Pernikahan Aina dan El Barack digelar secara tertutup dan hanya di hadiri keluarga terdekat saja. Dari pihak Aina sendiri hanya dihadiri sang Kakak, Reynald. Ya, Reynald masih merahasiakan tentang Aina dari sang istri.
Saat sedang melakukan sesi foto bersama, seorang wanita paruh baya dan seorang pria yang disambut baik oleh para pelayan. Wanita paruh baya itu menghampiri Antonio dengan angkuhnya. "Bagaimana mana bisa ini terjadi, apa Kakak yakin dia benar-benar anak El?" tanyanya berbisik.
"Diamlah, aku tidak memerlukan tanggapan apapun darimu. Masih untung aku memanggil kamu kesini, makan lalu pulanglah." Antonio yang nampak kesal langsung meninggalkan tempat itu.
"Dasar Kak Antonio. Gagal sudah rencanaku menjadikan Albert sebagai pengganti El-barack," guman wanita sambil menghentakkan kakinya kesal.
Sementara pria bernama Albert yang datang bersama sang Mama, langsung menghampiri Kakak sepupunya. "Hy Kak El dan juga sekertaris Ai."
Seketika Aina langsung mengerutkan keningnya, dia tidak mengenal pria muda dihadapannya itu, namun pria itu memanggilnya dengan akrab. "Terima kasih, tapi ... nama kamu ...."
"Kamu lupa dengan dia?" sahut El Barack. "Empat tahun yang lalu dia memang masih bocah SMA yang selalu datang ke perusahaan hanya untuk meminta uang jajan tambahan dariku.
Memory lama dalam ingatan Aina kembali berputar. Hingga akhirnya dia ingat pria itu. "A-Alberd? Kamu Albert Alexander?"
"Benar. Hufft, aku sedih sekali karena Kakak lupa padaku." Albert mengerakkan tangannya merangkul Aina. "Sekarang aku sudah dewasa 'kan? Tapi Kak Ai malah menikah dengan Kak El."
"Ahaha, maaf. Kamu ingat janjiku lima tahun yang lalu ya? Jangan di anggap serius, waktu itu aku hanya bercanda agar kamu mau ikut ujian semester," ucap Aina yang terlihat begitu akrab dengan adik iparnya.
Dua pasang mata elang El Barack telihat memicing tajam. "Ehm, sudah jangan sok akrab begitu." Dia menghempaskan tangan Albert dari pundak wanita yang saat ini resmi menjadi istrinya. "Kamu belum bertemu putraku 'kan? Dia sangat tampan sama sepertiku, ayo kamu harus bertemu dengannya."
"Ta-tapi aku masih ...." Albert tidak sempat melanjutkan ucapannya, karena El langsung menarik dia pergi meninggalkan Aina sendiri.
Sekarang Aina tinggal sendiri disana, dia memutuskan untuk mencari keberadaan sang Kakak, yang tidak terlihat lagi setelah acara pernikahannya selesai digelar.
Senyum Aina mengembang ketika melihat Reynald sedang duduk sendiri di kursi ruang tamua mansion mewah itu. "Aku pikir Kakak pulang tanpa memberitahuku."
Reynald melirik kearah sang adik yang saat ini duduk disampingnya. "Kakak tidak menyangka hari ini bisa melepaskan tanggung jawab sebagai Kakak. Meski sebenarnya aku sudah gagal melindungi kamu."
"Kakak tidak pernah gagal. Tapi akulah yang gagal menjadi adik yang baik. Huuft sudahlah jangan dibahas lagi, aku akan menjalani semua ini dengan bahagia." Dia memandangi sang Kakak sambil tersenyum lebar. "Sampaikan salam ku kepada Kak Lin."
"Ck, sudahlah jangan membahas dia. Aku tidak akan memberitahu dia jika kamu sudah kembali. Dia masih sama, selalu memandang jelek kamu sebagai adik ipar," ujar Reynald sambil menyandarkan tubuhnya.
Aina pun ikut bersandar. "Hm, Kak Lin masih sama ya. Kakak benar, sepertinya jika dia mengetahui aku kembali, maka hidupnya akan merasa terancam lagi. Huftt, aku tidak ingin berasumsi berlebihan tapi Kak Lin selalu menganggap aku merebut perhatian Kakak."
"Maaf karena Kakak mencintai wanita yang tidak pernah menghargai keberadaanmu." Reynald menggenggam tangan sang adik dengan erat.
Tidak ada jawaban dari Aina ,dia hanya tersenyum miris saat membayangkan perilaku Kak Lin kepadanya dulu. Sebagai seorang anak yatim piatu, dia hanya bisa mengantungkan harapannya kepada sang Kakak, namun dia tidak menyangka hal itu akan membuat sang Kakak ipar amat membenci dirinya.
***
Siang berganti malam, Aina baru saja hendak menidurkan Alvian, namun ternyata El-barack sudah mengambil alih tugas itu. Sang putra sudah tertidur sambil dipeluk oleh Papanya. "Ternyata kalian cepat akrab juga."
Menyadari kedatangan Aina, perlahan El turun dari atas ranjang. "Kamu sudah selesai mandi."
"Sudah. terima kasih karena sudah menidurkan Al. Tidak biasanya dia tidur dengan orang lain. Sepertinya hubungan darah benar-benar berpengaruh terhadap sikap seseorang."
Saat Aina sedang bicara, El malah fokus pada gaun tidur yang saat ini istrinya itu kenakan. Kenapa aku malah fokus dengan baju tidurnya, Batin El. Dia mengerakkan tangannya menarik naik kerah baju Aina yang sedikit melorot. "Perhatikan pakaianmu saat akan berhadapan denganku."
Wajah Aina mendadak bersemu merah. Seharusnya malam ini menjadi malam pengantin mereka namun tentu saja tidak akan terjadi apa-apa. "Ehm maaf. Saya terburu-buru tadi."
"Hufft baiklah. Kamu bisa tidur bersama Al disini, sementara aku akan tidur di ruang kerjaku." El Barack menunjuk satu pintu yang masih terhubung dengan kamar itu, hanya dihalangi satu tembok saja.
Aina pun baru melihat jika masih ada satu pintu lagi di kamar itu selain kamar mandi dan walk in closet. "Oh, baiklah. Itu benar-benar ide yang bagus."
Saat hendak melangkah menuju ruang kerja, tiba-tiba El Barack ingat sesuatu yang masih membuatnya penasaran sampai malam ini. Dia kembali menoleh kearah Aina yang belum meninggalkan tempatnya. "Oh iya, siang tadi kamu bilang pernah menjanjikan sesuatu kepada Albert, apa itu?"
"Oh itu. Dulu Anda meminta saya untuk membujuk dia ikut ujian. Jadi waktu itu saya bilang akan menjadi pacarnya saat dia lulus SMA," ucap Aina dengan santai. Karena baginya hal itu hanyalah sebuah candaan.
"Hah?!" Kedua netra coklat El-barack membulat sempurna. "Hey, apa harus dengan cara seperti itu, untuk membujuk seorang bocah tengil yang tidak mau ikut ujian? Haha, sepertinya dulu aku kurang memantau pekerjaanmu."
Tentu saja Aina merasa kaget dan bingung melihat sikap El-barack. "Kenapa anda marah. Itu hanya strategi saja, saya tidak pernah menganggap hal itu serius. Umur saya dan dia terpaut 7 tahun."
"Iya, kamu tidak tapi bagaimana dengan dia." Entah kenapa El-barack tiba-tiba terlihat frustasi. Dia memutar langkahnya, kembali berbaring disamping sang putra.
Aina segera menyusul dan menyibak selimut yang menutupi tubuh El-barack. "Hey Tuan posesif, kenapa Anda malah tidur disini? Pergilah ke ruang kerja anda."
"Tidak jadi. Aku mendadak berubah pikiran. Malam ini aku akan tidur bersama anakku," ucapannya lalu kembali menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Jadi kita tidur satu ranjang?" tanya Aina lemas.
"Kalau tidak mau, kamu tidur saja di sofa atau diruang kerjaku," sahut El-barack dari dalam selimut.
Cukup lama Aina berdiri disana. Terus berpikir sambil mengumpat kesal dalam hati. Setelah beberapa saat akhirnya dia memutuskan untuk tidur di atas ranjang juga. Dengan posisi Al berada ditengah-tengah, kedua pasutri itu mencoba untuk telelap. Tanpa melewati malam pengantin seperti layaknya pasangan lain.
Bersambung 💕
Jangan lupa berikan like, komen, vote n hadiah untuk novel ini...🙏😊
Oh iya, jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
keren Thour, seru🤭
2024-03-05
0
Kis Pulza
lanjut thor seru
2024-01-11
0
dewi
kemana kamu 4 tahun kemarin bang?...
2023-07-02
0