KE PANTAI BERDUA

Sahabat-sahabat Dinda berhasil membuat Dinda kembali ceria, walau belum sepenuhnya, namun itu sudah merubah sedikit mood Dinda...

"Dinda sayang selmat ya" ucap Sahabat yang lainnya dan juga menegeluar kankotak kado, mereka masing-masing memberikan kado kepada Dinda, dan Dinda menerimah itu dengan bahagia...

"Makasih semuanya, sahabat-sahabat baik ku" ucap Dinda dan mulai membuka di jalan menuju kelas kado yang di berikan 4 sahabat Dinda...

"Dinn jangan bukak di jalan dong, ntar malu-maluin loh" ucap sahabat Dinda yang satunya, mmbuat Dinda curiga akan ucapan itu....

"Emang kamu kasih aku kado apaan si, sampai-sampai gak boleh bukak di jalan"sahut Dinda masih ingin membuka kado-kado yang membuat Dinda penasaran akan isi kado mereka...

"Biar ku buka pertama kali kadi yang kamu kasih, ucapan mu barusan buat aku kepo apa isinya" Ucap Dinda..

Sreeeekkk..." Dinda merobek pembungkus kado tersebut dan tergesa membuka kotak itu.

Dinda tanpa sadar mwngangkat dan ingin mwlihat Pqsti bentuk dari kado yang seoerti kain sobek-sobek dan juga ada benda kecil terdaoat di dalam kotak itu..

"Haaaahh" Dinda melongo sambil mengangjat kado itu tanpa berniat untuk cepat-cepat menyimpanya...

"Dinnn, ngaain di angat begitu, lihat cowok-cowok pada liatin kamu.." Dinda yang malu pun memasuki kembali kado itu,....

"Tpukkkk" Inda menipuk kepala sahabatnya nya dengan kotak kado tersebut...

"Awwww..... apapn si din,...!!!!, Napa kamu malah mukul kepala aku sih..." sahut sahabat Dinda dengan memegang kepala dan merasa tidak bersalah dengan kado yang dia berikan kepada Dinda...

"Mau aku pukul lagi kepala mu, biar otak kamu segar dan gak kasih aku kado kain tak berbahan seperti ini, dengan ****** ***** sekecil ini, untuk apa di pakaiiii" ucap Dinda mengomeli sahabatnya... panjang lebar hingga ke dalam kelas....

"Dinn itu pakain tidur ala-ala barat gitu, Bagus kan, masa kamu gak tau barang bagus" ucap sahabat Dinda membela diri...

"Barrang bagus.... barang bagus...!!! bagus apaan, beli nya mahal-mahal tapi belum jadi, mending kamu kasih uangnya sama aku aja" balas Dinda yang tidak suka dengan kado itu...

"Iya deh besok aku kasih yang lain kadonya yang ini biar aku bawak pulang aku pake dehh" sahut sang sahabat dengan bercanda...

"emang itu bisa di pakai, hati-hati ntar kembung kamu kayak ikan, masuk anginntiap pakai pkaian begituan... Semua ini aku balikin, gak mau kado begitu, besok kamu harus kasih aku yang lain" ucap Dinda cemberut...

"Ok Dinda sayang," ucap sahabat Dinda..

Kini Dinda dan sahabat-sahabatnya menunggu jam masuk kelas dan tidak lagi megonrol membahas tentang kado...

Satu jam kemudian.....

Dinda dan sahabat-sahabatnya mengikuti jam pelajaran dengan tenang dan hikmat, tanpa mengobrol dan saling goda seperti biasanya..

Mungkin efek umur yang bertambah membuat Dinda mulai dewasa dan malu akan sifaat-sifatnya selama ini....

Hari itu xukup melelah kan, bukan saja karena kurangnya istirahat namun juga lelah karena sering nya menangis, Saat pulang sekolah Dinda mengistirahat kan tubuhnya sejenak, menghilang kan ngantuk dan lelah tubuh indah Dinda...... Hampi tiga jam berlalu, Dinda mulai mempelihat kan tanda-tanda akan bangun dari ranjang luas nan empuknya...

"Hoammmmm..."Dinda menguap tanpa gengsi di dalam kamar, karena sudah pasti tidak akan ada orang yang melihat dia ..

Dinda mukai turun dari ranjang, dan ada sesuatu yang mengalihkan pandangannya...

Sebuah kotak besar yang terletak di sudut kamar miliknya dan Dinda mendekat ke arah kotak tersebut...

Di sana terdapat sebuah tulisan dan siapa pengirim kotak tersebut...

"Tidak berguna"Ucap Dinda membawa kotak besar itu ke halaman belakanag tanpa penasaran dan membuka isinya....

Dinda membawa sendiri kotak itu turun, tanpa menyuruh Artny...

"Non kadinya mau di bawak kemana???,"tanya mbok Darmi yang melihat Dinda meneret ke bawah dengan kasar kado tersebut...

"Mau aku bakar mbok" jawab singat tanpa menoleh kepada mbok Darmi...

"Tapi non,....Itu kado dari tuan besar, harus sampai ke tangan non katanya..." ucap mbok Darmi mengikuti Dinda ke belakang...

"Tenang aja mnok, mbok tidsk akan terlibat apapun kok" jawab Dinds menuju halaman belakang untuk membuang ke tong lalu membakarnya...

Dinda merekam kado yang dia bakar dan mengirim kan ke kedua orang tuanya...

"Jangan pernah kirim barang apapun kepada ki, apabila selalu mengirim kan apapun kepada ku, akan bernasib sama dengan kotak tak berguna ini" ucap Dinda dalam video, dan langsung di telpon oleh orang Tua Dinda....

Namun Dinda sama sekali tidak mau mengangkat telponn dari orang tuanya......

"Non Dinda ada guru non di depan" ucap Art yang lain karena ada pak Gibran ke rumah Dinda...

Dinda langsung menghampiri sang guru...

"Kenapa pak,"tanya Dinda dengan wajah yang kurang bersemangat...

"mau mengajak kamu melihat matahari terbenam ke pantai" Ucap sang guru dengan wajah tampannya...

"Ok.... kita pergi sekarang...."ucap Dinda tak berniat menganti baju aatau sekedar berdandan,namun hal itu tidak membuat sang guru berkomentar apapun dan langsung berlalu...

Mereka menuju pantai dengan Dinda yang memakai kaos longgar dan celana panjang kedodoran... tidak ada aurah keanggunan sedikit pun.

"Kamu bawak Hp..??"

"Iya pak" jawab Dinda..

"Kita akan memotret matahari terbenam, kita langsung duduk di pinggir pantai saja sambil memaakn cemilan yang sudah bapak siap kan" ucap sang guru...

"Bapak kenapa baik sekarang sama Dinda, apa bapak ada niat lain di balik itu," ucap Dinda tak menoleh... dan bertanya dengan berani, ntah keberanian dari mana membuat Dinda bertanya tanp berpikir dahulu, seperti dulu yang selalu takut untuk bertanya selepas saat ini

"apa maksud dari ucapan mu itu Dinda, aku hanya sekedar mencari teman di luar sekolah, tidak memilih itu itu laki-laki atau perempuan, tidak peduli itu orang dewasa atau pun bocah seperti mu" jawab sang guru dengan tenang..

"Dinda sudah 17 pak bukan bocah lagi" jawab Dinda kesal.....

Jadi Bapak mencari teman ya,..??" tanya Dinda sambil menunggu matahari tenggelam dan sudsh memegang Hp untuk menyimpan kenangan itu.....

Dinda membuka beberapa cemilan yang dia makan secara bersamaan dan juga minuman kaleng..

"Bapak bawa makanan cuma untuk Dinda ya" tanya Dinda melanjutkan makan sambil menatap ke arah sang guru yang konsen menunggu matahari terbenam,....

"Gak juga, hanyA bapak tau kamu orang yang sngat suka makan dan tidak pilih-pilih" jawab pak Gibran tanpa menoleh ke arah Dinda, dan mulai sibuk mencari hp di saku celana miliknya.....

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!