal, termaksud terlambat menjadi seorang Papa yang terbaik untuk Alvian. El Barack menyeka air matanya lalu mulai merentangkan tangan. "Sini peluk Papa dulu."
Al yang nampak ragu, menoleh kebelakang sebentar. Dia melihat sang Kakek seolah meminta persetujuan. Antonio pun tersenyum dan menganggukkan kepala.
Akhirnya bocah kecil itu memberanikan diri memeluk El Barack untuk pertama kalinya semenjak dia terlahir ke dunia. Mungkin dia belum mengerti dengan semua situasi ini, namun dia tahu jika El Barack menginginkannya dengan tulus.
***
"Silakan buka mata anda, Nona."
Perlahan Aina membuka mata melihat pantulan wajahnya dari pantulan cermin. Aina nampak tak percaya melihat dirinya begitu berbeda dengan balutan gaun pengantin dan make up flawless.
Tenangkan dirimu Aina. Ingat kamu sudah berkorban banyak hal demi kebahagiaan Al, Pernikahan ini bukan apa-apa jika di bandingkan penderitaan kamu selama empat tahun, batinnya.
Klek.
Pintu kamar itu terbuka, Aina dan dua orang make up artist disana menoleh kearah pintu. Terlihat El Barack melangkah kearahnya dengan balutan jas hitam, begitu tampan dan berkarisma.
Tanpa menunda waktu, kedua wanita yang membantu Aina bersiap-siap, segera keluar dari kamar itu. Mereka seolah mengerti jika kedua calon pasutri itu membutuhkan waktu untuk bicara.
Sekarang tinggal mereka berdua dikamar itu. Aina segera berdiri saat El Barack tepat berada dihadapannya. "Anda sepertinya sangat santai menghadapi pernikahan ini."
"Maafkan aku, aku tahu ini sangat berat untuk kamu dan aku tahu, kamu juga sangat membenciku. Tapi kali ini, biarkan aku bertanggung jawab untuk diri kamu dan Alvian."
Jawaban El Barack tidak membuat Aina merasa lega, namun ada satu hal yang ingin dia pastikan sebelum benar-benar terikat. "Menjalankan hubungan pernikahan tanpa didasari cinta, anda siap?"
"Hatiku sudah lama mati rasa, setelah skandal empat tahun lalu. Kamu tenang saja, aku tidak akan menuntut kamu menjadi istri sesungguhnya, tugasmu hanya menjadi seorang Ibu seperti biasa dan juga menjadi Nyonya Alexander."
"Begitu ya." Aina nampak tertunduk. Seharusnya dia merasa lega karena tidak perlu takut akan disentuh oleh El Barack. Namun jauh di dalam relung hatinya yang terdalam dia mempertanyakan makna pernikahan mereka untuk apa, jika tidak melibatkan cinta.
El Barack mengulurkan tangannya kehadapan Aina. "Aina ayo kita lengkapi kebahagiaan Alvian, dengan pernikahan ini."
Perlahan Aina menggerakkan tangan, meski nampak ragu tapi akhirnya dia meraih uluran tangan El Barack. "Hm, ayo menikah demi Alvian."
Sesaat setelah jabatan tangan keduanya, tanpa mereka sadari takdir baru telah menanti. Kisah ini baru saja dimulai, mereka dan semua orang hanya bisa berasumsi namun kembali lagi, semesta telah mengatur semuanya dengan sebaik-baiknya rencana.
Bersambung 💕
Kisah mereka baru saja baru saja dimulai, akan banyak kelucuan, kecemburuan, aksi romantis dan panas yang menggetarkan hati. Yuk jangan lupa berikan like, komen, n vote untuk novel ini agar author semakin semangat berkarya. Terima kasih 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
semoga pernikahan nya langeng ngk ada para pelakor Thour🥰🥰🥰
2024-03-05
0
dewi
author yg mengatur semuanya 🤭
2023-07-02
0
MamaSipit
hemmm semoga cinta nisa tumbuh di hati mereka
2023-05-15
0