"Hari ini, Papa dan Al akan pergi ke peternakan," ujar Antonio sesaat setelah selesai dengan sarapan paginya. Semenjak resmi menjadi seorang Kakek, dia ingin selalu dekat dengan Alvian.
"Asik! Al mau liat kuda sama kelinci loh Ma," sahut bocah laki-laki itu dengan sangat antusias. Dia melirik kearah sang Papa yang tersenyum kepadanya. "Papa, cama Mama di lumah aja ya."
Sontak Aina dan semua yang ada di ruang makan itu terkekeh mendengar ucapan Al. "Mama juga rencananya mau keluar sebentar. Jadi Al main sama Kakek dulu ya."
"Kamu mau kemana?" tanya El Barack sambil memicingkan matanya. Semenjak kejadian malam tadi, dia semakin penasaran dengan diri Aina, meski rasa penasarannya itu sedikit berlebihan.
"Itu, saya ... ehm, maksudnya aku mau bertemu dengan Yuna. Dia belum tahu kalau kita menikah jadi aku mau menemuinya sebentar." Aina terlihat salah tingkah ketika sorot mata elang El seolah mengintimidasi.
El Barack merasa begitu familiar dengan nama Yuna. Sepertinya sering dia dengar dan dia temui. "Apa Yuna yang kamu maksud adalah asisten manajer perencanaan?"
"Iya betul," ujar Aina. Sampai saat ini Yuna memang masih bekerja di Rich Grup dengan posisi sebagai asisten manajer. Kemarin dia terlalu syok hingga lupa memberitahu Yuna.
"Kalau begitu kamu berangkat saja sama El," sahut Antonio yang sejak tadi sibuk meladeni sang cucu. Begitu bahagia seorang pria paruh baya yang sejak lama mendamba cucu.
"Ti-tidak usah, Pa. Saya harus memandikan Al, menyiapkan perlengkapan dia untuk ke peternakan juga. Saya bisa naik taksi, Mas El harus berangkat pagi ke kantor." Aina melirik kearah El yang masih saja memandanginya.
"Tidak masalah. Aku akan menunggu sampai kamu selesai menyiapkan barang-barang Al, kita berangkat bersama ke kantor." El berdiri dari posisi duduknya dan langsung menggedong sang putra. "Al ikut Papa keatas ya."
"Tapi tadi katanya harus berangkat pagi?" tanya Aina saat El Barack hendak beranjak.
El Barack kembali menoleh, menatap sang istri yang sudah menunggu jawaban darinya. "Apa ada yang berani menegurku karena terlambat? Ai, sepertinya kamu lupa siapa suamimu ini. Bersiaplah, aku yang akan memandikan Al."
El Barack melangkah keluar dari ruang makan bersama Sang putra sementara Aina dan Papa mertuanya masih berada di sana memandangi kepergian El hingga menghilang dari balik pintu.
Antonio mengalihkan pandangannya ke arah sang menantu, dia tahu pasti berat bagi Aina menerima pernikahan ini dan juga pasti di awal pernikahan sulit untuk membiasakan diri dengan seseorang yang asing.
"Aina, Papa harap kamu bisa lebih sabar menghadapi El. Terkadang dia orang yang berlaku sesukanya. Tapi sebenarnya dia laki-laki yang perhatian," ujar Antonio dengan nada lembut.
Lengkungan senyum mengembang indah diwajah cantik Aina. Tadinya dia pikir Antonio adalah sosok yang kejam dan menakutkan namun ternyata dia salah. "Iya, Pa. Saya sudah biasa menghadapi sikapnya dulu, jadi sekarang tidak heran lagi."
"Haha benar juga, sekretaris Ai. Dulu hanya kamu yang bisa bertahan lama menjadi sekretarisnya. Oh iya, Boril bilang saat tinggal sendiri di pinggir kota, kamu berjualan kue?"
"Benar. Dari hasil berjualan kue basah itu Saya bisa memenuhi kebutuhan hidup saya dan Al. Teman saya, Yuna sempat menawarkan perkejaan sebagai seorang karyawati disalah satu perusahaan, namun setelah ... kejadian itu saya lebih tertutup dan takut dengan dunia luar."
Mendadak mata Aina nampak berkaca-kaca, jika mengingat bagaimana perjuangannya saat hidup di rantau dengan bermodalkan sedikit tabungan dan hasil menjual kue.
Antonio pun terus memandangi Aina, dia tahu menantunya itu sudah melewati banyak hal sulit demi memasarkan Al. "Terima kasih, Aina. Kamu sudah mendidik dan membesarkan Al dengan baik."
Aina memalingkan wajahnya untuk menyeka air mata lalu setelahnya kembali melihat kearah Antonio. "Ehm, itu memang sudah kewajiban saya, sebagai ibunya. Ka-kalau begitu saya ke kamar dulu, Pa."
"Tunggu dulu." Antonio berdiri dari posisinya sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana. "Papa tahu kamu pasti akan bosan jika berada dirumah tanpa melakukan apapun. Untuk itu Papa sudah membelikan kamu toko kue, semua peralatan sudah ada disana, tinggal kamu atur bagaimana baiknya saja. Ini kuncinya."
Sejenak Aina tertegun sambil memandangi kunci di tangan keriput Antonio. "Tidak, Pa. Saya tidak bisa menerima hadiah ini." Aina hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Pokoknya ambil saja." Antonio meletakkan kunci itu secara paksa di telapak tangan Aina. "Nanti Papa akan kirimkan alamat toko itu kepada El, kalian pergilah kesana untuk meninjau lokasinya setelah dari kantor."
"Tapi ini ...." Aina tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Antonio sudah melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
***
Pukul sembilan pagi, Aina dan El Barack sudah sampai di basement perusahaan. Saat akan turun, El terlihat bingung melihat tingkah Aina yang terus memantau situasi. "Hey, apa kamu akan melakukan sebuah kejahatan. Kenapa celingak-celinguk seperti itu?
Aina menoleh melihat El sambil mencoba melepaskan sabuk pengamannya. "Saya hanya tidak ingin ada yang melihat kita bersama. Kita 'kan baru menikah pasti orang akan kaget jika anda keluar bersama seorang wanita dari mobil ini."
Ck, apa dia bermaksud ingin menutupi pernikahan ini dari semua orang. Yang namanya pernikahan yang tercatat resmi tentu saja harus diumumkan, batin El Barack.
"Ehm, aku ingin mengajak kamu bekerja sama demi privasi identitas Alvian," sahut El sambil mengubah posisinya menghadap Aina. "Aku tidak mau media membuat berita tidak baik."
"Apa maksud Anda?" tanya Aina yang nampak bingung.
El-Barack menyondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Aina. "Dengarkan aku baik-baik. Yang harus kamu ingat tentang pernikahan kita adalah, kita menikah di Melbourne empat tahun yang lalu dan Al lahir satu tahun setelah pernikahan itu."
Aina menganggukkan kepalanya, dia bisa langsung memahami maksud ucapan El. Ya, Ibu mana yang ingin Anaknya dicap anak diluar pernikahan. Hal itu adalah sebuah fakta yang selalu Aina jaga demi kesehatan mental sang putra.
"Saya paham. Jadi anggap saja empat tahun yang lalu kita saling mencintai lalu menikah di Melbourne." Aina masih nampak ragu hingga terlihat berpikir keras. "Tapi ini sama saja kita berb--"
"Ssstt." El menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Aina. "Kamu tidak perlu ragu. Cukup turuti aku, sekarang kita keluar bersama. Aku akan mempublikasikan hubungan kita didepan semua pegawai kantor."
"Hah?" Aina membulatkan matanya. "Ta-tapi saya kesini untuk bertemu Yuna, bukan untuk menuruti ide gilla anda." Dia terus memandangi El tak percaya. Dia tidak habis pikir, kenapa pria itu selalu saja mempunyai ide spontan seperti itu.
Bukannya menjawab, El malah beranjak keluar lalu memutari badan mobil untuk menukarkan pintu untuk Aina. "Ayo keluarlah, apa kamu malu menjadi istriku?"
"Bukan begitu. Tapi kita belum pernah membicarakan tentang ini. Lihatlah saya kesini hanya menggunakan dres murah dan sepatu butut."
"Apa itu penting, kamu tidak perlu mendengarkan tanggapan orang, cukup lihat dan percayakan semuanya kepadaku," ujar El yang mulai terlihat kesal.
"Tapi saya juga tidak memakai make up dan rambut saya juga diikat seadanya.Tuan, saya tidak bisa menyetujui ide itu, nanti saja ya," ucap Aina sambil menyatukan kedua telapak tangannya, memohon agar El berubah pikiran.
"Memangnya kenapa?" Rasa kesal El Barack hampir sampai puncak saat Aina seolah merendahkan dirinya sendiri. "Kamu adalah istri El-barack Alexander, dimataku kamu lebih cantik dari para wanita yang memamerkan status sosial mereka dengan barang bermerek dan perhiasan mahal!"
"A-apa?" Aina berharap jika tadi hanya salah dengar saja. Namun semua tidak akan cukup jika tidak memastikan. "Tadi anda bilang saya cantik?"
"Hah?" Isi kepala El mendadak kosong. Dia pun bingung kenapa kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya.
Bersambung 💕
Jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
kasihan amat Aini, minder 🤭🤭
2024-03-05
0
dewi
keceplosan 🤭
2023-07-02
0
dwi handayani
hmmmm cinta mulai bersemi rupany
2023-02-06
1