Kita sama-sama saling terluka disaat bersamaan. Aku dan kamu sudah melalui hal berat didampingi kehampaan. Ruang hampa itu, kini kita tempati bersama, dipersatukan oleh benang merah pernikahan.
Aku penasaran, akhir seperti apa yang akan kita dapatkan 'Happy ending?' atau 'Sad Ending?' -Aina Caroline-
.
.
.
Aina yang baru saja mendapatkan telepon dari sang mertua mendadak duduk lemas di tepi ranjang. Semenjak identitas Alvian terkuak, Aina sudah jarang menghabiskan waktu bermain bersama putranya.
Namun Aina memaklumi itu, dia tidak ingin menjadi Ibu yang egois. Dia membiarkan Antonio membawa Al pergi kemanapun, menghabiskan waktu kesana kemari, agar kelak Al terbiasa sebagai penerus keluarga.
Tak lama, El-barack keluar dari kamar mandi. Dengan tubuh setengah polos dia melangkah menghampiri Aina. "Kenapa kamu tiba-tiba lemas begitu, lapar?"
Aina menoleh dengan lemas, namun seketika dia kembali memalingkan wajahnya kesembarang arah. "Hey, apa anda tidak bisa berpakaian dulu sebelum muncul di hadapan orang lain!"
Dengan santainya El duduk disamping Aina, seraya mengeringkan rambutnya. "Sore tadi kamu begitu agresif sampai menarik-narik dasiku, sekarang kenapa begitu? Santai saja, ini baru setengah belum semuanya."
"Itu saya bercanda." Akhirnya Aina memberanikan diri menoleh kearah El-barack. "Oh iya, malam ini Al akan menginap di Villa bersama Papa. Kenapa bayiku semakin mandiri saja, dulu dia selalu menempel padaku."
"Papa sangat menyukai anak-anak, untuk itulah saat dokter mengatakan bahwa aku ...." El menghentikan ucapannya, dia tiba-tiba berpikir, haruskah dia menceritakan prihal riwayat penyakitnya kepada Aina. "Ehm, maksudku, Papa itu sangat suka dengan anak kecil, ya biarkan saja."
Dia beranjak dari posisi duduknya dan segera masuk ke walk in closed untuk berganti pakaian. Sementara Aina masih duduk disana, memandangi kepergian sang suami dengan raut wajah bingung. "Dia aneh sekali."
***
Hari semakin gelap, Albert baru saja pulang. Saat memasuki rumah, lagi-lagi dia mendapati pemandangan yang sama. Seorang pria sedang merangkul mesra sang Mama di ruang tamu kediaman mewah itu.
Kedua tangan Albert mengepal erat. Pria 21 tahun itu sangat membenci kelakuan sang Mama yang semakin menjadi sejak Papanya meninggal dunia, dua tahun lalu.
Merry Riana Alexander, adik dari Antonio Alexander. Wanita berusia 42 tahun itu terkenal angkuh dan high class. Semenjak menjanda, dia sudah banyak berubah dan Albert membenci hal itu.
"Ah sayang geli. Kamu nakal ya." Merry tertawa bersama seorang pria sambil meneguk wine yang menjadi teman setianya. Tak lama, pandangannya mengarah melihat sang putra yang berdiri di ambang pintu ruang tamu.
Sontak Merry langsung berdiri, menghampiri putranya. "Albert, kamu sudah pulang. Kamu mandi dulu ya, terus makan malam. Bibi sudah masak makanan kesukaan kamu."
Albert menarik tangannya dari genggaman sang Mama. "Aku benar-benar muak dengan situasi dirumah ini. Setelah Papa meninggalkan kita, kenapa Mama menjadi wanita murahan seperti ini!"
Paak!
Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi mulus Albert. Sambil memegangi pipinya dia kembali menoleh melihat sang Mama yang menatapnya dengan tajam.
"Jaga ucapan kamu, Mama ini yang melahirkan dan membesarkannya kamu!"
"Aku sudah tidak mengenali wanita yang selama ini aku sebut Mama. Apa aku harus membongkar satu persatu hal buruk yang Mama lakukan kepada keluarga besar kita?"
"Cukup, Al! Sekarang kamu masuk ke kamar kamu!" Tangan Merry menunjuk lurus kearah lantai dua kediaman mewah itu.
"Aku tidak sudi, Mama harus ingat satu hal, aku tidak akan pernah menjadi boneka Mama lagi. Silakan bersenang-senang, aku tidak akan mengganggu lagi."
Tanpa menunggu lama, Albert berbalik dan melangkah cepat keluar dari rumah itu. Semakin tumbuh dewasa dia semakin mempunya pendirian sebagai seorang pria dewasa.
"Dasar, anak itu sama saja seperti sepupunya," gumam Merry sambil memandangi kepergian sang putra.
***
Aina duduk di ruang keluarga Mansion sambil menonton acara televisi yang menurutnya sangat membosankan. "Huuftt, kenapa rumah ini mendadak sepi sekali, kemana para pelayan."
"Kamu masih saja tidak mengerti?" tanya El Barack yang tiba-tiba saja datang dengan secangkir kopi instan buatannya sendiri. "Sudah pasti para pelayan juga Papa bawa ke villa."
"Kenapa begitu?" tanya Aina penasaran. Dia meletakkan remote televisi lalu mengubah posisinya duduk disamping El. "Mereka semua diajak berlibur ke villa tapi kita tidak, ini konsepnya bagaimana?"
El Barack yang sedang menyeruput kopinya, melirik kearah sang istri. Terkadang dia merasa Aina begitu agresif dan terkadang pula dia merasa wanita itu terlalu polos. Dia meletakkan cangkir kopinya lalu menoleh melihat Aina.
"Konsepnya sudah di tata rapi oleh seorang Antonio Alexander. Beliau tahu kalau sepasang pengantin baru membutuhkan waktu untuk berdua. Mengajak Al dan semua pelayan rumah ini berlibur itu hanya alibi."
Aina yang tadi nampak penasaran, kini memundurkan tubuhnya perlahan sambil menutupi bagian dadanya dengan bantal sofa. "Ehm, ternyata Papa punya strategi seperti itu." Mendadak Aina merasa suasana ruangan menjadi panas. "Huh, apa AC di ruangan ini tidak berfungsi."
Tatapan El tidak pernah lepas dari sang istri. Dia tahu Aina pasti merasa grogi setelah mendengar ucapannya. "Santai saja. Meskipun kita berdua, aku tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuanmu."
"Hah?" Mata Aina mengerjap bingung. "Haha, tentu saja. Memangnya saya akan berharap hal seperti itu, lebih baik kita menonton film saja."
Buru-buru Aina mencari saluran televisi yang menayangkan drama Korea dan semacamnya. "Nah, sepertinya drama ini bagus." Dia menoleh melihat El disampingnya. "Saya sangat suka menonton drama seperti ini, apalagi aktornya tampan-tampan."
"Benarkah, sepertinya aku lebih tampan dari aktor itu," ucap El lalu menyadarkan tubuhnya, mencoba untuk ikut menonton drama kesukaan Aina. "Ck, kenapa pria itu sangat bucin, sampai mengejar wanita seperti itu, haha aneh, itu merendahkan harga diri sebagai seorang pria."
Aina melirik sinis. "Apa anda bisa diam? Tinggal menonton saja apa susahnya," ucapannya kesal.
Akhirnya El mencoba untuk diam dan menikmati drama itu, namun setelah beberapa saat tiba-tiba saja, adegan itu berubah menjadi adegan panas di atas ranjang.
Adengan itu menggambarkan sepasang kekasih yang sedang berciuman panas dengan berbagai posisi. El yang tadi duduk santai sambil menyadarkan tubuhnya, kini duduk tegap. "Ehm, sepertinya AC di ruangan ini benar-benar tidak berfungsi."
Aina pun mendadak gugup, dia segera mengambil remote dan matikan televisi itu. "Haha, benar sekali. Dari pada menonton sepertinya kita lebih baik tidur."
Aina segera berdiri dan hendak pergi dari tempat itu, namun karena salah posisi dia tiba-tiba "Aaaakk!" terjatuh tepat diatas pangkuan El.
Mata mereka kembali beradu pandang dari jarak yang sangat dekat, Aina bisa merasakan deru napas El dengan jelas. "Tuan, maaf saya--"
Aina tidak bisa melanjutkan ucapannya, saat dengan gerakan cepat, El menyatukan bibir mereka. Aina mendadak lemas, seluruh tubuhnya pun terasa panas.
Tangan kekar El memeluk erat pinggang sang istri, sentuhannya semakin dalam dan penuh tuntutan. Sudah begitu lama dia tidak merasakan bibir manis dan hangat.
Empat tahun dia habiskan untuk pengobatan dan kemoterapi. Hasratnya sebagai seorang lelaki seolah tersalurkan malam ini, dengan seorang wanita yang sudah resmi menikah istrinya.
"Kak Ai, Kak Aina!"
Suara seruan dari pintu utama membuat Aina melompat turun dari pangkuan El Barack. "A-Alberd," ucapannya saat dark kejauhan dia melihat Albert melangkah masuk sambil memanggilnya.
El Barack berdiri dari posisi duduknya sambil berkacak pinggang, "Dasar bayi besar, kenapa dia harus datang di situasi seperti ini," gumamnya sambil memandangi Albert dari kejauhan.
Bersambung 💕
Jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini ya gaess...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
ALNAZTRA ILMU
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-16
0
Katherina Ajawaila
Albert jadi kutu busuk/Silent/
2024-03-05
0
Devi Handayani
albert... kamu ketombe bgt sihhhh😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓😓
2023-01-22
4