Di tempat berbeda. Yuna hampir menghabiskan satu kotak tisu yang ada di atas meja cafe. Dia merasa amat sedih sekaligus senang saat mendengar semua cerita Aina. "Ai, kalau kamu menikah hanya karena Al lalu bagaimana perasaan kamu sendiri, kamu juga berhak bahagia."
Aina bedecak saat mendengar ucapan Yuna. Jika El sudah tidak percaya dengan cinta maka dia sudah tidak percaya dengan sebuah kebahagiaan. "Aku sudah lama kehilangan kebahagiaan itu, Yuna. Bisa hidup tenang, melihat Al tumbuh semakin besar, sudah cukup bagiku."
Yuna menggenggam tangan ***** sahabat erat. "Baiklah, aku menghargai keputusan kamu tapi ingat jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Paham?"
"Iya aku tahu. Di dunia ini aku hanya bisa bergantung padamu. Terima kasih Yuna."
***
Pukul empat sore, El-barack dan Aina sudah sampai kedepan bangunan toko kue yang di beli Antonio. Saat turun dari mobil mulut Aina langsung terperangah, dia tidak menyangka jika toko kue itu cukup besar dan terletak ditengah kota.
"Boril akan mengurus perekrutan pegawai untuk toko ini. Chef pastry sudah ada dan kamu tinggal menjalankan saja sambil menambah beberapa menu tambahan yang biasa kamu buat dulu," ujar El Barack sesaat setelah turun dari mobil.
"Terima kasih, ini sangat luar biasa ." Dia melanjutkan langkahnya karena sudah sangat tidak sabar melihat ke bagian dalam toko. Sesampainya di bagian dalam, dia segera menyalakan lampu dan langsung terpana melihat semua rak yang sangat estetik.
"Sebenarnya kamu tidak perlu terlalu antusias. Anggap saja berjualan kue ini hanya kegiatan untuk mengisi waktu, kamu bisa libur dan buka kapan saja," ucap El lagi.
Aina menoleh dengan tatapan kesal. "Kenapa seperti itu? Papa meminta saya untuk menjalankan bisnis dan tentu saja harus dijalani dengan serius."
Sepertinya perdebatan kecil akan kembali terjadi karena tatapan mata elang El Barack mulai tergambar jelas. Dia mendekat hingga jaraknya dan Aina hanya beberapa centimeter saja. "Sebenarnya aku hanya ingin kamu belajar fokus menjadi istriku saja."
Aina mengerakkan tangannya, memperbaiki dasi El yang terlihat sedikit miring. "Hm, fokus sebagai seorang istri. Kalau begitu apa saya juga harus melayani anda sebagai seorang istri yang sesungguhnya?"
"Hah, a-apa?" Mendadak wajah El Barack memerah saat mendengar pertanyaan Aina. Perlahan dia mundur menjauh dari sang istri. "Ehm, bukan seperti itu maksudku! Otakmu benar-benar sudah terkontaminasi ya, haha. Mana mungkin aku menginginkan hal seperti itu."
Aina berusaha menahan tawanya saat melihat El mulai salah tingkah. 𝑇𝑒𝑟𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑟𝑗𝑎𝑖 𝑑𝑖𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑚𝑢𝑑𝑎ℎ, batin Aina. "Haha, maaf saya hanya bercanda. Tentu saja saya akan belajar membagi waktu, tenang saja."
Aina hendak melanjutkan Langkahnya menuju lantai dua namun tiba-tiba terhenti, matanya membulat melihat seekor tikus besar berlari kearahnya. "Huaaaa!" Dia segera berbalik dan melompat memeluk El-barack. "Tolong ada tikus besar sekali!"
Sekujur tubuh El Barack mendadak kaku, bahkan tidak lagi memperdulikan tikus besar yang lewat disampingnya. Dia selalu berusaha membangun tembok pembatas setelah menikah dengan Aina, namun ternyata tidak semudah itu.
Dia adalah seorang laki-laki normal, tubuhnya selalu saja memberikan reaksi berbeda saat mendapatkan sentuhan yang begitu intens dari seorang wanita.
Setelah beberapa saat, Aina menoleh segala arah untuk memastikan tikus itu sudah tidak ada. "Hufft, sepertinya sudah tidak ada ya." Dia pun segera melepaskan pelukannya.
Namun tiba-tiba saja El menarik pinggangnya hingga tubuh mereka kembali menempel. Tatapan mereka kembali beradu dengan jarak yang sangat dekat. "Tuan, apa yang anda lakukan?"
Tangan El bergerak menyibak rambut yang menutupi mata indah Aina. "Jangan mencoba untuk membangunkan macan yang sedang tidur. Semakin kesini kamu semakin berani menyentuhku. Apa kamu berusaha menggodaku?"
"Apa ada larangan seorang istri menyentuh suaminya?" Tatapan Aina terlihat sangat serius kali ini. "Jika memang anda ingin membangun batasan untuk hubungan ini, lalu kenapa anda mencium saya waktu itu, hah?"
"Sudah aku bilang itu hanya hukuman. Apa kamu keberatan?" tanya El-barack dengan suara yang mulai terdengar berat. Tubuhnya semakin bereaksi namun dia berusaha untuk tidak terpancing keadaan.
"Anda selalu saja berprilaku sesuka hati. Menjauhlah, atau saya akan--"
"Akan apa? Apa yang akan kamu lakukan kepadaku, aku benar-benar menung--"
Bug!
El tidak bisa melanjutkan ucapannya saat Aina menghantam bagian benda pamungkasnya dengan lutut. "Aaakkk, sakit."
"Maaf, tapi itulah yang ingin saya lakukan kepada Joni sejak lama," ujar Aina sambil mengarahkan pandangannya ke bagian pamungkas El. "Ehm, ayo kita pulang. Saya yang akan menyetir."
Aina melangkah keluar dari tempat itu secepat kilat, meninggalkan El yang masih meringis kesakitan disana.
"Hey, apa kamu tidak membantuku berjalan!" seru El namun Aina tidak peduli dan terus melanjutkan langkahnya ke halaman toko. "Dia benar-benar tidak terduga, bisa-bisanya dia membalas dendam kepada Joni."
Bersambung 💕🙏
Jangan lupa berikan like, komen, vote n hadiah untuk novel ini ya gaess 🙏😹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
mantap Aini.
2024-03-05
0
Kis Pulza
🤣🤣🤣🤣aina klo jono lumpuh gk bahaya tah
2024-01-11
0
dewi
🤣🤣🤣🤣🤣
2023-07-02
0