Hyuna yang baru keluar dari dapur tertegun saat melihat Jimin tengah duduk di salah satu kursi yang ada di taman belakang rumah pemuda itu. Tatapannya kosong, dan Hyuna penasaran dengan apa yang sedang pemuda itu pikiran.
“Jim, are you ok?” tanya Hyuna begitu ia sudah ada di samping sahabatnya, yang juga menaruh hati padanya.
Jimin yang seolah baru kembali ke dalam alam sadarnya pun sedikit tersentak saat mendengar pertanyaan Hyuna. Pemuda itu tersenyum dan mengangguk, seolah mengatakan kalau dirinya dalam keadaan baik.
“Sakit banget, ya?” tanya Hyuna. Jimin yang tidak mengerti arah pembicaraan gadis itu hanya mengerutkan keningnya. “Luka lu,” tambah Hyuna sembari menunjuk ke arah wajah Jimin yang masih lebam.
“Nggak apa-apa, kok. Bagi gue, ini harga yang pas karena gue udah teledor dan nggak bisa jagain elu.”
Oh Tuhan, hati gadis mana yang akan tahan mendengar semua ucapan manis yang keluar dari bibir Jimin. Jangankan hati Hyuna, hati author aja ikutan meleleh kek jeli dengernya. Kalau ada yang tau di mana nyari Jimin, tolong kasih link plus keranjang kuning.
“Apaan sih, Jim. Gue yang mutusin buat nyelamatin elu, dan elu nggak harus ngelakuin apa pun buat ganti.”
“Na, gue sayang sama lu. Gue cinta sama lu, tapi gue nggak bisa berbuat banyak karena Taehyung juga menginginkan elu. Gue harus apa?” tanya Jimin. Di dalam mata Jimin, Hyuna bisa melihat ribuan luka yang bisa saja menenggelamkan sahabatnya kapan pun. Air mata yang perlahan mengalir membasahi pipi Jimin, serta isakan kecil yang membuat hati Hyuna ikut merasakan sakit. Kenapa Tuhan begitu kejam? Apa dosa mereka sampai Tuhan membuat skenario yang semenyakitkan ini?
Hyuna tidak bisa berkata apa-apa. Gadis itu hanya memeluk tubuh Jimin seperti biasa, untuk menyalurkan rasa nyaman kepada pemuda itu.
“Ingat sumpah gue, Jim.” Hanya itu yang keluar dari bibir Hyuna.
Jimin hanya diam. Pemuda itu mengeratkan pelukannya di tubuh Hyuna, seolah tidak ingin lepas. Jimin merasa nyaman dengan pelukan Hyuna, pemuda itu seolah bisa merasakan pelukan yang sama, dengan pelukan yang selalu ia terima dulu.
“Na, elu janji nggak bakalan ninggalin gue, kan?” tanya Jimin yang dijawab anggukan oleh Hyuna. Jimin bisa sedikit bernapas lega karena gadis itu akan tetap berada di sampingnya, dan bersamanya. “Kalau gue minta elu buat milih salah satu dari kami, apa lu bakalan marah?” tanya Jimin.
Tidak ada jawaban yang terdengar. Hanya saja pelukan Hyuna semakin menguat, seolah gadis itu sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan dengan sebuah kalimat.
“Na, lu mau kan pilih salah satu dari gue dan Taehyung? Gue nggak bakalan marah sama keputusan lu, Na.”
“Sorry, Jim.” Hyuna melepas pelukannya pada Jimin dan memilih kembali ke dalam kamar Seokjin yang ia tempati untuk sementara waktu. Gadis itu tidak mungkin memilih satu di antara mereka, bukan karena ia tidak mau memilih tapi ada hal lain yang membuatnya tidak bisa memilih.
***
Siang itu rumah Seokjin ramai. Bahkan lebih ramai dari biasanya, karena gadis satu-satunya di rumah itu menghilang bak ditelan bumi.
“Hyuna balik kali,” pikir Hoseok.
“Kalau balik kenapa nggak pamit, coba?” tanya Namjoon yang sejak tadi pusing mencari keberadaan Hyuna.
“Lu tanya aja tu sama human yang lagi duduk di sana,” kata Yoon Ki sambil menunjuk ke arah Jimin yang sejak tadi hanya diam. Padahal saudaranya yang lain lagi sibuk nyari Hyuna yang tiba-tiba hilang.
“Jim, lu tau Hyuna di mana?” tanya Seokjin.
Jimin yang ditanyai hanya diam. Pikiran pemuda itu masih penuh dengan penolakan yang Hyuna berikan padanya dan Taehyung beberapa jam yang lalu sebelum akhirnya gadis itu menghilang.
***
“Eomma! Appa!” teriak Tae-yaa saat gadis itu sudah sampai di kerajaan tempat kedua orang tuanya tinggal. Kim Jae Wook dan sang istri terkejut saat melihat sang anak datang dengan wajah pucat dan lemas tengah berteriak memanggil nama mereka.
“Tae-yaa, kamu kenapa Nak?” tanya Tae-ri. Wanita itu nampak sangat cemas melihat keadaan sang anak yang sangat memprihatikan.
Melihat sang anak yang terlihat lemas, Jae Wook menggulung baju kebesarannya dan membiarkan sang anak menikmati darahnya. “Minumlah, Nak. Semoga darah Appa bisa membantumu kembali sehat,” ucap Jae Wook.
Tae-yaa tertidur pulas setelah menikmati darah dari sang Raja. Wajah gadis itu kembali segar, tidak seperti beberapa saat yang lalu.
“Apa yang terjadi dengan anak kita?” tanya Tae-ri.
Raja menjelaskan jika sang anak baru saja diserang oleh vampir, tapi ia tidak yakin vampir mana? Raja juga menambah jika sang anak sempat mendapatkan pertolongan, dan itu terlihat dari luka gadis itu yang sudah tertutup perban. Namun, pertolongan seseorang itu tidak berguna, karena hanya racun yang bisa melawan racun dari vampir itu. Itulah sebabnya kenapa Raja langsung memerintahkan anaknya untuk menghisap darahnya, dengan tujuan menetralisir racun yang ada di dalam tubuh sang anak.
“Tapi siapa? Dan kenapa dia menyerang anak kita?” tanya Tae-ri.
Raja hanya membuang napas kasar. Sejujurnya ia tau siapa yang menyerang sang anak, tapi ia tidak bisa mengatakannya kepada istrinya karena dia sendiri belum punya bukti yang kuat.
“Apa mungkin ini ulahnya?” tanya Tae-ri tiba-tiba.
“Jangan asal ambil kesimpulan, karena kita tidak punya bukti yang cukup kuat untuk ini.” Raja berusaha untuk memperingatkan sang istri agar berhati-hati dalam berbicara, karena hal itu bisa saja memicu kesalahpahaman dan perang yang mungkin bisa terjadi lagi.
“Eomma,” panggil Tae-yaa. Tae-ri bersama dengan sang suami langsung mendekat ke arah gadis itu untuk menanyakan keadaannya.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Sayang?” tanya Tae-ri sambil mengusap kepala sang anak yang masih terbaring di atas ranjang mewahnya.
Tae-yaa hanya diam. Gadis itu memilih untuk tidak menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada orang tuanya. Gadis itu memilih berbohong dan mengatakan kalau dirinya sempat diserang vampir saat berada di hutan.
Raja hanya diam. Dia tau pasti anaknya tengah berbohong, karena dari perbatasan luar hutan sampai ke hutan bagian paling dalam semuanya di huni oleh klan mereka. Jadi, bagaimana bisa gadis itu diserang di area hutan? Kalaupun iya, lalu siapa yang merawatnya? Bagaimana bisa dia yang merawat Tae-yaa tidak mengenali gadis itu sebagai anak Raja?
“Terima kasih ya, Eomma. Karena Eomma, aku bisa kembali sehat.”
“Jangan berterima kasih pada Eomma, tapi berterima kasihlah pada Apaamu. Karena darah Appamu lah yang sudah menyelamatkanmu.”
Tae-yaa menatap sang Appa yang tersenyum menatapnya. Raja berjalan mendekat ke arah sang anak dan memeluknya.
“Terima kasih, Appa.”
“Iya, Nak. Sudah tugas Appa menyelamatkan anaknya, benar?”
Tae-yaa mengangguk dan tersenyum penuh haru. Ia merasa sangat beruntung karena lahir dan besar di keluarga yang sangat menyayanginya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments