Dinda belari menuju kamar dengan air mata yang terus mengalir di pipi cantiknya...
" Untuk apa menelpon ku, membut ku kesal saja, tidak penting lagi bagi Ku mereka ada atau tidsknya, Hati ku sudah bemci mereka, Aku mengharap kan semaunya bertahun-tahun, Namun tak ada apapun yang mereka lakukan untuk ku" Ucap Dinda sambil menangis lalu melempar diri ke ranjang besar nan luas miliknya...
"Tririnnggggh....triringgggh...." Hp milik Dinda berbunyi, menandakan ada yang menghubunginya di tengah malam ini, Sambil menagis Dinda masih sempat melihat siapa yang menelpon dirinya...
Ternyata kedua orang Tua Dinda, dan itu Di balas dengan mematikan telpon, bukan sekedar mematikan telpon orang tua nya, namun Dinda juga mematikan jaringan Hp miliknya dan juga memutus kan kabel telpon rumah yang ada di kamar milik Dinda,
Orang Tua menyebalkan...."Gumam Dinda mengahapus paksa air matanya lalu masuk ke dalam selimut untuk mengistirahat kan badan lelahnya....
Begitu sakit hati seorang anak perempuan yang di abaikan oleh kedua orang Tuanya bertahun-tahun, Kini sudah di batas lelah hatinya, Lelah akan menunggu kedatangan dan perhatian kedua orang Tuanya, Kini Hati Dinda juga tega kepada orang tua yang tidak memberi dia pehatian selama ini.....
Waktu menunjuk kan waktu pagi, Dinda sudah bangun dan menyiap kan diri untuk ke sekolahh...
Setengah jam berlalu, Dinda sudah siap dengan semuanya lalu turun untuk sarapan pagi, dengan nyanyian-nyanyian khas Dinda dia turun dengan tersenyum dan menyapa semua Art yang ada di sana...
"Haiiiii,pagi semuanya.." ucap Dinda besemangat Dan Di sambut oleh Art rumah miliknya...
Namun yang membuat Dinda agak bingung, Semua Art Dinda tidak seceria selama ini, dsn menjadi pertanyaan untuk Dinda...
"Mbok Darmi mendekat dengan muka lesu,
"Mbok., kenapa pada tidak bersemangat pagi ini, apa kurang tidur gara-gara semalam" Tanya Dinda sambil mengunyah sarapan....
"Non..Kami semua akan di pecat...
"uhukkk..." Dinda terbatuk dan kaget dengan hal itu...
"Kenapa mbok, apa yang terjadi, kenapa Begitu" Tanya Dinda menatap Mbok Darmi...
"Karena semalaman Tuan menelpon Nonntadi tidsk di angkat katanya" aduh mbok Darmi dengan lesu...
"Dasar Orang Tua egois, Tidak punya hati" geram Dinda lalu mengambil Hp di tasnya dan mengaktif kan jaringan Hp itu, dsn menelpon langsung ayahnya...
Dan itu langsung di angkat...
"Hallo sayang, akhirnya kamu mau menelpon Ayah, Ada apa nak, mau ayah transfer berapa nak" ucap sang ayah dengan rasa tak bersalah,....
"Dasar orang tua Gila, tidak punya perasaan, aku Benci anda" Teriak Dinda histeris, apa maksud anda mau memecat seluruh Art di rumah ini hahhh... Sedang kan mereka yang menemani hari ku yang kelam dan sepi oleh ulah Kalian," Teriak Dinda...
"Dinda jaga ucapan mu, papa tidsk suka kamu meriaki ayah" Balas sang ayah..
"Ayah bemar-benar kan memecat mereka semua hari ini kalau kamu berani meneriaki ayah" Geram sang ayah di telpon dan di dengar seluruh Art Di sana, Karena dinda mengpeker suara HP miliknya...
Dinda tidak getar dengan ancaman Ayah nya...
"Jika Satu saja Art rumah ini keluar, akan ku Gantikan dengan nyawa ku, dan kalian semua akan melihat semua itu, dan tidak pernah main-main dengan ucapan ku, aku lelah dengan ulah Kalian berdua, hanya mereka yang selalu ada menghibur hidup lelah dan tragis ini, Kalau bisa memilih aku tidak mau lahir dari orang Tua seperti kalian" Ancam Dinda tak kalah tegas dan menakut kan...
Mendengar itu membuat sang ayah terdiam tampa sepata kata pun yang keluar lagi dari mulutnya... Dinda kembali menangis dan memeluk mbok Darmi,
"Mbok jangan tinggal Kan Dinda seperti mereeka, Mereka jahat, mereka gak ngertiin prasaan Dinda.. mereka hanya memikir kan Uang...uang dan Uang saja" ucap Dinda dengan isak tangisnya, dsn terdengar oleh ayahnya...
"Dinda..." panggil sang ayah lembut
"Jangan bicara apapun pada ku, dan jangan pernah menelpon ku lagi, aku benci kalian berdua" Ucap Dinda masih menangis dan memeluk mbok Darmi lalu mematikan Hp Sepihak...
"Tenang saja kalian semua, kalian tidak akan ada satu pun yang keluar dari rumah ini, sebelum aku sendiri yang menunjuk kalian untuk keluar" ucap Dinda menghapus air mata dan menoleh ke arah ART, Agar mereka tidak khawatir akan kehilangan Pekerjaaan...
"Tapi non, kami tidsk sepantas itu untuk di gantikan dengan nyawa berharga non" ucap salah satu Art yang ikut mendengar pembicaraan Dinda dan Dsn tuan besar rumah itu di telpon..
"Kita semua sama bik, hanya beda di jalan mencari nafkah untuk hidup, jangan katakan diri kalian ntidak berharga di depan orang lain, hanya gara-gara Kalian bekerja sebagai ART..
jangan pernah merendah kan harga diri sendiri, Kalian orang-orang hebat, yang pantas menerimah kebaikan dari siapa pun" ucap Dinda yang membuat Art Dinda terharu dan merasa dsangat di hargai oleh anak majikan mereka yang masih berumur 17 tahun itu, Tepatnya baru satu hari...
"Makasih non, non luar biasa baik, kami benar-benar merasa nyaman bekerja di sini, non selalu memperlakukan kami seperti saudara," balas Art yang lainnya..
"mbok aku harus berangkat sekolah, sepertinya Pak Gibran sudah menungu lama" ucap Dinda pamit dan ke sekolah dengan mata sedikit sembab...
Beberapa kali telpon masuk ke Hp Dinda dari sang kedua orang Tuanya, namun Dinda acuh dan tidak mau Tau...
Dinda pagi itu berangkat ke sekolah bersama saang guru dengan penuh keheningan, Sang guru memahami kondisi Dinda yang sesih akan sikap kedua orang Tuanya, namun sang guru tidak mengetahui akan Dinda sang berantem dengan sang ayah pagi ini...
Berapa menit kemudian, mereka sudah berada di oarkiran sekolah, Dinda pun pamit kepada sang guru, lalu berlalu begitu saja...
"Dinda...Dinda...Dinda..." Panggil sahabat-sahabat Dinda yang melihat Dinda berjakan sendirian, berukang kali panggilan itu terdengar, namun Dinda Tidak menoleh, Dinda seperti melamun menuju ke ruang kelas...
Sahabat-sahabat Dinda berlari mengejar dan menghampiri Dinda yang tidak menoleh atau menyauti panggilan mereka..
"Dinnn" sahabat Dinda menepuk pelan pundak Dinda, barulah Dinda menoleh dengan mata sembab dan tak berekoresi...
"Din kamu marah karena gak ngucapin selamat atas ultah mu semalam ya, Sorry.... jangan marah gitu dong... plissss" ucap sahabat Dinda memohon dengan kedua tangan...
Namun Dinda membalas ucapan itu...
"Tidak kok, tidak apa-apa, hanya lagi sedih aja" ucap Dinda kepada sahabatnya singkat...
Mendengar itu, sahabat Dinda langsung mengerti dan mulai menghibur dan mengalihkan topik pembicaraan mereka...
"Din ini" Elamat ulang tahun Dinda sayang yang ke 17 belas tahun, dewasa deh nih bocah" ucap sahabat-sahabat Dinda sambil mengelus kepala, seakan Dinda seorang bicah..
"Dasarrr... berani yakalian pegang-pegang kepala orang tua" ucap Dinda membalas dengan mengusut kan rambut sahabat-sahabatnya.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments